Catatan singkat untuk menemani beberapa bulan menjelang pembebasan.
“Setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya“ kutipan dari warga binaan.
Pengantar. Catatan ini kumpulan rutinitas sehari-hari saya yang membosankan, pastinya. Diperkirakan pertengahan tahun 2025 saya akan kembali kerumah bertemu keluarga tercinta, ternyata tidak, kebijakan dari direktorat jendral pemasyarakatan yang tidak relevan terhadap warga binaan yang sedang dalam proses interagrasi ditahap menunggu S.K (surat keputusan). Mungkin ini asumsi saya ja, toh dengan bergantinya dirjen baru dan berganti pula kebijakan yang sebelumnya, yang dimana 2/3 masa tahan sudah dijalankan S.K akan terbit dilapas, otomatis menjalankan subsider tapi dengan kebijakan yang sekarang ini untuk hukuman seperti saya itu harus dilihat dari dua tahun sebelum aspirasi akhir masa tahanan. Oke kembali ke intergrasi PB (pembebasan bersyarat) itu sifatnya tidak mutlak, Karena itu dirjen punya hak penuh terhadap kebebasan para W.B.P yang sedang dalam pengurusan, jadi, sesuka kalian para aparatur negara yang semakin prematur dalam mengambil kebijakan.
April.
Di bulan keempat saya sudah menjalani enam tahun tiga bulan, entah makin kesini perjalan semakin memperlihatkan keburaman dalam hari-hari yang saya lalui, disaat menulis ini saya kedingan sambil membuka layar gawai. Sore itu jam 16.37 saya keluar dari blok untuk berjalan dibatu-batu yang sudah disusun dekat gazebo, pijat telapak kaki untuk meringankan kepala dan leher. Langit sudah mendung ketika saya masih di dalam blok, rintik – rintik mulai membasahi aspal memantulkan atap seng gazebo, saya sempatkan beberapa menit untuk pijat kaki setelah rintik mulai menjadi hujan, saya pun berteduh dan bergeming memulai perenggan tangan, hujan makin deras. Sambil menikmati suasana bau tanah dan tanaman yang diguyur, terlintas teman menyapa sambil hujan-hujanan tanpa mengenakan baju hanya celana, saya dijak untuk ikut, saya menolak karena terlalu deras, takut demam dimalam hari, teman pun berlalu, makin lama hujan itu semakin buas dengan kabut angin kencang yang membuat saya berubah pikiran, gimana kalo saya ikut bergabung membasahi diri, tak pikir lama langsung turun dari gazebo. Saya memasuki hujan dan memutar lapangan bermai-ramai bersama teman, saya mengaruk – garuk agar membasahi kulit kepala, langit seketika redup bercampur dengan warna keabu-abuan, lampu jalan diyalakan, saya mulai memisahkan diri dari rombongan, Berjalan sendiri. Sesaat saya teringat masa-masa yang saya rindukan, dari kawan yang diluar apa kabarnya akankah banyak perubahan dikala saya bebas dan untuk orang tersayang yang pernah hadir dan sudi membantu sampai hari ini, saya semakin dalam memasuki hujan yang lebat, terus berjalan sehingga membuat celana dalam lepek dan titit menciut, dideras hujan saya terus mencoba untuk tetap bertahan entah hujan ini menjadi refleksi personal untuk hari – hari yang semakin buram karena pandangan semakin jauh, menelusuri momen yang berlalu, merindukan yang tak terobati mengengam serpihan kenangan dan merawat ingatan. Sepertinya saya mulai ingin merawat diri dan di enam tahun lebih ini saya baru pertama merasakan hujan, karena pisik rapuh selama mendekam dirutan/lapas, saya selalu menghindar untuk terkena hujan ternyata bahwa apa yang takuti belum tentu terjadi. Saya pikir saya harus mensudahi hujan-hujan ini karena sudah terlalu lama memutar-mutar lapangan, teman-teman masih pada teriak – teriak dan tertawa, saya bergesas untuk membasuh badan dan salinan. Kembali ke warga lorong dengan tenangnya, saya suka cuaca adem, gerimis dan hujan, tidak suka cuaca panas karena menyebabkan pala saya pusing.
Intergrasi & basa-basi
Esoknya demam dampak hujan kemarin ternyata benar apa yang ditakuti terjadi, ini bukan hanya demam tapi gatal-gatal, menyebabkan kulit ruam, saya mencari teman yang punya saleb dan badan ingin di kerik, setelah itu semua saya istirahat, sekitar 2 minggu kondisi membaik, sempat kekelinik untuk berobat akibat gatal. Di awal tahun ini saya sidang T.P.P (Tim Pengamat Pemasyarakatan) diocehin oleh para petugas tentang “apa bila sudah di bebaskan jangan diulangi, kasian penjaminin kalian”, klise yang lebih anehnya sebelum sidang para W.B.P yang ikut T.P.P beramai-ramai membacakan catur dharma narapidana yang saya sendiri pun ogah untuk mengucapkannya. Tugas terahkir selesai untuk urusan intergrasi dan sedang tahapan menunggu S.K perjalan telah menemui ujungnya, mungkin kutipan warga binaan, ibarat “lautan sudah hampir melihat daratan” Tapi ini bukan soal lautan atau darat ini soal dirjen yang baru telah dilantik dari mantan kepala polisi yang dimana sebelum saya sidang T.P.P jauh hari sudah datang kelapas ini. Marah-marah karena banyak narapidana dibebaskan cepat sesuai aturan yaitu 2/3 masa tahan dan kembali lagi ke penjara. Dampak dari itu dirjen menguarkan kebijakan untuk hukuman yang vonis 10 atau selebihnya, akan dikenakan sangsi 2 tahun sebelum aspirasi akhir untuk S.K diterbitkan, intergrasi yang sedang saya jalankan ini sifatnya tidak mutlak, hal hasil prediksi tahun ini pun sirna, bagai laut tak bertepi terombang-ambing dalam kesadaran penuh, mencari-cari jawaban atas itu, saya mulai sibuk dengan cari info, hasilnya nihil. Orang rumah sudah ke Dirjen untuk menanyakan S.K jawabanya masih lama “sedang dalam proses verifikasi”, kawan- kawan disini juga nanya ke bimkemas sama pula jawabannya, mereka pun, marah-marah dan saya telah menemukan jawaban yang pas, tapi geli-geli ja “tunggu waktunya” Ucap teman yang mencoba menenangkan, ya sudah.
memoir baba.
Di tahun ini banyak teman-teman yang sudah bebas entah itu intragasi atau bebas murni, saya sudah lama ingin menulis perihal teman-teman tapi mungkin hanya mencatat obrolan dengan seorang yang bernama “baba ibenk” yang biasa disapa baba, saya mengenalnya sudah 3 tahun di lapas ini, baba sudah tua bisa juga dibilang hidupnya dipenjara karena sudah 5 kali keluar masuk, bahasa penjaranya “biang bui”, residivis, umur sekitar 50 lebih, baba sering mengingatkan saya untuk sholat subuh, kesukanya seperti orang tua pada umumnya kopi dan garpit, saya banyak bertanya perihal apapun tentang penjara. Semenjak sedang dalam tahap intregarasi saya rutin untuk bangun pagi memutar lapangan olahraga biasanya baba bangun lebih awal untuk menyuci perlengkapan alat makan setelah itu tidur di bangku pinggir lapanggan sambil menunggu cadong datang, pagi itu saya sudah mengitari sempatkan mampir untuk basa-basi seperti biasa, baba yang sudah mau masuk usia senja dan gaya bicaranya begitu mudah ditebak, saya melihat raut wajah baba yang menanti kebebasan dalam hitungan bulan, duluan dari saya, baba pernah berucap ini hukuman terlama yang pernah ia jalani, baba pun lelah, lalu bercerita. Penjara sekarang itu berbeda dengan yang dulu, yang dimana napi memegang semua blok dan berkelompok, mengunakan kekerasan untuk berkuasa, bahasa umumya otot yang mereka pakai beda sekarang pakai otak, tapi dari dulu sebuah perumpamaan kata dipenjara itu berpengaruh untuk para tahanan hingga hari ini dari mulai istilah, berantam yang berakhir ” Kalah jadi abu menang jadi arang” Dan istilah kita harus “ikut arus” dalam artian ikut arus itu adalah ikuti peraturan yang ada di lapas/rutan, dan kata “korpe”, bisa di artikan korban perasaan, biasanya korpe itu punya ikatan sama orang dikamar untuk bantu-bantu dengan tenaga dan kata “kodok” Artinya sudah tidak bisa apa-apa hanya cuma meminta sama teman, kata “gaulan” artinya menguarkan uang untuk mengenal satu sama lain kata “kordy” memberikan upah ke petugas untuk memesan sesuatu dan “setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya” mungkin kata yang terhakir itu saya renungkan dalam diri saya. Banyak sekali perumpamaan kata di penjara yang tidak disebutkan, baba sering ditinggal mati oleh teman seumuran didalam penjara karena diluar sudah tidak punya teman, kali ini baba terlihat begitu rentan dan menyimpan memoar yang panjang.
Penghujung tahun& obituari iyus
Menulis di penghujung tahun yang banyak sekali terlupakan begitu saja, karena waktu terahlikan untuk fokus S.K dan menata ulang untuk diluar nanti. Tapi kalian tahu di tahun 2025 seperti apa, makin buruk dampak negara dari kinerjanya entah perebutan lahan yang semakin intens penanaman sawit dengan sekala gila-gilaan kebijakan yang ngawur serta penangkapan semena-mena atas demo menjelang akhir agustus, kalian mungkin begitu marah sedih melihat dan mendengar berita atau sosmed yang dimana “Affan Kurniawan seorang ojol dilindas mobil brimob sampai tak bernyawa pada tanggal 28 agustus” Dan banyak korban lainya. Pengusuran di kota-kota atau plosok desa, eksploitasi alam tanpa henti pengerukan tambang, petani ditembaki dan dikriminalisasi, bayangan orde Baru bukan cuma kembali tapi sudah berjalan, Fadli Zon menulis ulang sejarah, Suharto diberi gelar pahlawan, RUKHP di sahkan dan kita dikejutkan oleh bencana Sumatra utara, Sumatra barat dan aceh, hingga semakin hari korban bertambah. Saya sempat melupakan teman yang pergi ditahun ini, yaitu iyus seorang teman sahabat dan penasehat yang sering berbagi rokok, cemilan dan bercerita dimalam hari, saya tak menyangka pertemuan kami begitu singkat ketika iyus ini sudah mulai sakit di bulan Desember 2024 yang tak kunjung sembuh, terkapar di lorong dengan tubuh yang rapuh tapi tetap egois, iyus telah menunjukkan bahwa kepergiannya itu tidak perlu dikasihani hingga dia benar-benar pergi di bulan Januari 2025, It’s not that I forget, but I will still miss you. Menutup mata dan memakai headset mendengarkan album – album terbaik di tahun ini seperti Apollo brown, de la soul, Big L dan DJ Premier & Nas dan untuk merayakan hadirnya seseorang yang datang dengan cinta, rayakan apapun itu untuk menciptakan moment yang terlewati. Kembali ke subuh saya mulai turun dari blok melihat lapangan yang hijau nan dingin nafaslah lebih panjang berjalan tanpa henti pelan hingga semua bertepi. Untuk orang-orang yang berani bersuara untuk mereka yang ditangkap karena karena mempertahankan ruang hidupnya untuk mereka yang melawan, teruslah.
Ps. Tulisan ini sempat tertunda dalam hal intergasi, begitu repot untuk nanya perihal SK. Terimakasih untuk seorang yang special yang menyemangati untuk tetap menulis, walau tulisan ini bagi saya pendek tapi yasudah.
Garis waktu.
“Banjir longsor Sumatra uatara/barat dan aceh” -25 November 2025-
Dear to: ema ayu
Kau hadir menjelang ahkir tahun yang hampir gelap dimana diriku tak kuasa menghadapi sunyi, kawan pergi dan datang berganti tak ada kawan sejati disaat aku butuh pada hari-hari yang semakin terbiasa ditinggalkan mereka yang terlupa, lupa akan dimana masa itu menjadi harap dalam simbol terikat.
Kau datang disaat hal tak terduga menguncang dunia ku saat butuh seseorang yang tak perlu megah tapi dengan sederhana dirimu menjadi mahkota, kini hadirmu menyelimuti hari-hari ku yang kaku karena sekeling ku punuh nafsu, bersamamu saat ini adalah hal yang terindah yang tak pernah aku temui walau sejauh sayap icarus.
Hari yang panjang untuk pertama.
Tak sempat terbesit kala itu, ketika saya mulai membuka sosmed dalam resolusi yang mentah yah gimana tidak begitu banyak opsi yang harus dilihat untuk ukuran layar yang sekarang bisa melihat apapun saat ini, internet yang semakin masif hal pertama mungkin saya bisa bilang untuk mencari hubungan berteman mungkin hanya sebatas itu walapun bisa lebih berati cinta, scroll tanpa henti close aplikasi facebook, buka, close lagi, ditempat saya yang teman-teman biasa kumpul dan berbagi makan, rokok dan cerita, sudah pada punya dunia mereka sendiri yang dimaksud adalah sudah punya pasangan, tapi kadang saya tetap dengan pendirian saya yang kadang bisa dibilang oleh teman-teman, cowo munafik lah cowo sok benar lah, tapi yah emang saya orang paling muna di antara teman-teman saya itu.
Seiring berlalunya hari saya semakin bertemu dengan sunyi takala di musim hujan menjadi titik awal kerapuhan, jenuh datang tak kenal henti, seperti painkiller sesaat lega dan sesaat membosankan, apapun pada saat itu tak ada yang bisa menghibur kecuali diri sendiri dan sepi, mungkin ada baiknya saya mencoba mencari dan bisa menemukan mata hati. Saya mencari di facebook dengan konsistennya seperti para alchemist yang begitu disiplin pada suatu objek, entah dengan tujuan itu saya bisa menemukan atau tidak, tapi tetap waras dalam kondisi mode setengah mau modar.
Dengan keseriusan yang intim di dalam sosmed ahkirnya ada sebuah pesan yang dibalas singkat entah itu dari siapa saya tidak tau karena emang sedang mencari, saya mulai menyapa dan beranikan untuk memulai obrolan singkat walau pasti dia akan ilfeel karena kecerobohan saya memilah kata yang tak pantas, tapi ternyata tidak, dia merespon sangat hangat yang membuat saya ingin terus mengirim pesan padanya, tapi waktu tak berpihak ternyata dia sedang berkerja, saya menganggu rutinitasnya, beruntung saya dapat nama dan tempat asalnya, ia bernama ayu dari aceh, tempat yang jauh kami mulai kenal, saya pikir itu sebatas hari itu saja mungkin esok ayu sudah lupa.
Dan saya yang sudah tak menghiraukan untuk akan di sapa ayu lagi, karena sudah tidak ada kesan untuk pertama, notif hp menunjukkan ada pesan masuk dan membuka, saya melihat ayu menyapa di pagi yang suram lewat pesan yang singkat. Kehangatan itu hadir tanpa tanda, tapi sudah menyelimuti kami berdua, ahkirnya berbalas pesan dengan senangnya, hingga pindah ke aplikasi yang lebih personal whatsapp, memberanikan diri untuk chat yang panjang hingga menanyakan perihal ini itu. Kami sudah mulai berhubungan tanpa status tapi seperti ingin memulai untuk ungkapan rasa, sayangnya ayu tidak terlalu merespon sejauh itu, walau sebenarnya ia faham chat yang saya kirim itu menunjukkan sinyal untuk lebih dekat, mungkin sesuatu yang entah membuat ia ingin lebih lama berteman dan saya yang sudah ingin buru-buru untuk mengucapkannya alhasil saya ditolak.
Ternyata tidak, ayu ingin ditunda untuk jawabannya esok hari, dan malam itu tak pernah pagi waktu kian panjang untuk tau jawabannya, esok datang dengan ketenangan, saya memulai percakapan tapi ingin tau apa hasilnya, ayu menjawab saya harus siap kecewa dengan keterbatasan ayu dalam komunikasi, saya faham maksudnya, tapi perlu diingat saya sempat ingin dicarikan wanita oleh dia, entah kenapa begitu, saya menolak sebisa mungkin karena apa yang saya ingini, ayu pun ahkirnya luluh dengan ketabahan untuk memulai dari awal dengan saya, yang artinya kami berdua menjalin layaknya “Orpheus dan Eurydice” awal kebahagiaan saya untuk memulai denganya begitu serius, walau saya awalnya tidak yakin tapi makin hari kemantapan saya semakin matang untuk melewati semua hingga bertemu.
Saya yang mulai ingin jujur kepadanya untuk bilang bahwa saya sedang dikurung dalam waktu yang tidak begitu lama dan bisa dibilang hitungan bulan, momen yang dikala penantian panjang saya untuk bebas. Ayu datang dengan senyumanya dan kesederhanaan yang membuat saya terpesona akan hadirnya memberi harapan dan kehangatan membuat candu tanpa saya sadari, rasa ini begitu liar entah dia datang begitu saja, tapi selalu ada di dalam hati, tak mungkin sekarang saya tanpanya, sering berjalan kami memulai hari-hari dengan sayangnya waktu tak jadi pembatas lagi, hingga tiba dikala ayu sudah tidak memberi kabar dan sempat kasih info terahkir bahwa ditempat ayu telah banjir.
Tak menyangka putusnya komunikasi saya denganya, ternyata menyimpan beban yang sulit saya ungkapan begitu kosong. Membuka sosmed untuk melihat berita, terkejut melihat bencana sumatra utara/barat dan aceh begitu dasyat yang menyebabkan memakan korban hinga puluhan dan lebih, banjir itu bukan sekedarnya tapi banjir langsor, jembatan roboh rumah-rumah hanyut orang-orang berhamburan mencari tempat yang aman tak peduli rumah yang ditinggalkan sudah hancur tersapu air ada yang selamat dan tidak, kehilangan keluarga meraka, bencana ini akibat ulah manusia yang serahkah, tak peduli masayarakat disekitarnya terkena dampak yang, begitu tragis, saya terdiam dan mencari tau akan aceh.
Seminggu menanti kabar tak kunjung hadir, meratapi semua dengan ayu yang begitu singkat tak ada kesan tapi sudah menjadi bagian dari hati yang terpisah, kepergiannya kian makin membuat saya ingin melepaskan untuk terima walau hati masih mencari, sudah pasrah akan berita yang makin banyak korban berjatuhan karena terhanyut dalam pencarian dan evakuasi, tak ada nomor yang bisa saya hubungi selain ayu, pikiran saya kalut hingga saya mencoba terus berkirim pesan kepada orang yang tidak saya kenal untuk menayangkan di aceh, terus mencari siang – malam hasilnya nihil.
Pagi dengan hampa tak kala sudah mulai ingin melepasnya, hp memberikan notif dari sayang penakluk hati, ayu kembali dengan pesan singkat “abang” Pecah semua kehampaan dan suasana berubah menjadi terang walau redup, dunia saya kembali dengan bahagianya, ayu masih hidup. Ayu pun bercerita begitu ngerinya pas rumahnya tersapu banjir dan lumpur, ayu bergegas cepat untuk angota keluarga dari mulai adik dan bunda, mereka melewati banjir yang arusnya begitu kuat dengan harapan untuk tetap hidup, mereka berhasil untuk mengungsi di mesjid, tiga hari tanpa makan tanpa berganti pakaian demam melanda, ayu bertahan begitu hebat, dirinya saya tak kuasa ingin bergelimang air di kelompak mata ketika ayu bercerita, disana tanpa listrik gelap total tanpa bantuan yang datang.
Ayu sudah bisa berkirim pesan walau jarang, sehari hanya sekali kami memberi kabar, tapi bagi saya itu sudah sangat cukup membuat saya tenang, kata ayu banyak yang dikubur masal, dan mereka yang di aceh tidak punya pasokan makanan, semua porak-poranda, saya hanya diam tak bisa berkata apa-apa, ayu selalu menolak untuk diberi konsumsi, saya dan ayu sangat mencintai satu sama lain, dengan melewati semua ini, hari berlalu kian membaik walau belum pulih total, saya makin sering komunikasi denganya, ayu bertahan dengan kuatnya, wanita yang hebat yang pernah saya temukan, takan saya lepaskan, ayu pun sama.
Hingga hari ini kami makin dekat dan sudah bisa video call dan beberapa kali tlp walau sinyal disana tidak begitu baik tapi Paling tidak bisa memberi kabar, ayu sekarang sering demam karena lumpur masih banyak dan air pun masih sulit, saya terus menyemangati untuk hari-hari saya pada ayu tanpa henti dan tanpa ada yang berubah, dan kami berdua memutuskan untuk serius dalam hubungan ini bukan sekedar tapi sudah cukup untuk memulai dengan yang lain lagi, bagaimanapun kami tetap akan mempertahankannya.
Kutipan puisi dari “Subcomandante marcos”.
surat cinta
Tubuhmu, sayang, adalah kota terlarang Tempat kutemukan lagi nuraniku yang hilang
Senyummu, sayang, adalah perih terlengan Hingga waktu memisah malam dari benderang
Bisikmu, sayang, adalah ombak paling gelora Hingga hasratku menjelama kedalam Samudera
Mencintaimu, sayang, seperti sebuah revolusi Hingga seluruh rinduku terbit menjelma matahari
Di belantara ini, kekasih, izinkan aku mencitaimu Seperti embun pagi, fana, dan tak berharap abadi
Kekasihmu
Dan sudah tidak terasa pergantian tahun 2025 beberapa hari lagi dan awal tahun akan dimulai untuk perjalanan panjang bersamanya.
Ps. Makasih sudah bertahan hingga hari ini “cut ema ayu”.
Tulisan dendam angkara, ditahun paranoia.
Obituari dari lorong.
Singkat pengantar.
Jalan panjang ditahun 2024, entah semua yang tertulis disini mewakili kegelisahan, perspektif dan amarah, harapan telah diujung tahun, bukan berati awal tahun adalah titik terang, melainkan moment hancurnya hati dan remuknya perasaan, dari dendam tak berkesudahan dari kawan yang pengecut dan dari mereka yang terus mengilas layakanya waktu.
Kabar duka dari lorong.
Awal tahun adalah momentum ketika saya selesai komunikasi via telpon sama mamah tentang penyakit bapa yang tak kunjung membaik, saya mulai menanggalkan awal tahun yang buruk, ini bukan pesimis, entah ketika pada malam hari seorang kawan dilapas ini satu blok dengan saya dapat kabar bahwa dia sudah tiada akibat penyakit yang diderita dan dibawa kepengayoman, saya melihat jasadnya dihandphone kurus tinggal tulang, teringat ketika semasa hidup kawan saya mengalami peristiwa dari mulai rumahnya terbakar, istrinya ketangkap polisi karena menjual narkoba darinya, otomatis menambah hukuman akibat istrinya buka mulut (memberi tau narkoba ini dari mana).
Dan kawan saya yang lainya juga telah pergi karena diabet yang cukup lama sampai amputasi kaki kanan – kiri, tidak bisa menjaga pola komsumsi dan tidak mau gerak stay dikamar, saya menanyakan dari pihak keluarganya pun tidak peduli, saya sudah mulai menghitung jemari untuk melepaskan dengan nafas tidak percaya, ketika disiang hari dilantai satu “saya dilantai dua” sesorang terkapar di depan kamar mandi akibat sebuah tusukan dengan total 82 jahitan dileher dan dikabarkan tewas perihal urusan pihutang 50rb dan masih dilantai satu seorang “tamping” (pekerja membantu lapas) mati akibat bergadang dan tidak ada asupan keperut, masuk angin banyak yang bilang begitu, sampai menyebabkan digotong oleh teman – teman untuk di bawa kekelinik ternyata tak terselamatkan.
Perkelahian demi perkelahian selalu hadir ditahun ini bukan berati ditahun sebelumnya tidak, tapi hampir berdekatan kejadianya, kawan saya lagi dibawa kerumah sakit diluar dari lapas akibat pembekakan perut dikarenakan TBC (tuberculosis) dan kawan yang lain pun telah menggalami ngangguan mental sehingga orang yang lewat tidak tau apa-apa ia tusuk dengan obeng, sederetan kejadian ini terus terjadi penusukan-penusukan yang saya dengar. Dan pada titik puncaknya saya dapat kabar dari rumah bahwa bapa sudah tiada, pada hari sabtu tanggal 5 april 2024, saya langsung terdiam seketika hening suasana sekitar hampa, yang ada dibenak saya hanya bayangkan bapa, saya tidak bisa menjelaskan detail sederetan tulisan untuk ini, yang saya sendiri sulit untuk menuturkanya.
Harapan saya pupus tidak bisa bertemu dengan beliau nanti dirumah ketika saya bebas, dua orang tercinta telah pergi, mereka bukan sebuah goresan pena atau apapun kata indah yang mewakilinya, mereka melebihi itu semua. Mamah yang ingin sekali saya hadir untuk terahkir melihat bapa dikebumikan, saya berusaha mencari info tentang perizinan dilapas ini, ternyata sulit dan hari sabtu para petugas kantor libur, paling krusial urusan perizinanya dan faktor utama adalah pinansial, saya ahkirnya menghubungi teman yang sudah bebas, karena teman saya penjaga makam tempat bapa dikebumikan, saya berbicara untuk melihat makamnya melalui video call. Begitu sunyi, degup jantung saya mulai meredup, Sebagai tanda batu, jasad dikebumikan tanah memerah membasah, berkabung sederetan nisan. Ternyata perjalan saya cukup jauh yang telah menyisirkan makna dari perjalanan yang terus berputar, ditinggal oleh dua angota keluarga. Adik dan bapa adalah orang yang saya cintai dalam hidup. I can’t possibly forget that life is very meaningful when the person i love still lives in my soul forever.
Pergeseran ruang hidup, (back to lorong)
Sebuah kata radikal terlontar ke saya perihal sebuah “barang” yang menyebabkan saling mengambil jarak dan mulai memusuhi layaknya murtad. Mushola tempat ibadah dan istirahat untuk para tahanan dilapas. Seperti tahun lalu, saya sempat menulisnya. Perihal ini “barang chargeran handphone” yang menyebabkan permusuhan dan tidak saling sapa sampai mampus, tapi perlu diketahui, sedari awal saya tiba dilapas ini ditempatkan dimushola adalah sebuah pilihan yang tidak bisa dipilih.
Awal perkara, waktu menjelang sore dengan rutinitas biasa, saya mencharger handphone dan meninggalkannya untuk ke kamar mandi, selesainya, saya balik lagi untuk mengecek handphone “entah mengapa dipenjara selalu was-was perihal barang-barang elektronik” dan ternyata pas saya cek handphone kabel chargernya diganti, gantian kabelnya tidak mengisi daya (kabel chargean rusak), disinilah titik awal perpecahan, “tapi saya sebelumnya emang sudah mengambil jarak jauh-jauh hari semenjak memakai peraturan “kodinator” (pemimpin).
Dan saya menanyakan kabel charger “ada yang ganti”, ke para pengurus mushola dan tidak ada yang tau, sebagian angkat bahu, mushola tidak aman bagi saya saat itu, tapi saya tidak mau diam ketika barang belum ketemu, magrib menjelang, dapat kabar mau ada kontrolan dari petugas sipir, otomatis barang-barang elektronik dirapihkan yang pasti handphone ditaruh ditempat yang aman, ketika para penghuni blok mundar-mandir untuk merapihkan barang-barang, saya melihat kabel charger saya ditempat para pengurus mushola menaruh barang elektronik, langsung saya ambil kabelnya dan merapihkannya ditempat saya.
Singkat waktu, esoknya seperti bisa saya mencharger handphone ditempat yang sama, tapi kali ini kabel saya dicuri, tidak ada, entah kemana, hanya handphone tergeletak, merasa dipermainkan saya pun membeli kabel chargeran bekas tapi normal. Setelah kejadian perihal chargeran sudah mulai meredup. Sebulan kemudian saya melihat kembali kabel charger milik saya yang lama terpasang dihandphone pengurus mushola, tidak pikir panjang langsung saya copot kabel chageranya, disinilah kata “radikal” terlontar ke saya atas tindakan yang main cabut chargeran tanpa izin, diintimidasi tentang perbuatan saya, kodinator mushola mulai berucap, “kalo emang itu kabel milik elu! mana tandanya?”, saya langsung kasih lihat tandanya dan kodinator mushola terdiam dan menayakan lagi perihal kabel yang waktu itu, (yang dimaksud adalah kabel rusak yamg pertama di tukar) gantinya mana, disini mulai adu mulut dan berbuntut diadakan rapat.
Rapat diadakan malam hari, membicarakan kinerja dimushola seperti jadwal – jadwal kegiatan dll. Dimulai dengan sambutan biasa dan membicarakan perihal angota para pengurusnya, ketika inti rapat ini adalah saya dan ocehan-ocehan pun dilontarkan perihal tidak mau mengikuti ucapan “kordinator” (pemimpin mushola) dan sering absen untuk jadwal yang sudah ditulis di white board, beberapa pengurus mushola tidak suka dengan sikap saya yang membangkang, rapat ini tidak membicarakan perihal kabel chargeran.
