Catatan Pinggir & 4 Album Terbaik Nirvana, Sepanjang Masa.

Riview 4 album terbaik Nirvana, sepanjang masa.

Tulisan ini lebih personal.

Memory. Waktu itu tengah malam, saya terbangun dari tidur, mendengar suara tepuk tangan yang meriah dan suara siyulan orang-orang seperti acara musik disebuah konser. Suara itu ternyata berasal dari radio, saya pun melihat abang-abang saya pada tertidur, musik itu menemani malam. Saya tau abang yang pertama memutar musik itu, jadi otomatis saya ikut mendengar, satu kamar kami bertiga. Saya cowok urutan nomer tiga dan punya abang cowok dua. Abang pertama yang mengerti soal radio. Masih belia waktu itu umur saya sekitar 9 tahun, masih sekolah dasar, tidak pernah berani cara menyalakan radio, karena takut, takut kenapa-kenapa (baca rusak) karena tidak mengerti, hari demi hari sudah mulai terbiasa dengan perangkat pemutar musik, walau kadang cuma melihat abang saya cara menyetelnya, sehingga saya memberanikan diri untuk mencoba menyentuh perangkat yg merubah hidup saya. Awalnya cuma melihat sebuah kaset yang sering abang putar diradio, sekotak kecil dan terlihat sampul kaset itu, berwarna putih, frame dengan garis kuas lukis warna hitam, ada beberapa orang sedang memegang alat musik masing-masing dengan hiasan, sorot cahaya sinar lampu dan gordeng ditemani lilin dan bungga tulip, nuansa yang kalem dan hening bertuliskan. MTV UNPLUGGED IN NEW YORK. “Oh” ini yang sering diputar waktu malam. Band itu bernama “NIRVANA“.

Rumah. Jakarta utara, tahun 1996. Adalah dimana moment itu berasal, disebuah rumah, yang penuh kehangatan. Kami dikamar selalu mendengarkan Nirvana dengan volume kencang dan sampe memasuki alam bawah sadar saya. Karena abang pertama lah yang membawa semangat melalui sebuah kaset pita dan radio polytron. Mungkin pada saat itu bang saya tidak niat untuk adik-adiknya ikut mendengarkan juga, “(mungkin)”, dan dinding kamar kami full terisi dengan poster-poster Nirvana dan Kurt Cobain, tidak ada yang tersisa ruang kosong sampe atap lampupun penuh dengan gambar – gambar, sungguh pemandangan yang indah. Dan Didepan rumah melihat jendala dari ruang tamu kearah depan terlihat gambar ditembok yang dibikin abang pertama mengunakan cat pilok, gambar itu wajah Kurt Cobain yang ukuranya sangat besar, berkacamata pantai. Dan kata-kata Grunge ditembok-tembok rumah, sebuah coretan yang begitu abstrak ramai dengan tulisan. Saya pun jadi terbiasa untuk berani nyalakan radio sendiri dan memutar lagu-lagu Nirvana, ketika abang berangkat kerja, saya mulai siap-siap obrak-abrik koleksi kaset-kaset abang dan ternyata cuma beberapa buah kaset Nirvana yang ada. Terdiam sesaat ketika pertama kali tau judul lagu Nirvana yang “about a girl” sambil memutarnya, mungkin lagu pertama yang saya tau dengan judul. Abang adalah sosok yang memperkenalkan kami dengan musik, mewariskan sebuah pencerahan kala itu. Tahun berganti dan telah wafat abang yang pertama, tanpa almarhum mungkin tidak tau apa itu musik. kami berdua (saya dan abang yang kedua) dikamar selalu mendengarkan Nirvana untuk menemani hari-hari waktu di rumah, dengan mengenang moment-moment almarhum yang selalu aktif sambil mendengarkan musik. Dan mamah sudah mulai marah-marah apa bila kami memutar lagu dengan volume keras karena masih menyimpan memori kepada abang tercinta. Hingga kami pun mulai jenuh dan harus meruyak kepermukaan, dan dibekali pengetahuan yang kami tahu, artinya sudah dapat teman tongkrongan dengan radar dan frekuensi yang sama, karena kami bergenerasi dari abang-abang yang suka dengan satu bahasa yaitu “musik“. Oke mungkin ini terlalu panjang untuk memulai dengan album-album Nirvana terbaik sepanjang masa menurut saya, les’t go!.

4. BLEACH.

dirilis 15 June, 1989, Direkam 1988-1989
Label Sub Pop

Album “Bleach“. Di produs oleh Jack Edino”. Entah mengapa album ini begitu berpengaruh, dari sound dan teknik cara mereka menghasilkan out put yang begitu “grunch”, tentu album ini adalah pembuka gerbang awal Nirvana, menjadi kreativitas setelah album berikutnya. Dari suara yang dihasilkan begitu solid dengan sound gitar yang berat dan bissing dimana kurt merekonstruksi noise dan efek suara yang organik, bakal jadi cirikhas kurt dikemudian hari. “Bleach” mengutamakan suara dentuman bass yang begitu super tebal, sehingga para penikmat album ini pasti juga tau. chad channing, sang drumer begitu compak dengan sang bassic kris novoselic, menyainggi suara gitar kurt cobain dan jonson everman, mereka berempat begitu compleks bisa didengar dari track-ketrack. album ini bersuara begitu mentah, kadang alus dengan kadar gelap, sang vocal kurt masih bermain dengan nada mencengkam, menyerit, teriak, emosi, seperti lagu pembuka, “Blew”, terdengar kurt bernyanyi diawal setelah intro dengan nada setengah mabuk, dengan lirik: If you wouldn’t mind, I wouldn’t like it blew/If you wouldn’t mind, I wouldn’t like it lose/If you wouldn’t care, I wouldn’t like to leave/If you wouldn’t mind/I wouldn’t like to breathe. Dan “Chorus” yang ketika dimana kurt bernyanyi dengan nada tempo dinaikan dan tertahan geram. “Is there another reason for your staying/Could you believe him when you distrust his stain/Here is another word that rhymes with shame”. Tetap elegan, bercerita tentang “kegelisahan sesorang yang tidak nyaman dan harus tetap tinggal ditempat itu”. Bisa dilihat kurt meramu lirik dengan simple tapi tetap congkak pembawannya. Kurt selalu menyamai suara lengking gitar “fender” suara vocal berbarengan. Nuansa post rock grunge, alternative, hingga breakdown di berapa grip gitar dengan tempo cepat, lambat dan berat, punk masih diselipkan diketukan untuk beberapa track, sperti “Mr. Moustache”. Tak sedikit “pop rock” contoh lagu “about a girl begitu “cathy“, nadanya seperti lagu “the beatles”, tapi versi rock, dimana kurt sangat menyukai band asal inggris itu. Track “school” dengan post rock grunge yang begitu gelap nan murung, full distrosi dengan tempo cepat begitu fresh. Dan apa bila kalian mendengarkan detail cover dari lagu band “Shocking Blue”. “Love bazz”, dimenit 2:23 sampe kemenit 3:00 kurt begitu merekonstruksi noise-noise, ambient dan bebuyian efek gitar yang dihasilkan begitu abstrak, layak di catat betapa jenius kurt bermain sound di album pertamanya. Konon “Bleach” di modalkan penuh oleh sang gitar jonson everman sekaligus fans Nirvana. “Bleach” selalu mempunyai cerita benang merah dari lagu awal hingga akhir, bertemakan cerita “tentang kota tempat dimana kurt cobain dilahirkan dan dibesarkan, Aberdeen dan Whasington“. Album ini layak didengarkan untuk mengingat masa-masa sebelum berjayanya Nirvana.

3. INCESTICIDE.

Diliris, 14 December, 1992. Direkam 1988–1991. Label DGC.

Incesticide” sebenarnya bukan album tapi kompilasi lagu-lagu Nirvana sebelum album “bleach” dan sedudahnya di rekam, sekitar tahun 1988 – 1991. label “Geffen Records”. Dengan durasi 44 : 44. Berisikan 15 lagu dan 4 drumer untuk mengisi track seperti: “(Mark Mothersbaugh, Gerald Casale)“, pada track “(Turnaround)“. “(Eugene Kelly, Frances McKee)“, pada track “(Molly’s Lips)“. “(Kelly, McKee)” pada track “(Son of a Gun). Selebihnya oleh “(dave grohl)”. Sampul album kompilasi ini begitu dingin dan misteri, rumor cerita tentang perjuangan kurt cobain terhadap kecanduannya dengan heroin. Karena gambar sampul itu kurt sendiri yang buat. Di buka dengan lagu “Dive” sound yang begitu raw nan rock aleternative, masih dengan cirikhas Nirvana tentunya, “Incesticide” kita tarik mundur kebelakang, kurt dan kawan-kawan masih mengidolakan “Punk” bisa di dengar di lagu “Molly’s Lips” “Son of a Gun” “(New Wave) Polly”. Nirvana bermain dengan lagu tempo cepat dan suara (waw-waw), melodic nan abstrak tak beraturan tapi terkonsep noise-noise yang selalu diselipkan di bebrapa track dan suara gahar dari sound gitar, jarang suara clean hanya di selipkan beberapa lagu. Track favorit saya “Big Long Now” menceritakan “kegelisahan seorang yang tak yakin atas dirinya dan lebih memilih tertutup“, kurt pun berucap dengan nada lepas, di bagian “Chorus“. “Endless climb/I am blind/Why can’t I leave/Color blind/Speaking a phrase/Instantly grown/I am blind/Waiting in line”. Kalian akan dibawa kedalam irama emosi dan kegelisahan, kurt bernyanyi begitu menjiwai. Dan track paling rumit “Aero Zeppelin” yang didedikasikan kepada (“Aerosmith-Led Zeppelin“) lagu penghormatan terhadap dua band legendaris itu, kurt mengatakan dengan lirik: “How a culture comes again, it was all here yesterday/And you swear it’s not a trend/doesn’t matter anyway/There’s only here to talk to friends, nothing new is everyday/You could shit upon the stage, they’ll be fans” dimana kurt dengan sangat bangga menjadi fans dua band idolanya, kurt melakukannya dengan petikan gitar clean, noise berpindah ketempo yang cepat dan detumam bass yang menggiringi. Ditutup dengan track paling gagah “Aneurysm“. Incesticide adalah lagu-lagu secara acak di susun dalam satu album kompilasi, yang menjadi “milestone”.