Rapat masih berlanjut, ketika saya dikasih opsi oleh pengurus blok, karena pengurus blok hadir, artinya rapat ini tidak murni, opsi itu adalah apa bila tidak mau ikuti aturan dimushola akan dimasukan ke kamar dan letak kesalahan saya ada disholawat dan azan subuh, saya pun berucap bahwa sebenarnya saya tidak masuk dalam pengurus mushola, dan menjelaskannya bahwa saya tidak mau terikat (artinya saya warga binaan saja), tapi mereka sudah menggap saya bagian dari pengurus mushola, sudah hampir mau dua tahun saya bantu-bantu. Dan saya berucap untuk perihal azan dan sholawat subuh saya menyangupi, tapi tidak untuk makan bersama-sama lagi, saya keluar dari dalam mushola perihal untuk istrirahat.
Kembali ke asal, lorong, untuk kegiatan di mushola saya masih bantu-bantu. Alesan saya tidak mau dikamar takut asma kumat karena penggap, butuh space luas. Ahkirnya saya pindah tempat istrirahat dan bernaung yang dinamai lorong, dimana asal muasal disini, tanpa patner sendiri dan dilorong ini saya menyaksikan sebuah pergeseran ruang hidup, “pergerakan yang dimana cara sipir dan petugas-petugas kepala lapas membuat monopoli dari sebuah kamar yang disulap menjadi apotik (tempat untuk pemakai sabu dan menjualnya ke para tahanan) so bagaimana penjara telah memanipulasi dan membuat perekonomianya sendiri dilapas kelas satu paling diinginkan oleh para tahan diseluruh indonesia.
Part 2. Pergeseran ruang hidup (apotiek).
Lembaga pemasyarakatan lapas kelas satu jakarta, cipinang dengan total tahanan kurang lebih 2700 penghuni lapas ini, saya tidak bisa pastikan untuk luasnya, perkiraan dua hektar atau sebesar lapangan bola dengan bangungannya, tiga gedung, satu gedung berisi tiga lantai yang dimana setiap gedung mempunyai tipe dan namanya, dari mulai tipe tujuh C, bernama wisma sahardjo, tipe lima B, bernama wisma baharudin lopa dan gedung tipe tiga A, bernama wisma ahmad arief, setiap tipe dengan angka paling ahkir ukurannya sangat luas dan tipe dengan angka paling awal sebaliknya.
Lapas ini mempunyai fasilitas dari lapangan bola dan rumputnya, perpustakan dan sekolah (apabila tidak punya ijazah) tempat ibadah, mesjid, gerja, wihara, lapangan basket disatukan dengan lapangan voli ada gedung kuhusus untuk para tahanan menyalurkan ide kreatif/produktif seperti sablon, menjahit, bengkel las dan kayu, otomotif, perkebunan/cocok tanam, membuat tempe dan adonan donat membuat kerajinan tangan, hampir sebagian kegiatan-kegiatan itu berada di gedung “bingker” (bimbingan kegiatan kerja). Saya akan menulis perihal dimana “bingker” ini akan disulap menjadi tempat garment, yaitu membuat batik, dengan ambisi dari para petugas – petugas dilapas ini, karena mereka kedatangan tamu insvetor asing dari japang, tapi saya menulisnya di kolom setelah tulisan ini.
Kembali ke topik dengan nama kelas satu pasti sudah faham dengan fasilitas diatas yang saya tidak sebutin satu-persatu karena begitu banyak dan untuk kehidupan dilapas ini yang juga bisa dibilang lapas “cipinang kriminal” atau “cipinang lama”, sama seperti lapas-lapas lain punya jam-jam oprasionalnya dan disiplin waktu. Untuk makanan yang dapat dari lapas layak dikomsumsi dan untuk air minum bisa ambil ke dapur membawa botol, untuk air mudah didapat ini yang gratis. Yang pake peraturan penjualan sanggat banyak dan hampir dibikin seperti bukan dipenjara untuk urusan jual beli makanan ada coffie shop, wisata kuliner dengan menu pecel ayam, martabak, soto, gado-gado dan baso, mie ayam dan capcay dll, tak mau kalah perpustakaan pun tadinya tempat untuk menikmati buku-buku tanpa embel apa pun dan sekarang direnovasi seperti tempat cafe dengan tema kopi rokok, untuk harga bersahaja bagi para penguhuni lapas warga binaan, begitu banyak dagangan di lapas ini dan hampir mendominasi sampai keurusan komsumsi, tempat istirahat dan kamar mandi.
Hampir rata-rata penghuni terbanyak di lapas ini adalah pasal narkoba dan disini bebas bermain handphone, tapi tetap menghormati apa bila petugas sedang memantau atau “apel” ( menghitung jumlah tahanan di kamar setiap jam yang ditentukan) saya akan mengarah kelembaga ini yang melakukan kerja kotor yang dimana para bos besar dan sipir, petugas staf dengan jabatan tertinggi hingga kepala lapas berkerja sama, intinya para bos besar mengendalikan narkoba dari dalam dan luar, tidak lupa untuk membayar jatah ke para petugas-petugas “saya tidak mengatakan seluruh petugas, mungkin beberapa saja” karena mereka tau cuanya lumayan, lapas ini yang berkuasa ialah para petugas dan jajaran stapnya mereka punya sebutanya, “team work”, kalau tidak salah mulai dari sipir (penjaga setiap blok) dan wali blok (bertanggung jawab untuk blok) k-lapas (kepala lapas), kasi bimkemas (kepala sesi) k.p.l.p ( keamanan popolaritas lembaga pemasyarakatan) dan staff bimkemas (adalah suatu modul yang digunakan untuk membantu bagian Pembinaan Kemasyarakatan di Rutan atau Lapas). Dan karena cuan yang mengalir begitu cepat, para bos besar dan petugas lapas ini pun berkerja sama untuk membuka apotik (kamar khusus menjual narkoba dan memakainya).
Untuk narkobanya dari big bos dan yang memasukinya kelapas ini ialah para petugas dan itu butuh biaya yang sangat mahal belum untuk jatahnya setiap sebulan sekali atau harian. Saya pernah diceritakan oleh pengurus blok, setiap sebulan sekali jatah ke lapas ini bisa 55 juta, itu untuk satu blok dan satu gedung ada tiga lantai, itu belum jatah sipir yang menjaga dan petugas – petugas yang tiap hari melacak (ke kamar bos – bos meminta jatah untuk beli bensin dan ongkos anak mereka jalan-jalan kepuncak) dengan jatah sebulan/harian, berati pemasukan apotik sebesar apa tiap harinya? Dan sampingan para petugasnya bisa menjadi biro jasa untuk memesan barang atau makan dari luar ke dalam lapas, apa pun itu dan hampir rata – rata dilapas ini para tahanannya pemakai sabu, berati sudah faham arahnya kemana, disinilah peputaran ekonomi berjalan, handphonelah sumber kehidupan dapas ini yang bertangung jawab atas perputaran uang keluar masuknya, banyak modus baru untuk para tahan melalui handphone karena kebutuhan mereka didalam lapas ini seperti penipuan dan mengadu nasip melaui judi online yang pastinya kontrol penuh untuk big boss.
Oke saya cerita intinya, karena begitu panjang apa bila saya jabarkan. Dilorong tempat saya beristrirahat telah menyasikan penghuni kamar “206” yang sudah lama mereka tempati telah di geser (digusur) untuk dijadikan “apotik” dan orang-orang lama (sebelum saya disini) mereka dipindah-pindahkan ada yang kekamar-kamar lain dan ada yang ke lorong, yang dilorong ini, saya kebagian cerita dari mereka, betapa sedih ketika kamar itu dibongkar dan dijadikan apotik, mereka menganggap kamar itu sudah seperti rumah dan keluarga dan mereka sudah membayar iyuran kamar sebulan sekali, itu rutin dan setoranya ke K.M (kepala kamar, orang pemimpin dikamar dan iyuran uang kamar di pegang kepala kamar dan diserahkan ke omen lalu diserahkan ke petugas) dan sekarang mereka harus beradaptasi lagi dari awal, mereka digusur dadakan tanpa pemberituan terlebih dahulu, sekarang mereka yang di geser ruang hidupnya dilema karena masalah tempat, beradaptasi, dipenjara itu sanggat sulit, minimal harus gaulan dulu (traktir/makanan atau narkoba ke orang-orang ditempat yang baru).
Disini saya melihat apotik di bekinggi oleh para otoritas lapas, “mungkin semua fasilitas yang menguntungkan”, kita tidak bisa berbuat apa-apa, dan ini bukan perihal karena narkobanya, tapi karena mereka sudah bertahun-tahun penghuni kamar, kejadian-kejadian pergeseran ruang hidup adalah potret yang sering terjadi entah itu diluar lapas atau dimana – mana. Ketika pemodal datang disambut dan di istiwekan, dan siapapun itu yang menghalangi pemodal akan kena imbasnya, kejadian seperti ini akan terus terjadi dan tak tau ujungnya, entah lah.
“Saya juga pernah menulis perihal apotik waktu dirutan. Dan sekarang ditempat yang saya singgahi ini sama kehidupanya perihal apotik, tapi saya tak tahu dilapas/rutan lain diluar jakarta mungkin beda peraturan beda kehidupan”.
Hari batik nasional dan insvetor asing.
Pada tanggal 2 oktober saya tidak begitu peduli pada hari batik, sampai saya terlibat didalamnya. Jauh hari sebelum harinya, banyak sepanduk disetiap jalan dipinggir lapangan bola, ketika saya bergegas untuk mengisi air minum di dapur, saya mengitari lapangan terlebih dahulu untuk menikmati suasana sore dan melihat-lihat sepanduk iklan bertuliskan “pasti bisa” hari batik nasional, yang saya ingat si itu tulisanya. Dan tiba waktunya, memperingati hari batik, semua warga binaan lapas cipinang tidak boleh keluar lapanggan, dikarenakan akan datang tamu dari luar (jepang) dan semua harus seteril (merapihkan barang-barang yang dilarang dan merapihkan blok hunian). Saya ingin melihat acara tersebut dari lantai dua kearah lapangan melalui jendela jeruji, begitu mewah sambutannya dengan asesoris sperti bungga hias, gordeng dan papan bertuliskan hari batik, setelah acara selesai mereka menyisahlan sampah yang lumayan banyak.
Tapi dari acara tersebut berdampak buruk, karena satu bulan setelahnya, diadakan penyuluhan dan entah kenapa nama saya ada dilist kertas untuk menghadiri penyuluhan tersebut, tempatnya di “gazebo” (taman terbuka/tempat serbaguna) Saya dapat info untuk yang nama-namanya tertulis berati dalam proses pengurusan P.B (pembebasan bersayarat), itu alasan saya hadir, tak pikir panjang salin celana dan kaos menuju gazebo, persertanya masih dikit, hingga satu-persatu datang dan memenuhi tempat. Dengan kondisi sudah padat, dengan total 52 perserta.
Penyuluhan pun dimulai, awalnya petugas memberikan info bahwa kami akan beritahukan kabar bagus tentang pengurusan P.B. Pengurusan akan dipercepat, tapi ketika yang hadir bukan saja yang sedang dalam pengurusan, melaikan belum pengurusan dan yang tidak ngurus pun hadir, artinya ini umum, berati ini penyuluhan apa, saya berbicara dengan teman. “kasi bimkemas” memulai dengan berbicara memakai microphone tentang betapa terpujinya dia, karena kinerja yang ia lakukan, membebaskan tahan tanpa dipersulit dan yang pasti dipercepat, kasi bimkemas ini berpengalaman diberbagai lapas ucapnya, disambut tepuk tanggan oleh para napi yang hadir.
Saya mulai bertanya-tanya perihal sebenarnya ini apa, kenapa yang saya dengar hanya sebuah omong kosong, saya pun mulai menyimak kata-kata kasi bimkemas, tetapi bicaranya makin kesini makin konyol, kalian disini telah kami jaga dan dapat makan yang disediakan oleh lapas cipinang sampai-sampai kami menyediakan wanita sexy, tiap hari jumat untuk kalian lihat, (setiap hari jumat pagi diadakan senam dengan dua wanita berpakian ketat tapi yang ikut senam pun cuma sedikit) para hadirin tertawa, saya terdiam, kasi bimkemas pun dengan nada mengoda berbicara kalo kurang sexy dan bohay entar saya carikan lagi, “itu kan hanya bentuk”, disini para tahan langsung bersorak-sorak seru, ini seperti para parpol (partai politik) yang sedang pidato dan mempunyai maksud. Saya bertanya ke seorang di sebelah, ini penyuluhan arahnya kemana, orang tersebut tidak menjawab ucapan saya, malah mengagumi kasi bimkemas dan memberikan pujian, saya terdiam dan mulai fokus untuk menyimak lebih dalam, dengan semua omong kosong yang dilontarkan dan segala macam banyolan untuk menghibur layaknya badut. Ahkirnya kasi bimkesmas berbicara inti penyuluhan ini.
Saya selaku kepala sesi bekemas memberitahukan kepada kalian “Bahwa lapas kelas satu cipinanag akan memproduksi garment, yaitu batik”, dan diharapkan batik ini akan menebus pasar internasional dengan ambisi bahwa kita pasti bisa, “satu bulan lalu kita kedatangan tamu dari jepang untuk menanam modalnya disini”, dan akan ada alat cangih untuk membuatnya, didatangkan langsung dari jepang, maka sebab itu kalian harus ikut dalam produksi garment ini, kita butuh peserta yang banyak untuk memproduksinya. Satu persatu petugas kantor datang ke gazebo untuk penyuluhan garment ini, ketua lapas pun hadir dan duduk, micrpohone pindah tangan ke kepala lapas dan memulai dengan ucapan salam, disini keseriusan mulai terasa.
Kepala lapas ingin sekali para warga binaan ikut dalam produksi, dikarenakan kalian itu dinamis bukan statis, maka sebab itu ayo kita ramaikan garment ini, tepuk tangan yang meriah, disini kita ciptakan bahwa kalian bisa dan sekarang kami akan kasih lembaran biodata untuk kalian isi, apa bila kalian tidak hadir disaat mulainya produksi, maka akan dipanggil melalui speaker, tapi kalo tidak hadir juga maka kami tak segan-segan untuk menghampiri kalian kekamar, itu bisa menyebabkan badan kalian pegal-pegal, jangan sampai kami yang memanggil nama kalian dan sangsinya bisa kami selti (ukuran ruang tahanan terkecil), ancaman demi ancaman terucap oleh setiap petugas yang bergantian berbicara didepan para warga binaan.
Betapa ambisinya otiritas lapas ini untuk pembuatan garment sampai-sampai mereka seperti membuat lapas ini adalah industri yang dimana para buruhnya warga binaan dan tidak dikasih tau sampai kapan, tidak dapat apa-apa dan produksi garment ini akan di bikin bergenerasi, saya pun mulai memberi tahu ke teman-teman untuk tidak mengisi biodata karena tidak dikasih gaji dan tidak tau sampai kapan produksinya, dan teman saya juga memberi tahu ke yang lain-lain, tapi saya sendiri malah mengisi biodata tersebut dan ikut mengkumpulkan lembaran data yang sudah saya isi, cukup aneh, saya kembali ke blok dengan terdiam.
Setelah perihal batik yang banyak dibicarakan diberbagai tempat lapas ini, seperti di lorong dan pemandian umum, saya sudah biasa-biasa saja dan ketika saya punya janji sama teman di gedung bingker, saya pun kesana menemuinya, seorang tamping kerajinan tanggan, teman saya ini tahu semua info-info tentang kegiatan bingker, saya tiba digedung bingker dan masuk menaiki tangga ke lantai dua dan yang saya lihat hanya ruangan kosong yang sanggat luas, saya turun ke lantai satu dan menanyakan ke seorang, diarahkan keruang tengah dan bertemulah dengan teman saya, di sela obrolan saya menayakan perihal di lantai dua, ruang kosong gitu, teman menjawab, iyah itu entar mau di jadikan tempat produksi batik, sebenarnya batiknya sudah berjalan tapi dengan jumlah yang sedikit karena alatnya belum datang untuk sementara mereka memproduksinya dikantor itu juga beberapa orang saja, saya bercuap apakah mereka dibayar selama pembuatan, teman menjawab, tidak dibayar hanya dapat makan saja. Setelah obrolan dengan teman saya sudah cukup karena dia masih banyak pesenan yang harus diselesaikan saya pun pamit dan kembali keblok, berjalan melihat-lihat sekeliling, saya berucap didalam diri, beberapa bulan lagi tahun berganti, saya melihat keatas pancaran sinar matahari tertutup dedauan pohon pinang, hujan pun egan turun, sesampainya di blok saya teringgat untuk mendengarkan lagu dari dälek yang berjudul Culture for Dollar.
Memumuti serpihan harapan diahkir tahun.
Di bulan desember ini sudah memasuki musim dingin nan hujan, beberapa bulan lalu saya mulai pengurusan P.B dan sekarang masih ikuti proses, tahun ini adalah desember terahkir dan kemungkinan pertengahan tahun 2025 saya sudah bebas. Hampir enam tahun berjalan dan beralu, membawa cerita yang panjang entah saya sendiri hanya bisa menulis dengan kemampuan saya, karena keterbatasan. Untuk musuh dan teman yang hadir bersamaan ditempat ini, saya pun juga menanti untuk bertemu keluarga tercinta, sama seperti kalian, harapan tercecer di musim dingin, ketika rintik hujan beri nada pada piber atap dan membuat rindu akan rumah semakin dekat, mulai memupuk di kehidupan baru ketika waktu yang sudah ditentukan untuk bebas, teman sejati telah pergi, sulit untuk merangkul kembali, karena ini moment bagi saya disini dan banyak tugas yang harus diselesaikan. Saya berterimakasih kepada mamah tercinta dan kaka ku yang menemani perjalan ini dan para angota keluarga, teman yang masih konsisten berkomunikasi dengan saya selama di dalam penjara, saya tidak bisa ngebayangin perjalanan ini tanpa kalian dan untuk album yang menemani perjalanan saya di tahun ini, album terbaik di 2024 versi saya, oke list album.
Arrested Development – Bullets In The Chamber
Common & Pete Rock – The Audiotorium Vol.1
Ka – The Thief Next To jesus
Vinnie Paz – Jacinto’s Praying Mantis
Noname – Sundial
Pete Rock, Smif-N-Wessun – Monumental
Dr. Octagon – Dr.Octagonecologyst
Quelle Chris – Deathfame
Gangrene – Heads I Win, Tails You Lose
PS.
Tanggal 11 desember saya memutuskan untuk keluar dari mushola dan membantu kegiatan dilorong. Terimakasih untuk musuh yang masih memperjuangkan untuk menang, saya merayakan tahun ini dengan suka cita dan tetap konsisten untuk bertahan dalam kewarasan,peace out.
Kronologi.
Tulisan ini diambil dari buku Kata adalah Senjata, yang dimana saya salin dilembaran bab terahkir, karena menurut saya ini adalah Kronologi penting. Tentang perjuangan masyarakat adat zapatista yang mempertahankan tanah kelahiran.
1994.
1 Januari: EZLN melancarkan pemberontakan bersenjata di negara bagian Chiapas, Meksiko Tenggara, menuntut demokrasi, kebebasan, dan keadilan bagi seluruh rakyat Meksiko. Komando Jendral EZLN menerbitkan Deklarasi Pertama Rimba Raya Lacandon. Kotapraja San Cristobal de las Casas, Ocosingo, Las Margaritas, Altamirano, Chanal, Oxchuc, dan Huixtan Diduduki kaum pemberontak.
12 Januari: Setelah perang hampir 2 minggu dengan korban tewas ratusan orang, gencatan senjata diumumkan oleh pemerintah Meksiko dan dipatuhi oleh EZLN.
18 Januari : Menuel Camacho Solis, mantan walikota Mexico City, diakui EZLN sebagai perwakilan resmi pemerintah dalam negosiasi.
21 Febuari : Dialog langsung pertama antara EZLN dengan pemerintahan federal digelar di katerdral San Cristobal de las Casas, ditengahi Uskup San Cristobal, Samuel Ruiz Garcia.
2 Maret : Perundingan damai San Cristobal berahkir. 24 kesepakatan “tentatif” dicapai berdasarkan respon pemerintah atas 34 tuntutan EZLN. Pemerintah menolak berkomitmen mengenai isu-isu politik ditingkat nasional. EZLN menyatakan hasil perundingan akan dibawa dalam konsultasi dengan seluruh komunitas Zapatista dan basis-basis dukungan penduduk sipil.
24 Maret : Konsultasi EZLN ditunda sementara akibat peristiwa pembunuhan kandidat presiden dari PRI, Luis Donaldo Coliso.
9 April : Uskup Samuel Ruiz, mediator perundingan damai, masuk nominasi Nobel Perdamaian untuk pertama kalinya.
30 Mei : Konsultasi dalam komunitas-komunitas Zapatista selesai.
12 Juni : Deklarasi Kedua Rimba Raya Lacadon memuat hasil konsultasi: 97,88% menolak proposal pemerintah, sementara cuma 2,11% yang setuju menandatangi perdamaian. Namun demikian, cuma 3,26% yang menyatakan niat untuk kembali pada jalan kekerasan, jadi keputusan diambil dengan tetap mematuhi gencatan senjata, sembari membuaka dialog baru dengan Masyarakat Sipil. EZLN menyerukan pembentukan Konvensi Nasiaonal Demokratis (CND).
16 Juni : Negosiator pemerintah, Manuel Camacho Solis meletakan jabatan. Ia menuduh kandidat presiden baru dari PRI, Ernesto Zedillo, menyabotase negosiasi.
5 – 9 Agustus : CND digelar di chiapas, dengan lebih dari 6.000 orang dari seluruh penjuru negeri datang untuk berdialog dengan kaum Zapatista. Untuk acara ini Zapatista membangun tempat pertemuan yang mereka beri nama Aguascalientes, dengan auditorium, perpustakaan, bangsal tidur, dapur dan lahan parkir. Aguascalientes diambil dari nama negara bagian pertama dalam sejerah Meksiko yang memperoleh otonomi lewat tuntutan dan perjuangan rakyat sipil.
11 Oktober : EZLN memutus semua pembicaraan dengan pemerintah federal, akibat represi terus menerus dan kian meningkatnya provokasi militer di seputar wilayah mereka.
26 Oktober : Uskup Samuel Ruiz mengusulkan pembentukan komisi Nasional (Conai) yang bersifat plural.
1 Desember : Ernesto Zedillo Ponce de Leon resmi menjabat Presiden Meksiko Serikat. Ia nyatakan bahwa “tak bakal ada kekerasan di Chiapas dari pihak pemerintah”
8 Desember : EZLN menganggap 11 bulan gencatan senjata ini telah dilanggar dengan pengangkatan penuh tipu muslihat Eduardo Robledo Rincon sebagai gubernur baru Chiapas.
13 Desember : Subcomandante Marcos menyatakan bahwa perang spertinya “kian mendekat”.
19 Desember : Dipimpin sesorang perwira perempuan, Mayor Ana Maria, EZLN melancarkan aksi militer baru “tanpa kekerasan” dengan bantuan penduduk sipil. Hanya dalam waktu semalam, lebih dari setengah wilayah Chiapas menjadi “wilayah pemberontak” tanpa satu pun peluru ditembakan. 38 kotapraja kini berada di bawah EZLN.
24 Desember : Komisi Prantara Nasional (Conai) diakui sebagai mediator sah baik oleh EZLN maupun pemerintah federal.
27 Desember : Pemerintah memerintahkan penghentian oprasi militer di Chiapas. Sebagai balasan, EZLN membuka kembali wilayahnya untuk perlintasan warga dan menangguhkan oprasinya lebih lanjut
1995.
2 Januari : EZLN menerbitkan Deklarasi Ketiga Rimba Raya Lacandon, menyerukan pembentukan “Gerakan Pembebasan Nasional” baru, dan menyatakan bahwa perdamaian cuma bisa tiba “bergandengan tangan dengan demokrasi, kebebasan, dan keadilan bagi seluruh rakyat Meksiko.”
7 Januari : EZLN mengumumkan perpanjangan gencatan senjata sepihak 18 januari (yang dibuat tanggal 27 Desember) sampai 13 Januari.
13 Januari : EZLN mengumumkan perpanjangan gencatan senjata sampai 18 Januari dan menyatakan mereka akan menemui wakil pemerintah tanggal 15 Januari.
15 Januari : EZLN bertemu Conai dan wakil-wakil pemerintah, termasuk Menteri Dalam Negeri Esteban Moctezuma, di hutan Lacandon. Kedua pihak setuju mengupayakan gencatan senjata yang stabil dan pembukaan kembali negosiasi.
16 Januari : EZLN mengumunkan “gencatan senjata sepihak dan tak terbatas”.
9 Febuari : Terjadilah apa yang dinamakan “pengkhianatan Febuari 1995”. Pemerintah federal tiba-tiba mengeluarkan perintah penangkapan atas mereka yang dituduh sebagai “pucuk pemimpin Zapatista”. Secara sepihak mereka membatakan gencatan senjata dan melancarkan serbuan militer besar-besaran terhadap EZLN dan komunitas pendulungnya baik di dalam maupun luar Chiapas. EZLN menolak membalas dengan kekerasan dan menarik diri mundur ke pegunungan.
9 Febuari – 11 Maret : Pemerintah terus melancarkan serangan. Tentara membumihanguskan dan menduduki komunitas-komunitas macam Guadalupe Tepeyac, Mengebom EI Prado, dan memaksa lebih dari 20.000 penduduk adat pendukung EZLN mengungsi ke pegunungan. Tentara tak pernah bisa menentukan lokasi Komando Jendral EZLN untuk melaksanakan perintah penangkapan. Tapi lusinan orang di Chiapas, Veracruz , dan Mexico City ditahan, disiksa, dan dipenjara atas dakwaan terorisme dengan tuduhan menjadi anggota EZLN.
11 Maret : tahu samatahu menyadari gagalnya oprasi militer, Kongres menyetujui (dan Presiden Zedillo ikut menandatangi) UU Dialog, Rekonsilisasi, dan perdamaian Bermatabat di Chiapas. UU ini menyerukan dimulainya kembali perundingan damai serta penundaan operasi militer terhadap EZLN (begitu juga penundaan perintah penangkapan atas mereka yang dituduh sebagai pucuk pimpinannya) selama dialog berjalan. Komisi legislatif, Komisi Ketentraman dan Kerukunan (Cocopa), akan berlangsung jawab memfasilitasi dan meletakkan dasar-dasar dialog baru.
17 Maret : EZLN menerima UU dialog, Rekonsilisasi, dan Perdamaian Bermartabat di Chiapas.
20 April : EZLN dan wakil pemerintah federal bertemu untuk pertama kalinya di San Andreas Sacamach’en de los pobres (Larrainzar), komunitas suku Tzotzil Zapatista di dataran tinggi sebelah utara San Cristobal yang akan menjadi “wilayah tetap dialog” antara kedua pihak.
21 April : Pemerintah federal menunda rapat pertama perundingan damai baru, akibat datangnya ribuan pendukung EZLN ke San Andres untuk ambil bagian membentuk lingkaran pengamanan sipil guna lindungi para komandan EZLN. perundingan segera dimulai setelah CCRI-CG berterima kasih pada para pedukungnya dan meminta mereka pulang kembali ke komunitas masing-masing.
10 Mei : EZLN menolak proposal pemerintah untuk mengatasi konflik dengan menghimpun pasukan tentara pemberontak EZLN ke dalam area relokasi “otonom”, yang dengan tafsiran paling lunak bisa dianggap serupa dengan Suaka-Suaka Indian gaya Amerika Serikat; atau dengan tafsiran kasar bisa dipandang sebagai kamp-kamp konsentrasi.
16 Mei : EZLN dan pemerintah federal bertemu dalam sesi utama seri dua di San Andres, menyepakati garis-garis prosedural minimal melanjutkan perundingan.
8 Juni : Frustrasi sendiri oleh pemerintah yang selalu menolak merundingkan apa saja di tingkat nasional, ditambah komentar terus menerus bahwa kehadiran, pengaruh, dan tuntutan EZLN “cuma terbatas pada 4 kotapraja Chiapas”, EZLN memutuskan untuk menggelar Konsulta nasional dan internasional besar-besaran. Konsulta adalah semacam referendum atau plebisit yang pertanyaannya menghendaki jawaban lengkap dan opini masing-masing penjawab bukan cuma “ya” atau “tidak”. Konsulta ini memungkinkan rakyat Meksiko, bahkan orang asing sekali pun, memberi pendapat atas tuntutan-tuntutan dan masa depan EZLN. Sementara itu, dialog dengan pemerintah terlihat jalan di tempat.
27 Agustus : Consulta Nacional e Internacional digelar dengan bantuan Aliansi Sipil dan CND. Pesertanya lebih dari 1,2 juta rakyat Meksiko dan lebih dari 100.000 orang di luar Meksiko. 97,5% pemberi suara nasional menyatakan setuju dengan tuntutan-tuntutan dasar EZLN; 92,7% sepakat bahwa semua kekuatan demokratis negara itu harus bersatu dalam oposisi sosial politik yang luas demi memperjuangkan tuntutan-tuntutan itu; 94,5% setuju adanya “reformasi politik mendalam”guna menjamin demokrasi; 93,1% setuju bahwa kaum perempuan harus dijamin kesetaraan representasi dan partisipasinya dalam semua tingkat kewenangan sipil dan pemerintahan; dan 52,6% menyarankan agar EZLN mengubah diri menjadi kekuatan politik yang baru dan independen (sementara 48,7% menyarankan hal ini dilakukan lewat proses penggabungan dengan organisasi-organisasi yang sudah ada). Konsulta ini merupakan upaya dialog EZLN dengan masyarakat sipil yang paling berhasil.
3 Oktober : Peresmian meja perundingan San Andres mengenai Hak-Hak dan Budaya Masyarakat Adat. EZLN mengumumkan bahwa sesuai prosedur aturan negosiasi San Andres -yang membolehkan hadirnya “penasehat” dan “tamu undanga” untuk mendapingi masing-masing pihak di meja perundingan -mereka telah mengundang lebih dari 100 intelektual, aktivis, dan perwakilan organisasi-organisasi sosial, budaya, dan adat untuk menjadi “penasehat” EZLN selama perundingan. Dengan begini EZLN mensiasati San Andres sebagai diskusi antar wakil masyarakat sipil dari seluruh Meksiko.
18 – 22 Oktober : Fase pertama perundingan EZLN dan pemerintah federal menyangkut Hak-Hak dan Budaya Masyarakat Adat. Pokja di bagi sbb: 1) Komunitas dan Otonomi: Hak-Hak Masyarakat Adat; 2) Jaminan Keadilan bagi Masyarakat Adat; 3) Partisipasi Politik dan perwakilan Adat; 4) Situasi, Hak, dan Budaya Perempuan Adat; 5) Akses Perangkat Komunikasi; dan 6) Dulungan dan pengembangan Budaya Adat.
23 Oktober : Dapertemen pertahan mengumumkan telah menahan Fernando Yanez munoz di Mexico City tanggal 21 Oktober, yang sebelumnya dituduh pemerintah sebagai “Comandante German ” dari EZLN. Sebagai balasan. EZLN menyatakan penangkapan itu melangar UU Dialog dan Rekonsiliasi (yang secara khusus melarang peangkapan orang-orang yang dituduh sebagai anggota atau pimpinan EZLN selama dialog masih berlangsung). EZLN menyerukan “siaga satu”
27 Oktober : Di bawah tekanan Cocopa, Yanez Munoz dibebaskan dan dakwaan terhadapnya batal.
28 Oktober : EZLN menangguhkan “siaga satu” dan mengumumkan akan tetap menghadiri fase kedua perundingan San Andres.
13 – 18 November : Fase kedua perundingan Hak-Hak dan Budaya Masyarakat Adat digelar dengan pokja dan tema yang sama.
Desember : Ketika EZLN memulai persiapan perayaan Tahun Baru (Ulang Tahun Kedua pemberontakan Zapatista), Tentara Meksiko meningkatkan kehadiranya di Chiapas. Ketegangan meninggi khususnya di tempat “Aguascalientes” baru yang dibangun di desa La Realidad, Oventik, La Garrucha, dan Morelia.
31 Desember 1995 – 1 Januari 1996 : Mengabaikan ancaman Tentara, Zapatista tetap melanjutkan perayaan Tahun Baru mereka. Aguascalientes baru diresmikan. Deklarasi Keempat Rimba Raya Lacandon diedarkan, menyurakan pembentukan organisasi baru Zapatista: Fornt pembebasan Nasional Zapatista (FLZN), yang merepukan kekuatan politik sipil nasional tanpa-kekerasan dan independenn yang didasarkan pada EZLN. Hal ini menggenapi janji EZLN untuk mematuhi hasil-hasil Konsulta 5 bulan sebelumnya.
1996
3 – 10 Januari: Forum Adat Nasional digelar di San Cristobal de las Casas. Forum ini, yang diserukan oleh EZLN dan para penasehatnya, termasuk Cocopa dan Conai, dirancang untuk menampung opini dan pemikiran dari penduduk dan wakil-wakil adat seluruh Meksiko, yang putusan dan proposalnya nanti akan dibawa oleh EZLN dalam perundingan San Andres. Dihadiri oleh 24 komandan EZLN serta sekitar 500 perwakilan dari 30 kelompok adat seluruh negeri.
16 Febuari : Menyusul konsultasi panjang dengan basis-basis EZLN, zapatista dan pemerintah federal menandatangi seri kesepakatan pertama hasil Dialog San Andres: 40 halaman reformasi konstitusional yang harus dibuat mengenai Hak-Hak dan Budaya Masarakyat Adat. Namun Comandante David mengingatkan: “Ini cuma kesepakatan kecil di atas kertas. Kami tak mau dibodohi bahwa apa yang ditandatangani ini adalah perjanjian damai.” Sementara itu, seri perundingan damai kedua mengenai Demokrasi dan Keadilan di San Andres tanggal 5 Maret mulai dipersiapkan
29 Febuari : EZLN mengusulkan agar para peserta Forum Adat Nasional menggabungkan diri membentuk Forum Adat Nasional Permanen (yang nantinya menjadi Kongres Adat Nasional).
4 Maret : EZLN mengumumkan daftar penasehatnya untuk perundingan Demokrasi dan keadilian yang mencakup lebih dari 125 orang dan organisasi -dari Cuauhtemoc Cardenas sampai mantan pimpinan PRI dan PAN; wakil-wakil gerakan debitor nasional EI Barzon; pemerintahan pemberontakan di Tepoztlan, Morelos; wakil-wakil serikat buruh independen; jurnalis; penulis; intelektual; dan kelompok-kelompok budaya. Jelas sudah dengan adanya perundingan tertutup mengenai “refomarsi Negara” antara pucuk pimpinan PRD, PAN dan PRI di Mexico City -tanpa satupun rakyat sipil dilibatkan -Zapatista berupaya memanfaatkan perundingan Demokrasi dan Keadilan untuk memperluas negosiasi reformasi politik nasional guna mendapat masukan substansial dari masyarakat sipil Meksiko.
21 Maret : Perundingan Demokrasi dan Keadilan dimulai di San Andres Sacamch’en de los pobres. Dialog segera saja berubah jadi monolog, sebab perwakilan pemerintah menolak membahas proposal EZLN apa-pun; bahkan, mereka hampir tidak mengeluarkan sepatah kata pun selama perundingan. Namun demikian, kepada pers mereka besikeras mau mengatasi isu-isu “demokrasi dan keadilan” lokal, bukan reformasi nasional. Perundingan makin dikotori dengan meningkatnya represi terhadap kelompok-kelompok adat dan tani di Chiapas, yang membuat belasan orang mati, terluka, dan ditahan.
4 – 8 April : Pertemuan Benua pertama demi Kemanusian dan Melawan Neoliberalisme digelar di Aguascalientes La Realidad.
2 Mei : Hakim di Tuxtla Gutierrez menjatuhi putusan bersalah pada jurnalis Javier Elorriaga dan petani adat Tzeltal, Sebastian Entzin, dengan dakwan “terrorisme” atas dugaan menjadi anggota EZLN, dan menghukum mereka penjara 13 dan 6 tahun masing-masingnya. Hal ini menyulut krisis parah dalam dialog yang sudah berjalan alot itu.
11 Mei : EZLN menyerukan “siaga satu”.
6 Juni : Pengadilan banding mencabut putusan terhadap Elorriaga dan Entzin. EZLN membatalkan kondisi siaga mereka.
30 Juni: Forum Khusus Reformasi Negara yang diprakarsai EZLN dimulai di San Cristobal de las Casas. Forum ini diorganisir serupa Forum Adat Nasional bulan januari.
27 Juli : Pertemuan Antar Benua pertama dami Kemanusiaan dan melawan Neolibrealisme dibuka di Aguascalientes Oventik, Chiapas, dengan partisipasi hampir 5.000 orang dari 42 negara. Selama seminggu penuh, para perserta mengelar rapat-rapat dan diskusi-diskusi mengenai beragam isu politik, ekonomi, dan sosial yang berkaitan dengan perjuangan global malawan neolibrelalisme di lima Aguascalientes.
12 Agustus : Sidang pleno Demokrasi dan Keadilan berahkir tanpa kesepakatan. Pemerintah berusaha menutup perundingan mengenai tema ini dan beralih ke seri perundingan baru mengenai isu-isu lainnya. Hal ini ditolak tegas oleh EZLN.
29 Agustus : EZLN, yang melanjutkan konsultasi dengan basis sipil mereka, menunda partisipasinya dalam perundingan damai San Andres. Dalam komunike bertanggal 2 Sepetember, EZLN mengajukan 5 “syarat minimum” yang harus dipenuhi sebelum kembali ke meja perundingan:
Pembebasan semua tahanan yang dituduh Zapatista di seluruh wilayah negara, serta anggota basis sipil EZLN yang dipenjara di Cero Hueco, Chiapas.
Agar tim negosisasi pemerintah punya kapasitas mengambil keputusan, kemauan politik untuk berunding, dan respek terhadap delegasi Zapatista.
Pembentukan komisi Implementasi dan Verifikasi, dan pelaksanaan segera kesepakatan yang telah ditandatangani EZLN dan pemerintah tentang Hak-Hak dan Budaya Masyarakat Adat.
Proposal yang serius dan kongkret dari pihak pemerintah untuk perundingan masalah Demokrasi dan Keadilan, serta komitmen untuk mencapai kesepakatan dalam topik ini.
Pengahkiran iklim serbuan dan tindakan sewenang-wenang militer dan polisi terhadap komunitas-komunitas adat Chiapas, serta penghapusan guarda blancas.
9 Oktober : EZLN mengumumkan bahwa Comandanta Ramona akan jadi wakil Zapatista dalam pertemuan dengan Kongres Adat Nasional Permanen, dimulai di Mexico City hari berikutnya.
7 November : Setelah perundingan “tripartit” serius EZLN, Cocopa, dan Conai, akhirnya dibentuk Komisi implementasi dan Verifikasi (Cosever) untuk Kesepakatan San Andres dengan perwakilan EZLN, pemerintah federal, dan masyarakat sipil.
24 – 29 November : Cocopa, Conai dan EZLN terus bertemu di San Cristobal guna membahas proposal legistatif untuk reformasi konstitusional demi implementasi Kesepakatan San Andres tentang Hak-Hak dan Budaya Masyarakat Adat. Cocopa diberi otoritas baik oleh pemerintah maupun EZLN untuk menyusun proposal final, yang harus di jawab tiap pihak dengan “ya” atau “tidak” begitu saja, tanpa boleh adanya keberatan, koreksi, atau apapun pada dokumen dimaksud.
29 November : Cocopa mengajukan proposal final reformasi konstitusional mengenai Hak-Hak dan Budaya Masyarakat Adat kepada delegasi EZLN dan Menteri Dalam Negeri Emilio Chuayffet. Walau sadar bahwa proposal Cocopa melewatkan beberapa poin Kesepakatan San Andres, EZLN menerimanya untuk segera memulai implementasinya dan bergerak menuju dibukanya kembali perundingan damai. Pemerintah juga mengisaratkan penerimaanya.
5 Desember : Menteri Dalam Negeri menarik kembali putusan awalnya dan mengabarkan bahwa mereka tidak lagi mendukung RUU Cocopa. Putusan ini menandai awal kerisis yang paling parah dalam proses perdamaian, dan menyulut banyak komentar bahwa peringatan awal Zapatista bisa jadi benar: bahwa pemerintah siap menandatangi apa saja, tapi tanpa niat untuk melaksanakanya secara nyata.
7 Desember : Cocopa menemui Presiden Zedillo dan memintanya turut campur menerima dokumen itu sebelum seluruh proses perdamaian gagal total. Presiden memutuskan menarik sementara pernyataan Menteri Dalam Negeri dan menulis surat pada EZLN meminta jangka waktu 15 hari untuk “meneliti” RUU Cocopa dengan penasehat konsitusinya dan “menjernihkan keragu-raguan” yang ia punya soal tersebut. Delegasi EZLN menerima permintaan perpanjangan waktu, dan pada tanggal 15 Desember meninggalkan San Cristobal untuk kembali pada komunitas-komunitas mereka di hutan dan pegunungan.
19 Desember : Cocopa menerima “respon” presiden dan meneruskannya ke EZLN. Respon itu sesungguhnya berupa proposal-tandingan yang benar-benar beda (bukan cuma “ya” atau “tidak” seperti yang di sepakati sebelumya), dan bukan cuma menolak prakarsa Cocoa, namun juga mengingkari Kesepakatan San Andres secara keseluruhan.
1997
11 Januari : EZLN menemui Cocopa di La Realidad, dan dengan keras menolak proposal-tandingan pemerintah. EZLN menegaskan mereka takkan kembali ke meja perundingan sebelum Kesepakatan San Andres tentang Hak-Hak dan budaya Masyarakat Adat diterapkan. Marcos menyerukan agar Cocopa membela proposal asli mereka, dan mengumkan bahwa EZLN akan menunggu pernyataan publik Cocopa mengenai situasi yang ada sebelum mengambil putusan lebih lanjut.
12 Januari – 4 Maret : Kehadiran dan represi militer serta polisi meningkat drastis di Chiapas sementara seluruh negeri menunggu-nunggu “pernyataan pubik” Cocopa.
1 Febuari : 9.000 warga sipil Zapatista berdemo di San Cristobal de las Casas, Chiapas, menuntut pemerintah menghormati kesepakatan San Andres serta menerima RUU Cocopa.
4 Maret : Setelah lebih dari 50 hari ketegangan, Cocopa akhirnya mengedarkan pernyataan publiknya mengenai situasi yang ada: sebuah dokumen yang membingungkan dan kontradiktif yang secara nyata menandai menyerahnya Cocopa, sembari menyatakan menunda proposal reformasi konstitusional dari pertimbangan legislatif. Lima hari kemudian, EZLN menjawab dengan mengkeritik putusan Cocopa, dan mengomentari bahwa putusan mereka bisa keadaan bertambah runyam.
7 Maret : Satuan Keamanan Umum di Chiapas mengusir paksa 65 keluarga anggota organisai adat Xi’Nich dari rumah mereka dekat Palenque.
8 Maret : Polisi hukum negara bagian menculik dua romo Jesuit -salah satunya penasehat EZLN -serta dua pimpinan Xi’Nich (terkait dengan kasus kemarin). Keempat orang ini disiksa tanpa kabar berita selama 48 jam, dan akhirnya didakwa membunuh petugas polisi.
13 Maret : Keempat orang tadi dibebaskan tanpa syarat oleh hakim di Tuxla Gutierrez, akibat kurangnya bukti dari pihak penuduh.
14 Maret : Anggota polisi keamanan umum, polisi hukum, dan Tentara Meksiko ambil bagian bagian dalam serangan terhadap warga sipil Zapatista di komunitas San Pedro Nixtalucum, Chiapas (Kotapraja San Juan de la Liberitad, sebelumnya bernama El Bosque). Empat orang Zapatista tak bersenjata dibunuh, dan 29 lainnya dihajar, ditangkap, atau hilang. Warga sipil Zaparista yang tersisa di San Pedro dari 80 keluarga -diusir dari rumah mereka.
27 April : Pedro Juaquin Coldwell, mantan Menteri Pariwisata, gubernur Quintana Roo, dan Sekjen PRI, ditunjuk sebagai kepala baru tim negosiasi pemerintah di Chiapas. Coldwell menggantikan Marco Antonio Bernal, yang mundur untuk memperebutkan kursi kongres PRI dalam pemilu juli mendatang.
April – Juli : milterisasi komunitas adat berlanjut. Belasan orang adat Chiapas, terutama penduduk sipil Zapatista, dibunuh oleh kelompok-kelompok paramiliter atau polisi.
6 Juli : Pemilu federal paruh-kedua digelar di seluruh Meksiko. Kemengan partai-partai oposisi baik dari kanan-tengah maupun kiri-tengah berhasil mengurangi mayoritas absolut PRI dalam Sidang Deputi untuk pertama kalinya selama hampir 70 tahun. Kiri-tengah Partai Revolusioner Demokrat menyatakan bahwa perdamaiam di Chiapas “akan menjadi prioritas” PRD dalam Kongres baru, dan mereka akan berusaha menggolkan Kesepakatan San Andres tentang Hak-Hak dan budaya Adat. Sementara itu, dalam komunitas-komunitas adat Meksiko, pemilu digelar dalam suasana ketegangan dan militerisasi yang meninggi. Di Chiapas, golput melebihi 80% di beberapa kotapraja.
9 Juli : Presiden Ernesto Zedillo menyatakan bahwa menangnya partai-parati oposisi dalam pemilihan 6 juli memberikan legitimasi bagi PRI dan sistem politik Meksiko, dan akibatnya “tak ada lagi ruang bagi radikalisme” untuk beroperasi di luar jalur pemilu.
16 Juli : Pedro Joaquin Coldwell, ketua negosiator pemerintah yang belum membuat kontak sama sekali dengan Zapatista selama 3 bulan masa jabatannya, menyatakan pada pers bahwa “sudah ada kondisi yang memungkinkan bagi EZLN untuk mengikutkan diri mereka dalam kehidupan terlembaga dan kompetisi politik di bawah aturan-aturan transparan dan adil demokrasi Meksiko, berkat pemilu 6 Juli” -pernyataan yang benar-benar tidak memahami sikap dan tujuan EZLN, serta alasan-alasan ditundanya proses dialog.
Awal Agustus : Cocopa memutuskan takkan membuat upaya apapun untuk menyajikan prakarsa reformasi konstitusional menangani hak-hak dan budaya masyarakat adat sebelum tanggal 1 September, saat Kongres baru diresmikan.
8 September : 1.111 anggota EZLN memulai “arak-arakan srempak” dari komunitasnya masing-masing menuju Mexico City untuk menghadiri Kongres Pembentukan EZLN dan sidang Nasional Kedua Kongres Adat Nasional, sambil menuntut kepatuhan pemerintah terhadap Kesepakatan San Andres.
26 September : Anggota baru Cocopa dipilih dalan Sidang Deputi.
4 November : Kelompok paramiliter dukungan PRI “Paz y Justica” (Perdamaian dan Keadilan) menembaki karavan pekerja gereja Keuskupan San Cristobal dengan senapan otomatis. Tiga katekis terluka dalam serangan yang dikutuk bersama oleh Gereja, Conai, Cocopa, dan EZLN ini.
5 November : Senator PRD Carlos Payan Velver (pendiri surat kabar La Jornada) diangakat sebagai anggota Cocopa. Pada hari yang sama, Senator Payan mengutuk tegas anggota “Paz y Justica” di sidang Senat, dan menuntut investigasi penuh atas upaya pembunuhan Uskup Ruiz dan Raul Vera tersebut.
10 November : Pemerintah mengirim dokumen “rahasia” pada Cocopa, menunjukkan tekadnya untuk memulai “segera” perundingan damai dengan EZLN -tapi tanpa memenuhi 5 syarat yang diminta kubu pemberontak saat dialog ditunda bulan Agustus 1996 (termasuk mematuhi seri kesepakatan pertama tentang Hak-Hak dan Budaya Masyarakat Adat).
29 November : EZLN menjawab seruan negosiasi “cek kosong” pemerintah, dengan menegaskan bahawa Zapatista cuma akan kembali kemeja perundingan saat pemerintah mulai mengimplementasikan kesepakatan San Andres dan memenuhi 4 syarat sisanya.
22Desember : Kurang lebih 70 anggota paramiliter dukungan PRI memasuki kota Acteal, yang menjadi hunian sementara ratusan pengunsi dari komunitas-komunitas lain di kotapraja itu. Para penyerang melancarkan “pelisir pembantaian” selama 5 jam, membunuh 45 orang (kebanyakan perempuan dan anak-anak yang mencoba kabur) serta melukai sekurangnya 25 orang lainnya. Pembantaian ini diawasi oleh anggota polisi keamanan umum yang menolak ikut campur. Menyusul serbuan brutal ini. Militer disiagakan “maksimal” dan pasukan tambahan dibawa dari negara bagian Campeche dan Yucatan untuk memperkuat kehadiran tentara di kotapraja Ocosongo dan Las Margaritas. Menteri Dalam Negeri (Emilio Chuayffet) maupun gubernur ad interim Chiapas (Julio Cesar Ruiz Ferro) dipaksa mundur sebagai buntut pembataian. Marcos sendiri tampak kehabisan kata melihat kejadian ini. Suratnya cuma berisi tiga kalimat: “Mengapa? Beberapa banyak? Sampai kapan?”
1998
1 Januari : Memakai pembantaian Acteal sebagai dalih bagi “pelucutan senjata total atas semua kelompok bersenjata di Chiapas”, pemerintah federal melanggar UU Dialog, Rekonsilisasi, dan Perdamian Bermatabat di Chiapas dengan melancarkan kampanye militer baru untuk melucuti senjata EZLN. Komunitas-komunitas adat Zapatista diduduki dan dikepung, sementara kelompok-kelompok paramiliter dukungan PRI yang bertanggung jawab atas pembantaian Acteal bisa keluyuran bebas di seluruh wilayah negara bagian. EZLN mengingatkan pemerintah bahwa mereka tak punya niat sama sekali untuk menyerahkan senjata.
3 Januari : Francisco Labastida Ochoa menggantikan Emilio Chuayffet sebagai Menteri Dalam Negeri.
7 Januari : Roberto Albotes Guillen menggantikan Julio Cesar Ruiz Ferro sebagai gubernur ad interim negara bagian Chiapas.
9 Januari : Jendral Jose Gomez Salazar, Komandan Wilayah Militer ke 7 (dan karenanya mengepalai semua pasukan di Chiapas), secara terbuka menuduh Uskup San Cristobal (dan ketua Conai) Samuel Ruiz Garcia “terlibat” dalam EZLN. Keuskupan San Cristobal de las Casas “secara tegas menolak” tuduhan-tuduhan itu.
12 Januari : Francisco Labastida mengumumkan “restrukturisasi” besar-besaran” dalam Kementrian Dalam Negeri. Emilio Rabasa Gamboa menggantikan Pedro Joaquin Colwell sebagai “negosiator” utama pemerintah, dan Labastida menunjuk mantan Maois, Adolfo Orive (yang pernah memimpin organisasi Barisan Proletar dan politik Rakyat di Chiapas, dan merupakan musuh bebuyutan Uskup Samuel Ruiz Garcia) untuk memimpin koprs penasehatnya sendiri.
13 Januari : Menteri Dalam Negeri Francisco Labastida besikeras bahwa tantara akan tetap tinggal di Chiapas “dalam waktu yang belum bisa dipastikan”, dan “merupakan tanggung jawab EZLN” untuk menghindari kontak senjata.
23 Januari : Presiden Zedillo menyerang EZLN dalam pidato di Yucatan. Ia menglaim pemerintahanya “tak pernah menggunakan kekerasan di Chiapas,” dan ngotot bahwa EZLN lah yang mencari solusi militer dan kekerasan atas konflik ini, serta mencoba merenegosiasikan Kesepakatan San Andres. Pucuk pimpinan PRD serta anggota-anggota Cocopa dan Conai serta merta mengencam kebohongan pidato presiden.
26 Januari : Labastida mengumumkan bahwa pemerintah telah mengugurkan 23 keberatan dari 27 keberatan awal mengenai proposal Cocopa. Namun demikian, empat “keberatan” yang tersisa itu berjumlah lebih dari 17 halaman.
10 Febuari : Daftar sisa keberatan pemerintah terhadap proposal Cocopa dikirimkan kepada EZLN lewat Conai. Cocopa memutuskan tidak berkomentar sebelum mendengar respon EZLN.
16 Febuari : Selama pawai ke pusat kota San Cristobal de la Casas untuk memperingati dua tahun ditandantanganinya Kesepakatan San Andres, perwakilan EZLN mengingatkan bahwa kaum pemberontak “tidak akan memerima perubahan apapun” pada proposal asli RUU Cocopa. “Kami tidak minta apapun yang belum ditandatanganinya,” tambahnya.
26 Febuari : Pastor jemaat Chenalho, Romo Michel Henri Jean Chanteau Desilliers, ditangkap dan diusir keluar dari Meksiko karena “terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang tidak diperkenankan”, kementrian Dalam Negeri maupun Badan Imigrasi Nasional menyebutkan, Chanteau diusir karena menyatakan pada pers bahwa pemerintahan bertanggung jawab atas pembantaian 45 jemaatnya tanggal 22 Desember. Chanteau, pastor keturunan Prancis yang telah melayani komunitas adat Chenalho lebih dari 32 tahun, adalah pastor kedelapan di Keuskupan San Cristobal yang di usir keluar dari Chiapas sejak 1994.
28 Febuari : Gubernur Chiapas Roberto Albores Guillen mengumumkan “kesepakatan Negara Bagian soal Perdamaian dan Rekonsilisasi di Chiapas”, rencana 30 halaman berisi 25 poin kunci di mana Albores menekankan akan membawa damai ke wilayah itu, meski sebagian mengindikasikan pembaruan permusuhan terhadap EZLN. “Kesepakatan” unilateral ini juga mendukung kehadiran Tentara Meksiko dalam komunitas-komunitas adat untuk “menjaga perdamaian” dan melarang jenis-jenis demonstrasi tertentu serta memberi wewenang penggunaan kekerasan untuk mencegah atau membubarkan pendudukan lahan serta pemblokiran jalan. Rencana ini langsung dikritik oleh Conai serta sebagian besar kaum tani, Kaum adat, organisasi-organisasi sosial politik yang ada di negara bagian ini.
1 Maret : Menteri Dalam Negeri Francisco Labastida mengumumkan apa yang disebut “strategi baru perdamian” pemerintah, dan berkata pemerintah akan secara sepihak mengajukan prakarsa baru tentang hak-hak dan budaya masyarakat adat kepada Kongres untuk disetujui, terlepas dari apa pendapat atau sikap EZLN, Conai, atau Cocopa. Sebagai tanggapan, EZLN menerbitkan Komunike yang mengingatkan bahwa “renegosiasi” Kepsepakatan San Andres akan menjadi “pukupan telak” bagi proses dialog dan negosiasi. CRRI-CG dari EZLN juga menyerukan agar Cocopa teguh membela proposal aslinya.
12 Maret : Secara mengejutkan, Partai Aksi Nasional (PAN) menyajikan prakarsa sepihak mengenai reformasi konstitusional tantang Hak-Hak dan budaya Masyarakat Adat di Senat Meksiko. Prakasarsa PAN, seperti diakui sendiri para pedukungnya, tidak dirancang untuk mengimplementasikan Kesepakatan San Andres, tapi lebih untuk menempatkan progam politik PAN tentang isu masyarakat adat dalam Konsititusi.
15 Maret : Pemerintah Federal menyajikan proposal-tandingannya tentang hak-hak dan budaya masyarakat adat ke depan Senat Meksiko.
17 Maret : Conai dengan tajam mengeritik proposal-tandingan pemerintah, Menurut Conai, prakarsa pemerintah “melenceng dari Kesepakatan San Andres” dan secara serius mengancam proses perdamaian.
Febuari – Maret : Pemerintah federal melancarkan kampanye humas nasional dan internasional berbiaya besar untuk meyakinkan publik bahwa proposal reformasi konsitusionalnya sesuai dengan Kesepakatan San Andres, dan bahwa EZLN-lah yang tidak memiliki itikad baik untuk menolak berdialog dan tidak menginginkan perdamaian. Pada saat yang sama, jumlah penerbangan militer di atas Aguscalientes Zapatista dilipat dua atau lipat tigakan; dan artiteri berat terlihat memasuki basis-basis militer di hutan Lacandon untuk pertama kalinya. Sementara itu, pemerintah federal melancarkan serangan-serangan verbal baik terhadap Cocopa maupun Conai, menuduh yang pertama mubazir, dan yang kedua bersikap sepihak dalam mendukung EZLN.
10 April : Tentara federal, polisi hukum, satuan keamanan umum, dan para petugas imigrasi melancarkan oprasi gabungan terhadap pusat kotapraja yang baru diresmikan “Ricardo Flores Magon”. Gubernur adinterim Roberto Albores Guillen memang berulang kali menegaskan ia takkan “membolehkan pendirian apa yang disebut kotapraja otonom Zapatista” di Chiapas. Dalam oprasi ini, 9 orang ditahan, termasuk aktivis HAM dari Centro de Derechos Humanos Fray Lorenzo de la Nada, dan seorang profesor universitas dari UAM-Xochimilco, Sergio Valdes Ruvalcaba (yang juga dikenal dengan nama El Checovaldes). Semuanya dituduh “memberontak” dan “berperan makar.” 12 pengawas HAM asing ikut ditahan lantas diusir keluar dari Meksiko.
14 April : Tentara federal, polisi hukum, satuan keamanan umum, dan para petugas imigrasi melancarkan operasi gabungan terhadap komunitas Zapatista “10 de Abril” (di Altamirano). Beberapa orang terluka, banyak yang menderita sakit akibat menghirup gas air mata, dan sejumlah wanita melaporkan mereka telah dilecehkan secara seksual dan/atau diserang. Tiga pengawas HAM Norwegia ditangkap dan diusir keluar dari 24 jam.