2. NEVERMIND.

Dirilis, 24 September 1991. Direkam Mei – Juni 1991. Label DGC.

Sebetulnya bukan tidak menaruh “Nevermind” diurutan nomer satu, sudah di pertimbangkan sebelum menulis “riview” album Nirvana, banyak alasan sebenarnya ketika saya memutar ulang album ini untuk meyakinkan, karena ini lebih personal. Oke siapa yang tidak tahu Nevermind? Sepertinya di toko-toko kaset dan stasiun televisi seperti “MTV” hingga di ramayana memutar lagu-lagu di album ini waktu itu. “Nevermind”, Era kemasan emas tahun 90’s yang dimana anak muda butuh kesegaran untuk melawan kebosan dan merubah wajah musik dunia tidak sama lagi. Sound modern yang banyak band-band ingin mengikutinya dan terinspirasi dari lirik dan nada, sound yang dikeluarkanya begitu fresh, rock alternative, nuansa sinematik. Mahakarya yang sungguh indah didengar. Kali ini bisa tau kreatifitas Nirvana begitu berbeda-beda dari album sebelumnya, Nirvana sepertinya tau bahwa saatnya dunia butuh perubahan. Album dewasa ini masih di labeli oleh “DGC“, dan tentunya layak di catat tanpa “Dave gorhl” sepertinya ini cuma album biasa kedengarannya, Dave begitu berpengaruh atas apa yang ia perbuat di Nevermind, Nirvana sepertinya menemui format yang kompleks dan pas untuk kurt cobain dan kriss novoselic, sang pukulan drumer maha super power mengebrak “Nevermind” dengan tempo teratur nan gahar begitu dasyat didengar, konon katanya dave gorhl terinspirasi dari drum-drum “Disco” tahun 70 – 80, untuk materi album “Nevermind”, Dave ialah drumer baru penganti “chad channing” bisa di dengar perbedaannya, tapi di lagu “Polly” Chad channing masih mengisi simbal di dimenit 2:28 pengabisan lagu. Untuk track sebenarnya Nirvana ingin melepas single “In bloom” untuk gebrakan “Nevermind”, tapi dunia berpaling dengan single “smells like teen sprit” dengan lirik yang mendunia “Chorus”: With the lights out,/it’s less dangerous/Here we are now,/entertain us/Life is stupid/and contagious/Here we are now/entertain us. Dengan 4 chord distrosi grunge plus melodic simple cirikhas kurt, single ini begitu membuming dengan kadar super fresh bisa dibilang new rock modern, walau istilah new punk rock, alternative grunge atau istilah apalah, yang pasti album ini telah melampaui batas musik itu sendiri, dengan kejelian kurt meramu lagu-perlagu dan vocal yang begitu gagah pembawannya, sound tidak diragukan, karena kalian tidak akan skip lagu berikutnya. Di produseri penuh oleh “Buth vig” sayang kurt tidak boleh memegan kendali atas out put, dan masih di kontrol oleh sang produser, akan jadi timbal balik di album berikutnya. Untung kita masih disuguhkan track brutal dan liar, “Territorial Pissings” dimana kurt memainkan chord gitar dengan cepat dengan pukulan drumer yang maha keras dan ngebut mengiringi nada gitar, kurt ahli soal ini. Di track “Drain You” yang merekonstruksi noise-noise dan bebunyian dimenit 1:40 kemenit 2:32, kalo kalian jeli kurt cuma memakai sound dan efek gitar untuk bebuyian seperti itu sunguh epic, dan track paling depresi “Endless, Nameless” lebih banyak instrument noise-noise ambient dan cuma beberapa nada dari segi tekstur sound dan teknik kurt meramu bebunyian kasar, track favorit saya yaitu “Come us you are” dengan petikan gitar membawa saya kelirik: “Come as you are/as you were/As I want you to/As a friend, as a friend, as an old enemy/Take your time/hurry up/The choice is yours/don’t be late”. menceritakan “untuk menjadilah diri sendiri“, judul itu pun di ambil dari papan nama, tepatnya di kota Aberdeen. Dan sebuah lagu yang berjudul “Shomething in the way” menceritakan “masa yang begitu kelam, kenangan panjang menyimpan kisah-kisah yang di bungkus menjadi pudar“. Album ini sayang bersuara terlalu “Clean” buat saya. “Nevermind” menceritakan tentang apa yang kurt alami dan dituangkan dari lagu-kelagu dan disusun ke dalam satu album dan hasilnya begitu indah, tak akan tergerus oleh zaman.

1. IN UTERO.

Dirilis 13 September 1993.
Direkam 13–26 Februari 1993.  
Label DGC

Memoryabel. Saya dulu untuk memperoleh album ini sungguh sangat sulit karena pertama era internet tidak ada, memperoleh kaset pita (baca tape deck) itu sungguh susah karena album-album yang saya suka belum tentu ada di toko-toko kaset dan mempunyai artefak ini adalah kewajiban yang harus. Teman-teman pun sudah tidak peduli dengan kaset pita cuma hanya mau mendengar, saya masih telaten mencari dan memutar bersama teman tongkrongan walau kadang sudah pada dengar album “In utero” di single-single lepas dan boleh pinjam sana-sini. Langanan saya di toko kaset ramayana permai lantai tiga, niat untuk membeli album “phantom planet” tiba-tiba saya melihat rak kaset terpanpang semua album nirvana, cuma album “bleach” yang sudah laris terjual, saya tidak pikir panjang untuk membeli dua album sekaligus “Incesticide” dan”In utero”, pulang dengan antusias mengebu-gebu, goes pedal sepeda secepat motor, memutar “In utero” seharian membulak balik cover album. Esok harinya saya berangkat kesekolah dengan rasa bangga langsung pamerin keteman saya si jay untuk pembuktian bahwa sound “grunge” masih ada dan “in utero” jawabannya, teman saya heboh seperti menang judi, menanyakan dapat dimana luh, oke sudah terlalu panjang untuk ingatan masa itu.

In utero. sound ajib dengan tekstur distrosi full “grunge“, bebuyian kasar noise-noise di setiap track, drum sember di beberapa track, begitu organik, kadang klise kadang gelap, ini jawaban atas kegelisahan Nirvana setelah album “Nevermind”. “In utero” begitu fresh dengan sound yang begitu raw, album yang begitu rumit. Kurt begitu liar tak terkontrol, lepas dari keterasingan, merekonstruksi setiap sound dengan begitu jenius, tak ada track gimick-gimick komersil yang ada penuh dengan pengebrakan hampir semua sound dan teknik album Nirvana di masukan ke “In utero” dari chrod gitar hingga out put dan disempurnakannya, tambahan suara celo di gabung dengan distrosi kasar, petikan gitar cempreng kali ini suara bass tidak tebal yang ada suara drum dan efek gitar. Dave gorhl lebih buas nan gahar seperti tidak pakai tempo, kombinasi sound kurt yang tak terkendali mengiringinya, di produs oleh “Steve Albini” kurt tau harus memilih siapa untuk sound out put di album ini. Anda akan dibuat klimaks dengan noise-noise acak tempo yang naik turun, pop rock yang modern hanya amarah bentuk perlawan kurt terhadap generasi X, kurt pun bernyanyi seperti menuangkan kegelisahan lewat track paling vulgar “rape me” cerita tentang “kekerasan, pelecehan, dan perkosaan terhadap kaum perempuan“. Kurt pun berucap dengan sedikit nada sinis nan santai, “Hate me/Do it and do it/Waste me/Rape me my friend/Do it and do it again/Waste/Rape me my friend”. Begitu jelas, sedikit pop poles rock, di album ini kurt bernyanyi dengan ciri khasnya, dan ada sebuah track yang begitu ngaco dari segi musik, teknik yang rumit dan vocal yang teriak seperti mabuk dan marah-marah “Milk It” track tentang “perasaan kurt ke Courtney Love” sound grunge, tapi begitu epik. Track “all apologies”, kurt menghadirkan gesekan celo, dengan ahkiran lirik yang menjadi “pantheon”, selogan paling baik dalam musik rock, “All in all is all we are“. Track pembuka album “Serve the Servants” sebuah teriakan atas “pencerian kedua orang tuanya” kurt berucap dengan lirik: “They hurt really bad/I tried hard to have a father/But instead I had a dad” masih tentang kehidupan kurt, dan masih ada track liar seperti “Tourette’s” dengan tempo cepat membawa kembali marwah di album nevermind. “Very Ape” track favorit dengan bebunyian gesekan gitar dengan tempo cepat apa bila mengunakan headset suaranya akan dari kiri-kekanan dan sebaliknya, kurt beryanyi seperti tidak mengikuti metronome kalo didengar detail. Track “Dumb” dengan sayatan celo, kurt faham betul kenapa harus celo untuk mengisi track ini, nuansa pop rock tapi kurt tetap memakai dristrosi setiap chorus. walaupun setiap album Nirvana hampir tentang kehidupan kurt cobain, tapi “In utero” adalah album begitu sempurna dengan bersuara paripurna, ajibnya kenapa, apa bila diputar ulang pasti memiliki suara yang berbeda-beda karena kurt merekonstruksi bebuyian noise-noise yang abstrak, tidak akan bosan bila didengar terus dan memiliki marwah yang begitu membawa kedalam nuansa memasuki “Nirvana“. “In utero”, mahakarya yang sungguh indah yang pernah Nirvana ciptakan dan membuat kalian akan terus menggingat siapa sound terbaik grunge pada masa itu hingga sekarang.