1 Mei : Tentara federal, polisi hukum, satuan keamanan umum, dan para petugas imigrasi melancarkan operasi gabungan terhadap komunitas Amparo Aguatinta, pusat Otonom “Tierra y Libertad”. 61 orang ditangkap, dan jumlah yang terluka tidak bisa dipastikan.
10 Mei : 40 anggota kelompok pengawas HAM Italia diusir dari Meksiko setelah mengujungi komunitas Taniperla “tanpa izin” pemerintah Meksiko.
2 Juni : 30 keluarga simpatisan EZLN dalam komunitas Nabil, di Tenejapa, diusir keluar dari rumahnya oleh satuan-satuan paramiliter dan polisi. Menurut laporan ada lebih dari 19.000 pengungsi internal di Chiapas, hampir semuanya basis dukungan Zapatista.
3 Juni : Kotapraja Nicolas Ruiz -kotapraja konstitusional yang dijalankan secara legal oleh partai oposisi PRD berkoalisi dengan basis dukungan Zapatista -didobrak dan diduduki oleh 3.000 pasukan Tentara Meksiko, polisi keaman umum negara bagian, polisi hukum negara bagian dan federal, serta para anggota kelompok paramiliter “Los Chinchulines”. 167 orang ditangkap selama oprasi ini, dan banyak yang terluka oleh pentungan dan gas air mata.
7 Juni : Uskup San Cristobal Samuel Ruiz Garcia menyatakan mundur dari Conai, menuduh pemerintah menutup semua kemungkinan untuk melanjutkan peran mediator. Pengunduran dirinya diikuti dengan pembubaran Conai oleh para anggotanya yang tersisa, yang juga menuduh pemerintah menyulut perang di Chiapas, bukan mencari perdamian.
10 Juni : Selama serangan di fajar, lebih dari 1.000 tentara federal, polisi hukum, dan satuan keamanan umum negara bagian menyerang berbagai macam komunitas dalam Kotamadya Otonom San Juan dr la Libertad (sebelumnya bernama El Bosque). San Juan de la Libertad telah lama dikenal sebagai salah satu kotapraja Zapatista yang paling berhasil, dengan lebih sari 90% komunitas (mencakup 30.000 orang) dikotapraja itu menyatakan tunduk pada pemerintahan otonomi lokal. Selama oprasi militer dan polisi itu (yang mencangkup pembakaran rumah, serangan gas air mata dan bazoka, serta penggunaan helikopter bersenapan mesin untuk menyerang warga sipil) tembak-menembak pecah di komunitas Union Progreso. Setidaknya 6 orang Zapatista terbunuh, juga seorang polisi. Dua orang Zapatista lainnya dilaporkan dibunuh oleh satuan keamanan di kota Chavajeval tak lama kemudian. Sembilan terluka, dan 57 lainnya ditangkap dan ditahan di penjara Cerro Hueco. Penduduk yang tersisa mengungsi ke Oventik dengan berjalan kaki.
8 Juni : Pemerintah federal menyajikan “rencana perdamian” baru untuk Chiapas. Lebih mirip ancaman ketimbang rencana damai, proposal itu menyerukan agar EZLN “Jaminan keamanan personal.”
16 – 17 Juli : Setelah berdiam diri menutup hubungan dengan publik selama 4 setengah bulan, CCRI mengedarkan 3 dokumen (sepasang surat pendek dan satu esai panjang). EZLN menegaskan bahwa mereka telah kehilangan kepercayaan pada apa yang disebut “wacana dialog” pemerintah.
19 Juli : EZLN menerbitkan Deklarasi Kelima Rimba Raya Lacandon. Menegaskan kembali tekadnya akan perdamaian dan niatnya menggelar konsulta nasional mengenai proposal asli Cocopa soal reformasi konstitusi dalam implementasi kesepakatan San Andres.
1999
13 Januari : Dengan dalih memerangi peredaran narkoba, komunitas Aldama di kotapraja Chenalho diserang oleh Tentara Federal. Anehnya, kepala operasi militer itu, Jorge Isaac Jimenez Garcia, menyatakan sendiri bahwa ladang ganja yang ditemukan bukan milik simpatisan EZLN. Tapi pemerintah federal terus menggubah kampanye fitnah di media dengan menuduh warga Zapatista sebagai pengedar narkoba.
Febuari – Maret : Kegiatan Zapatista difokuskan untuk mengorganisir konsulta kedua yang diserukan tahun lalu. Konsulta kali ini bertujuan mengetahui pendapat rakyat Meksiko dan dunia tentang hak-hak masyarakat adat. Dibanding konsulta ’95, konsulta maret ’99 ini menggerakkan aksi-aksi solidaritas yang jauh lebih besar di pelbagi penjuru dunia, termasuk indonesia. Pemerintah Meksiko sendiri mengizinkan tanggal 21 Maret sebagai hari pungutan suara, namun Menteri dalam negeri menjuluki konsulta ini “gombal”.”Saya sudah bisa tahu bagaiman polling absurd ini akhirnya. Mereka akan menanyakan soal-soal semacam “Anda ingin kaya atau miskin? Bahagia atau tidak? Ini gombal”
9 Maret : william Ivey, ketua Badan Anugrah Seni Nasional AS (NEA) membatalkan subsidi federal untuk penerbitan buku terjemahan The Story of Colors oleh Cinco puntos Press, penerbit kecil yang berfokus pada satra dwi-bahasa Inggris-Spanyol, setelah tahu buku dongeng anak-anak ini dikarang oleh Subcomandante Marcos. “Buku ini tidak cocok untuk anak-anak Amerika,” kata anggota partai Republik Ralph Regula.
10 Maret : Sebuah yayasan yang sering mendanai kegiatan seni pimpinan J. Patrick Lannan Jr. Berkata mereka akan mengganti pembatalan hadiah NEA dengan subsidi senila sama US$15.000. Debat yang terjadi mengenai The story of Colors justru memicu keingintahuan orang-orang tua murid di AS. Cinco Puntos Press menerima begitu banyak pesanan hingga “terpaksa” mengedarkan 5.000 kopi cetakannya sebelum tanggal rilis yang sebenarnya di bulan Mei.
21 Maret : Konsulta Zapatista digelar. Dari pantai Acapulco sampai jantung kota Mexico City, 5.000 basis dukungan Zapatista dengan topengnya yang khas memasang bilik-bilik suara di 31 negara bagian. Pertanyaanya meliputi: Haruskah masyarakat adat ikut menikmati tingkat kemakmuran nasional? Apakah mereka berhak dinegosiasikan Zapatista? Haruskah Chiapas didemiliterisasi ketika perundingan damai berlanjut? Seperti dilansir CNN, warga berduyun-duyun datang memberikan suaranya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. “Kami tidak biasa ditanya pendapat kami tentang masalah-masalah penting nasional,” kata Eugenia Gutierrez (34 tahun). “Pemerintah tak pernah tanya apa pendapat rakyat. Mereka tak peduli. Tak ada forum bagi referendum atau plebisit dalam konstitusi Meksiko.”
8 Mei : Setelah dua tahun lebih tidak pernah menampakkan diri di depan umum. Marcos muncul dalam pertemuan La Realidad membahas hasil-hasil Konsulta bulan Maret.
Ahkir Agustus – Awal September : Ketegangan terus meningkat di Chiapas. Gubernur Albores menggalakkan kampanye anti orang asing dan mengusiri para pengawas HAM yang berkunjung ke sana. Di depan 5.000 orang pendukungnya Albores mengingatkan pejabat-pejabat federal agar membiarkan Chiapas “menyeleseaikan sendiri masalahnya” dan mewanti-wanti “Agitator luar” agar segera enyah. Esoknya, Zapatista merespon pidato Albores dengan dengan 10.000 orang di 3 kota Chiapas. Ofelia Medina, aktris film Meksiko dan aktivis pro-Zapatista diperintahkan untuk segera keluar atau ditangkap. Gertakan terhadap Medina menyulut demonstrasi yang lebih besar di Mexico City. Tentara terus menutup jalan ke wilayah selatan dan tenggara dan mengeledah siapapun yang masuk ke sana.
13 September: Jacinto Arias Cruz, yang menjabat walikota saat pembantaian Acteal berlangsung, divonis 35 tahun penjara setelah terbukti membantu kelompok-kelompok paramiliter memperoleh senjata dan kendaraan operasi. Sekitar 102 orang telah ditahan sehubungan kasus ini. Di hari yang sama para pendukung EZLN menduduki jalan-jalan raya utama Chiapas, menuntut penarikan mundur tentara.
22 November : Komisi Sipil Internasional pengawasan HAM bertemu dengan pucuk pimpinan CCRI-CG dari EZLN.
Ahkir November : Departemen Luar Negeri Meksiko mengedarkan dokumen dalam 5 bahasa tentang kemajuan sosial dan peran pemerintah di Chiapas. EZLN membalasnya dengan pamflet Chiapas: perang.
27 Desember : Vicente Fox, mantan direktur Coca Cola dan kandidat presiden dari koalisi PAN-PVEM, berkampanye ia bisa menuntaskan permasalahan Chiapas dalam 15 menit.
2000
8 Maret : Memperingati Hari Perempuan Sedunia, kurang lebih 8.000 orang perempuan yang kebanyakan simpatisan Zapatista menduduki stasiun radio Chiapas.
2 Juli : Vicente Fox memenangkan pemilu kepresidenan. Hal ini menandai berahkirnya kekuasan diktator PRI selama 71 tahun.
20 Agustus : PRI kalah juga dalam pemilu negara bagian Chiapas. Pablo Salazar, politikus yang ikut merumuskan Kesepakatan San Andres, terpilih jadi gubernur. Ia berjanji akan menghapus keberadaan kelompok-kelompok paramiliter dan berkerja sepenuhnya demi perdamaian.
6 Oktober : Dalam kunjungan ke Eropa, Fox didesak oleh kelompok pengawas HAM tentang konflik Chiapas dan ia kembali menegaskan niatnya untuk mengahkiri kemiskinan.
12 Oktober : The Washington post menurunkan tulisan yang intinya menanyakan “Di mana Marcos?” Sejak Fox terpilih Marcos memang tidak membuat pertanyaan publik sama sekali tentang perkembangan politik Meksiko. Menurut beberapa analis hal ini menyiaratkan kebingungan EZLN dalam menyikapi pemilu terahkir yang paling jujur dan bebas dalam sejarah modern Meksiko. Namum Samuel Ruiz Garcia, yang sudah tidak menjabat Uskup San Cristobal, punya pendapat lain. “Mengapa ia harus bicara kalau tak seorang pun pernah mendengarkanya?” Bagi Ruiz, sebelum diubah jadi tindakan, ucapan Fox tetaplah janji belaka.
24 Oktober : Kelompok paramiliter kembali menembaki kaum tani kurang lebih 80 km ke arah selatan San Crostobal de las Casas. Satu tewas dan dua terluka dalam kejadian ini.
1 Desember : Fox dinobatkan sebagai Presiden. Ia berjanji akan membawa Kesepakatan San Andres ke depan Kongres dan menarik mundur tentara dari wilayah-wilayah Chiapas.
2 Desember : Ahkirnya Marcos membuka suara. Secara bersyarat EZLN menerima tawaran membukaan kembali dialog perdamaian, sambil mengumumkan rencana kunjungan mereka ke Mexico City.
2001
1 Januari : Pada peringatan 7 tahun ” Ya Basta”, yang dimeriahkan dengan kegiatan budaya dan olahraga, Comandante David memuji upaya Fox memulai kembali perundingan damai, tetap mengingatkan bahwa bahwa upaya tersebut masih kurang memadai.
3 Januari : Marcos mengumumkan berdirinya Sentra Infomarsi Zapatista (Centro de Informacion Zapatista-CIZ) yang akan mengatur jadwal dan menyebarluaskan infomarsi tentang perjalanan Zapatista ke Mexico City bulan Maret mendatang, dengan menapak tilas perjalanan Emiliano Zapata puluhan tahun sebelumnya.
24 Febuari : Rombongan Karavan Zapatista memulai 15 hari mereka demi “perdamaian, kebebasan, dan keadilan”.
11 Maret : Setelah melewati dan disambut meriah di 12 negara bagian, rombongan Zpatista akhirnya memasuki Mexico City. Di alun-alun Zocalo kurang lebih 200.000 orang berkumpul menyambut mereka. Peristiwa bersejarah dalam gerakan sosial ini dipestakan oleh pers sedunia. Kompas membuat profil Marcos di halam 12-nya. Sementara majalah politik Perancis Le Nouvel Observateur memajang foto Marcos sehalaman penuh di sampul depan. Rombongan Zapatista menginap di Sekolah Nasional Antropologi dan Sejarah, dan dari sana mereka melancarkan beberapa acara periodik Mexico City.
19 Maret : Walau Fox membuka jalan perdamaian, anggota-anggota sayap kanan PAN sendiri justru berusaha menutupnya. Deputi-deputi PAN menolak permohonan Zapatista untuk bicara di depan Kongres.
20 Maret : Berang oleh penolakan Kongres, para komandan EZLN mengancam pulang ke pegunungan Chiapas. Fox berjanji akan melobi Kongres secara pribadi.
21 Maret : Wakil pemerintah dalam perundingan damai, Luis H. Alvarez, mengirimkan undangan pertemuan dari Fox. Kepada pers Comandante Zebedeo menyatakan menolak undangan tersebut, “Kalian tahu selama bertahun-tahun kami telah ditipu dengan janji-janji palsu.”
24 Maret : Dalam wawancara panjang dengan Gabriel Garcia Marquez, Marcos menyatakan EZLN akan menjauh dari perjuangan bersenjata. “Masa depan EZLN akan berupa kegagalan bila dirinya terus menjadi angkatan bersenjata.” Wawancara yang aslinya diperuntukkan untuk majalah Cambio ini menjadi sangat terkenal, karena mempertemukan dua sastrawan dengan intelektualitas yang setara dan saling mengagumi. Wawancara ini kemudian dikutip dan dicetak ulang di mana-mana, termasuk untuk Reforma, AP, CNN, New Left Review, Guardian, dan “Catatan Pinggir” TEMPO oleh Goenaean Mohamad.
28 Maret : Setelah debat sengit antara pelbagi faksi partai, Kongres Meksiko akhirnya setuju menerima EZLN. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kelompok pemberontak berpidato di tribun Kongres. Dan di luar dugaan banyak orang, justru Marcos tidak ikut bicara di sana. Sesi pertama dibuka oleh pidato Comandante Esther. Dalam sebuah acara teve di hari yang sama, pimpinan-pimpinan CCRI menyatakan bersedia mengganti gerakan bersenjata mereka dengan aktivisme politik, bila hak-hak masyarakat adat telah diakui dan diimplementasikan sepenuhnya secara konstitusional.
1 April : Roombongan Zapatista kembali ke Chiapas. Kelompok peternak dan tuan tanah Chiapas mengancam akan memblokir jalan pulang mereka. Namun ini tak terbukti.
Pertengahan April : Perdebatan tentang Kesepakatan San Andres masih berlangsung sengit di Kongres. Setelah diubah sana sini oleh Senat, akhirnya Kongres meloloskan reformasi konsitusi tentang hak-hak dan budaya masyarakat adat.
29 April : Setelah mempelajari seksama reformasi konstitusi tersebut, secara resmi EZLN menyatakan menolaknya. Reformasi ini sama sekali tidak mencerminkan Kesepakatan San Andres umumnya dan RUU Cocopa khususnya. Poin-poin yang paling subtansif justru dihilangkan, yakni yang menyangkut otonomi dan kebebasan menentukan nasib sendiri, penduduk Indian sebagai subjek atas hak-hak publik, tanah dan wilayah, pemanfaatan dan pelestarian sumber daya alam, pemilihan otoritas kotapraja serta hak membentuk asosiasi regional. EZLN memutuskan untuk menunda semua pembicaraan dengan pemerintah. UU yang disahkan ini juga mendapat tantangan dari banyak aktivis dan organisasi masyarakyat adat di Meksiko.
14 Mei : Dalam pertemuan rutin di Brussel, Belgia, menteri-mentari luar negeri Uni Eropa menyatan prihatin atas keputusan EZLN menunda dialog, Mereka mendesak agar EZLN menerima tawaran Fox untuk “mencari jalan politik demi kemajuan unsur-unsur yang tidak tercakup dalam UU baru.”
14 Juni : CNN melaporkan, setelah tentara federal ditarik mundur dari Guadalupe Tepayac, warga Zapatista Guadalupanos dalam pengunsian mulai pulang ke kampung halam mereka dan membangun kembali kota-kotanya. Sementara itu , EZLN terus melakukan “aksi diam”.
Oktober : EZLN mengeluarkan komunike singkat tentang pembunuhan Digna y Placido, anggota pusat HAM Miguel Agustin Pro. Reforma, Marey 2002, menyebut sikap diam EZLNsebagai ” La resistencia silenciosa”
18 Desember : Pedro Chulin, anggota parlemen dari PRI, meminta Menteri Masyarakat Adat Porfirio Encino memerintahkan pemindahan desa-desa Zapatista dari kawasan biosfer di pinggir Hutan Lacandon.
2002
1 Januari : Komite Pendidikan Otonom Zapatista meresmikan sekolah menengah otonom pertama di Chiapas, Sekolah Menengah Priemo de Enero (Sekolah Menengah 1 Januari). Salah satu proyek pertamanya dinamakan “Bibit induk perlawanan”, yang bertujuan melestarikan bibit-bibit asli Chiapas dan mencegahnya dari kontaminasi genetik, serta mendokumentasikan hikayat-hikayat lisan yang terkait dengan tanaman-tanaman tersebut.
16 – 22 Maret : Komunitas Morelia, tempat berdirinya Aguascalientes IV, diserang oleh paramiliter dan anggota-anggota PRI. Rumah-rumah basis dukungan Zapatista dilempari batu. Terjadi juga penyabotan atas cadangan garam komunitas dan pengerusakan kawat-kawat duri yang membuat ternak komunitas berhamburan lepas.
25 Maret : Dalam sebuah konfrensi pers, Pedro Chulin kembali menyatakan bahwa area pinggiran Rimba Raya Lacandon, khususnya Montes Azuales, adalah milik umat manusia dan karenanya komunitas-komunitas adat Zapatista yang ada di sana harus diungsikan.
31 Juli : 40 lelaki bersenjata senapan dan parang memasuki ejido La Culebra, mencari para pejabat kotapraja otonom. Karena tidak ketemu, mereka melukai 7 orang yang sedang membangun gedung sekolah, lantas meninggalkanya dalam keadaan terluka parah. Para penyerang datang dari Organizacion para la Defensa de loa Derechos Indigenas y Campesinos (OPDIC) yang berafiliasi dengan PRI.
7 Agustus : Jose Lopez Santiz, kepala komunitas Nuevo Centro de Poblacion dibunuh oleh 3 orang lelaki dengan 8 tembakan senapan 16mm di ladangnya sendiri. Dua orang putranya, 10 dan 11 tahun, juga diancam dibunuh.
19 – 25 Agustus : Tiga orang basis dukungan Zapatista dibunuh oleh paramiliter di komunitas Quexil dan Amaytik, kotapraja Ocosingo.
28 Agustus : Antonio Melfa, korban tewas serangan kelompok paramiliter “Los Aguilares” dimakamkan dengan iringan 300 orang Zapatista di kotapraja Otonom Olga Isabel.
30 Agustus : 14 LSM dan lembaga pembela HAM mengeluarkan pernyataan bersama mengenai serangan mutakhir terhadap komunitas-komunitas Zapatista. Mereka menduga hal ini adalah tekanan dari proyek-proyek USAID, PULSAR, dan perusahaan-perusahaan lainnya yang berniat merelokasi komunitas-komunitas Zapatista dan menguasai kawasan hutan “dengan dalih lingkungan hidup yang sudah basi tersebut”.
1 September : Reaksi internasional terus bermunculan atas ekskalasi kekerasan di Chiapas. Kedubes-kedubes Meksiko seluruh dunia menerima banyak surat protes dari pelbagi organisasi dan perorangan.
6 September : Secara mengejutkan Mahkamah Agung memutus semua tentangan hukum atas UU masarakyat adat, dengan menyatakan bahwa Mahkamah tak punya kompetensi untuk memutuskan keabsahan UU yang ditentang oleh masarakyat adat yang semestinya dilindungi oleh UU itu sendiri. Mereka yang menggugat UU ini (para pengacara dari 330 komunitas Indian) bahkan tidak diundang dalam pembacaan keputusan.
10 September : Keputusan Kontroversial Makamah Agung terus menimbulkan reaksi keras. Surat terbuka dari penerima Nobel Sastra Jose Saramago, penulis Ernesto Sabato, dan pemusik Manu Chao dimuat di harian La Jornada.
Akhir Oktober : Surat-surat Marcos mulai dipublikasikan kembali oleh La jornada. Salah satunya, yang ditunjukan untuk menyambut pembukaan Aquascalientes di Madrid, Spanyol, menyulut kontroversi dan polemik mengenai masalah Baque sampai awal 2003.
Kisah Heroik Darja dan Uswata, Balas Pembantaian Rawagede dengan Sabotase KA Belanda.
Kisah Heroik Darja dan Uswata, Balas Pembantaian Rawagede dengan Sabotase KA Belanda
Wilayah Bendul, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, ternyata tidak hanya dikenal sebagai sentra peuyeum (tape). Wilayah ini juga memiliki nilai-nilai perjuangan saat melawan kolonial Belanda.
Perlawanan sengit para pejuang Bendul terbilang cukup merepotkan penjajah. Banyak serdadu Belanda harus meregang nyawa di tangan para pejuang itu.
Salah satu peristiwa heroik yang membuat nyali tentara Belanda ciut adalah sabotase jalur kereta api Jakarta-Bandung. Aksi para pejuang tersebut dipimpin warga setempat bernama Darja bin Sarta dan Uswata bin Asman.
Darja dan Uswata merupakan pemimpin milisi Republik Indonesia yang membuka jalur kereta api di Bendul, Purwakarta, Jawa Barat, sepanjang 20 meter. Dengan penuh keberanian Darja dan Uswata menggelincirkan sebuah kereta api yang mengantar tentara Belanda dan perlengkapan militer pada 1948.
Dalam peristiwa itu keduanya bersama 50 milisi meloncati kereta api yang tergelincir serta memberondongi tentara Belanda di dalamnya. Tercatat delapan serdadu Belanda tewas mengenaskan dan 23 lainnya terluka parah.
Tindakan Darja dan Uswata itu sebagai balasan atas kekejaman Dutch Police Action pascakemerdekaan Indonesia 1945. Dutch Police Action sendiri dikenal saat Belanda melancarkan agresi militernya ke Kabupaten Karawang, pada 1947 atau setahun sebelum insiden Bendul terjadi. Ketika itu Dutch Police Action membantai 431 orang laki-laki dan peristiwa itu lebih dikenal sebagai Pembantaian Rawagede.
Hanya saja perlawanan Darja dan Uswata harus berakhir setelah misinya menyabotse kereta api selesai. Keduanga ditangkap yang kemudian dipenjara sebelum akhirnya harus menjalani hukuman mati. Mereka pun gugur sebagai kusumah bangsa.
Sayangnya, perjuangan heroik Darja dan Uswata tidak banyak yang mengetahui. Termasuk saat ini, kurang begitu mengenal perjuangan keduanya dalam upaya mempertahankan kemerdekaan. Bahkan keluarga atau pun keturunannya hingga saat ini tidak diketahui keberadaannya.
Sementara itu, Camat Sukatani, Panzi Sarjiman mengaku pernah mendengar dua tokoh sentral di balik sabotase kereta api yang terjadi di Bendul pada 1948. Namun, sangat sulit mengungkap sisi lain dari Darja dan Uswata karena keterbatasan saksi sejarah. Bahkan, banyak saksi-saksi sejarah pada peristiwa itu sudah meninggal dunia. “Kalau pun ada tidak diketahui keberadaannya,”pungkasnya
Menunggu pergantian tahun, dengan refleksi diri, dimusim kemarau yang tak kujung hujan.
Lapas Cipinang, Blok O.T Lantai Dua Gedung Tipe tujuh, Blok khusus Pasal Narkoba.
Kilasan. Lapas cipinang jakarta, didalam runitas seperti biasa dimusholla istiqomah, sudah setahun saya dilapas ini dengan kesetiaan menjadi pengurus musholla tanpa saya yakini eksistensinya, saya pun ragu dengan istilah itu. Ketika kalender sudah mulai berganti beberapa bulan lagi, saya sempatkan menulis moment tentang dimana saya saat ini, ketidak sangkaan pada alur yang saya anggap sebuah kesempatan bisa bersibuk dengan ruang untuk berbagi kekhalayak tentang religius, yang saya pun sebenarnya lebih memilih untuk bisa membuat sesuatu yang saya suka, karena itu saya butuh ruang ini, bukan karena beribadah, tapi karena kebersamaan yang dibangun dan tidak didikte oleh otoritas lapas, dan memilih untuk sebuah ruang dengan mereka (pengurus musholla) yang ingin menciptakan kemandirian dari sebuah kehidupan agar bisa terlepas dari tuntutan, walau tetap saja dituntut oleh ruang lingkup itu sendiri, ketika pilihan tidak bisa dipilih dan mempertahakan pilihan yang sudah ditetapkan. Dari perpindahan rutan kelapas ternyata begitu besar impact yang saya dapat dan “yah” saya sendiri disini tanpa SPK (sepekara), dan saya banyak belajar dari ruang yang kecil ini, seiring berjalanya waktu dan kebiasan malas yang mulai menjadi – jadi, karena itu sulit untuk fokus dalam sesuatu yang ingin dikerjakan, seperti menyalin tulisan – tulisan personal keformat Zine dalam bentuk pisik dan ingin membuat beat atau musik hanya dengan aplikasi via handphone mendownload lagu – lagu fav dan menjadikan mixtape pribadi tapi tidak jadi – jadi, toh ternyata itu sanggat menguras energi, tapi waktu dirutan saya sanggat aktif untuk berbuat sesuatu, dengan bermodalkan handphone, tapi bukan berati saya tidak bikin sesuatu di lapas ini, di blok O.T lantai dua sebelah kanan paling ujung, tempat bernaung dan survive, saya telah menemukan teman – teman yang sangat ramah dan bersahaja, tapi saling ngegosip dibelang punggung, kami para tahanan yang saling menjaga, berbagi dan saling sapa, tapi menyimpan aib buruk, tidak disengaja saya bertemu seorang dengan kadar musik yang sama, yups, orang itu sekarang menjadi teman saya, ia mendengarkan lagu – lagu seperti, Ice Cube, Gorillaz, Radio Head, explosion in the sky, efek rumah kaca dan itu sudah sangat cukup menarik untuk pendengaran saya, hingga suatu hari kami sepakat untuk membuat mixtape dengan format digital mp3 dengan genre random walau isi tracknya saya pasukin 90% hip – hop, sayangnya mixtape ini tidak begitu berkesan, fukk lah untuk kata berkesan, yang penting enjoy proses. Hingga hari ini saya sudah mulai memahami tempat ini dan beranjak dari hiruk – pikuk lapas yang disebut perjalanan terahkir para napi untuk menghirup udara bebas, walau saya ragu dengan istilah itu.
Musholla Istiqomah. Lorong jalan untuk para tahanan, diblok paling ujung sebelah kanan, dimanfaatkan oleh para napi, merenovasi dan bebenah agar bisa beribadah, ruang ini pun telah terisi delapan orang untuk pengurusnya, agar tetap aktif musholla ini, (saya pake istilah pengurus musholla, kalo diluar disebutnya marbot) awal saya ke musholla ini, dari penampungan (kamar untuk tahan baru – selama tiga bulan) sesudah itu saya langsung di bawa kemusholla, karena nama saya ditempatkan dikamar “omen” (orang yang dihormati diblok/ketua blok) kamar “omen” itu kamar khusus, tidak terima orang baru. Dan apa bila mau dikamar lain, dikenakan biyaya sewa perminggu atau perbulan, fasilitas kamar mandipun juga, sama seperti dirutan untuk hal – hal seperti ini. Dikarenakan uang jatah saya tidak cukup untuk bayar sewa kamar, saya lebih memilih beli kuota untuk mendengar lagu – lagu favorit, album – album bagus dan nonton youtube sambil ngeroko itu udah paling bisa mengobati kegelisahan, entah mengapa belakangan ini saya lagi suka ngopi, untuk dimusholla tak ada biaya apapun, alias gratis, asal tau aturan, tau diri, tau jam – jamnya oprasional ibadah, untuk kamar mandinya, telah disediakan kamar mandi umum tapi tidak ada kakusnya, untuk berak mencari kegedung – gedung lain dan kalo mulesnya malam hari, entah lah, basa – basi untuk ketoilet petugas sipir dan pengurus blok, menyebalkan. Mengapa dimusholla ini saya bisa membuat yang saya suka, karena saya bisa dapat tempat untuk bisa menyalurkan apa – apa ja yang ingin saya buat, karena lapaknyanya begitu luas tidak terlalu rapat dan tidak berdesakan. Dan untuk para tahan lain yang diluar musholla yang tidak bisa bayar sewa kamar, mereka akan dibangunkan jam empat, sebelum adzan subuh, dan mereka berbondong – bondong keluar dari kamar sempoyongan tergeletak dilorong tanpa peduli apapun, (masih ngantuk) hal biasa di setiap lapas, karena mereka yang dilorong dari jam 4:00 sampai jam 20:30 selebihnya mereka di keong (dimasukin kamar dan dikunci). Disaat tembok pembatas dan jarak memisahkan. Ketika sebuah ruang yang disebut musholla dengan pengurusnya, toh ternyata didalam sebuah ruang ini tidak selalu berjalan mulus tiap harinya, selalu ada perpecahan dan saling menjelek – jelekan dibelakang, entah mengapa itu menjadi sebuah kebiasan bagi mereka yang suka begitu, walalu satu atap. Dengan pribadi saya telah menangkap pola hidup pengurus musholla, bahwa harus ada yang diomongin keburukanya biar ruang tersebut tetap hidup, dan saya melihat bahwa mereka yang suka ngegosip keburukan sesorang, cenderung sedang dalam puncak stresnya, makanya selalu curiga, hidup diambil pusing, udah tau penjara tempatnya orang – orang bermasalah, sudah punya uang dan lapak tidur megang handphone itu sudah lebih dari cukup buat saya, eh malah ada ja cari – cari keburukan orang lain, bukanya gimana cara membangung dan terus progess agar tetap bertahan dengan kondisi sesulit apapun agar tidak mengemis – ngemis dengan yang diluar (luar penjara) dan tidak berharap pada para tahanan lain, silkus seperti ini terus berulang, selalu ada perpecahan dalam satu kelompok, selalu ada yang menyimpan benci terhadap sesama, sebuah kemandirian yang membuat ruang ini dituntut oleh klompok itu sendiri, netral tidak boleh. Saya pada ahkirnya menjaga jarak dengan orang – orang seperti itu, tapi bukan berati kewajiban musholla saya terbengkalai, tidak saya konsisten, karena bagaimanapun saya butuh ruang ini untuk bisa membuat yang saya suka, karena sekali lagi, saya berada dipenjara, untuk melakukan hal – hal seperti waktu diluar itu sangatlah sulit disini.