Mungkin Nirvana akan selalu relevan

Durito V

Tulisan ini diambil dari buku Atas dan bawah, topeng dan keheningan, komunike-komunike Zapatista melawan neolibralisme

Sebuah. Kota Meksiko. Durito keluyuran sepanjang jalan-jalan yang bersinggungan menuju Zacalo. Mengenakan jas hujan kecil dan topi dimiringkan seperti Humprey Bogart dalam Casablanca, Durito berlalu seolah tak mau kelihatan. Setelahnya serta langkahnya yang pelan tak dibutuhkan selama ia terus menempel pada bayang gelap yang luput dari terang benderang kaca etalase. Bayang dalam bayang, langkah tak terdengar, topi dimiringkan, jas hujan terseret-seret, Durito berjalan melintasi subuh Meksiko. Tak ada orang yang tahu. Mereka tak melihatnya bukan karena ia tersamar begitu rupa, atau karena setelan dektektif khayal tahun ’50-an, atau karena ia susah dibedakan dengan timbunan sampah. Durito berjalan dekat kertas-kertas yang terseret-seret oleh entah siapa atau oleh sapuan angin taktertebak yang menghuni fajar Distrik Federal. Tak ada yang melihat Durito karena satu alasan sederhana: kota ini, tak seorang pun melihat orang lain. “Kota ini sakit,” begitu Durito menyuratiku, “sakit oleh rasa sepi dan ketakutan. Kota ini adalah kumpulan kesunyian yang maha hebat. Ia terdiri dari banyak kota, masing-masing satu untuk tiap penghuninya. Ini bukan soal jumlah penderitaan (pernahkah kau tahu kesepian yang bukan penderitaan?) tapi soal potensi; tiap rasa sepi dikali dengan jumlah orang kesepian yang mengelilingnya. Seakan-akan tiap kesunyian adalah cermin yang mereflek-sikan yang lain, hingga akhirnya kesyunyian itu saling terpental balik lebih hebat lagi.” Durito mulai sadar bahwa ia berada di wilayah yang asing, bahwa kota ini bukan tempat untuknya. Dalam hatinya dan fajar ini, Durito mengemasi bawannya. Ia telusuri jalanan ibarat harta miliknya, sekecup cumbuan terahkir, seakan sadang meninggalkan seorang kekasih yang sadar behwa inilah perpisahan. Saat-saat tertentu, suara langkah kaki surut dan raungan sirine yang membikin takut para pendatang meninggi. Dan Durito salah satu pendatang itu. Ia berhenti di tiap pojokan saat kerlap-kerlip nyala merah biru melintas. Durito memanfaatkan pintu keluar masuk itu untuk menyulut pipanya dengan teknik gerilya: sepercik kecil api, tarik nafas dalam-dalam, dan kepulan asap selimuti pandangan serta wajahnya. Durito berhenti. Ia melihat dan menatap. Di depannya, kaca etalase menyajikan pantulan dirinya. Durito mendekat dan melihat pada kaca luar biasa lebar itu apa yang di baliknya. Cermin aneka rupa dan ukuran, boneka-boneka porselen dan gelas, kristal berukir, kotak musik kecil-kecil. “Tak ada kotak yang bisa bicara di sini,” Durito berkata ke dirinya sembari tak lupa tahun-tahun panjang yang dihabiskannya di hutan-hutan Mekaiko Tenggara. Durito mengucapkan perpisahan bagi Meksiko City, dan ia memutuskan menghadiahi kota ini sebungkus kado, kota yang tiap orang mengomel karenanya tapi tak sorang pun mampu pergi darinya. Inilah Durito, seekor kumbang asal rimba raya Lacandon ada di tangah-tengah Mexico City. Durito mengucapkan perpisahan dengan sebingkis kado. Ia memperagakan gerak elegan seorang persulap. Segala sesuatu terhenti, cahaya-cahaya padam seakan sehembus angin lembut menjilati wajahnya. Gerakan lainnya lalu seberkas cahaya, seperti keluar dari refektor, berpendar menerangi kotak musik di etalase itu. Seorang ballerina dengan kostum bunga bungur yang manis namampilkan posisi abadi kedua tangan terangkat ke atas, kedua kakinya bertemu seperti seimbang di ujung ibu jari. Durito berusaha meniru posisi itu, namun segera saja kakinya yang banyak itu kusut. Gerakan sulap lainnya dan muncullah piano sebesar bungkus rokok. Durito duduk di depan piano dan menaruh segelas besar bir di penutupnya, entahlah dia dapat dari mana, tapi gelas itu sudah setengah kosong. Durito mengkeretakkan dan melenturkan jari-jarinya seperti senam jari yang biasa dilakukan para pianis di film-film. Durito menoleh ke arah ballerina lalu mengangguk. Ballerina itu beranjak dan membungkuk. Durito menggumamkan lagu yang tak jelas, mendentamkan irama dengan kaki-kaki kecilnya, memejam dan menggubah dirinya sendiri. Nada-nada pertama mulai mengalun. Durito memainkan piano dengan empat tangan. Di sisi sebalik kaca, ballerina itu mulai berputar dan perlahan mengangkat kaki kananya. Durito miring ke papan tuts dan bermain mati-matian. Sang ballerina memperagakan langkah-langkah terbaiknya sebisa mungkin dalam kurungan kotak musiknya. Kota ini terhapus. Tak ada apa-apa selain Durito dengan pianonya dan sang ballerina menari. Kota ini terkejut, pipinya memerah seperti yang biasa terjadi kalau seseorang menerima kado yang tak disangka-sangka, menerima kejutan yang menyenangkan atau kabar baik. Durito membelikan hadiah terbaiknya: sepotong cermin abadi yang tak terpecahkan, ucapan perpisahan yang tak melukai, yang menyembuhkan, yang mencuci bersih. Pemandangan ini hanya berlangsung beberapa kejap. Nada-nada penghabisan berhenti seraya kota-kota yang menghuni kota ini mewujud kembali. Sang ballerina kembali pada kemandegannya yang tak nyaman. Durito mengangkat kerah jas hujannya dan membuat gerakan mulus menuju kaca etalase. “Akankah kau selalu ada di balik kaca?” Durito bertanya dan menanyai dirinya sendiri “Akankah kau selalu ada di sisi sebereang aku di sana dan aku selalu ada di sisi sebrang kau di sini? Demi kesehatan dan sampai ke alam baka, begundal sayangku. Kebahagian itu ibarat kado, ia cuma berlangsung sekejap tapi punya arti.” Durito menyebrangi jalanan, merapihkan topinya dan lanjutkan perjalann. Sebelum berbelok kepojok, ia menoleh ke kaca etalase itu. Lubang bagaikan bintang terpampang menghiasi kaca. Alarm berdering tak kenal henti. Di baliknya, ballerina dalam kotak musik itu menghilang. . . “Kota ini sakit. Saat rasa sakitnya beranjak jadi krisis, ia akan sembuh. Kesepian kolektif ini, dikali jumlah jutaan dan potensi, akan berahkir dengan menemukan dirinya sendiri serta sebab-penyebab impotensinya. Dengan itulah, dan cuma dengan itulah, kota ini akan menanggalkan kelabu di gaunnya dan berhias dengan pita-pita warna cerah yang berlimpah ruah di pedesaan.” “Kota ini hidup dengan permainan kejam cermin-cermin. Namun permainan cermin-cermin itu percuma dan hampa belaka bila tak ada kaca sebagai tujuannya. Cukuplah mengerti ini, dan seperti kata entah siapa: berjuang dan mulailah bahagia. . . “Aku pulang, persiapkan, persiapkan tembakau dan insomnia. Banyak yang harus kuceritakan padamu, sancho,” Durito menghakiri. Pagi hari. Alunan denting piano menemani hari yang bakal tiba serta Durito yang dalam perjalan. Mengarah ke barat Matahari bagikan batu yang memecah beningnya kaca pagi hari. . .

Vale sekali lagi. Demi kesehatan, dan tanggalkan rasa menyerah pada cermin-cermin yang hampa.

El sup, beranjak dari piano dan mencari-cari, bingung oleh sekian banyak cermin, jalan keluarnya. . . Atau itu jalan masuknya?