Refleksi Diri. Untuk yang telah hadir dan pergi, untuk yang sakit kini telah pulih, untuk waktu yang sudah lewat menyimpan serpihan – serpihan bayang, untuk sebuah lagu yang membangkitkan hasrat dan nyali, untuk sepengalan lirik yang tersimpan dihidup yang terus berontak, untuk ocehan yang terdengar lalu murka, untuk sang maha yang lelap tertidur, untuk doa yang terus dipanjatkan, dalam diri bertanya tentang hidup yang sulit akan sebuah ruang, ketika gelap telah hitam pekat, bercampur sepi tanpa riak tak bertepi, sebuah kebebasan dari pikiran yang tidak dipenjarakan oleh nilai – nilai dan kebutuhan. Saya masih memilah – milah album bagus yang akan saya tulis listnya diahkir tulisan, banyak dikitnya tahun ini masih ditemani dengan album lama dan baru, kemarau tahun ini begitu panjang dan telah menyisakan keringnya dedaunan, ketika kaki saya menginjak daun waktu berjalan memutari lapangan, ketika sepeker ((toa)) mulai memberitahukan kabar, bahwa ada kepala lapas baru, yang akan mengontrol setiap blok, (disini setiap dua tahun sekali, kepala lapas diganti) kami para pelangar hukum diberitahukan untuk kebloknya masing – masing, setelah beberapa menit kemudian, kami diberitahukan untuk keluar gedung, karena kepala lapas baru akan datang, dan bagi mereka yang mau menyambut kehadiranya untuk bersorak – sorak dan salaman, menyapa atau apalah segala bentuk salamamnya, “karena untuk saya pribadi tidak akan hadir”, dan mereka yang menyabut pada berdiri dipinggir jalan “seperti menunggu bus” dan “yah” saya diberitahukan bahwa kepala lapas baru telah datang kelapangan dengan menungangi kuda dan beratraksi, saya penasaran, saya langsung melihat dari atas dengan mengintip dicelah jeruji dan itu benar, ((menungangi kuda)), para napi yang menonton dan menyabut pun bersorak sambil tepuk tanggan, sebuah hiburan dan pemandangan yang begitu absurd dan yang menyambut hanyalah pemirsa, sayapun langsung wudhu dan bergegas, dan seorang teman datang kemusholla terus berucap kesaya, “orang naik kuda ditontonin”, “saya tersenyum”, dan tiba – tiba saya ingin cek handphone apakah ada notif tentang kabar bapa yang sedang dirawat karena kondisinya mengawahtirkan, ternyata ada notif pesan yang masuk, saya dikabarkan oleh mamah bahwa bapa kondisinya masih sama tertidur dan terdiam tanpa bicara, dirumah sakit pusat otak nasional (p.o.n) cawang jakarta timur, saya langsung teringat bapa, yang dulu pernah berucap kesaya ingin dibelikan kaset iwan fals yang ada lagu “ku menanti sesorang kekasih” tapi saya tidak pernah membelikannya, karena mamah pasti marah – marah apabila saya membelinya, dan bapa yang selalu mengalah sama mamah, bapa sering cerita kesaya tentang kampung halamanya dikerawang, waktu dibawah pohon jambu belakang rumah sambil membersihkan daun – daun yang berserakan, bapa yang tidak pernah lelah, selalu samangat untuk anak – anaknya, “cepet sembuh yah pa”, saya rindu kehadiran bapa. Oke, kembali kelapas cipinang kelas satu jakarta yang dimana tahun ini masa – masa sulit beradaptasi yang butuh waktu hampir setahun agar bisa diterima (karena saya orangnya lama untuk bisa beradaptasi dan akrab sama orang yang baru kenal/apa lagi dilikungan baru) dan mendisplinkan diri dalam kehidupan untuk cari makan dan fokus merapal ajaran – ajaran dimusholla tentang adzan dan sholawat, ikut serta dalam diskusi setiap subuh, membedah hadist dan saling mengutarakan opini, karena ini adalah sebuah peraturan untuk para pengurus dimusholla, tapi karena saya membandel, saya tetap memakai kacamata saya, entah dari sikap tindakan dan sebuah keyakinan yang saya yakini, saya pun tidak meyakini sebuah petuah yang kolot tentang surga neraka yang bercerita dengan tingah berapi – api dan benar salah adalah akhlak untuk hidup seperti sunnahnya, saya heran dipenjara masih ada yang ingin dipenjara oleh ahlak dan moral, tapi saya memilih untuk kewajiban saya sebagi pengurus saja, tidak mempedulikan keyakinanya atau apapun itu. Dilain tempat saya juga menjaga perasaan mamah tercinta, yaitu membaca al-quran setiap selesai sholat magrib dan komunikasi lewat telphone untuk membacanya, karena hanya itu yang bisa membuat mamah bahagia, mamah selalu menginginkan anak-anaknya rajin beribadah, tapi sekali lagi saya tetap anak yang membandel, melawan arus yang diajarkan orang tua, saya tidak ingin mereka tau yang sebenarnya tentang saya dan saya juga anak yang jauh dari apa yang orang tua harapkan.
List album pengantar perjalanan tahun 2023.
KA – Languish Arts
KA – Woeful Studies
Billy Woods – Aethiopes
Billy Woods – Church
Billy Woods – History Will Absolve Me
Apollo Brown – Mona Lisa
Apollo Brown – Sardines
Your Old Droog – Your Old Droog
Nord1kone + 1 – Tower Of Babylon
The Alchemist & Roc Marciano – The Elephant Man’s Bones
Kid Koala – Some Of My Best Friends Are Djs
Ps.Tahun ini saya banyak kehilangan kawan, saya berdiri dan berjalan sendiri, merangkul kawan baru melupakan kawan lama, muak dengan penundaan dan sikap ingin dimengerti, dipenghujung tahun ini ahkirnya turun hujan dengan derasnya, walau tidak sesering tahun kemarin, kemaru sudah mulai berahkir dan awal tahun menyambut, oke saya tutup tahun 2023 dengan lagu dari MORGUE VANGUARS & DJ STILL – FATEH.
Perang Dunia Keempat
Kutipan ceramah Subcomandante Marcoss kepada Komite Sipil Pengawas HAM Internasional di La Realidad, Chiapas tanggal 20 November 1999. Terbit pertama kali di La Jornada, kamis 23 Oktober 2001, dan dimuat ulang di Rebeldia no 4 Febuari 2003
Restrukturisasi Perang. Seperti kita lihat, ada beberapa hal konstan dalam apa yang dinamakan perang dunia, dalam perang Dunia pertama, perang Dunia kedua, dan apa yang kami sebut perang Dunia ketiga dan ke-empat. Salah satu dari hal-hal konstan tersebut adalah penaklukan wilayah dan reorganisasinya. Bila anda amati peta dunia, anda bisa lihat adanya perubahan di ahkir semua perang dunia, bukan cuma dalam penaklukan wilayah, tapi dalam bentuk pengorganisasiannya. Sesuai perang Dunia pertama, ada peta dunia baru, sesudah yang Kedua, ada peta dunia lain lagi. Pada penghunjung perang yang dengan berani kami namai “perang dunia ketiga”, yang oleh orang lain disebut perang Dingin, penaklukan wilayah dan reorganisasi berlangsung. Secara luas bisa disebutkan bahwa keduanya berlangsung di akhir tahun ’80-an, dengan runtuhnya kubu sosialis Uni Soviet. Dan pada awal ’90-an, apa yang kami sebut perang Dunia keempat bisa terlihat. Hal konstan lainnya adalah penghancuran musuh. Seperti hal-nya terhadap Nazisme dalam perang Dunia kedua, dan dalam perang dunia ketiga, terhadap segala sesuatu yang berbau Uni Soviet dan kubu sosialis sebagai opsi terhadap dunia kapitalis. Hal konstan ketiga adalah pengaturan wilayah taklukan. Pada waktu penaklukan wilayah tercapai, penting untuk menatanya agar hasil kemenangan bisa dibagi-bagi kepada kekuatan yang berjaya. Kami pakai istilah ‘penaklukan’ lumayan sering, karena kami ahli soal ini. Negara-negara itu, yang sebelumnya menyebut diri mereka nasional, selalu berupaya manaklukan orang indian. Di luar hal-hal konstan tersebut, ada serangkaian variabel yang berubah-ubah dari satu perang dunia lainnya: strategi, aktor atau pihak-pihaknya, persenjataan yang digunakan, dan terahkir, taktiknya. Meski yang terahkir ini berubah-ubah, yang pertama tadi ada dan bisa diterapkan guna memahami suatu perang dan lainnya. Perang dunia ketiga atau perang dingin berlangsung sejak 1946 (atau bila anda suka, sejak pemboman Hiroshima tahun 1945) sampai 1985-1990. Inilah perang dunia besar yang terdiri dari banyak perang lokal. Sebagaimana dalam semua perang, pada akhirnya terjadi penaklukan wilayah dan penghancuran musuh. Selanjutnya, ia bergerak pada peganturan wilayah taklukan dan reorganisasi kawasan. Para aktor perang dunia ini adalah: 1) dua negara adikuasa, Amerika Serikat dan Uni Soviet dengan satelitnya masing-masing; 2) mayoritas negara-negara Eropa; 3) Amerika Latin, Afrika, sebagian Asia dan Oseania. Negara-negara pinggiran berkisar seputar AS atau Soviet, sesuka keinginan mereka. Setelah adikuasa dan negara-negara pinggiran terdapat pemirsa dan korban, atau artinya: seisi dunia selebihnya. Dua negara adikuasa ini tidak selalu bertempur tatap muka. Mereka kerap melakukanya lewat negara-negara lain. Sementara negara-negara industri besar bergabung dengan salah satu blok, negara dan umat manusia selebihnya tampil sebagai pemirsa atau korban. Yang memberi watak perang ini adalah: 1) orientasi persenjataannya, dan 2) perang-perang lokal. Dalam perang nuklir, dua adikuasa ini bersaing guna melihat berapa kali mereka bisa menghancurkan dunia. Metode untuk menyakinkan lawan adalah dengan menghadapkannya pada kekuatan yang sangat besar. Pada saat yang sama, perang lokal berlangsung di mana-mana dan negara-negara adikuasa itu terlibat. Hasilnya, sebagaimana kita semua tahu, adalah kalah dan hancurnya Uni Soviet, serta menangnya AS, yang di seputarnya kini mayoritas negara-negara besar berkumpul. Saat itulah apa yang kami namai “Perang Dunia Keempat” pecah. Dan di sini masalah timbul. Hasil dari perang sebelumnya mestinya sebuah dunia unipolar satu negara tunggal yang mendominasi dunia tanpa pesaing tapi, guna membuatnya efektif, dunia unipolar ini harus mencapai apa yang dikenal sebagai “globalisasi.” Dunia harus dipahami sebagai wilayah taklukan luas dengan sebuah musuh yang terhancurkan. Penting kiranya untuk mengatur dunia baru ini, dan karenanya, mengglobalkannya. Maka mereka pun berpaling pada teknologi informasi, yang dalam perkembangan umat manusia sama pentingnya seperti penciptaan mesin uap. Komputer membolehkan orang berada di mana-mana secara silmutan. Tidak ada lagi batas atau kekangan ruang dan waktu. Berkat komputerlah proses globalisasi dimulai. Pemisahan, perbedaan, negara-negara-bangsa, seluruhnya runtuh, dan dunia menjadi apa yang secara realitis dinamai kampung global. Konsep yang mendasari globalisasi adalah apa yang kita sebut “neoliberalisme,” sebuah agama baru yang mengizinkan proses ini dilaksanakan. Dengan perang Dunia keempat ini, sekali lagi, wilayah-wilayah ditundudukkan, mussuh dihancurkan dan penaklukan wilayah dikelola. Masalahnya adalah: wilayah apa yang ditaklukkan dan direorganisir, dan siapa gerangan musuhnya? Melihat bahwa musuh sebelumnya telah lenyap, kami katakan sekarang ini umat manusialah musuhnya. Perang dunia keempat menghancurkan umat manusia seraya globalisasi menguniversalkan pasar. Segala sesuatu yang manusiawi dan menentang logika pasar adalah musuh dan harus dihancurkan. Dalam pengertian ini, kita semuanya musuh untuk dimusnahkan: orang adat, orang non-adat, pengawas HAM, kaum guru, cendekiawan, seniman. Setiap orang yang menyakini dirinya bebas padahal tidak. Perang dunia keempat ini menggunakan apa yang kami sebut “destruksi.” Wilayah dihancurkan dan dikosongkan. Saat perang dilancarkan, tanah harus dihabisi, diubah jadi gurun. Bukan karena semangat merusak, tapi guna membangun dan menatanya kembali. Apa masalah utama yang dihadapi dunia unipolar ini dalam menglobalkan dirinya sendiri? Negara-bangsa. Perlawanan, budaya, tiap-tiap cara kekerabatan sebuah bangsa-bangsa, apa-apa yang membuatnya berbeda. Bagaimana mungkin kampung ini bisa global dan setiap orang bisa sama bila ada begitu banyak perbedaan? Waktu kami katakan perlu kiranya menghancurkan Negara-bangsa dan mengubahnya jadi gurun, itu bukan berati menyingkirkan rakyat, tapi menyingkirkan cara keberadaan rakyat. Setelah menghancurkan, orang harus membangun. Membangun kembali wilayah dan memberi mereka tempat yang lainnya. Tempat yang diputuskan oleh hukum pasar. Inilah yang mengerakkan globalisasi. Rintangan pertama adalah Negara-bangsa: mereka harus digempur dan dihancurkan. Segala sesuatu ynag membuat negara itu “berbangsa” harus dihancurkan: bahasa, budaya, ekonomi, kehidupan politik, dan jaringan sosialnya, bila bahasa-bahasa nasional tidak lagi terpakai, mereka harus dihancurkan, dan sebuah bahasa baru harus digencarkan. Bertentangan dengan apa yang orang pikir, bahasa itu bukanlah inggris, tapi komputer. Semua bahasa harus dibikin sama. Diterjemahkan ke dalam bahsa komputer, inggris sekalipun. Semua aspek kultural yang membuat seorang perancis jadi perancis, seorang italia jadi italia, seorang denmark jadi denmark, seorang meksiko jadi meksiko, harus dihancurkan, karena merekalah penghalang yang mencegahnya memasuki pasar global. Ini bukan perkara membuat satu pasar untuk orang perancis, dan satu lagi untuk orang Inggris atau Italia. Harus ada satu pasar tunggal, di mana orang yang sama bisa mengkonsumsi produk yang sama di tempat manapun di dunia, dan di mana orang yang sama ini bertindak laiknya warga dunia, bukan lagi warga Negara-bangsa. Itu berati sejarah budaya, sejarah tradisi, bertabrakan dengan proses ini dan menjadi musuh perang Dunia Keempat. Hal ini menjadi perkara serius terutama di Eropa, dimana terdapat bangsa-bangsa dengan tradisi besar. Kerangka kultural orang Perancis, italia, Inggris, Jerman, Sepanyol, dll -segala sesuatu yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam komputer dan istilah-istilah pasar-menjadi kendala bagi globalisasi ini. Barang-barang disirkulasikan lewat saluran-saluran informasi, dan segala sesuatu lainnya harus dihancurkan atau disisihkan. Negara-Bangsa punya strukur ekonominya sendiri serta apa yang disebut “kelas borjuasi nasional” -kaum kapitalis dengan markas dan laba nasional. Ini tidak boleh ada lagi: bila ekonomi diputuskan pada tingkat global, kebijakan-kebijakan ekonomi Negara-Bangsa yang mencoba melindungi modalnya menjadi musuh yang harus yang harus ditundukkan. Kesepakatan Perdagangan Bebas, serta kesepakatan yang membuahkan Uni Eropa, uang Euro, merupakan gejala-gejala pengglobalan ekonomi, meski pada mulanya ini adalah globalisasi regional, sebagaimana kasus Eropa. Negara-Bangsa membangun relasi politiknya sendiri, tapi kini relasi politik tidak lagi berguna. Aku tidak mencirikan ini baik atau buruk. Masalahnya adalah hubungan-hubungan politik ini menjadi perintang bagi teruwudnya hukum-hukum pasar. Kelas politik nasional sudah usang, tidak lagi berguna, harus diubah. Mereka mencoba mengingat, mereka mencoba mengingat nama negarawan di eropa satu saja. Sama sekali tidak bisa. Tokoh terpenting di eropa zaman Euro adalah orang-orang macam presiden Bundesbank, seorang bankir. Apa yang ia ucapkan akan menentukan kebijakan bermacam presiden dan perdana menteri yang diberlakukan di negara-negara Eropa. Bila jalinan sosial koyak, hubungan-hubungan lama solidaritas yang memungkinkan adanya koeksistensi dalam sebuah Negara-Bangsa juga retak. Ini sebabnya kampanye menentang homoseksual dan lesbian, melawan imigran, atau kampanye xenofobia, meruyak. Segala sesuatu yang sebelumnya menjaga kesetimbangan harus di hancurkan sampai titik tertentu ketika perang dunia ini menggempur Negara-Bangsa dan mengubahnya jadi sesuatu yang berbeda. Ini persoalan homogenisasi, membuat tiap orang sama, dan menghegemonikan sebuah gaya hidup. Inilah kehidupan global. Hiburan terbesarnya harus komputer, kerjanya harus komputer, nilainya sebagai manusia harus diukur dari jumlah kartu kreditnya, daya beli seseorang, kapasitas produktifnya kasus yang menimpa kaum guru cukup jelas dalam hal ini. Orang yang punya pengetahuan paling banyak atau yang paling bijak tidak lagi berharga. Kini orang yang menghasilkan paling banyak risetlah yang berharga, dan dengan itulah gajinya, beasiswanya, dan kedudukanya diuniversitas diputuskan. Ini banyak terkait dengan model Amerika Serikat. Toh ternyata, perang Dunia Keempat juga menghasilkan efek berkebalikan, yang kami sebut “fragmentasi ” Dunia, secara paradoksal, tidaklah mennyatu, malah pecah jadi banyak kepingan. Meski bisa diasumsikan bahwa warga dibikin setara, perbedaan sebagai perbedaan pun meruyak: homoseksual dan lesbian, kaum muda, imigran. Negara-Bangsa berfungsi sebagai suatu Negara besar, wilayah-masyarakyat-anonim yang memecah kita berkeping-keping. Bila Anda cermati peta dunia pada periode ini berakhirnya perang Dunia Ketiga-dan menganalisa delapan tahun terakhir, sebuah proses restrukrisasi sedang berlangsung, terutama – tapi bukan hanya – di Eropa. Di mana dulu ada satu negara, kini ada banyak negara. Peta dunia retak sudah. Inilah efek paradoksal yang berlangsung gara-gara Perang Dunia keempat itu sendiri. Alih-alih menglobal, dunia malah terpecah-pecah, dan terlepas dari mekanisme hegemonisasi ini, kian lama kian banyak perbedaan yang muncul. Globalisasi dan neoliberlisme membuat dunia jadi sebuah kepulauan. Dan ia harus dibubuhi logika pasar. Kepingan-kepingan ini harus diorganisir jadi denominator bersama. Inilah yang kami sebut “bom pinansial” pada saat yang sama perbedaan-perbedaan ini muncul, perbedaan-perbedaan ini pun dilipatgandakan. Tiap anak muda punya gengnya sendiri, cara berfikirnya sendiri, seperti punk dan skinhead. Semuanya di tiap-tiap negara. Kini beda bukan bukan cuma beda, tapi perbedaan mereka dilipatgandakan dan mencari identitasnya sendiri. Perang Dunia Keempat jelas tidak menawarkan sebuah cermin yang membolehkan mereka melihat dirinya sendiri sebagai denominator bersama. Ia menyuguhkan pada mereka cermin yang retak. Selama bisa mengontrol kepulauan ini (umat manusia ini), kekuasaan tidak akan terlalu kecewa. Dunia pecah jadi banyak kepingan, besar dan kecil. Tak ada lagi benua dalam pengertian bahwa aku seorang Eropa, Afrika, atau Amerika. Yang ditawarkan oleh globalisasi neoliberal adalah jaringan yang dibangun oleh modal finansial atau, bila anda suka, oleh kuasa finansial. Bila terjadi krisis dalam persilangan ini, jaringan diluarnya akan meredam dampaknya. Bila terjadi kemakmuran di sebuah negara, ia tidak menghasilkan efek kemakmuran di negara-negara lainnya. Jadi, ini sebuah jaringan yang tidak berfungsi. Apa yang mereka ceritakan pada kita tentang ukuran dunia adalah dusta, pidato yang diulang-ulang oleh para pemimpin Amerika Latin, entah Menem, Fujimori, Zedillo, atau pemimpin-pemimpin lainnya dengan karakter moral yang meragukan. Sesungguhnya, yang sedang terjadi adalah jaringan ini membuat Negara-negara-bangsa jadi kian ringkih. Sia-sia sebuah negara berjuang membangun ekuilibrium serta nasibnya sendiri sebagai bangsa. Segala sesuatu bergantung pada apa yang terjadi di sebuah bank di Jepang, atau apa yang yang diperbuat mafia di Rusia atau spekulan di Sydney. Dengan satu dan lain cara, Negara-Bangsa bukan diselamatkan, mereka dikutuk selamanya. Ketika sebuah Negara-Bangsa setuju untuk bergabung dalam jaringan ini – katena tak ada pilihan lain, karena mereka memaksanya, atau karena yakin – ia sedang nenekan akta kematianya sendiri. Ringkas kata, yang diinginkan pasar raksasa tersebut adalah mengubah semua kepulauan ini menjadi pusat-pusat belanja, bukan bangsa. Orang bisa pergi dari satu negara ke negara lainnya dan menemukan produk yang sama. Tidak ada lagi bedanya. Di Paris atau di San cristobal de las Casas anda bisa mengkomsumsi barang yang sama. Bila anda di San Cristobal de las Casas, anda bisa secara simultan berada di paris memperoleh berita. Inilah akhir Negara-Bangsa. Dan bukan cuma itu: inilah akhir umat manusia yang menetapkan seberapa banyak anda berproduksi, berapa hargamu, berapa banyak anda beli. Martabat, perlawan, solidaritas semuanya merecoki. Segala sesuatu yang mencegah seorang manusia berubah jadi mesin produksi dan konsumsi tergolong musuh, dan harus dienyahkan. Inilah sebabnya kami katakan spesies manusia adalah musuh Perang Dunia Keempat. ia tidak menghancurkan secara fisik, tapi menghancurkan kemanusiaannya. Secara paradoksal, dengan menghancurkan Negara-Bangsa, martabat, perlawanan, dan solidaritas justru terperbarui. Tak ada ikatan yang lebih kuat, lebih solid, ketimbang ikatan yang ada antara kelompok-kelompok yang berbeda: antar homoseksual, antar lesbian, antar kaum muda, antar migran. Perang ini, karenanya, berlanjut dengan menyerang juga mereka yang berbeda. Inilah yang dituju kampanye-kampenye itu, begitu kuatnya di Eropa dan Amerika Serikat, melawan mereka yang berbeda, karena mereka berkulit gelap, bicara bahasa lain, atau memiliki budaya yang berbeda. Cara untuk menyuburkan xenofobia dalam reruntuhan Negara-Bangsa ini adalah dengan menghadirkan ancaman: “pendatang-pendatang Turki ingin merebut lapangan kerjamu.” Imigran-imigran Meksiko datang buat memperkosa, mereka datang buat mencuri, mereka datang menabur kebiasan buruk.” Nrgara-negara-bangsa atau segelintir yang tersisa dari mereka-mendelegasikan kepada negara dunia baru itu komputer peran untuk menyingkiran imigran-imigran ini. Dan seketika itulah kelompok-kelompok macam Ku klux Klan meruyak, atau orang-orang kejujuran macam Berlesconi bisa merebut kekuasaan. Mereka semua membangun kampanyenya berdasarkan xenofobia. Kebencian akan yang berbeda, penganiyayaan terhadap apapun yang berbeda, kini mendunia dihadapkan pada, perbedaan-perbedaan ini berkembang biak, mereka mengeras. Begitulah, aku tidak akan mencirikan ini baik atau buruk, inilah yang terjadi.