Durito IV (Neo-Liberalisme dan Sistem Negara-Parati)

Tulisan ini diambil dari buku Atas dan bawah, topeng dan keheningan, komunike-komunike Zapatista melawan neolibralisme

Juni 1995

Durito menapaki jalan raya. Orang-orang pribumi dari Tabasco ini, tak hirau akan segala penyakit dan jalan kaki yang telah berhari-hari lamanya, belum terlihat telah. Mereka melangkah seakan-akan baru saja memulai “Arak-Arakan untuk Martabat dan Kedaulatan Nasional” di pagi hari ini. Sekali lagi, melalui suara kaum Zapatista, panggilan diserukan ke seluruh penjuru Negeri untuk berbaris dari arah tenggara Meksiko. Dalam igauan heroik Meksiko Tenggara, harapan mengusung pula sebuah nama, Tachicam, semangat persatuan dami masa depan yang lebih baik. Impian akan sebuah tempat di mana hak untuk menari dijamin oleh Undang-Undang Durito mengambil peluang di perhentian. Karena panas, ia sembunyi ke sebalik semak kecil. Setelah ambil nafas sejenak, ia keluarkan selembar kertas dan pensil. Sebongkah batu menggantikan mejanya yang ditinggal di hutan. Durito menulis surat. Maju terus! Jangan takut-takut! Mengintip dari balik bahu Durito terbacalah:

Tentara Pembebasan Nasional Zapatista. Meksiko. Kepada: Tuan ini dan itu. Propesor dan Peneliti. Universitas Otonomi Nasional Meksiko. Meksiko, Distrik Federal.

Dari: Don Durito asal belantara Lacandon. Seorang Ksatria pengembara yang kepadanyalah Sup Marcos mengusung perisai. Tentara Pembebasan Nasional Zapatista Meksiko.

Tuan, Barangkali terlihat janggal bahwa saya, seekor kumbang bangsawan dari keksatrian kelana menulis surat pada Anda. Jangan bingung atau lekas-lekas memanggil psikoanalis, sebab saya akan menjelaskannya dengan singkat dan cepat. Dulu anda pernah mengirim proposal kepada Sup agar menulis artikel untuk sebuah buku (atau sesuatu yang mirip itu) mengenai Transisi Menuju Demokrasi. Buku ini (atau apapun namanya) akan disunting oleh Universitas Nasional Meksiko (yang menjadikanya jelas bahwa takseorang pun bakal membacanya). Bagai manapun, saya tidak tahu apakah Anda memperhitungkan atau tidak kerisis yang melanda industri penerbitan serta kenaikan harga kertas. Kesepakatan ini melihatkan bayaran yang melebihi lazim, yakni 100.000 peso yang akan disumbangkan UNAM dalam bentuk dollar atau kira Italia kepada para buruh Fiat di Tutin. Kami telah pula tahu bahwa para buruh Italia vari COBAS telah menerima sejumlah ini dari kaum Zapatista dalam perkara perburuhan Eropa. Anda telah menunaikan kewajiban, begitu juga para buruh Fiat, tapi satu-satunya di sini yang gagal melaksanakannya cuma Sup seorang, sebab jelas bagi saya bahwa tenggat waktunya jatuh bulan Januari 1995. Sup begitu sibuk dan pelik memikirkan kecenderungan pemerintah untuk berdialog, dan itu sebabnya ia tidak merampungkan kewajibannya. Penghianatan bulan Febuari mengharuskannya berpikir ulang dan mebuatnya lari sampai ia tiba di sisi saya. Begitu sembuh dari dusta itu ia memberitahu saya tentang janjinya akan sebuah artikel dan meminta saya mengeluarkannya dari himpitan mematikan ini. Saya, Tuan yang terhomat, seorang ksatira kelana, dan kami, para ksatria kelana, tak kuasa menolak membantu mereka yang membutuhkannya, tak peduli seberapa besarnya batang hidungnya atau seberapa jahat kelalaiannya itu. Kala waktunya baik saya setuju membantunya dan maka dari itu sayalah yang menulis pada Anda sekarang dan bukannya Sup. Tentunya Anda bertanya-tanya mengapa, kalau saya menerima permintaan itu bulan febuari, saya menulisnya baru bulan Mei. Ingat, seperti pernah diucapkan seorang jurnalis, inilah “pemberontakan kaum yang ‘bangkit berdiri’. “Saya juga harus memberitahu Anda bahwa saya menulis begitu seriuuuus gaya tulisan dan teraaaamat sangat formal, jadi jangan harap menemukan gaya tulisan penuh banyolan dan kekurang-ajaran seperti Sup yang sangat mempermalukan para delegasi pemerintah. Itu sebabnya saya terlambat. Jangan marah-marah, ini bisa jadi lebih buruk, bisa jadi Anda harus terus menunggu sampai Sup menuliskannya suatu hari nanti. Namun tindakan mustahil macam itu tentu tak ada gunanya, jadi ini saya kirimkan kencaman tentang tema yang Anda ajukan yang, bila ingatan saya tak salah, berjudul. . .

TRANSISI MENUJU DEMOKRASI MENURUT KAUM ZAPATISA Barangkali ada yang ingin menjudulinya “Menurut Kaum Neo-Zapatista”, namun seprti dipaparkan Pak Tua Antonio dalam Riwayat Pertanyaan, Zapatista 1994 tak beda dengan Zapatista 1910

Saya akan berangsur menjelaskan konsep kami mengenai makna situasi politik masa kini, demokrasi, dan transisi dari yang satu menuju lainnya.

I. Situasi Politik Aktual: Sistem Negara-Partai, Satu RINTANGAN TERBESAR DALAM TRANSISI MENUJU DEMOKRASI Dewasa ini, Meksiko berada dalam deformasi struktural yang membelah spektrum masyarakat Meksiko, yang karenannya mempengaruhi semua kelas sosial, lingkungan geografis, dan “organisasi-organisasi” pedesaan.” Deformasi” ini sesungguhnya merupakan konsekuensi dari kapitalisme biadab akhir babad 20, yang menopengi dirinya dengan sebutan “NEOLIBERALISME” dan yang mendirikan semua perkembangnnya di atas basis yang permanen dan memperparah keadaan deformasi macam itu. Upaya apapun yang diperbuat kekuasaan yang sama untuk “menyeimbangkan” deformasi ini jadi mustahil dan selalu tak pernah lebih dari demagogi murahan (Procampo) atau niatan yang lebih licin akan kontrol fasistis pada taraf nasional: Program Solidaritas Nasional. Dengan ini kami bermaksud mengatakan bahwa “ketimpangan” sosial di Meksiko bukanlah hasil dari ekses atau masalah penyelarasan yang membuatnya bisa berlangsung tanpa letimpangan ini, keseluruhan sistemnya akan berantakan. Kami tidak akan merujuk pada “cacat-cacat” sosial tersebut, hanya pada yang menyangkut pada masalah politik dengan cara yang ringkas: Sistem politik Meksiko punya dasar sejarahnya, krisis masa kininya, serta masa depannya yang fana, dalam deformasi yang dinamakan “Sistem Negara-partai” ini. Hal ini bukanlah sekedar perkawinan antara pemerintah dengan Partai-Negara (Partai Revolusioner Institu-sosial), tapi keseluruhan sistem atika antar relasi politik, ekonomi, dan sosial yang menyerbu masuk antar relasi politik, ekonomi, dan sosial yang menyerbu masuk ke dalam organisasi-organisasi politik yang beraposisi sekalipun serta ke dalam apa yang disebut “Masyarakat Sipil” Niatan apapun untuk menyeimbangkan kekuatan-kekuatan politik tersebut, dalam sistem macam ini, senantiasa berhenti cuma sebagai harapan, dalam kasus-kasusnya yang terbaik sekalipum, yang mendorong demokratisasi sektor-sektor yang ada dalam PRI dan anggota-anggota kelompok opo-sisi. Satu-satunya cara agar sitem politik ini bertahan, sampai sekarang, adalah dengan menjaga ketimpangam brutal tersebut yang meletakkan, di satu sisi, semua kekuatan aparatus pemerintahan, sistem represif mesia massa, modal maha besar dan rohanianwan-rohaniawan reaksioner di bawah panji PRI. dan di sisi lainnya, kelompok oposisi tak kompak yang terus nya, yang belum juga membaik, termajilkan dari ekstrem-ekstrem neraca organisasional rumit sistem politik Meksiko, berdiamlah sebagian besar rakyat Meksiko. Kedua kekuatan tersebut, baik sistem Negara-partai maupun kelompok opo-sisi, bertaruh di atas aktor ketiga yang adalah rakyat Meksiko, di atas kehadiran atau ketidakhadiran atau mereka, apati atau mobilisasi mereka sistem, mengerahkan mereka bergeraklah proposal-proposal politik kaum oposisi (legal maupun ilegal, terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi). Upaya apapun untuk menyeimbangkan ketimpangan yang ada dalam sistem ini jadi mustahil. Untuk menyeim-bangkannya, sistem politik Meksiko yang terkondisolidasi 60 tahun silam harus mati. Dalam “aturam main” sistem ini, jangan model organisasi sosial baru baru yang lebih adil, sistem partai-partai pun tidak mungkin tercapai. Mririp dengan impian permainan bebas anatra pasokan dan permintaan yang tak bakal bisa terwujud dalam sistem ekonomi yang secara mencolok didominasi oleh monopoli, begitu permaiman politik yang bebas antara partai tak bakal jadi kenyataan sebuah sistem yang dilandaskan pada monopoli politik: sistem Negara-partai. Izinkan saya menekankan poin ini demikian (saya ngungkapkan masalah, bukan so-lusi). Izinkan saya menunda, demi sejenak mondar mandir tak tentu arah, lanjutan penjelaskan ini. Untuk mengenelai sistem Negara-partai ini dengan lebih utuh Anda harus merujuk pada analisa-analisa brilian dan kuat (saya katakan imi tanpa maksud mencibir) yang ditulis oleh para analis mengagumkan itu. Kami sajikan satu perbedaan berkenaan dengan sikap-sikap lainnya, yang sangat besar kemungkinannya tersaji dalam buku yang sedang Anda garap: ikhtiar apapun untuk “metefomasi” atau” menyeim bangkan” deformasi ini tak mungkin berhasil DALAM SISTEM NEGARA-PARTAI. Tak bakal ada perubahan tanpa perpecahan. Diperlukan sebuah perubahan yang menyeluruh dan radikal atas semua relasi sosial di Meksiko ini hari. SEBUAH REVOLUSI SUNGGUH DIBUTUHKAN, revolusi gaya baru. Revolusi ini hanya mungkin berlangsung dari sistem Negara-Partai.

II. DEMOKRASI, KEMERDEKAAAN, KEADILAN: DASAR BAGI SISTEM POLTIK BARU MEKSIKO Titunggal demokrasi-kemerdekaan-keadalian adalah dasar tuntutan EZLN, bahkan dalam azas-azas adatnya yang paling utama. Satu di antaranya tak bakal ada tanpa yang lain ini bukanlah masalah mana yang hadir duluan (jebakan ideologis yang dibisikan ke telinga kita: “tunda dulu demokrasi, dahulukan, herarki ekpresi, dari dominasi salah satu di antara elemen-elemen tersebut pada latar sejarah yang berlainan (terlalu bergegas di tahun 1994 seperti halnya tahun 1995). Bulan Febuari, ketika kekuatan pemerintah mengetatkan cengkramannya pada pasukan kami dan kepemimpinan kami “diburu” opeh unit-unit komando Tentara Federal, kami berkata:

“Kami percaya bahwa perubahan revolusioner di Meksiko tidak akan merupakan hasil suatau aksi dalam arena yang terpencil. Dengan kata lain, ia takkan, dalam pengertiannya yang ketat, berupa revolusi bersenjata atau revolusi damai. Ia akan berupa, secara umum, sebuah sosial yang beraneka macam, dengan banyak cara, dalam bentuk-bentuk sosial yang berlainan, dengan kadar yang berbeda-beda dalam komitmen dan partisipasi. Dan hasilnya tidal akan berupa sebuah partai, organisasi atau aliansi dari berbagi organisasi pemenang dengan proposal sosial yang spesifik, namun sebuah peluang bagi adanya wadah demoktatis guna menyelesaikan pertentangan antar berbagi macam proposal politik. Wadah demokratis sebagai revolusinya ini akan mempunyai tiga premis dasar yang tak terpisahkan secara historis: demokrasi, untuk menetapkan proposal mana yang dominan: kemerdekaan untuk memilih satu dan lain proposal: dan keadilan, yang harus tercakup dalam setiap proposal.” (20 Febuari 1994)

Tiga poin dalam satu paragap tunggal, tiga poin padat yang pahit seperti pozol. Begitulah gaya sup: konsep-konsep kabur, gagasan-gagasan yang sulit dipahami dan lebih sulit lagi dicerna. Bagaimanapun, saya akan mencoba mengembangkan apa yang sudah ia gariskan. Ketiga poin ini berisi satu konsepsi tentang revolusi (dalam huruf kecil, untuk menghindari polemik dengan barisan garda depan dan para pembela REVOLUSI yang berlapis-lapis jumlahnya). Yang pertama mengacu sifat perubahan revolusiner. Tentang sebuah proses yang melibatkan bermacam metode, berbagi jenis medan, beragam taraf komitmen dan partisipasi yang berbeda-beda. Ini berati semua punya tempatnya sendiri-sendiri, segala medan juang dibutuhkan, dan setiap tingkat partisipasi itu sama pentingnya. Proses ini inklusif, bersi-fat koliektif dan tanpa garda depan. Dengan begini, masalah revolusi (perhatikan huruf-huruf kecilnya) bukan lagi masalah APA organisasinya, APA metodenya, SIAPA caudillonya [diktator/pimpinan politik]. Tapi lebih merupakan masalah uang menjadi keperhatian bersama semua orang yang melihat revolusi itu dibutuhkan dan mungkin terjadi, dan yang perkembangannya penting bagi setiap orang. Poin kedua mengacu pada tujuan dan hasil revolusi. Ini bukan soal merebut Kekuasaan atau pemaksaan (dengan cara damai atau kekerasan) sistem sosial yang baru, tapi tentang sesuatu yang mendahuli semua itu. Ini tentang membangun ruang- pancang sebuah dunia baru, suatu wadah, di mana tiap kekuatan politik yang berbeda, dengan tanggung jawab dan hak yang setara bisa “memperjuangkan” perolehan dukungan mayoritas masyarakyat. Apa ini mengiyakan hipotesis bahwa kami Zapatista adalah “kelompok reformis bersenjata?” Sepertinya tidak. Kami hanya menegaskan tanpa dukung mayoritas, pada akhirnya akan berbalik menyerang dirinya sendiri. saya tahu tema ini layak dibahas berhalaman-halaman, tapi karena ini cuma sepucuk surat, saya utarakan tema-tema untuk diperdalam pada lain kesempatan dan untuk menyulut debat serta diskusi (yang sepertinya jadi “keahlian khusus” di perkampungan Zapatista). Poin ketiga bukan tentang watak revolusi, tapi tentang hasilnya. Wadah yang dihasilkan-nya, hubungan politik baru itu, harus memenuhi tiga syarat: demokrasi, kebesan, keadilan. Singkatnya, kami tidak sedang mengajukan sebuah revolusi ortodoks, tapi sesuatu yang lebih sulit: sebuah revolusi yang memungkinkan terjadinya revolusinya. . .

III FRONT OPOSISI LUAS Fragmentasi dalam tubuh kekuatan opisisi membuat sistem Negara-Partai bukan cuma sanggup menahan serangan, namun juga mengkooptasi dan melemahkan kelompok oposisi tersebut. Sistem Negara-Partai tidaklah cemas akan radikalitas kekuatan-kekuatan yang menentangnya, ia cuma kuatir pada akhirnya mereka bersatu. Dengan membagi-bagi kekuatan politik yang menentang rezim, hal ini membolehkan sistem Negara-Partai bernegosiasi atau “berjuang” menaklukan “kepuluan” politik yang membentuk kelompok oposisi. Mereka menerapkan hukum perang, “penghematan tenaga tempur” :untuk musuh yang tersebar dalam nukelus-nulekus kecil dipusatkan untuk melawan masing-masing nukleus, dengan mengisolasinya satu dari yang lain. Nukelus-nukelus oposisi ini tidak melihat bahwa mereka sebenarnya menghadapi SATU musuh saja, melainkan BANYAK musuh. Dengan kata lain, meteka menekankan apa yang membuat mereka sama (musuh yang mereka hadapi: sistem Negara-Partai). Tentu saja yang kita maksud di sini adalah oposisi yang jujur dan sungguhan, bukan oposisi wayang golek. Penyebaran kekuatan oposisi ini memungkinkan sistem untuk “mengepumg” dan menduduki (atau meniadakan) tiap-tiap “pulau”. Persatuan “pulau-pulau” ini akan jadi masalah serius bagi sistem Negara-Partai, namun persatuan, debgan berdiri sendiri, belumlah cukup untuk menumbangkan rezim. Kehadiran dan aksi “elemen ketiga”: rakyat Meksiko, tetaplah di karakteristik tertentu sebuah kelas sosial? Ya, namun itu bukanlah karaktristik yang paling “mencolok”. Yang paling kentara adalah skeptisismenya serta rendahnya kepercayaan pada politik, atau organisasi politik. Kalau kami berkata “rakyat Meksiko” sekarang, itu artinya kami sedang menyajikan masalah, bukan solusi. Masalah dan kenyatan yang terus-menerus menghadirkan diri dan mengatasi semua skema terotitis di satu sisi serta kontrol resmi di sisi lain. Persatuan “kepuluan” ini menghadapi banyak rintangan. Satu di antaranya, namun bukan satu-satunya, adalah perbedaan watak persatuan itu. Kesatuan atau organisasi kelas-kelas yang ditindas, versus kesatuan aneka ragam kelas. Dari sinilah subdivisi-subdivisi bermunculan. Apakah pendirian ledua front itu bisa berjalan secara sejajar atau yang satu menandingi yang lain? Kami percaya hal itu bisa, bahwa mereka tidak bertentangan satu sama lain. Lagi pula, barangkali ada baiknya bertanya pada cermin ketiga, pihak yang hendak “dimerdeka-kan” “atau”ditebus”. Bertanya, jawab. Bicara, dengarkan. Itulah dialog. Dialog nasional.

(Akhir artikel, janji telah digenapi).

Demikianlah Tuan. Saya yakin gaya bahasa saya layak dicetak di bawah slogan “melalui rakyatku, batu karang berbicara”, dan tidak seperti gaya bahasa pengusung perisai saya itu, yang meskipun orangnya jujur dan loyal, cenderung memandang hidup sebagai permain-an antara kaca dan cermin

Vale. Demi kesehatan dan vitalitas! Kaca itu ada di suatu tempat. Cuma bagaimana menemukannya. . .