Perang Bukan Cuma Militer. Dalam kaidah-kaidah militer yang ketat, Perang Dunia Ketiga punya logika. Pada intinya, ini adalah perang konvensional. Dikonseptualkan sedemikian rupa samapi bila aku pasang tentara dan Anda pasang tentara, kita berhadapan satu sama lain, dan siapapun yang masih hidup menang, ini berlangsung di suatu kawasan yang sepesifik dalam kasus NATO dan Pakta Warsawa, ialah Eropa. Berawal dari perang konvesional antar pasukan, sebuah jalan yang berorientasi militer dan persenjataan ditetapkan. Kita akan lihat detil-detilnya lebih rinci. Ini misalnya [Marcos mengangkat senapan] adalah senjata semi-otomatis, disebut senapan mesin AR-15. Diproduksi untuk perang Vietnam dan bisa dibongkar dengan sangat gampang [ia mempertelinya], nah begini. Waktu mereka membuatnya Amerika membayangkan skanerio perang konvensional, artinya: kontingen militer besar berhadapan satu sama lain. “Kita kumpulkan banyak tentara, kita bergerak maju, dan ahkirnya pasti ada yang tersisa.” Pada saat yang sama Pakta Warsawa mengembangkan senapan otomatis kalasnilov, lazim disebut AK-47, senjata dengan volume tembak besar dekat, sampai 400 meter. Konsep Soviet melibatkan pasukan gelombang besar: segunung prajurit kedua dan ketiga akan tiba. Siapa yang paling banyak punya tentara akan menang. Amerika kemudian berfikir. “Bedil Garand kuno dari Perang Dunia Kedua tidak berguna lagi. Kita kini butuh senjata yang punya daya tembak besar untuk jarak dekat. ” Mereka bawa AR-15 dan mengujinya di Vietnam. Masalahnya adalah senjata itu rusak, tidak jalan. Sewaktu mereka menyerang Vietkong, mekanismenya membuka terus, dan waktu mereka menembakkannya, bunyinya “klik.” Dan itu bukan kamera, tapi senjata. Mereka mencoba memecahkan masalah dengan model M16-A1. Di sini akal-akalnya ada pada pelurunya, yang meminta dua hal berbeda. Satu, yang sipil, 2,223 inci-bisa dibeli di toko mana saja di AS. Yang lain-5,56 milimeter-eksklusif dipakai NATO. Ini peluru yang sangat kilat dan ada tipuannya. Dalam perang, tujuanya adalah melihat kerugian bukan kematian di pihak lawan, dan sebuah pasukan menganggap dirinya menderita kerugian bila seorang serdadu tidak sanggup lagi bertempur, konvensi Jenewa – sebuah kesepakatan untuk memanusiawikan perang-melarang peluru ekspansif, karena pada titik ia masuk, ia merusak lebih banyak, dan jauh lebih mematikan ketimbang peluru tajam. “Melihat bahwa tujuannya adalah meningkatkan jumlah yang terluka dan menurunkan jumlah yang tewas,” kata mereka, “kami melarang peluru ekspansif. Anda korban sekarang, tapi anda tidak terbunuh kecuali mengenai organ vital. Guna mematuhi Konvensi Jenewa sekaligus mengakalinya, Amerika menciptakan peluru ujung lunak yang ketika memasuki tubuh manusia, berbelok dan melintir. Lubang masuknya seukuran ini, lubang keluarnya jauh lebih besar, peluru ini lebih parah ketimbang peluru ekspansif, dan ia tidak melanggar konvensi. Toh demikian peluru 162 menembusmu dan membuatmu terluka, tapi yang ini menghancurkanmu. Kebetulan, pemerintah Meksiko baru saja membeli 16.000 butir peluru ini. Artinya, senjata ini dicipta untuk skenario-skenario khusus. Kita asumaikan mereka tak ingin memakai bom nuklir. Apa yang mereka pakai? Banyak tentara lawan banyak tentara. Maka doktrin-doktrin perang konvesional NATO dan Pakta Warsawa terciptalah. Opsi kedua adalah perang nuklir lokal, perang dengan senjata nuklir tapi hanya di beberapa tempat dan tidak di lainnya. Ada kesepakatan antara adikuasa ini untuk tidak saling menyerang di negeri mereka sendiri, dan bertempur hanya di wilayah netral. Tak perlu disebutkan bahwa wilayah ini adalah Eropa. Di situ lah bom-bom akan berjatuhan dan orang akan melihat siapa yang masih tetap hidup di Eropa Barat serta yang dulu disebut Eropa Timur. Opsi terahkir perang Dunia Ketiga adalah perang nuklir total, yang jadi bisnis besar, bisnis abad ini. Logika perang nuklir adalah tak ada yang jadi pemenangnya. Bukan masalah siapa yang menembak lebih dulu, tak soal seberapa cepat ia menembak, pihak sana akan bisa menembak pula. Kehancurannya timbal balik, dan dari sejak semula, opsi ini jelas ditolak. Sifat inilah yang dalam istilah diplomasi militer disebut “tangkisan.” Jadi agar Soviet tidak memakai senjata nuklir, Amerika mengembangkan banyak senjata nuklir, dan agar mereka tidak memakai senjata nuklir, Soviet mengembangkan banyak senjata nuklir, begitu seterusnya. Mereka menyembutnya Misil Balistik Antarbenua, roket-roket yang meluncur dari Rusia ke Amerika Serikat dan dari Amerika Serikat ke Rusia. Harganya mahal dan kini tidak berguna buat apa-apa lagi. Ada pula senjata-senjata nuklir lainnya untuk penggunaan lokal yang akan mereka pakai di Eropa dalam kasus perang nuklir lokal. Tatkala fase ini mulai, tahun 1945, ada perang yang harus diperjuangkan sebab Eropa terbelah dua. Strategi militernya -kita bicara murni aspek-aspek militernya -adalah sebagai berikut: ada beberapa posisi menyerang diseberang garis musuh, ada satu lini logistik permanen, serta ada tanah-air, bernama Amerika Serikat atau Uni Soviet. Lini logistik menyuplai posisi-posisi depan, pesawat-pesawat besar yang ada di udara 24 jam sehari, B-52 Fortress, mengusung bom-bom nuklir, dan mereka tak perlu harus mendarat. Ada juga pakta-pakta. Pakta NATO, Pakta Warsawa, dan SEATO (South East Asia Treaty Organization), yang seperti NATO untuk negara-negara Asia. Model ini dimainkan dalam perang-perang lokal. Segala sesuatunya punya logika, dan sungguh logis untuk bertempur di Vietnam, yang merupakan skenario yang sudah disepakati. Tentara lokal dan kaum pemberontak mengambil posisi di seberang garis musuh. Logistik permanen diperankan oleh barisan penjual senjata legal maupun gelap, dan tanah-air diperankan oleh dua adikuasa tersebut. Ada pula kesepakatan menagani tempat-tempat di mana mereka berdua tetap berlaku sebagai pemirsa. Contoh paling jelas dari perang lokal ini adalah kediktatoran Amerika Latin, konfilik-konflik di Asia, terutama Vietnam, dan perang-perang di Afrika. Sepertinya ini sama sekali tidak punya logika apapun, karena mayoritas yang terjadi di zaman itu tidaklah dipahami. Tapi apa yang terjadi adalah bagian dari garis besar perang Konvesional ini. Selang priode inilah -dan ini penting -konsep “perang total” dikembangkan. Unsur-unsur yang bukan lagi bersifat militer memasuki doktrin militer. Umpamanya di Vietnam, sejak serbuan Tet (1968) sampai jatuhnya Saigon (1975), media sekali lagi menjadi medan tempur penting. Maka, gagasan untuk mengembangkan kejayaan militer dalam militer itu tidak lagi mencukupi. Penting kiranya untuk mengikutkan soal-soal lain, seperti media. Dan musuh juga bisa diserang dengan langkah-langkah ekonomi, dengan langkah-langkah politik dan dengan diplomasi, yang menjadi permainan PBB dan organisasi-organisai internasioanl. Sebagian negara menciptakan sabotase guna memastikan kutukan dan cercaan terhadap negara-negara lainnya, yang disebut “perang diplomasi.” Seluruh perang ini mengikuti teori domino. Kedengerannya konyol, tapi mereka seperti dua musuh bermain domino dengan penduduk dunia selebihnya. Salah satu pihak meletakkan kartunya, dan yang lain berupaya menaruh kartu guna memotong gerak lawan berikutnya. Adalah teori tokoh masyhur bernama Kissinger, Menteri Dalam Negeri AS selama era Vietnam, yang berkata: “Kita tidak bisa meninggalkan Vietnam karena itu berarti merelakan permainan domino di Asia Tenggara kepada pihak lain.” Dan itu sebabnya mereka melakukan apa yang mereka perbuat di Vietnam. Ini juga bermaksud memadukan kembali logika Perang Dunia Kedua. Bagi sebagian besar penduduk, Perang Dunia Kedua heroik sifatnya. Ada gambar Angkatan Laut membebaskan Perancis dari kediktatoran, membebaskan Italia dari Il Duce, membebaskan Jerman dari militer, tentara merah masuk dari segala sisi. Perang Dunia Kedua dilancarkan dengan niat mengenyeahkan sebuah bahaya bagi segenap umat manusia, bahaya nasionalisme-sosialis. Karenanya, dengan satu dan lain cara perang-perang lokal berupaya untuk menyatukan kembali ideologi “Kami bertindak demi membela dunia yang bebas.” Tapi kini Moskow-lah yang memainkan peran nasionalisme-sosialis. Dan Moskow sendiri juga melakukan hal yang sama: kedua adikuasa ini mencoba memakai argumen “demokrasi” dan “dunia bebas” yang diusung masing-masing pihak. Sesudah itu datang Perang Dunia Keempat, yang menghancurkan segala yang sudah-sudah, karena dunia tidak lagi sama, dan strategi yang sama tidak bisa diterapkan. Konsep “perang total” dikembangkan lebih jauh: ini bukan cuma perang di segala sisi, ini perang yang bisa terjadi di manapun, sebuah perang total di mana seisi dunia dipertaruhkan. “Perang total” berarti: kapanpun, di manapun, dalam situasi apapun. Pemahaman mengenai pertempuran di satu tempat tertentu tidak lagi berlaku. Sekarang pertempurannya bisa berlangsung kapan saja. Tak ada lagi konsep eskalasi konflik dengan ancaman-ancaman, perebutan posisi dan upaya reposisi diri. Di sembarang saat dan sembarang kesempatan, konflik bisa timbul. Mungkin saja problem domestik, mungkin saja diktator dan apa saja dari perang lima tahun terahkir ini, mulai Kosovo sampai perang teluk. Seluruh rutinitas militer perang Dingin, karenanya, telah hancur. Tidak lagi mungkin untuk mengelar perang dalam perang Dunia Keempat ini di bawah kriteria yang ketiga, sebab aku kini harus bertempur di manapun, aku harua bertindak cepat, aku bahkan tidak tahu dalam situasi macam apa aku akan melancarkan perang ini. Guna memecahkan masalah ini, militer awalnya mengembangkan perang “gerak cepat”. Contohnya adalah perang Teluk, sebuah perang yang menyedot akumulasi kekuatan militer dalam periode waktu yang singkat, aksi militer besar-besaran dalam jangka pendek, penaklukan wilayah dan penarikan diri. Invasi panama merupakan contoh lain gerak cepat ini. Sesungguhnya malah, di sana terdapat kontingen NATO yang disebut “satuan intervensi cepat.” Gerak cepat adalah kekuatan militer berjumlah besar yang menggempur musuh dengan tiada membeda-bedakan antara rumah sakit anak dengan pabrik senjata kimia. Inilah yang terjadi di Irak: bom-bom pintar itu ternyata bodoh, mereka tidak bisa membeda-bedakan. Dan di situlah mereka berahkir, sebab mereka sadar bahwa ini lumayan mahal, sementara sumbangannya sedikit sekali. Di Irak seluruh pasukan diterjunkan, tapi tak terjadi penaklukan wilayah. Ada masalah protes-protes lokal, ada pengawas HAM internasional. Mereka harus mundur. Vietnam sudah mengajari mereka bahwa dalam kasus-kasus ini, tidak bijak kiranya untuk ngotot. “Tidak, kita tidak bisa lakukan ini sekarang,” kata mereka. Lantas mereka beralih pada strategi “proyeksi kekuatan.” “Lebih baik tempatkan terlebih dahulu pangkalan militer AS di seluruh dunia, mengakumulasi kekuatan besar skala benua, yang dalam hitungam jam atau hari akan punya kapsitas untuk memasang unit-unit militer ditempat manapun di dunia.” Dan mereka bisa, sesungguhnya, meletakkan sebuah devisi berisi empat atau lima ribu orang di titik paling jauh di planet ini dalam empat hari, lebih banyak dan terus lebih banyak lagi. Tapi proyeksi kekuatan ini punya masalah bila diserahkan pada tentara lokal, atau persisnya: tentara AS. Mereka yakin bahwa bila konfliknya tidak tertuntaskan segera, kantung-kantung mayat (mereka yang mati) akan mulai berdatangan, seperti di Vietnam, dan ini bisa menyulut banyak protes di dalam negeri Amerika atau negara mana saja. Guna menghindari masalah-masalah itu, mereka sisihkan proyeksi kekuatan dan memakai -kita tegaskan ini -hitunga-hitungan dagang. Mereka tidak membuat hitungan-hitungan mengenai kerusakan tenaga manusia atau sumber daya alam, tapi tentang publisitas dan citra. Maka perang pryoyeksi pun dikesampingkan, dan berlanjut dengan model perang dengan tentara-tentara lokal, memakai lebih banyak banyak bantuan internasional, lebih banyak badan supranasional. Sekarang bukan lagi mengirim tentara, tapi berperang lewat tentara yang sudah ada di sana, membantu mereka sesuai basis konfliknya, dan tidak memakai model sebuah bangsa yang mencanangkan perang, tapi badan supranasional seperti PBB atau NATO. yang melakukan kerja kotornya adalah tentara-tentara lokal. Sementara yang masuk surat kabar adalah Amerika dan bala bantuan internasionalnya. Inilah modelnya. Protes tidak lagi mujarab: ini bukan perang pemerintah Amerika Serikat. Ini oerang oleh NATO, dan toh NATO melakunya semata demi membantu PBB. Di seantero dunia, terjadi restrukturisasi tentara agar mereka bisa menghadapi konflik lokal dengan bantuan internasional, di bawah selubung supranasional dan dengan samaran perang kemanusiaan. Ini berarti menyelamatkan penduduk dari genosida dengan cara membunuhnya. Dan inilah yang terjadi di Kosovo. Milosevich melancarkan perang melawan kemanusiaan. “Bila Kita menentang Milosevich, kita membela kemanusiaan.” Inilah argumen yang dipakai jendral-jendral NATO dan yang membela begitu banyak masalah pada kaum kiri Eropa: menentang pemboman NATO berarti mendungkung Milosevich, kalau begitu lebih baik mendukung pemboman NATO, sementara Milosevich, Anda tahu, dipersenjatai oleh Amerika Serikat. Konsepsi militer yang kini sedang dimainkan, adalah bahwa seisi dunia -entah Sri Langka atau negara lainnya, yang terjauh yang bisa dibayangkan orang -kini merupakan halaman belakang, karena dunia global menghasilkan simultanitas. Dan itulah masalahnya: dalam dunia yang menglobal ini, apapun yang terjadi di tempat manapun mempengaruhi tata internasional baru ini. Dunia bukan lagi dunia, tapi kampung, dan segala sesuatunya berada sangat dekat. Karenanya polisi-polisi besar dunia -terutama Amerika Serikat -berhak turut campur di manapun, kapanpun, dalam situasi apapun. Mereka bisa bisa dengan mudahnya memutuskan bahwa pemberontakan adat di Chiapas mengancam keamanan domestik Amerika Utara, atau kelompok Tamil di Sri Lanka, atau apapun terserah Anda. Gerakan apapun dan tidak serta merta harus bersenjata -di tempat manapun bisa dianggap ancaman bagi keamanan domestik. Apakah yang telah terjadi? Strategi dan konsep-konsep kuno dalam menggelar perang runtuh sudah. Mari kita lihat. “Panggung operasi” adalah istilah militer untuk mengindikasikan tempat di mana perang akan berlangsung. Dalam Perang Dunia Ketiga, Eropalah panggung oprasinya. Kini tidak jelas di mana perang akan pecah. Bisa di mana saja, tidak lagi pasti bahwa perang akan terjadi di Eropa. Doktrin militer bergeser dari apa yang disebut “sistem” menuju apa saja kapan saja. Sebuah rencana tidak lagi memadai: kini aku butuh banyak rencana, bukan cuma untuk membangun respon pada insiden-insiden tertentu, tapi untuk membangun banyak respon militer pada insiden-insiden yang spesifik.” Di sinilah teknologi infomarsi turut campur. Perubahan ini menghasilkan pergeseran dari yang sistematis, non-fleksibel, kaku, menuju yang fleksibel, menuju apa yang bisa berubah dari satu momen ke berikutnya. Dan ini akan merumuskan segenap doktrin baru ketentaraan, korps-korps militer, dan para prajurit. Inilah satu unsur dalam perang Dunia Keempat. Yang lainnya adalah perpindahan dari “strategi pengepungan” menjadi strategi “mengulur waktu” atau “perpanjangan”: kini masahnya bukan cuma menaklukan wilayah, mengepung musuh, tapi juga memperpanjang konflik menjadi apa yang mereka sebut “aksi-aksi non-perang.” Dalam kasus Chiapas, ini berkaitkan dengan bongkar pasang kepala pemerintah daerah dan wilayah, dengan HAM, dengan media dll. Termasuk dalam konsepsi militer baru ini adalah intensifikasi penaklukan wilayah. Artinya, penting untuk tidak cuma mengurusi EZLN dan kekuatan militernya, tapi juga gereja, LSM, pengamat internasional, pers, penduduk sipil, dll. Tak ada lagi penduduk sipil dan kaum netral. Seisi dunia adalah bagian dari konflik. Implikasinya adalah tentara-tentara nasional tidak lagi berfaedah, karena mereka tidak lagi mempertahankan Negara-Bangsa. Bila tidak ada Negara-Bangsa, apa yang akan mereka bela? Di bawah doktrin baru, tentara-tentara nasional jadinya memainkan peran polisi lokal. Kasus Meksiko cukup jelas: Tentara Meksiko makin lama makin banyak menggarap kerja kepolisian, seperti memerangi perdangangan narkoba. Badan baru untuk mengatasi kejahatan teroganisir bernama Polisi Preventif Federal tersusun dari personil-personil militer. Ini soal tentara nasional yang berubah jadi polisi lokal dengan gaya buku komik AS: a super Cop, Ketika tentara di bekas Yugoslavia direorganisir, mereka berubah jadi satuan polisi lokal, dan NATO menjadi Polisi Supernya, mitra seniornya dalam istilah politik, pemeran utamanya adalah badan supranasional (dalam hal ini NATO atau tentara AS), dan pemeran-pemeran pembantunya adalah tentara-tentara lokal. Tapi tentara nasional didirikan dengan dasar doktrin “keamanan nasional.” Bila ada musuh atau bahaya pada keamanan suatu bangsa, tugas merekalah untuk menjaga keamanan, kadang melawan musuh dari luar, kadang melawan musuh-musuh domestik yang menciptakan destabilisasi. Inilah doktrin perang Dunia Ketiga atau Perang Dingin. Di bawah asumsi-asumsi ini, tentara-tentara nasional memgembangkan suatu kesadaran nasional yang membuat mereka sulit diubah jadi mitra kepolisian Sang Polisi Super. Maka doktrin keamanan nasional kini harus diubah jadi “stabilitas nasional.” Masalahnya bukan lagi membela bangsa. Karena musuh utama stabilitas nasional adalah perdagangan narkoba, dan perdangangan narkoba bersifat internasional, maka tentara-tentara nasional yang beroperasi di bawah panji stabilitas nasional pun menerima bantuan atau campur tangan internasional dari negara-negara lain. Problem menata kembali tentara-tentara nasional berlangsung di aras dunia. Kini Kita ke Amerika, dan dari situ ke Amerika Latin, ada Organization of Amerika States (OAS) dengan Sistem pertahanan Hemisfer. Menurut mantan presiden Argentina, Menem, seluruh negara Amerika Latin terancam dan kita perlu bersatu, mengahancurkan keaadaran nasional tentara dan membentuk ketentaraan mahabesar di bawah doktrin sistem pertahanan hemisfer, dengan dalih perdangangan narkoba. Melihat bahwa yang dipertaruhkan adalah fleksibilitas -atau kapasitas untuk berperang kapan saja, di mana saja, dan di bawah kondisi apa saja -gladi resik pun dimulai. Sekelumit benteng pertahanan nasional yang masih ada harus dihancurkan oleh sistem himisfer ini. Bila ada Kosovo di Eropa, di Amerika Latin ada kolombia dan chiapas. Bagaimana sistem pertahanan himisfer ini dibangun? Dengan dua cara. Di Kolombia, tapi seisi benua.” Dalam kasus Chiapas, konsep perang total dijalankan. Semua orang ambil bagian, tak ada pihak netral, entah kau jadi sekutu atau kau jadi musuh.
Penaklukan Baru Dalam proses fragmentasi ini -mengubah dunia menjadi kepulauan -kuasa finansial ingin membangun pusat belanja baru yang memiliki turisme dan sumber daya alam di Chiapas, Belize, dan Guatemala. Selain penuh minyak bumi dan uranium, masalahnya adalah Chiapas penuh penduduk adat. Dan orang-orang adat. Dan orang-orang adat ini, selain tidak berbahasa Spanyol, juga tidak menginginkan kartu kredit. Mereka tidak berproduksi, mereka menanam jagung, kacang, cabe, kopi, dan mereka membayangkan menari dengan iringan marimba bukannya memakai komputer. Mereka bukan konsumen bukan pula produsen. Mereka tak berguna. Dan apapun yang tak berguna boleh dihabisi. Tapi mereka tak mau pergi, dan mereka tidak mau berhenti sebagi orang adat. Ada lagi: perjuangan mereka adalah untuk diakui sebagai orang Indian, agar hak mereka untuk eksis diakui, tanpa harus berubah jadi orang lain. Masalahnya di sini, di tanah yang sedang berperang, di kawasan Zapatista, terdapat budaya-budaya adat utama, ada berbagai bahasa dan cadangan minyak terbesar. Ada tujuh masyarakat Indian yang turut serta dalam EZLN: suku Tzeltal, Tzotzil, Tojolabal, Chol, Zoque, Mam, dan mestizo. Inilah atlas Chiapas: komunitas-komunitas dengan populasi adat juga dengan minyak, uranium, serta kayu-kayuan berharga. Bagi neoliberalisme segala sesuatu adalah barang dagangan, dijual, dieksploitir. Dan orang-orang adat ini datang untuk berkata tidak, bahwa tanah adalah ibu, tempat pelestarian budaya, bahwa sejarah hidup di sini, dan yang mati hidup di sini. Jelas perkara-perkara absurd ini tidak bisa masuk ke komputer dan tidak terdaftar di bursa saham manapun. Dan tak ada cara buat meyakinkan mereka untuk berlaku baik, untuk belajar berfikir benar, mereka jelas-jelas tidak mau. Mereka bahkan mengakat senjata. Inilah sebabnya kami katakan bahwa pemerintah Meksiko tidak ingin berdamai: karena mereka ingin menyingkirkan musuh ini dan mengubah tanah ini jadi gurun, susudah itu mereorganisirnya dan menyetelnya agar beroprasi seperti pusat belanja raksasa, sebuah mal di Meksiko Tenggara. EZLN menyokong penduduk Indian, dan dengan begitu juga merupakan musuh, tapi bukan yang utama. Tidak cukup kiranya untuk menuntaskan masalah dengan EZLN, malah lebih parah bila menuntaskan masalah dengan EZLN berarti meninggalkan tanah ini, karena itu berati perdamaian di Chiapas dan menyudahi penaklukan wilayah yang kaya minyak, kayu-kayuan berharga, dan uranium. Itu sebabnya mereka belum melakukannya dan tidak akan melakukannya.
Menelusuri tiga pintu, tulisan personal pengantar perjalanan dari tahun 2019 – 2022.
Babak baru dilapas Cipinang kelas satu jakarta
Pengantar. Ditahun 2022. Sebenarnya saya belum ada materi untuk menulis dipenghujung tahun, banyak alasan personal dan yasudah, ahkirnya saya membuat tulisan tentang perjalanan dari tahun 2019 – 2022, sebelum itu saya banyak mengalami perubahan dari yang biasa-biasa hingga begitu berkesan, dari membuat tiga mixtape dan tulis kata pengantarnya (bisa cek diyoutube & soundcloud dengan nama “kahfuzhi”) untuk audio mixtape dengan kualitas suara seadanya karena dari aplikasi gratisan dan untuk tulisan ada diwebsite “ruang kamar” saya membuat satu lagu, yang sayangnya saya juga yang bikin musiknya, karena keterbatasan patner, si jay sibuk, yasudah saya keburu kalut untuk segera upload musiknya untuk disebar disosial media, walau out-putnya sangat-sangat “raw” karena mengunakan aplikasi yang amit-amit lemotnya dan tanpa headset mengerjakanya lagu bisa (cek diyoutube atau soundcloud “kahfuzhi – Goak Penyamun“), pada ahkirnya tulisan dan audio disimpan dalam kanal drive personal, mungkin itu untuk hal sekedar saja, tapi dalam hal lain, Saya juga ditemani berbulan-bulan dengan album Canibus – Kaiju yang membuat saya terus merasakan betapa buas dan liarnya Canibus, ditambah produser dan beat maker yang pas dengan flow dan rimanya, Canibus sunguh terbaik di album Kaiju, mendengarkan juga album “CRIMEAPPLE – Aguardiente“, album pereman jalanan dengan rima yang begitu mencengkam dengan beat boombap NY 90’an pastinya, dengan tekstur yang gelap, membuat saya sampat berfikir ini album ditahun 2018, tapi baru mendengarkannya ditahun 2022 masih terdengar fresh dan sama halnya dengan mendengarkan sederatan album terbaik yang terus menerus diputar. Dan ditahun ini ada beberapa moment yang dimana kami berpisah dengan sahabat saya, istilah bahasa penjara SPK (seperkara), dipindahkan tempat keberadaan dari Rutan ke Lapas, pada ahkirnya saya putuskan untuk berjalan sendiri petualangan ini. Jejak rekam mulai menagih, sepakat bikin nama grup hip-hop bersama jay dengan hanya bermodalkan by phone, jay, adalah seorang peracik beat, memilah-milah break’s yang sangat telaten, dia comot bagian-bagian nada entah dari lagu siapa (sampling) diloop sedemikian rupa, hingga menghasilkan musik yang saya suka, dan hal-hal tidak penting lainya, yang membuat tahun 2022 banyak – dikitnya begitu berati, tapi ketika yang paling berkesan tiba saatnya, saya dipindahkan dari Rutan ke Lapas, tepatnya tangal 21 september 2022, (artinya saya sudah tiga tahun delapan bulan “dirutankelas satujakarta“), untuk pertama kalinya saya menginjakan “Ke Lapas kelas satu jakarta“, babak baru dimulai, Sebelum melanjutkan alurnya, saya tarik tahun dimana semua telah berlalu masa-masa suram hingga mensiasati diri setengah mampus untuk tetap bertahan menjaga kewarasan dan memasuki dunia hampa dan benci terhadap sinar matahari, narapidana bilang adalah “Penjaro”, Les’t Gow.
B.N.N Cawang Jakarta. Pagi menjelang siang, waktu (10:30 p.m), sebuah moment ketika handphone berbunyi, panggilan telpon dari seorang teman untuk mengajak menjemput metamfetamin, tanpa penjelasan panjang, sayapun langsung mengiyakan, sebelum pembicaraan di telphone itu ditutup, saya berucap, “bukannya tidak ada jemputan hari ini – “sabtu12 feabuari 2019“. Cuci muka, gosok gigi, kenakan jaket tancap gas, menuju kerumah teman saya dan kamipun berangkat berdua. Lokasi jakarta pusat, Selesai penjemputan narkoboy, arah menuju pulang, waktu diperjalanan melewati lampu merah, pas didepan “Rumah Sakit Husada jakarta pusat”, tiba-tiba kepala saya ditodong beceng dalam kondisi diboceng, kami sepertinya sudah diikuti dan dipantau sebelumnya, kami langsung disergap diborgol, dimasukan kemobil untuk pegembangan, tak ada negosiasi atau kompromi, proses sampe waktu (22:00 a.m). Ahkirnya kami dibawa oleh B.N.P (badan narkotika provinsi) untuk bertemu penyidik, kami menemuinya, dalam obrolan basa-basi (intrograsi – kronologi tes urin dan didata) memakan waktu hingga menjelang pagi, dan kami dipindahkan ke B.N.N (badan narotika nasional) lokasi jakarta, kami resmi ditahan karena memiliki barang bukti narkotika jenis sabu-sabu seberat “5,ons”. Kala itu semua berubah, kami memasuki ruang yang panjangnya cuma 30 kaki melangkah dibagian depan kamar, disebut lorong, untuk ruangan kamar, saya tidak menghitung lebar ukuran, toilet didalam lengkap dengan CCTV, “konon cerita, tempat ini bekas Rumah Sakit ruang penginapan khusus”. Kami pun ahkirnya berjarak dari khalayak, menjadi sebuah biasa, hal-hal yang berbalik tentang pola hidup saya, tembok pemisah dan kawat duri. Yang dimana didalamnya terdapat para pelanggar hukum. Pintu mirip bunker lengkap dengan pemutar gagang pintu, seperti setir kemudi kapal, telah tertutup dengan bunyi yang seperti sudah berkarat tapi kuat, saya pun seperti berada dikehidupan jaman 90’an tak ada handphone, yang ada hanya permainan karambol dua papan dan permainan ludo lengkap dengan kertas dan bijinya, yang terselip di sela-sela jendela. Disetiap kamar mandi ada gambar cewek berbikini sexy atau bugil dari setiap majalah yang disobek dan ditempel didinding, melihat sekeliling ada beberapa kaos (baju) – celana yang dijemur mengunakan tali untuk mengeringkannya dengan kipas angin, saya menghitung nomer tiap kamar, melihat para penghuni (tahanan) yang asik sedang baca-baca buku, mereka melirik kearah kami yang baru tiba, ada yang pasang wajah garang atau memelas dan ada yang sengaja matanya dipelototin. Setibanya kami dikamar nomer enam paling pojok, dengan kondisi ruangan bau keringat menyengat, lembab dan redup, disebut kamar karantina. Pala saya sudah botak, sebelum memasuki kamar, dipangkas. Tak ada sambutan apa-apun, tidak ada alat komunikasi atau perangkat digital lainya, hanya CCTV 24 jam, cuma bisa interaksi didalam kamar dengan orang yang sudah duluan berada, saya memperhatikan setiap sudut ruangan, tidak ada sedikit celah matahari menyelinap masuk, (kawatir asma saya kambuh akibat pengap melebihi kapasitas penghuni kamar dan asap rokok), dikamar ini ada 12 orang, yang seharusnya terisi minimal delapan orang, kami pun berdesakan. Saya dan SPK disebut, Bahasa penjaranya “O.T” (orang tahanan baru, biasanya dikenakan biyaya, tapi karena ini B.N.N tak ada handphone tidak dikenakan harga orang kamar). Saya baringkan badan kealas tikar yang sudah disediakan, dengan kondisi kami berdua yang lumayan pegal-pegal karena semalaman pas di interograsi oleh penyidik sampai digeprak kursi kebadan dan kepala, diketokin tulang tibia pake borgol yang ujung slot bergerigi itu, sampe diancam pula, digedor (dipukul) bagian dada, intrograsi penyidik yang semaunya, yang membuat kami terpaksa mengakui atas barang bukti, tapi saya tidak tau menau dapat dari mana barang tersebut, karena kronologi saya hanya menunggu diwarung, tidak ikut menemui orang yang memberi barang tersebut. Tapi sebenarnya saya tau asalnya dari mana barang tersebut, saya tidak berucap atau memberikan info kepenyidik, toh untuk apa pula koveraktif, mereka para buser, penyedik, anggota B.N.P/B.N.N cuma untuk mengejar point entah menaikan “jabatan” atau mengambil keuntungan (dalam hal uang) atau kami sebagai tumbal yang ditukar oleh pihak pertama? Dan sambil mengisi data keterangan untuk kronologi, hendphone kami pun dicek dengan begitu detail, tapi saya mulai curiga ada sebuah permainan dalam kejadian penangkapan, “handphone samsung tipe caramel E1272” punya SPK saya untuk oprasional penjemputan tiba-tiba menghilang pas penangkapan kami, handphone tersebutlah yang menyimpan nomer pemberi bahan dan komunikasi dengan orang itu, ketika kami disergap dimasukan kemobil, buser bertanya ini bahan dapat dari mana? Spk saya memberitahukannya dapat dari orang dalam penjara melalui komunikasi via telpon, spk saya berucap ia bertemu dengan yang memberi bahan tersebut lewat komunikasi dengan handphone samsung, dengan ciri-ciri pisik pakaian yang diakenakan, karena jarak lokasi kami begitu dekat, berjarak 1,3 km/5menit dari penangkapan, tapi buser tidak mencari orang itu, malah makan diwarung bakmi yang dilokasari, waktu kami berada didalam mobil sambil melihat para buser sedang asik menyantap makan dan berbincang-bincang, sesuatu yang aneh tapi nyata, tapi itu sudah biasa dalam kasus seperti ini (arti biasa dimaksud adalah cuma sekedar formialitas belaka, karena mereka telah terpenuhi tujuanya, (kata maksud tujuanya adalah yang tadi saya tulis diatas). SPK wajahnya sudah tidak terbentuk karena diinjak-injak dibawah tanah yang penuh batu-batu kecil (kerikil) karena melawan ketika ditangkap. Oke sekarang Kembali ke ruangan kamar enam B.N.N, saya pun mengobrol dengan orang-orang yang dikamar, perkenalan, ternyata kami berdua saja yang berasal dari jakarta, selebihnya dari luar kota, dari medan, aceh, bogor, palembang, bekasi. Mereka semua melakukan ini karena terdesak ekonomi dan tuntutan, menafkahi keluarga dan membesarkan anak, rata-rata mereka mempunyai jairingan narkotika yang luas, anda tau tangkapan B.N.N itu seperti apa, dari segi barang bukti? tapi dilain itu, mereka rindu dengan keluarga, “teringat saya dengan rumah”, waktu pasti akan memberitau keberadan saya disini. Esok pagi rutinitas yang disebut apel baris-bebaris menghitung setiap orang pun terlaksana, total keseluruhan tahanan ada 70 orang, giliran kami berdua dipanggil petugas untuk memperkenalkan diri sebagai penghuni baru didepan para tahanan. Dan apa bila sudah seminggu kami bisa keluar kamar (dibuka kunci sampe jam operasional yang ditentukan) dan bisa ngobrol sama kamar lain. Seiring hari berlalu dikarantina, sudah melewati seminggu dan kamipun diacak untuk mengisi kamar yang sudah beberapa tahanan dipindahkan kerutan, ada 12 total semua kamar, setelah dari kamar enam kami ke kamar tiga, kamar yang bersih dan wangi, disitu saya bertemu dengan Palkam (kepala kamar) terlihat tua, tapi perawakan seperti masih semangat muda, ternyata berumur 57 tahun, bernama “paramli” beliau berasal dari aceh, saya mendengarkan paramli bercerita tentang penangkapan dia sampe ke B.N.N jakarta, ternyata paramli sebagai oprator didalam rutan medan, yang mengerakan anggota keluarganya yang diluar, paramli sendiri dalang dan otak dibalik narkotika jenis sabu-sabu dengan seberat “190kg” dalam kapal nelayan lewat jalur laut, penangkapan diperairan perbatasan malaysia, pelaku satu keluarga karena mempunyai perannya masing-masing, paramli sebagai oprator untuk mengarahkan letak lokasi dan anak laki-laki sama cucunya yang berperan sebagai penjemput bahan, anak perempuan sebagai pemegang uang transaksi, transfer dari bank ke bank, istrinya berperan melindungi anak-anaknya dan mereka semua telah mendekam ditahanan B.N.N jakarta. Saya dekat sama paramli semenjak sekamar, perihal tentang beliau bercerita jaringan narkotika internasional antara negara, menjual senjata laras panjang, pemasoknya dari vietnam dan mengorganisir G.A.M (gerakan aceh merdeka) menjadi petani ganja diladang pegunungan aceh, hingga kejar-kejaran bersama polisi dihutan karena D.P.O, sudah sering keluar masuk bui, paramli pun berandai-andai kalo aceh bisa lepas dari negara dan berdiri mandiri tanpa adanya negara yang ikut campur, pasti aceh makmur, gumam beliau dikala malam kami hanya berdua lengkap dengan rokok penuh asap. Singkat cerita saya ahkirnya dipindahkan kamar oleh petugas karena disuruh jadi tamping (pekerja bantu-bantu).
Tamping. Dari kamar tiga ke kamar satu, kamar V.I.P. (kamar yang fresh lengkap dengan koleksi buku-buku dan bisa tidur nyenyak) tugas saya membawa makan kesetiap kamar dan berjualan kopi, rokok hingga pesenan makanan dari luar, dan tentu saja saya mempromosikan kesetiap napi, disitu saya bertemu dengan seorang yang berasal dari bogor bernama “Bambang BO” bambang sendiri tamping juga team kami (karena tamping cuma ada empat orang dalam satu kamar) selesai melaksanakan kegiatan dari pagi hingga menutup malam, bambang membuka cerita tentang perjalanannya sampe dijemput B.N.N. Bambang ditangkap dikota bogor dengan barang bukti narkoba seberat “1ton, ganja ” jumlah yang lumayan, didalam mobil truk yang sudah dimodif, bambang membawa ganja dari aceh ke bogor memakan waktu cuma lima hari, kalo normalnya perjalanan aceh – bogor bisa sampe tujuh hari, tapi ternyata sibambang sudah diikuti dari aceh oleh B.N.N alias sudah ketahuan misinya membawa ganja, tapi dari pihak B.N.N pun membiarkan sampe kelokasi yang dituju yaitu kota bogor, bambang telah menyadari waktu dipelabuhan tanjung priok bahwa ada yang tidak beres seperti ada yang mengikuti dan sampainya dilokasi bogor kota, pas turun dari truk, titip kunci mobil truk ketukang tambal ban, bambang yang apes langsung ditangkap tanpa proses lama. perihal dia bercerita juga perjalanan dari aceh menuju jakarta ia dirazia dijalan pantura, dan menemui hal aneh waktu perjalan malam ditengah hutan, mengunakan doping dengan racikan maut hingga strong overdos, bertamu diwarung remang-remang dan hal-hal gila lainya yang membuat saya tertidur, bambang ngedumel karena dia sedang asik bercerita. Tapi dibalik itu tempat tahanan B.N.N ada petugas yang bermain dengan jenis narkotika atau narkoba, dari yang terang-terangan hingga sembunyi-sembunyi, (yang dimaksud sembunyi mereka pada memakai narkotika untuk menjaga stamina fokus mengerjakan tugasnya) dan saya pernah ikut berbincang perihal tentang penangkapan sama petugas B.N.N waktu petugasnya ngobrol sama para tahanan, ketika waktu senggang, petugasnya berucap kekami “ah coba lu belinya sama gua pasti tidak ketangkep deh, gua diluar ngedarin juga didaerah exotis jakarta” (ini yang disebut terang-terangan) mungkin karena mereka mempunyai kekuatan (berlindung dibalik otoritas negara) intinya adalah dunia narkotika/narkoba, semua melihat keuntungan, dalam bentuk finansial, peputaran yang cepat dan hasilnya pun dalam jumlah yang sangat banyak, anda percaya tidak, dalam bisnis narkoba keuntungannya bisa membuat imperium dengan sekala yang besar, dari jaringan ke jaringan penguna atau penimbun, hingga paling rendah pengecer, itulah disebut bisnis terselubung yang menguntungkan banyak pihak. Hingga tiba saatnya saya dioper, ketempat dimana narkotika/narkoba begitu berlimpah – dirutan kelas satu jakarta.
Kejaksaan jakarta. Tanggal 30 mei 2019, sudah tiga bulan Saya mendekam didalam B.N.N jakarta, dan ahkirnya dipindahkan kerutan, untuk memulai petualangan baru tahap awal. Saya melangkah keluar dari ruangan, ahkirnya saya tersentuh matahari dan menghirup udara yang lumayan sejuk, melihat pepohonan disekitar, berjalan menuju mobil, entah kemana tujuan kami, saya tidak tau, menoleh kebelakang, B.N.N jakarta telah berlalu memudar. Hiruk-pikuk jalanan masih sama, terasing seperti trotoar yang penuh debu, motor – mobil lalu lalang, rutinitas kota jakarta pada umumnya yang angkuh, beton jalan layang, hingga gedung sudah mulai berhimpitan, pengemudi ojek online meruyak dijalan, saya melihat dari jendela kaca dengan kondisi tangan diborgol bersama S.P.K yang hanya diam dalam hening – sunyi – laju mobil berjalan lancar entah kemana. Kami telah sampai, tepatnya dikejaksaan jakarta, penyidik yang telah melakukan tugasnya mengantar kami untuk dititipkan kejaksa, sudah selesai, kami pun memasuki ruangan tanahan yang sempit dan sudah penuh orang-orang yang menunggu antrian untuk didata, masing-masing sesuai pasal dan kronologi, hampir memakan waktu sampe empat jam, ahkirnya giliran kami dipanggil, jaksa, memulai dengan percakapan perihal indentitas nama, alamat, pasal, barang bukti seperti “kunci motor dan narkotika jenis sabu-sabu didalam amlop coklat”, disamping itu jaksa yang sedang memilah-milah lembaran kertas berkas kami, berucap dan memberi kode untuk bisa mengatur pasal dan hukuman? (Yup bisa di atur) Jaksa agung hanya melihat keuntungan dari pasal narkotika/narkoba, bahwa narkotika/narkoba bukan lagi dilihat sebagi barang terlalang, dan seorang pelanggar hukum tidak lagi dilihat sebagai pelaku, tapi dilihat dari segi materi. Banyak sandiwara dalam peran yang propesonal, perihal jaksa menanyakan tentang keberadan rumah dan mempunyai kontrakan atau tidak, yang tak masuk dalam kronologi dan hal-hal yang menyangkut materi. Setelah selesai dengan data-data yang sudah lengkap terisi, kami dikasih selembaran kertas merah, saya menyimpanya belum sempat terbaca isi lembaran tersebut dan pembicaran ditutup dengan ucapan, “sampaikan salam keorang rumah”, dengan diperlihatkan kartu indentitas nama jaksa dikantong baju seragam, ini seperti cuma negosiasi belaka, tapi lebih tepatnya percakapan ini mengarah yang menentukan beberapa lama kami ditahan. Jaksa dengan mudah diiming-imingkan oleh uang, pasal yang bisa diubah-ubah sesuai keinginan dan barang bukti bisa diminimalis seminim-minimnya. Waktu menujukan sore hari, matahari sudah mulai larut, berangkatlah rombongan yang digiring ke tempat yang dituju, laju mobil yang berisi hampir 32 tahan, dalam mobil seperti box dengan pentilasi udara dari jendela, kami berdesakan sambil berdiri, beruntung jarak lokasinya dekat tidak jauh, karena kami hampir saja sesak nafas, hingga saatnya telah tiba kami sampai ditujuan.
Rutan kelas Satu Jakarta& penampungan (mapaling). Turun dari mobil langsung berjalan bebek (jalan jongkok), dengan tangan diborgol, masuklah para rombongan pelanggar hukum “kerutan” (rumah tahanan). Dengan bangunan gedung sangat besar terlihat dari lapangan bola ketika saya melewatinya, sambil melihat-lihat pos-pos penjaga, kelinik, polikekinik (rawat inap), rumput, pepohonan, kolam ikan dan kesibukan para tahanan lalu lalang, tamping dengan seragamnya, pramuka dengan disciplinenya, kami pun berjalan keregister memulai proses input data bahasa penjarnya “NGEROLL” (cap tiga jari, foto sambil memegang papan bertuliskan pasal, data alamat dan tanda tangan) setelah peraturan untuk memenuhi rutan telah selesai, saya melihat total keseluruhan penguhuni tahanan rutan ini ada 3.500,00 tahanan jumlah yang melebihi kapasitas, kami memasuki tahap kedua, “mapaling” (penampungan) tempat untuk pendatang baru, tempat ini seperti “aula” yang ukuranya luas dengan kapasitas kalo tidak salah 350 orang, mereka para tahanan memakai peraturan setiap lapak dan mempunyai nama lapak masing-masing, dengan fasilitas seperti mushola, kamar mandi, TV, koprasi (warung untuk kebutuhan komsumsi atau perlengkapan pribadi) Matras (alas untuk tidur) dan kami yang baru tiba disuruh berbaris oleh orang yang disebut “pengurus” (orang yang mengurus peraturan setempat) dipilih dibagi-bagi, hingga seseorang memilih kami untuk dibawa, seperti hal biasa tamu dijamu suguhi minuman cemilan dan ngobrol santai, basa-basi itu sudah ketebak kemana arahnya, kami disodorkan handphone (setiap lapak/perorangan mempunyai handphone jenis android barang yang dilarang oleh pihak rutan) untuk bisa menetap dilapak biasanya dikenakan biaya dengan jumlah “500rb” untuk satu orang yang baru datang, SPK saya yang mengocek uang, saya ditalangin alias diabayarin oleh spk saya dan memberinya ke “K.L” (kepala Lapak) saya diberitahukan oleh orang dilapak, apa bila tidak bisa membayar uang “O.T” mungkin bisa dipindahkan ketempat dekat kamar mandi yang selalu tergenang air dan menyebabkan gatal-gatal, banyak dipenampungan ini yang tak mampu untuk membayar kebutuhan lapak, kosokuensinya mereka menjadi korve (bantu-bantu dilapak, seperti angkat cadong, angkat galon air minum, ngepel matras atau dipindahkan). Dengan tetek-benggek cuap-cuap itu telah selesai kami pun istirahat dengan penuh lelah, setelah tiba dirutan yang membuat kami untuk selalu survive, saya membuka selembaran kertas merah yang diberikan oleh jaksa, kertas itu berisi identitas alamat dan kronologi serta pasal dan ayat, saya dijatuhi pasal 114, 113, 112, 131 dengan ayat 2 junto, setelah saya membacanya saya langsung tertidur. Pagi telah membangunkan kami dengan suasana rutinitasnya para tahanan, disela itu cadong (makanan khas penjara dari otoritas rutan) telah datang, layak atau tidak tetap saya makan, karena anda tau nasinya mengandung gula sedikit konon, jadi apa bila dimakan empat jam kemudian pasti terasa lapar, untuk lauk, saya tidak bisa menjelaskan, lebih baik ditambah gorengan (bakwan, tempe, risol) biar lebih nikmat ditambah sambel sudah cukup. Ada sesuatu hal yang begitu transparan dipenampungan ini, banyak narkotika/narkoba, beredar dan berdatangan silih berganti, mereka datang dengan sendirinya tanpa harus dicari, menawarkan layaknya para produsen mempromosikan kekonsumen, pemakaiannya pun bisa dilapak atau kamar mandi, CCTV tidak lagi berguna karena mereka mancari posisi yang pas agar tidak tertangkap layar monitor, begitu larisnya para P.S.K. (penjual sabu keliling) Dipenjara dengan cuma bermodalkan handphone dan jasa transferan maka hidupalah perputaran ekonomi. Bicara kebutuhan formal, harga jual disini sangat tinggi, mungkin bisa dibilang tiga kali lipat dari harga diluar (maksud diluar bukan didalam penjara), tapi untuk kebutuhan pemakai (narkotika) justru harga jual lebih murah. (maksud murah disini bisa beli 50rb perpaket) Dipenjara sepertinya harus bisa memilah dan konsisten dalam menjalaninya, karena persoalnya begitu rumit, yaitu “uang” yang bisa merubah segalanya dari yang berkerja sama dengan oknum entah itu sipir atau Karutan (kepala rutan) sekali pun bisa diajak kompromi, apalagi sesama tahanan, dari situlah lahir para pekerja dan bos-bos (pekerja yang dimaksud adalah pekerja narkoba yang punya orang diluar penjara untuk berkerja sama mengedarkan atau menjemput bahan) dengan jalur komunikasi memperluas jaringan, merekut para tahanan untuk saling berbisnis dengan bermodalkan cash (uang) D.P (down payment) atau jaminan badan (pisik), peranan penting ini berpengaruh dalam stabilitas keberlangsungan hidup untuk para tahanan dan pengurus lapak/blok hingga petugas sipir, bisa disebut juga pertentangan kelas, karena mereka yang bisa membayar iyuran mingguan atau bulanan, royal bersama K.L atau foreman (orang yang diseganin) dan sipir, bisa “cak-cakan” (berbagi nasi bungkus/indomie keseluruh tahanan) udh pasti dihormati, ada juga bahasa penjaranya “orang jelas” (sering dibesuk orang rumah) dan “anak hilang”. (tidak punya siapa-siapa diluar dari penjara) Dampak dari yang berpenghasilan bisa berbagi bersama teman kiri-kanan diruang yang terbatas ini, itu pun sudah cukup memenuhi kebutuhan didalam penjara. Selama dipenampungan saya mengalami kehidupan yang sangat “monoton akut” karena sudah menjalani 35 hari tanpa keluar, artinya kami tidak bisa kelapangan atau keliling-liling blok ke tempat pembelian makanan dan tidak bisa berjemur badan terkena sinar matahari, tak bisa olahraga pula. Hingga waktu malam tiba pengumuman dari pramuka bahwa mau pindah tempat yang sudah ditentukan dan nama saya terdaftar, perpindahan ini disebutnya “turun blok” kami pun dibawa oleh sipir, dan dikasih kertas yang berisi data untuk keblok mana yang akan kami singgahi
Blog U Tipe tiga. Gedung tipe tiga dan lantai paling tinggi bernama Blok U”. Kami (saya dan SPK) memasuki gedung, menaiki tangga tantai tiga, setibanya di blok U, kami langsung menemui pengurus blok untuk diberitahukan aturan yang sudah ada dan untuk masuk kamar, dikenakan biyaya perminggu, sebelum itu kami didata oleh pengurus seperti nama, pasal dan bin, untuk jadi penghuni blok, setelah selesai untuk arahanya, saya putuskan untuk menjadi penghuni lorong karena lorong disini begitu bersih dan tidak begitu ramai dan pastinya gratis tanpa ada punggutan biyaya, oke sebelumnya selama dipenampungan kami mencari info untuk blok mana yang tidak terlalu ramai jauh dari keributan, maka kami diberitahukan untuk diblok U, oleh sesorang yang tidak kami kenal, anda tau kenapa saya menanyakan itu? karena penampungan disebut gedung tipe tujuh, lantai paling bawah dan ada dua lantai lagi dan kami setiap hari mendengar keributan hingga penusukan dengan beda yang bernama sikim (sikat gigi yang dibikin runcing), yang menyebabkan ambulan datang menjemput untuk membawa korban penusukan, ditikam dari belakang tembus ke peru-paru depan hingga tergeletak, dibawa “kepengayoman” (Rumah Sakit khusus penjara). (“Saya menjelaskan istilah pake “tipegedung” karena setiap gedung mempunyai kapasitas penghuni dan ukuran kamar yang besar, sedang dan kecil, tergantung tipenya berapa”). Oleh karena itu saking survivenya kami, terpaksa membayar ketamping register untuk bisa ke blok U. Total ada 28 kamar diblok U, saya melihat lorong yang begitu panjang dan kipas angin diatap dan TV di atas pintu tralis yang menutup lorong, listrik 24jam, kamar mandi umum punya jam untuk air mengalir, saya menaruh tas didepan kamar 11 saya tidur dilorong tanpa alas. Kami dibangunkan untuk apel pagi, saya apel dikamar 12, petugas datang menghitung jumlah penghuni kamar, ternyata dikamar 12 begitu mewah saya melihat-lihat, ada TV cabel, banyak lemari dan kamar mandi sudah ubin (keramik) wastafel lengkap dengan rak piring, ada kamar diatas khusus boss yup boss, kipas angin, mejigcom, dispenser dan katanya juga pernah ada PS empat (playstation) what da fuck, tergantung punya uang bisa semewah apa yang diinginkan kata penghuni kamar, setelah selesai apel yang berdurasi 10 menit dan pagi ini saya bisa merasakan betapa renggangnya ruang gerak bisa kemana-mana walau masih dibatasi dengan tembok kawat duri, dari kelapangan, berbelanja makanan, tempat favorit saya perpustakan yang bernama “Jendela Dunia” walau buku-bukunya butut dan yah buku seleksi tidak sembarang bisa ada diperpus ini, tapi anda tau di rutan ini begitu banyak “apotik” hampir disetiap blok, di blok U ada tiga apotik, itu baru satu blok, disini hampir ada 19 blok kalo tidak salah, inilah yang disebut-sebut sama napi waktu dipenampungan, disini surganya narkoba, karena berimlipah ruah, (apotik adalah tempat kamar khusus pemakai narkotika jenis sabu-sabu) dan Legal untuk membuka dipenjara tapi dibalik itu ada big boss yang memerankanya, untuk membuka apotik didalam penguarkan jumlah uang yang tidak sedikit, biasanya perizinan sama petugas otoritas rutan, karena berbisnis narkoba di dalam penajara itu menguntungkan dan perputaran uang lebih cepat, berati untuk Legal harus mengeluarkan jumlah yang sanggat banyak dari ngemel setiap hari dengan amplop, biasanya 100rb atau 50rb untuk kepetugas sipir yang jaga ada tiga sip (tiga regu) satu regu ada empat orang petugas, setiap harinya, belum lagi untuk membeli kamar dikenakan 30jt dan memodif kamar menjadi dua lantai, diatas ruangan khusus sang punya kamar, biasanya tukang pemodif kamar pramuka, dengan membeli kayu dan mengunakan alat bor untuk membangun atap dan harga untuk bangunan dipenjara sungguh mahal belum lagi ongkos menggerjakannya dan kontribusinya harus lancar kepengurus blok, kepenghuni lorong, apabila terdengar ada sidak, apotik sudah duluan diberitaukan oleh petugas sipir dan buru-buru seteril (barang-barang yang dilarang, biasanya ditaru dibunker), saya pernah dapat cerita ditahun 2017 ada sidak besar-besaran, yaitu kedatangan Najwa Sihab untuk kerutan jakarta, dapat bocoran ada discotik kamar khusus pemakai obat-obatan jenis inex dan minum-minuman acohol didalam rutan. Setelah sudah hampir satu bulan lebih saya diblok U dan pertama kalinya toa memanggil nama saya untuk panggilan sidang, saya langsung bergegas untuk keregister absen nama dipenggurus blok. Pengadilan jakarta lokasi tidak jauh dari gedung kejaksaan, saya disuruh memakai seragam hitam-putih. kami berangkat dengan mobil khusus, menuju tempat persidanggan yang akan menentukan berapa lama kami dipenjara.
Pengadilan Negeri Jakarta. Ada 40 tahanan yang akan berangkat kepersidangan. Tahap pertama saya, “pembacaan kronologi” tapi sebelum itu, setibanya para tahanan yang telah sampai dilokasi, “pengadilan negeri jakarta” saya kira gedungnya besar, tapi ternyata gedung yang besar itu milik hotel golden punya swasta, gedung pengadilan dibelangkanya. Kami digiring ketempat ruang tunggu, ruangan yang menampung hampir 100 orang, begitu luas seperti aula, “tapi kali ini bukan penampungan”. Dan para keluarga bisa bertemu, walau dibatasi pintu tralis, bisa juga untuk menyasikan persidangan dilantai empat paling atas. Saya heran ternyata masih ada yang membawa sabu-sabu ketempat ini, para tahan memakainya sebelum disidang, dikamar mandi untuk mengesekusinya. Kami dipanggil untuk keruangan atas proses persidangan, diabsen satu-persatu diperiksa (cek body), menuju ruangan lantai empat yang ukuranya begitu kecil muat menampung 30 orang, menunggu antrian, jadwal sidang biasanya dari jam 10 pagi sampai pukul 4 sore, ternyata nama saya tidak ada untuk disidang, ahkirnya saya kembali kerutan, bukan cuma saya saja yang tidak ikut disidang, ada beberapa tahanan. Hingga dua minggu kemudian saya kedepan untuk cek jadwal sidang, didepan mesjid ada dimading dan lembaran yang tertulis nama-nama keberangkatan sidang, untuk jadwal keberangkatan, ternyata nama saya nyangkut untuk brangkat, seperti awalnya, saya bergegas, dan menuju pengadilan, tapi kali ini saya dipanggil untuk memulai persidangan dan bertemu hakim, masih tahap “pembacaan kronologi identitas”, diruangan persidangan sudah banyak orang yang menunggu antrian dan anggota keluarga yang pada datang, untuk menyaksikan anak atau saudaranya, tapi saya malah tidak mengizinkan keluarga datang untuk menyaksikan persidangan saya sampai selesai. Giliran saya dan SPK menghadap hakim, artinya merasakan kursi yang dimana saya berhadapan dengan mimbar, sedikit grogi, karena manusia menghukum manusia. Sidang dimulai dengan pertanyaan dari hakim. Telah selesai membacakan kronologi (cerita awal penangkapan dan tujuan menjemput narkotika), hakim bertanya “apakah benar atas perbuatan itu? kami menjawab “iyah benar” tidak ada yang aneh dengan pertanyaan hakim, terlihat sidang berjalan lancar tahap pertama, sidang pun ditunda tiga minggu, hakim mengetuk palu, saya balik kerutan sampai tengah malam. Langsung istrirahat. Selang waktu tiga minggu untuk ketahap kedua, nama saya ada dijadwal, kembali kepersidangan, sesampainya disana menunggu ternyata saya tidak dipanggil untuk disidang. Hingga sebulan kemudian pengurus memberitahu nama saya ada untuk berangkat sidang, saya kembali siap-siap menghadap majelis hakim. Tahap kedua “pembacaan dakwaan” Ketua sidang memerintahkan penuntut umum untuk membacakan surat dakwaan, setelah selasai atas dakwaan, hakim pun berbicara kesaya didepan mimbar, kamu kerja sebagai apa waktu sebelum ditangkap? Saya menjawab sebagai teknisi handphone, hakim berucap, wah teknisi handphone pasti duitnya banyak, saya hanya terdiam, this is bullshit, saya faham maksudnya, hal-hasil sidang pun ditunda sampai satu bulan, saya balik lagi kerutan dengan lelah karena terlalu lama menunggu, satu bulan kemudian, kembali ke persidangkan bertemu kuasa hakim didepan mimbar, dengan hakim yang berbeda dari sebelumnya, oh iyah saya lupa memberi tahu jaksa yang mewakili sidang kami dari awal itu berbeda dari yang pertama saya temui digedung kejaksaan jakarta, dan ternyata jaksa yang sekarang adalah suruan jaksa yang lebih senior alias jaksa yang digedung itu, jaksa senior bergerak dibalik layar. Dan sidang kali ini adalah “pembuktian” yang dimana saksi dan buser yang menangkap saya datang, mereka hadir untuk menuntut atas perbutan saya, menghardik dan menceritakannya didepan para hakim, jaksa, pamitra dan permirsa, membawa barang bukti kunci motor, dan sabu-sabu seberat 5ons dalam amplop coklat sesuai kronologi, dan kami hanya mengiyakan tanpa kompromi, apabila saya ditanya oleh hakim apakah keberatan atas tuduhan para saksi, saya menjawab tidak, karena dengan sikap kami begitu, sidang berjalan lancar, sidang pun ditunda, kali ini lebih lama dua bulan, banyak yang bilang ke saya untuk keluarga menemui jaksa biar sidang berikutnya bisa dipermudah atas “tuntuntan”, saya tetap menjalankan persidangan artinya tidak usah sogok jaksa atau negosiasi apapun, ternyata bukan jaksa saja yang bisa disuap hakimpun juga dan tempat persidang itu bisa dibikin khusus tanpa ada orang lain yang menunggu giliran disidang (privat), tapi itu biyanya cukup mahal untuk ukuran saya yang sederhana. Ketika saya masih terus mengada-ada atas sidang berikutnya (maksud mengada-ada kami berntanya-tanya dapat hukuman berapa tahun) saya berbicara keteman-teman tentang pasal dan ayat kami, kata teman sesama tahanan katanya cukup tinggi (artinya lama), pada saat itu saya dan SPK hanya ingin buru-buru sidang selesai, ingin tau hasil dari hukuman tersebut, sempat ingin untuk bernegosiasi dengan jaksa, ahkirnya kami putuskan untuk menjalani sidang apa adanya tanpa ada suap atau apapun yang mengarah pada finansial, kami berjalan ikuti alur, dan kami kembali kepersidangan untuk sidang “tuntuntan” oleh jaksa penuntut umum. yang membuat kami hampir shock karena penasaran, kembali keruangan sidang dengan berharap biar sidang berjalan lancar, tetap menunggu, hingga kami dipanggil dan kembali duduk berdua dengan SPK, saya mulai duluan dibacakan oleh jaksa, perihal tuntutan, saya dituntut 17 tahun, kaget sih, spk saya bergetar kursinya ketika tuntutan saya segitu, giliran spk saya dibacakan dan sama dituntut 17 tahun juga, wow sekali pada saat itu, sidang ditunda keberikutnya, palu diketuk, pala kami pun terasa sperti di blow up, kami sepanjang hari dan waktu tak ada obrolan tentang tuntutan itu, karena menurut kami ini jaksa minta disuap, tapi kami tetap tak ada negosiasi, sidang ditunda sangat lama dengan waktu satu bulan. Kami ahkirnya memasuki final berbarengan dengan peledoi (pembelaan) dan putusan hukum, berangkatlah kami dengan penuh keyakinan dan sambil merenung, kembali ke ruang sidang, dan kali ini kami didampinggi pengacara yang tanpa kami sewa alias gratis dari pengadilan jakarta, sebelum kami memasuki final, pengacara itu berbicara perihal untuk barang bukti bisa diambil seperti motor, KTP dan dompet kecuali handphone tidak, tapi intinya mengarah keurusan uang, saya hanya terdiam tidak bisa berbicara untuk urusan itu, hanya spk saya yang bicara, hingga giliran kami maju kedepan dan sidang dimulai, dengan riptual sidang, pembacaan identitas dan pengecekan berkas kami lembar demi lembar dan hakim memutuskan untuk berapa lama dihukum, tapi ternyata jaksa yang berucap keputusanya dan kami di vonis 12 tahun subsider satu bulan atau denda dengan harga satu millar, disitu suasana hening, hakim melanjutkan dengan memasuki tahap peledoi, apakah terdawa minta keringan? Kami tidak meminta keringanan dan kami kira cukup dengan keputusan hakim dan jaksa, ahkirnya sidang selesai, kami kembali kerutan, sangat lega telah usai sidang itu. Hingga kami melanjutkan untuk survive mengadapi hari-hari cadas sampe panggilan bebas.