Dari entah-siapa-yang-tahu kilometer berapa ini di jalan raya entah, meski jelas ada di meksiko. Don Durito dari Rimba Lacandon Meksiko, Mei 1995.

HARI YANG BAKAL TIBA. KACA DIPANDANG DARI SISI SEBERANGNYA. Dipotong di sisi sebaliknya, sebidang cermin berhenti jadi cermin dan berubah jadi kaca. Cermin dipakai untuk memandang dari sisi ini dan kaca di pakai untuk memandang dari sisi sana. Cermin untuk dipotong. Kaca untuk dipecah. . . Serta lintasan ke sisi sebrang. . .

Dari pegunungan Meksiko Tenggara Subcomandante Insurgente Marcos Meksiko, Febuari – Mei 1995.

N.B. Bahwa, bayangan dari yang riil dan yang imajiner itu, mereka mencari, di antara sekian banyak cermin, sepotong kaca untuk dipecah.

DURITO III (Neo-Liberalisme dan Gerakan Buruh)

Tulisan ini diambil dari buku Atas dan bawah, topeng dan keheningan, komunike-komunike Zapatista melawan neolibralisme

Kepada majalah berita mingguan Proceso Kepada surat kabar nasional La Jornada kepada surat kabar nasional El Financiero  kepada surat kabar lokal San Cristobal de las Casas, Chiapas Tiempo

15 April 1995                    

Tuan-tuan sebuah komunike untuk kebaktian malam. Di sini April menyamarkan diri ibarat Maret, dan Mei mulai mengepakkan sayapnya pada kembang-kembang yang nyasar, merah warnanya, di antara begitu banyak hijau. Aku belum lelah berharap dan putus harapan di tengah jengkerik yang banyak ini. Malahan, aku berencana mendirikan perkumpulan Nafas Terengah yang aku yakini bakal sukses di Mexico City. Saat surat ini tiba, Pekan Suci akan sekali lagi jadi pekan biasa. Beberapa lama lagi kebohongan ini akan bertahan?

Vale.                      

Demi kesehatan, serta semulut penuh udara segar yang kata mereka berhembus di pegunungan dan yang oleh beberapa orang buangan dinamakan “harapan”.    

Dari pegunungan Meksiko Tengara Subcomandante Insurgente Marcos Meksico, April 1995.

N.B. – Maka teruslah ia mengungkap luka hatinya di pagi buta, dan menyajikan pada seorang dara nun jauh di sana sekarang kecil bunga anyelir merah yang tersembunyi dalam sepotong kisah berjudul