Menjadi narapidana dirutan jakarta. Proses sidang kami ternyata memakan waktu tiga bulan sampai keputusan majelis hakim (vonis) , dan sidang sudah lama berahkir, kami telah resmi menjadi napi (narapidana) dirutan ini banyak kegiatan sesuai keahlian, disebutnya bingker (bimbingan kerja) tapi kami malah memilih jalan menjadi pemalas, karena yang bisa mengontrol diri ini cuma diri kita sendiri. Hingga hari demi hari, waktu terus berputar, kami yang diblok u, mengalami sakit berkepanjangan, hingga pikologis, SPK memutuskan menjadi penghuni kamar, saya tetap dilorong dengan warga binaan lainya berbaur, dan menyaksikan keributan setiap cadong datang pertengkaran gara-gara mengantari tak dapat jatah makan, hingga perang antara blok lain, menyaksikanya dari lantai tiga, membesuk teman dikelinik, dan spk dirawat akibat sakit tifus, saya menyusul dirawat akibat sakit kelenjar getah bening yang begitu lama, hingga menyaksikan didepan saya orang tiba-tiba tergeletak kejang-kejang dan mulut berbusa dan mati akibat semalaman nyabu, dibawa ke rumah sakit yang diluar, sore dapat kabar orang tersebut sudah lewat, diumumkan dimesjid dan mengadakan yasinan diblok, kebagun subuh-subuh gara-gara teman dipukuli akibat tidak bayar setoran. Dan terus terjaga menjaga kewarasan, saling kumunikasi dengan teman diluar dan orang rumah, ditinggal adik tercinta yang membuat hati saya hancur, mendengarkan pengumuman justice collaborator (jc) dihapus dan dicabutnya PP 99 tahun 2021(pp 99 adalah memperketat remisi untuk hukuman lama) dan hal-hal gila lainya yang saya tidak mau tulis begitu detail karena sudah sanggat panjang tulisan ini, hingga waktu begitu cepat. Hingga saya dan spk dipanggil keregister untuk tandatangan perlengkapan berkas artinya berkas kami sudah lengkap dan siap-siap dipindahkan kelapas. Dapat sebulan kemudian SPK duluan dioper dari rutan kelapas, kami berpisah. Beda tiga minggu sama SPK. Tiba waktunya giliran saya dipindahkan tanggal 21 september 2022 ke Lapas kelas satu jakarta.
Lapas Kelas Satu Jakarta. Tiga tahun delapan bulan dirutan kelas satu jakarta dan ahkirnya dipindahkan kelapas (lembaga pemasyarakatan) artinya saya sudah resmi menjadi tahanan negara, yang dimana dilapas harus ikut kegiatan yang sudah disediakan dan kegiatan itu nanti buat bekal ketika para tahan bebas dan kembali diterima dimasyarakat, banyak keterampilan dilapas ini dari mulai bercocok tanam, menernak ikan, menjadi penjahit, membuat roti, membikin tempe, sablon kaos, baber shop, tukang bersi-bersi, keterampilan seni, bengkel, bermusik, stand up, menulis, perpustakaan, masak-memasak. DLL, tapi sayang pengurusan disini masih tetap dipersulit, entahlah saya masih belum begitu faham ditempat baru saya, setibanya saya dilapas, dengan ikuti aturan yang tak jauh berbeda saat pertama kali saya tiba dirutan. Ketika saya sudah dikamar penampungan, dapat kabar bahwa ada tahanan melarikan diri. Kamar dipenampungan diperiksa berulang kali dan apel berulang-ulang untuk memastikan apah benar ada tahanan yang kabur, dan yah pada hari sabtu tahanan kabur, magrib-magrib dengan menyamar sholat kemesjid pukul 18:00, tahanan yang kabur melewati pagar dan kawat duri mengunakan sarung, terekam CCTV, pada hari senin orang yang melarikan diri itu, kembali lagi kelapas diantarkan oleh orang tuanya. Ada apa dilapas ini…..
PS. Sebenarnya saya menulis ini, permintaan dari SPK saya, dan saya pun sempat ragu untuk menulisnya, hal-hasil, tulisan ini yang saya bisa saya sampaikan, oh iyah ketika saya sudah turun blok dilapas kelas satu jakarta, saya ditempatkan dikamar bekas orang yangtelah memberi kami narkotika untuk menjemputnya dan menyebabkan kami disini, orang tersebut sudah bebas tahun 2021 saya tidak bertemu denganya. Selamat tahun 2023.
Catatan pengantar Mixtape Milestone Hip – Hop Vol – #3
Pengantar. Awalnya saya tidak terlalu ingin menulis untuk Mixtape ini, cuma ingin bikin format mp3. Saya bikin audionya dengan aplikasi free dihandphone, memakan waktu hampir dua bulan karena proses pengerjaan begitu lama banyak kendala, seperti headset rusak dan saya sudah tidak punya tempat untuk aktifitas karena saya dirutan, tapi mau tidak mau saya selesaikan Mixtape ini dengan kualitas seadanya, dan sebagai penginggat untuk saya, tapi ada hal-hal penting setelah selesai audio Mixtapenya, yaitu ingin menulis kata pengantarnya, dikarenakan ini adalah Mixtape Hip-Hop, saya bikin bertemakan lagu-lagu suci untuk saya , lebih personal, berdosa apabila tidak membuat kata pengantarnya. Sewaktu saya belum menuliskannya dan masih proses mengerjakan audio, tiba-tiba teman lama dan patner bermusik, bernama jay sudah mulai aktif berkomunikasi, menceritakan apa yang sedang saya buat, dia pun banyak menginggatkan track-track yang dulu pernah kami puja-puja dikala sore dan malam perubahan dalam hidup kami setelah bertahun-tahun mendengarkan dan menemani hari-hari, entah mengapa rasanya tidak relevan apa bila tidak mendengerkan lagu-lagu yang disuka setiap aktifitas. Sebenarnya banyak track yang ingin saya taruh dimixtape ini hampir 40, tapi saya seleksi hanya 19 track yang saya bikin Mixtapenya, banyak tidak saya masukin seperti track: “Paris: Night Of The Long Knives Krs – One: Sound Of The police Dead Prez: They Schools Deltron 3030: Positive Contact Dälek: Distroted Prose MF DOOM: Meat Grinder Immortal Techique feat Killer Mike, chuck D Of (Public Enemy) & Brother Ali : Civil War The Doppelgangez: Hark Back”. Oke sudah cukup panjang untuk kata pengantarnya, saya dedikasikan “Mixtape Milestone Hip – Hop Vol – #3” dengan total 19 lagu, berdurasi 1.06.13. Untuk saya dan si jay sebagai penggingat moment-moment kami menjalani hari-hari yang cadas, keep rocking.
1. Vituoso Feat Akrobatik: Military intelligence. Track suci pembuka Mixtape ini yang bertemakan protes terbaik anti bush pada pemerintahan Amerika, yang dipimpin olehnya, disini virtuoso dan akrobatik ngerap seakan menjadi military yang berkuasa atas amerika dan menceritakannya dengan tembakan rima nan penuh keritikan terhadap apa yang pernah bush perbuat dibelahan negara lain seperti irak dan afganistan, tentang perang, ketimpangan sosial, perebutan wilayah, korupnya system politik. Dibalut beat boombap dengan suara air force dan istrument ditambah penyiar berita, berkadar cinematik, di tutup dengan vrese duet maut mereka “Maybe every nation wouldn’t want to take a shot at you so the new battle plan is respect life in all elementsA&V: now that’s military intelligence!“
2. Arsonist & Non phixion: 14 Year Of Rap.duo legenda hip – hop undergrond Arsonist & Non Phixion berbagi vrese yang begitu buas untuk memperingati 14 tahun Rap, ill bill, jise one, goretex dan q-unique, mereka menceritakan betapa muaknya mereka terhadap polisi dan bercerita titik berangkat mereka sampe sejauh ini terhadap musik yang bernama hip – hop, dengan beat yang bikin goyang dan intrument diloop yang begitu tidak bosan apa bila diputer ulang-ulang.
3. Non Phixion Feat Dj Premier: Rock Stars.Sudah selayaknya para Hip-hop heads era sekarang harus tau Dj premier, Dj yang masih megang tradisi Boombap NY 90’s sampe saat ini. Priemo dengan beat-beat chirikhasnya, menghasilkan out put yang fresh, bercerita tempat asal mereka yang absurd dibikin comedi gelap genster jalanan, dengan rima-rima congkak, disambut oleh sang maestro scratch maut, track ini sungguh epic.
4. Vinne Paz Feat Dj Premier: The Oracle. Vinne Paz di album “God ofthe serengeti” ada track bersama Dj premier “The Oracle”, Pazbegitu liar menghatam setiap beat-beat Premier, Paz begitu mengelora diatas Raja Boombap, rima-rima yang dilontarkannya, bercerita tentang rasis, kepalsuan dan cerita sehari-hari, Vinne Paz melontarkan lelucon seperti “Stomp a rapper out, Timberland boots and shit“.
5. El-p feat (Umar Rodiguez – Lopez & Cedric Bixler-Zavala): Tasmanian Pain Coaster. Saya tidak akan menulisnya terlalu detail, karena bisa panjang untuk sebuah track yang begitu membuat saya dan jay tercenggan, ketika mendengarkannya, gimana tidak track dengan durasi 6 menit sudah bikin kami takjub dibuatnya sampe-sampe kami pun memujanya dan menjadi obrolan kami disetiap mabok dan ngopi. El-p membuat isntrument yang begitu rumit tapi begitu dasyat didengar, bertemakan utopis dan apokalips, nuansa sinematik angkasa dan bebuyian-buyian, hingga suara petikan gitar, track ini begitu kompleks, kercedasan El-producto merakit rima dan beat sungguh sempurna.
6. Killah priest: New Reality. Hampir sulit untuk menjelaskan track ini, pertama Killah Priest menarasikan sebuah tema yang begitu sinematik, tentang sebuah planet yang di intro awal seorang anak berbicara tentang planet-planet kecil di luar ngkasa. Di vrese pertama, killah berujar bahwa planet yang dihuni yaitu bumi, sedang mengalami kehancuran kekacauan akibat ulah manusia itu sendiri, dari mulai kejahatan, ketidak adilan dan betapa buruknya hidup di bumi, priest mengajak untuk pindah ke planet lain, dibagian vrese ke dua, killah priest melontarkan metafor dan pertanyan tentang gangster sperti bait “No more prosecutors’ excitement remarkable federal indictments Million dollar drug bust while thugs discuss” killah priest begitu mahir menceritakannya, beat pengiringnya terus berbunyi-bunyi, instrument yang monoton, terasa priest bernyanyi di luar angkasa, new reality.
7. Seven Gems (Tragic Allies & Tragedi Khadafi) feat Relentless: Man Of Honor. Grup kroyokan yang dimana sang lengeda Khadafi ada dilingkaran itu, entah apa yang dibuat grup ini sudah begitu epic, dari beat dan sayatan biola yang diloop, dentuman boombap, paduan hip-hop era kemasan 90’s, track ini pun bercerita tempat mereka berasal dilingkungan yang begitu keras untuk bertahan hidup. Untuk albumnya “golden era music sciences” yang belum pernah dengar silahkan didengarkan.
8.SnowGoons: Cold Dayz. Track yang simple dengan beat sample suara dimodif sedemikian rupa, dan petikan gitar yang diloop, bertemakan kehidupan, dan tetap bertahan dilingkungan criminal, track ini ada tiga Mc yang dimana saling mengutarakan rima, sepertinya track ini cukup lumayan untuk didengar.
9. KA: you Knows it’s About. Rima noktrunal dari Ka, bersuara dalam gelap tanpa polesan beat drum apapun hingga boombap sekalipun, melicuti intinya, hanya intrument yang mengedap memasuki flow, Ka seorang pemadam kebakaran, dia bikin label sendiri. Track ini bercerita masih di seputar para pekerja dan kehidupan sampe hari-hari dibahas, apa bila kalian mendengarkan detail Ka ngeflow, pasti anda merasakan begitu dingin Ka bersuara.
10. BIGREC: Bullseye. Track hardcore dengan suara breakdown gitar yang berat, scratch menyabut setiap ketukan Boombap, terasa brgitu mengelegar dalam arena, Rec menyombongkan dirinya sebagai legenda di track ini, rima yang begitu buas dan beringas dari setiap bait-perbait. Untuk albumnya sepertinya wajib didengar.
11. Apollo Brown & OC: Nautica. Siapa yang tidak tahu O.C dengan single “Time’s up” dan kali ini O.C berkerja sama dengan beatmaker sekaligus produser dari Detroit yang paling wahid, Apollo Brown dengan tradisi Boombap NY 90’s, Brown berhasil menghasilkan album terbaik bersama O.C yang berjudul “Trophies”. Dan track yangberjudul “Nautica” bertemakan kota yang mereka tinggali dari hal-hal seperti cuaca hingga sehari-hari dari kejahatan hingga rusaknya lingkungan, di bungkus dalam Flow O.C yang begitu jelas seperti bait “or where an empire stoodDire consequences, reality sharp as barbed-wire fences” dengan sample dentuman bass yang tebal dan Boombap yang renyah.
12. Q – Unique: B4 I Fade Away. Track dengan nuansa lebih fresh dan kental ini, membuat saya terus mendengar dan mengulanginya, dengan Rap Q-unique yang begitu lugas flow rapat tapi selow, track ini begitu “Pop” didengardengan “Bridge” yang sangat pas, entah mengambil sample dari mana, drum Boombap tentunya, bila kalian ingin merasakan tenang dan kalam atau saat aktifitas, track ini cukup untuk menemaninya, bercerita tentang kehidupan dan kenyatan.
13. Public Enemy: Brothers Gonna Work It Out. Album “Fear Of A Black Planet” yang berasal bukan dari planet bumi, album sempurna dari deretan album hip-hop terbaik, siapa yang tidak terpengarauh oleh album ini? Dari segi beat-beat yang dihasilkan dari mulai Drum Boombap racikan “The Bomd squad” kabut noise yang abstrak dan sampling yang hampir berapa jumlah Creditnya. membuat sesuatu di awal-awal 90an dengan kecangihan di tahun 2000an begitu mustahil untuk dihasilkan, tapi Public Enemy datang dengan full album penuh dari masa depan, album ini pun turun dari langit dengan label “Def Jam” dan merubah wajah musik dunia tidak sama lagi, terutama Hip-Hop, sudah cukup saya menglorafikasi yang sangat pantas di sebut mahakarya tanpa tanding, oke track ini bercerita dari keritikan untuk membangkang dari sebuah sytem yang terus menjadi budak dan rasis, Public Enemy berpolitik untuk berontak dengan gaya funk bergoyang.
14.Organized Konfusion: Bring It On. Bila anda ingin mendengar beragam Rap dengan teknik flow yang aduhai dalam satu track, dari rima silabel metafora hingga cadance, sepertinya track ini cukup bagus, dari sampling suara trompet yang begitu ganjil pun ikut serta, bertemakan humor gelap dan bragadocio brutal, dengan dentingan bergetar sampe sambutan ramai, fresytle flow gagah dan konsisten, bermain-main rima dengan beat drum boombap, “Organized Konfusion – Bring It On“menjadi track suci, bukan cuma lagu-perlagu tapi albumnya yang “Stress: The Extinction Agenda” (1994)” begitu berpengaruh buat saya.
15. Ice Cube: Wicked. Sudah pasti rapper satu ini saya masukan kedalam Mixtape. Dengan flow yang ngebut dan rima yang cerdas, Cube ngrap di atas Drum “James Brown” dengan “bridgereagge” dan beat up tempo yang kompleks, bertemakan rasis dan kejahatan criminal di kota itu, sepertinya cukup tidak terlalu panjang untuk menjelaskannya.
16. Gangrane: Reversals. Duo rapper beat maker dan produser handal telah membuat grup dengan nama “Gangrane” dibalik nama itu ada duo beat maker cangih “The Alchemist & Oh No“, entah tanpa ada pemberitahuan apa-apa, tapi itulah hip-hop dengan kejutan-kejutan yang kadang susah diprediksi. Duo rapper ini saling berbagi “vrese” maut dari segi beat sudah pasti tidak diragukan lagi. “Reversals” dengan track pembuka album sudah sangat wahid dibuatnya dari sampling gitar hingga suara kettel air mendidih dan kokang senjata sudah melengkapinya apa bila memakai headset untuk mendegarnya pasti akan dibuat kelimaks dengan out put yang dihasilkanya, sungguh edan emang.
17. Mos Def Divirse: Wylin Out (Kutmasta Kurt Mix). Beat exotis sampling dari film bollywood, cukup cakep dibuatnya oleh “Kutmasta Kurt” dan pernah beatmaker legendaris “Jaylib” di album “Champion Sound” memakai sampling exotis tapi hanya sekian menit membuat saya kurang, tapi di track ‘Wylin Out” dengan durasi 4:02, sampling yang aduhai dari bollywood, bertemakan tentang prespektif dari kehidupan, flow yang simple sudah cukup buat saya untuk track ini.
18. O.C: Time’s Up. Dari sampling grup band “Les DeMerle” yang berjudul “A Day In The Life” dicut pada bagian intro awal diloop begitu enjoy, beat ini sudah menjadi beat arena battle dimana-mana. O.C dengam flow tegas tapi gelap ia pun berujar tentang keadaan rasis terhadap kulit hitam, O.C melontarkan dengan Perspektif dia, dengan lirik yang ego tapi tetap selow mencengkam “Everybody’s either crime-related or sexualI’m here to make a difference“
19. Wugazi: Sleep Rules Everthing Around Me. Duo legenda yang satu grup band yang satunya lagi grup kolektif Hip-hop, entah dengan ide siapa mereka bisa bikin projetkan ini, yang jelas sungguh tak disangka-sangka. Siapa yang tak kenal Fugazi band Punk asal washington DC, berkolabrasi dengan grup besar dari kubu kuil Wutang, sepertinya tidak perlu dijelaskan panjang.
Catatan pengantar, 12 Lagu Protes Local Terbaik, Mixtape Vol – #2
Pertama. Pada minggu-minggu kemarin yang ramai diberitakan dan bertaburan disosmed atau TV. Saya tidak terlalu memperhatikan atau terus memantau, tapi saya lebih mengarah keberita yang jarang terekspos atau tidak terlalu banyak yang share, karena berita demo mahasiswa yang kemarin-marin itu, saya malah teringat dan ingin menulis beberapa lagu-lagu protes yang pernah saya dengar, versi saya tentunya, banyak alasan kenapa saya ingin menulisnya dan membuat Mixtape. Kedua karena ini menjadi penggingat saya, ketiga banyak pertimbangan untuk lagu yang mau saya tulis. Dan mungkin kalian akan melihat pengulangan kata-kata ditulisan ini. Oke saya tidak mau panjang untuk kata pengantarnya, keep enjoying.
1. HOMICIDE – TANTANG TIRANI. Tidak mungkin bila lagu ini tidak masuk playlist diurutan pertama sebagai lagu protes terbaik, dari segi lirik saja sudah sangat relevan bisa didengar Homicide grup hip-hop ini rajanya untuk lirik tajam nan jenius dan provokatif tentang politik meramu rima nancongkak dan flow begitu merapat, dari awal intro sudah terdengar begitu mengetarkan, Morgue Vanguard sang MC dengan lirik pembuka: [spoken] “Ini adalah monumen tengat kesabaran dan angkara/Satu barisan, ribuan mimpi/Titik berangkat yang tak pernah dapat kami datangi kembali/Terbuang serupa fotokopian pamflet aksi di setiap perempatan/Harapan kami akan berakumulasi menyaingi nyalak senapan kalian!“, lirik yang begitu menglobal apa bila kalian dengar di bagian “chorus“. Beat yang sangat mencengkam. Ini kenapa saya masukan diurutan nomer satu.
2. EYEFEELSIX – TAK BISA DIBUNGKAM. Masih lingkaran secena bandung kawan-kawan Homicide, saya selalu merindukan lagu ini dikala menggingat moment-moment tentang HAK berpendapat dan keritikan-keritkan itu selalu dibungkam, disini Eyefeelsix menyuarakan itu semua, ingat waktu era harto, itulah kenapa kebebasan berpendapat dibungkam karena waktu jaman itu, kita mengkeritik pemerintahanya mungking esok sudah tiada. Soulk!llaz dan Mindfreeza begitu solid dengan DJ Evil cut yang begitu liar, menyambut dentuman boom bap yg kental nuansa hip – hop era 90’s, dengan sample bass begitu tebal, untuk lirik saya ambil bagian reff: “kebenaran jadi candu, tak bisa di bungkam beribu pelurukebenaran jadi candu tak bisa dibungkam seribu serdadu” hingga hari ini masih ada yang dibungkam atas Hak mereka.
3. SERINGAI – MENGADILI PERSEPSI (bermain tuhan). Ketika ormas-ormas yang mengatas namakan agama menjadi liar dimasyarakat, dan mulai main gasak sikat sana-sini. Lagu dari Seringai menyuarakan isu-isu tersebut dengan bertemakan protes terhadap siapapun yang mengatas namakan agama untuk penindasan atau apapun yang berpegang atas otoriter, “Individu Merdeka” menjadi sebuah anthem untuk perlawanan. Dengan teriakan vocal arian 13, distrosi gitar yang berat dengan out put yang fresh, saya selalu dibuat kelimaks dengan nada dan musiknya, lirik yang simple memicu pada hal-hal tabu dikhalayak, membuat track ini sungguh wajid didengar.
4. TARING – SLAPTIKA. Single ini dilepas pada bulan 11 desember tahun 2017, yang dimana Trio Hardcore ini menolak diam. Dengan lagu tersebut kita bisa dengar kebisingan dilagu mereka sebuah protes atas politik dinegeri ini, mereka megutarakan dengan lirik: “Diplomat kaki lima laksana fragmen Tanpa denyut nadi minus makna Tak ada cangkul tak ada arit Kelaparan jadi do′a sembahyang Jaring perangkap rumit menyekap Jangan takutkan aku yang terus berucap Serupa kawanan tak punya lencana Bak angkatan bersenjata” dari awal intro sudah disuguhkan dengan suara-suara aksi para demontrans, dengan tempo cepat dan suara cadas nan berat begitu kompleks lagu terdengar, syair dan tambahan breakdown yg buat kalian akan mengerutkan dahi, track ini sangat jenius.
5. NAVICULA – AKUBUKAN MESIN. Band asal bali ini dengan genre grunge rock alternative, telah membuat single bertemakam tentang kaum buruh, sebuah bentuk perlawan terhadap otoritas yang terlalu mengekang hak-hak individu dan menolak tunduk, Navicula meramu musik dengan cermat melihat sebuah ketimpangan isu-isu sosial dan menyuarkannya sanggat lantang, dibalut dengan nada distrosi sound yang begitu teratur sehingga track ini begitu rock dan fresh.
6. EFEK RUMAH KACA – MOSI TIDAK PERCAYA. Sudah pasti slogan judul ini menjadi atribute sepanduk disetiap aksi-aksi dilapangan, E.R.K mengajak kita untuk sadar akan pratek politisi yang tidak berpihak kemasyarat, sudah jelas dengan lirik frontal, agar kita melawan sebuah kebohongan besar yang sering diutarakan didepartemen-departemen pemerintahan. Dengan musik berdurasi 3:54 untuk track ini mengusung genre alternative yang begitu epic, karena dari segi teknik mereka bermain begitu blance antara vocal dan musik mengiringinya.
7. MORFEN – KAMI BOSAN JADI NEGARA DUNIA KETIGA. Sang vocal jimi multhazam dengan ciri khasnya bernyanyi? pasti sudah tau. Track ini ada disebuah kompilasi Frekuensi Perangkap Tikus, album kompilasi itu banyak lagu-lagu protes, tapi saya memilih lagu ini dengan alesan personal. dimana lagu ini menceritakan kelas pekerja yang muak setengah mampus, dengan kondisi negeri ini, dengan musik punk rock & rock n roll era 90’an full distrosi, sudah sangat jelas tanpa penjelasan panjang.
8. IWAN FALS (Swami) – BONGKAR. saya pernah melihat di TV yang dimana aksi demo-demo langsung turun kejalan, kalo tidak salah tahun 1997 aksi tersebut untuk menurukan pemerintahan suharto, yang dimana para mahasiswa dan masyarakat dengan barisan barikade merobohkan pagar besi gedung DPR, dengan beramai-ramai menyayikan lagu ini, saya hampir tidak percaya bahwa sebuah lagu bisa mengerakan aksi seperti itu. Lirik yang provokatif. Iwan fals “Swami” melempar kritikan-kritikan lewat lagu tersebut, lagu itu pun diciptakan oleh iwan fals dan sawung jabo walaupun rumor cerita liriknya sempat dibuah. Lagu tersebut telah mewakili kenyatan sosial, pengusuran dan kerisis ekonomi. Tapi sayang lagu itu pernah ada di iklan kopi, tapi walau bagaimanapun juga lagu ini tak akan tergerus oleh jaman.
9. IWAN ABDULCRAHMAN – MENTARI. Sebenernya saya tau lagu ini dari baca artikel yang mengisahkan dibalik cerita lagu, ternyata sayapun mengalaminya, mendengarkan ulang-ulang dengan lirik yang begitu real, penggalan lirik: “Hari ini hari milikkuJuga esok masih terbentang Dan mentari kan tetap menyala Di sini di dalam hatiku” dengan musik acustic dan nada yang pop, lagu ini telah menjadi protes terhadap penindasan kala itu hingga saat ini.
10. BUNGA HITAM – KAMILAH PELURU. Sepertinya tak mungkin apabila tidak masuk dalam playlist ini, bunga hitam, punk yang menyuarkan perlawanan terhadap pendindasan dalam bentuk apapun, lirik yang jenius mengutarakan isu-isu sosial, dengan tempo yang teratur suara vocal yang jelas, punk yang tidak harus selalu ngebut permainan musiknya.
11. FAJAR MERAH – KEBENARAN AKAN TERUS HIDUP. Dari mendiang ayahnya wiji thukul, fajar merah telah mengikuti apa yang ayahnya bikin sebuah kata-kata yang menentang penguasa, fajar telah melakukannya dengan baik, pusisi digabungkan dengan musik, nuansa blues n rock, dengan diselipkan pusisi ditulis ayahnya, yang berjudul, Aku Masih Utuh Dan Kata-Kata Belum Binasa, fajar menyuarakan kegelisahan dan menuntut atas apa yang pernah rezim itu perbuat ke ayahnya.
12. MENJELANG PAGI – DAYS OF WAR, NIGHT’S OF LOVE. Lagu ini sebenarnya dari Senartogok, tapi saya awalnya mendengarkan versi dari Menjelang pagi, sebum tahu lagu aslinya, pikiran saya lagu ini diambil dari sebuah buku yang dimana sama dengan judulnya, Days of war, Night’s of love, lagu yang mengandung provokatif mengajak kita untuk berkehendak, melawan dan memberontak dari semua itu kita kembali kemanusia pada umumnya, begitu pop didengar bernadakan petikan gitar acustik, entah mengapa lagu ini saya masukan kedalam playlist, mungkin dengan alasan lirik, oke this is enjoy play with musik.