Durito III (Neo-liberalisme dan Gerakan buruh). . . Bulan bak buah badam pucat. Gerai-gerai perak mempertajam pohon dan tetumbuhan. Jengkerik tak kenal henti memaku daun-daun putih pada batangan pohon, tak beraturan seperti bayang-bayang malam di bawah sana. Hembusan angin kelabu mengusik pohon-pohon dan kegelisahan. Durito tidur di cambangku. Bersin yang kulontarkan membuat lelaki bersenjata itu jatuh bergulung-gulung ke lantai. Durito membereskan diri dengan hati-hati. Untuk cangkang tubuhnya yang telah lapuk. Durito mengenakan separuh tempurung cololti (sejenis spesies kemiri asli dari hutan Lacandon) di kepalanya dan menggengam tutup botol obat bak sebuah perisai. Excalibur disarungkan dan sepotong tombak (yang secara mencurigakan mirip dengan jepitan kertas) melengkapi dandanannya. “Terus apalagi?” Tanyaku sembari mencoba, tanpa hasil, membantu Durito dengan jariku. Durito membenahi tubuhnya, maksudku, baju ziarahnya. Ia menghunus Excalibur, berdehem dua kali, lantas mengucap dengan suara berat. “Fajar menyingsing, wahai pengusung perisai tempurku! Tiba saatnya membenahi perbekalan dan beranjak, terang hari menegakkan bulu tengkuk Apollo kala ia mengintai jagat! Tiba masanya para ksatria tak berumah berkelana, memburu petualangan yang bakal mempertinggi martabatnya di penjelang tatap mata terpana para perawan, yang menghalangi mereka, bahkan untuk sejenak saja, mengatup mata mencari lupa dan ketenangan!” Aku menguap dan membiarkan kelopak mataku terkatup mencari lupa dan ketenangan. Hal ini rupanya menjengkelkan Durito dan ia melantangkan suaranya, “pergi kita menuju para perawan khilaf, membereskan para janda, melepaskan para bandit, dan membui kaum melarat.”   “Kedengarannya persis progam pemerintah,” kataku dengan mata memejam. Durito rupanya tak berniat pergi sebelum membangunkanku benar-benar “bangun, bedebah! Camkan kau harus mematuhi Tuanmu kapanpun kemalangan atau petualangan menimpanya.” Ahkirnya kubuka mata dan menatapnya. Durito lebih mirip tank bobrok ketimbang ksatria pengembara. Aku ingin menjernihkan keraguanku, jadi kutanya ia. “Siapa kau sebenarnya?” “Ksatria kelana aku ini, bukan seperti mereka yang namanya pupus oleh sejarah, melainkan mereka yang, di samping semua keirihatian, semua penyihir yang menciptakan persia, kaum Brahmana india, para wanita sofis Ethiopia, bakal menorehkan namanya di kuil keabadian dan bertahan sebagai abad-abad mendatang, tempat ksatria-kesatria kelana lainnya akan melihat langkah apa yang harus diikuti, demi menggapai puncak dan kehormatan tertinggi keprajuritan,” jawab Durito sambil memperagakan gerak tubuh yang, menurutnya, paling gagah berani. “Kedengarnnya seperti. . . Seperti. . .” Aku mulai berkomentar tapi Durito memotongku. “Diam, rakyat jelata tebal muka! Kau berpura-pura memfitnahku dengan berkata bahwa yang mulia berbakat Don Quixote de la Mancha mencontek ucapan-ucapanku. Dan kini, karena kita sampai di masalah ini, aku harus berkata bahwa banyak orang bilang kau memboroskan ruang dalam surat-suratmu. Daftar pustaka, huh! Kalau kau terus-terusan begitu kau bakal seperti Galio yang menyitir enam atau tujuh penulis hanya untuk menutupi sinismenya.” Aku merasa sangat sakit hati oleh komentar yang menyerobot ini memustuskan pokok pembicaraan. “Yang di kepalamu itu. . . Sepertinya tempurung Cololti.” ” topi baja, dungu ” kata Durito. “Topi baja? Mirip tempurung berlubang-lubang,” aku ngotot. “Cololti. Topi baja. Mahkota keagungan. Itu titahku, Sancho,” kata Durito sembari membenahi topi bajanya. “Sancho. . .” Aku terbata-bata, berkata, bertanya, protes. “Sudahi adu pendapat ini dan lekaslah hingga kita bisa pergi. Pedangku yang tak kenal lelah telah mentolelir begitu banyak ketidakadilan dan mata tajamnya tak sabar menikam leher serikat-serikat kerja independen.” Sembari mengucapkan ini. Durito membengkokkan pedanganya seperti seorang tuan tanah dari ibukota. “Kukira kau terlalu banyak baca koran belakangan ini. Hati-hatilah atau mereka akan membunuhmu,” kataku padanya sambil mencoba mengulur-ulur waktu untuk bangun. Durito sejenak menanggalkan gaya bahasa XVI nya dan menjelaskan dengan bangga bahwa ia kini telah punya kuda tunggangan. Ia bilang bahwa kudanya setangkas kilat bulan Agustus, sehening angin bulan Maret, sejinak hujan bulan September, dan sehebat apalagi lainnya yang tak bisa kuingat, namun berkaitan dengan sifat baik tiap-tiap bulan. Mungkin aku terlihat meragukan, sehingga Durito mengumumkan dengan khidmat bahwa aku mendapat kehormatan untuk melihat kuda tunggangnya. Aku duduk, dan berfikir mungkin dengan begini aku bisa tidur sejenak. Durito pergi, dan baru kembali setelah sekian lama, dan akibatnya, aku jatuh tertidur. . . Sebuah suara membangunkanku “A-h-h-hem-m-m!” Ternyata Durito, dan ia sedang menunggu sesuatu yang membuat keterlambatannya jadi masuk akal: seekor kura! Dengan langkah yang Durito sebut “derap kaki gemulai”, yang bagiku terlihat begitu hati-hati dan lambat, kura-kura itu mendekatiku. Di atas kura-kuranya (mereka menyebutnya coc dalam bahasa Tzeltal), Durito mendongak dan bertanya “Jadi, bagaimana rupaku?” Aku melongo melihat ksatria kelana satu ini yang entah bagaimana bisa sampai di kesunyian rimba Lacandon, dan tetap hening untuk menghormatinya. Penampilanya “khas”. Durito mentahbiskan kura-kuranya, eh maaf, kudanya dengan nama yang terdengar halusinatif: Pegasus. Tanpa ragu, Durito menulisi pelana kura-kura itu, dengan huruf bessr-besar dan tegas “pegasus. Hak cipta dilindungi Undang-undang” dan di bawahnya “Kencang-kan sabuk pengaman Anda”. Aku hampir tak bisa menahan diri untuk membandingkannya dengan progam perbaikan ekonomi, saat Durito membalikkan tunggannya agar aku bisa melihat sisi satunya. Gerakan Pegasus menyita waktu, sekalipum Durito sesumbar tentang “putaran kilat kudanya”, yang sebenarnya cuma putaran lambat. Kura-Kura itu melakukannya begitu hati-hati sampai orang akan menyangka ia takut pusing. Setelah sekian menit, terbacalah di sisi kiri Pegasus “Lajur khusus perokok”, “Serikat usaha tidak diperkenalkan”,”Ruang kosong untuk iklan. Hubungi perusahaan penerbitan Durito”. Aku yakin, aku tidak bisa melihat banyak ruang kosong karena tulisan advertensinya saja sudah menutupi semua sisi kiri dan belakang Pegasus. Setelah memuji visi wirausaha maha-mini dan mikro dari Durito, satu-satunya cara untuk selamat dari kegagalan neoliberalisme dan NAFTA, aku bertanya padanya, “Jadi, ke mana sekarang masa depan membawamu?” “Jangan membadut. Ucapan macam itu hanya layak untuk kaum ningrat dan tuan-tuan tanah dan bukan untuk para gembel dan rakyat jelata yang, jika bukan karena keharuanku yang tak berbatas, akan terus hidup dalam hampa dan takkan pernah bisa mengimpikan semua rahasia dan keajaiban hidup ksatria kelana.” Durito menjawab sambil berhusaha kekang Pegasus yang entah kenapa tampak tak sabar ingin pergi. “Untuk pukul 2 dini hari, cukup sudah aku dimaki-maki,” kataku ke durito. “Kemampuan kau pergi, pergilah sendiri. Aku tak berencana keluar malam ini. Kemarin Camilo menemukan jejak macan, dekat-dekat sini.” Rupanya kutemukan sisi lemah ksatria kita yang perkasa, karena suaranya tercekat saat ia bertanya, setelah berhusaha susah payah menelan ludah “Memang apa makanan macan-macan itu? “Apapun. Gerilayawan, tentara, kaumbang. . . Dan kura-kura!” Aku tunggu reaksi Pegasus, tapi ia tampak kuatir sedikit pun. Sepertinya, aku malah mendengar rengekan pelan. “Bah! Kau cuma ingin menakutiku karena kau tahu Ksatria bersenjata ini telah mempertakluk raksasa-raksasa yang menyamar bagai kincir angin, menyamar bagai helikopter-helikopter artileri, ia telah mempertekuk lutut kerajaan-kerajaan yang paling tak terhembus, mendrobrak pertahan putri-putri yang paling berlagak alim, telah. . .” Kupotong ucapan Durito. Jelas bahwa ia sanggup berceloteh berhalam-halaman dan akulah yang bakal dipersalahkan oleh para redaktur, khususnya kalau komunike-komunike ini tiba larut tengah malam. “Iya deh, iya. Tapi katakan, kau mau ke mana?” “Ke Distrik Federal,” Jawab Durito, membengkokkan pedanganya. Tujuan akhir ini mengejutkan Pegasus, karena ia tampak sedikit terlonjak, yang bagi seekor kura keluar deperti desahan pelan. “Meksiko?” Tanyaku, tak percaya. “Jelas Kau pikir hanya karena Cocopa (badan negosiasi pemerintah) menolak menerimamu, hal itu akan menyurutkanku?” Aku mewanti-wanti Durito agar jangan omong jelek soal Cocopa karena para legislator itu begitu sensitif dan nanti mereka marah-marah selama TRIBUNA, namun Durito tetap melanjutkan: ” Kau mesti tahu kstaria kelanalah aku ini, dan lebih Meksiko ketimbang gagalnya perekonomian neoliberal. Bagaimanapun aku berhak pergi ke “kota penuh istana”. Untuk apa mereka membangun istana-istana itu di DF kalau bukan karena ksatria-ksatria kelana seperti diriku, yang paling masyhur, paling perkasa, paling disegani kaum lelaki, dicinta kaum wanita, dan dipuja anak-anak, harus menghormatinya dengan langkah-langkah kakiku?” “Dengan kakimu yang banyak itu, aku mengingatkanmu bahwa di samping seorang ksatria kelana dan seorang Meksiko, kau juga seekor kumbang. . .” Kuralat omomgannya. “Dengan satu atau banyak kaki, tetap sebuah istana tanpa ksatria kelana bertandang, bagaikam bocah tanpa hadiah di tanggal 30 April, seperti pipa tanpa tembakau, buku tanpa kata, lagu tanpa nada, ksatria tanpa perisai. . .” Dan Durito menatapku lekat-lekat lalu bertanya: “kau yakin tak mau ikut dalam petualangan menebarkan ini?” “Tergantung,” jawabku, pura-pura tertarik, “tergantung apa yang kau maksud dengan mendebarkan.” “Aku pergi ke karnaval 1 Mei,” kata Durito, seolah’olah ia sedang mengumumkan keberangkatan ke ujung sebatang sigaret. “Karnaval 1 Mei! Tapi itu kan nggak ada! Fidel Velazquez, yang selalu prihatin denggan kondisi ekonomi buruh, bilang tak ada dana untuk karnaval. Suara-suara sumbang menyendirinya bahwa ia takut para buruh akan lepas kendali, dan bukannya berterima kasih pada yang kuasa, mereka malah mencacinya dengan umpatan-umpatan yang dibenci para kartunis. Namun itu bohong, Menteri perburuhan bilang bahwa masalahnya bukan takut, hal itu hanyalah putusan saaaangat menghargai kondisi buruh. . .” “Cukup, hentikan ocehan karnaval itu. Aku pergi ke karnaval 1 Mei untuk menantang duel Fidel Velazquez, yang seperti semua orang tahu, adalah gergasi keji penindasan rakyat jelata. Akan kutantang ia distadion Aztec, guna meningkatkan perolehan box office, karena sejak mereka melepas been haker (jangan mencelaku kalau aku tak mengejanya dengan benar, bahkan para sutradara Amerika sendiri tak bisa mengejanya, meski merekalah yang menuliskan ceknya), belum pernah burung-burung hering bersua dengan “elang”, Durito hening sejenak dan menatap tafakur pada Pegasus, yang jatuh tertidur karena tak juga bergerak. Lantas Durito bertanya padaku. Menurutmu Fidel Velazquez punya kuda tidak?” Aku meragukannya. “Ya. . . Dia itu seorang CHARRO [harafiahnya berati koboi, tapi dalam logat slang Meksiko artinya SERIKAT USAHA, terj.]. . . Jadi mungkin ia punya kuda”. “Hebat,” kata Durito sambil memacu kekang Pegasus. Pegasus boleh saja berfikir dirinya seekor kuda, tapi tubuhnya tetaplah seekor kura dan cangkang tebalnya mebuktikan hal itu, karenanya ia tak merasa apa-apa saat Durito berteriak-teriak sambil menghelanya. Setelah berjuang sesaat, Durito tahu bahwa dengan menusukan jepitan kertasnya, eh maaf, tombaknya kehidung Pegasus, ia bisa membuatnya melaju berderap. Untuk seekor kura, itu sama artinya dengan 10 sentimeter perjam, jadi Durito akan sangat lama sebelum ia tiba di Distrik Federal. “Dengan kecepatan sebegitu,, mereka akan sampai saat Fidel Velazquez wafat,” aku berkata dalam hati. Semestinya aku tak berkata apa-apa. Durtio menarik tali kekangnya dan menghentikan kudanya seperti Pancho Villa mengendari Torreon. Aih, itu penggambaran literer yang indah. Pegasus berhenti, namun dengan kecepatan seperti itu hampir tak terlihat bedeanya. Kontras dengan ketenangan Pegasus, Durito terlihat berapi-api: “Kau ini seperti para penggagas gerakan buruh puluhan tahun belakangan. Mereka serukan kesabaran bagi kaum buruh, lantas duduk dan menunggu jatuhnya serikat-serikat usaha, tanpa berbuat apa-apa untuk mengulingkannya.” “Ah, tidak semuanya cuma duduk menunggu. Beberapa benar-benar memperjuangkan gerakan buruh independen yang sejati.” “Akan kutemui orang-orang itu. Aku akan bergabung dengan mereka untuk menunjukkan bahwa buruh pun punya harga diri,” kata Durito, dan aku ingat ia pernah cerita bahwa ia dulu penambang di negara bagian Hidalgo dan buruh minyak di Tabasco. Durito pergi. Butuh beberapa jam untuk menghilang ke balik sesemakan yang cuma beberapa meter jaraknya dari tenda plastikku. Aku bangun dan sadar sepatu larsku yang kanan hilang. Kuyalakan senter dan menemukan. . . Tali sepatuku hilang juga! Tak heran kalau tali kekang Pegasus sepertinya aku kenal betul. Sekarang aku harus menunggu sampai Durito balik dari Meksiko. Aku mencabuti alang-alang untuk mengikat sepatuku dan ingat bahwa aku lupa menganjurkan agar Durito pergi kerestoran bertegel itu. Aku berbaring dan tibalah fajar. . . Di atasku langit cerah, dan dengan mata biru yang kemereahan, terkejut aku menjumpai Meksiko masih di sana, seperti hari kemarin. Kusulut pipa, memandangi gurat penghabisan malam tinggalkan pohonan, dan mengucap ke diriku sendiri bahwa perjuangan ini masih akan lama dan layak diperjuangkan. . .

1 BAB XLVII “Perihal cara ganjil yang memikat Don Quixote de la Mancha, serta Peristiwa-peristiwa lainnya”

N.B. DENGAN WAJAH SEPURNAMA REMBULAN, IA MENATAP LURUS KE ARAH HUTAN BERTANYA. . . Siapakah lelaki yang menderu ia atas bayangan compang camping itu? Kenapa ia tidak mencari penghiburan? Kenapa ia mencari luka-luka baru? Mengapa ada begitu banyak perjalanan dengan tetap tegak di tempatnya? Siapakah ia? Hendak ke mana ia? Kenapa mengucap selamat tinggal dengan begitu banyak kegaduhan?

N.B. UNTUK CND (Konvensi Nasional Demokratis) YANG TAK TAHU HARUS BERJUANG MELAWAN SISTEM ATAU MELAWAN DIRINYA SENDIRI kubaca di suatu tempat, bahwa saat pemerintah berkuasa menyerang kedua belah pihak, CND menyerang dirinya sendiri. Tentang hal ini dan soal-soal lainnya, berikut baris-baris pendek: Tatkala seorang penyair dengan kumis mengkelabu sembunyi di balik piano menuliskan:

MEKSIKO ADALAH SEKUNTUM KEMBANG JACARANDA YANG TAK PERNAH MENCARI JAMBANGAN CELENG HUTAN YANG MENYOMBONG TENTANG KAUM MUDANYA SEBILAH LEMBING DALAM HATI DARI KEADILAN SASARAN BERSAMAR MUKA DARI CEPAT GERAK TARIAN

Dan karenanya Manuel barangkali benar saat ia berkata “rapat-rapat sentra kolektif dukungan warga sipil” tak beda dengan kumpul-kumpul bagi rasa antar” para pecandu alkohol” atau “orang-orang yang kelebihan berat badan”. Barangkali ada yang lebih bisa dipelajari dari pertemuan-pertemuan ini ketimbang dari majelis-majelis partai. Apalagi, CND lahir dengan gagasan persatuan, dan bukan dengan niat memasuki pasar langganan partai. Telah dan tetap perlulah sebuah rencana yang melibatkan kelompok mayoritas dan nilai-nilai terbaik keinginan warga sipil. CND telah (dan masih?) Punya rencana itu. Janganlah ia jadi senjata politik ezetaelene (EZLN) atau sebuah partai baru atau kedudukan baru yang dienggani namun sulit ditolak dari sayap kiri Meksiko yang tak beraturan. Ia harus jadi wadah bagi pertemuan-pertemuan imajinatif dan proposal bagi perubahan demokratis, dan imajinasi serta proposal itu, yang paling segar, yang paling berani, datang dari masyarakat sipil, bukan dari lingkaran politik, atau organisasi-organisasi politik. Panji yang dibawanya bersifat nasional, mengatasi segala partai dan kelompok bersenjata. Dari wadah pertemuam ini harus lahir proposal-proposal yang bisa diterapkan, dengan imajinatif, pada pemerintahan, pada partai-partai, pada ezeta (EZ), dan pada dirinya sendiri. Kapal tersebut tak ingin tiba pada pelabuhan kekuasaan. Dengan pengertian itu ia tidak tunduk pada premis-premis sinis nan pragmatis dari Galiano-Machiavelli, namun ia sungguh ingin tiba pada pelabuhan sebuah negara yang tak punya jalan balik ke arah kegelapan, sebuah negara demokrasi, kemerdekaan, dan keadilan. Adakah tambatannya? Lempar semua keluar! Cuma sedikitkah yang tersisa? Imajinasi akan menggantikan kuantitas dengan kualitas! Masyarakat sipil harus belajar banyak dari dirinya sendiri, dan sedikit saja dari lingkaran politik (dengan segenap spektrum warna, rasa, dan sinismenya). Ini bukanlah wadah bagi orang-orang antipartai, tapi wadah bagi mereka yang tak berpartai! Maka masyarakat sipil akan, di tengah ancaman perang kotor ini (meski aku tak percaya, ada perang yang bisa disebut bersih), membuat Dewi Kemerdekaan meluncur menurun pilar dan bercakap-cakap bersama Juarez, Columbus, serta kakek tua Cuahtemoc Diana yang baik akan menggapi bintang-bintang, dan kemenengan yang takabur akan mabuk oleh kabut asap. Masyarakat sipil akan mewujudkan realitas-realitasnya yang tak diajukan: dialog-dialog sipil di tengah kawanan tank, senapan mesin dan meriam: kampaye bantuan kemanusiaan di tengah-tengah krisis yang melanda serta standar hidup yang makin mahal, demi keuntungan kaum yang paling rapuh dan dimiskinkan: masyarakat adat. Jika CND bukankah wadah yang memadai untuk prakasra yang satu dan lainnya ini, pembakangan tak resmi namun efektif akan memberontak lepas dari jaket pengekang itu. Lalu apa? Ia akan menemukan wadahnya sendiri. CND akan jadi akronim berikutnya, bergabung bersama akronim-akronim lain yang tak efektif. Ada banyak yang mesti dipelajari negeri ini punya pertaruhan besar untuk belajar dari dirinya sendiri.

N.B. KEPADA YANG BERKEPENTINGAN DALAM PEMERINTAH BERKUASA Ada sejenis kaca yang dipotong begitu rupa hingga ia punya banyak sisi, mirip prisma multifaset. Kaca ini direkatkan pada lubang teropong kecil yang terbuat dari kayu, seperti lensa mata. Melewati kaca ini, cahaya berpendar banyak. Kalau ia diputar atau dipindah, ia menyuguhkan banyak konfigurasi baru. Adalah ia satu berkas cahaya yang sama yang pecah jadi banyak cahaya? Ataukah ia banyak cahaya yang terkurung dalam satu lensa mata? Ataukah ini cuma konfirmasi bahwa tak ada yang khas bahkan dalam apa yang paling jelas terlihat? Satu cahaya atau banyak cahayakah yang bisa dibedakan, dikenali, dan diapresiasi oleh seorang pengamat? Dan terahkir, bayangkan lensa mata kecil itu, apakah ia seberkas cahaya banyak macro (bingkai) atau sepotong marco (bingkai) dengam banyak cahaya?

Vale. Sekali lagi. Demi kesehatan, dan hanya dengan tiba di nerakalah kita bakal tahu jawabanya

El Sup, dengan anyelir merah di kelepaknya, berpura-pura memerankan sepotong kaca dan sepotong cermin.

Durito II 

Neoliberalisme Dipandang dari Rimba Raya Lacandon

Tulisan ini diambil dari buku Atas dan bawah, topeng dan keheningan, komunike-komunike Zapatista melawan neolibralisme

Kepada Proceso, El Financiero, La Jornada, Tiempo kepada pers nasional internasional

11 Maret 1995

Tuan-tuan, Komunike yang muncul menunjukkan bahwa manusia merupakan satu-satunya hewan yang berani ambil risiko untuk jatuh dua kali dalam perangkap yang sama. Pastilah baik jika mereka mengirim satu kopi undang-undang yang banyak disebut-sebut itu kepada tentara federal. Mereka tampaknya belum diberi tahu, karena mereka terus saja merangsek maju. Jika kami terus mundur kami akan menabrak rambu bertuliskan “selamat Datang di perbatasan Ekuador – peru”. Bukan-nya kami tidak menerima perjalanan ke amerika selatan ini, tapi ada di tengah-tengah tiga peperangan pastilah bukan hal menyenangkan. Kami baik-baik saja. Di sini di dalam hutan, orang bisa memahami, dalam segenap kekasarannya, tranfomasi manusia menuju monyet (antropolog, abstain). Maju terus. Demi kesehatan, dan satu dari sekian kristal yang membolehkan Anda melihat masa kini dan masa depan.

Dari pegununggan Meksiko Tengara Subcomandante Insurgente Marcos Meksiko, Maret 1995.

N.B YANG BERTANYA CUMA KARENA INGIN TAHU nama jendral Tentara federal yang, sebelum kembali dari ejido Prado, memerintahkan pemunashan semua harta benda di rumah-rumah penduduk asli serta pembumihanguskan beberapa buah gubuk? Di Prado mereka bernafkah, ambil rata-ratanya, 200 peso per bulan per- keluarga; beberapa besar yang jendral itu peroleh dari aksi militer yang begitu “brilian” tersebut? Akankah mereka menaikkan pangkatnya karena “jasa-jasa militernya”? Adakah jendral tahu salah satu rumah yang diperintahkannya untuk dihancurkan adalah rumah Toñita? Akankah jendral ini bercakap-cakap dengan anak cucunya mengenai lembaran “gilang gemilang” dari catatan kerjanya ini? Siapa nama pejabat yang, berhari-hari setelah merusak dan menghancurkan rumah-rumah di ejido Champa San Agustin, kembali membawa permen dan berfoto saat sedang membagi-kannya ke anak-anak? Siapa nama pejabat yang sok menyamai tokoh protagonis dalam novel Pantaleon dan The Visitors karya Mario Vargas LIosa, membawa lusinan pelacur untuk “mengurus” garnisun yang menduduki Guada-lupe Tepeyac? Beberapa yang diminta pelacur-pelacur itu? Berapa yang jendral dapatkan dari ia yang berwenang mengatur oprasi militer yang “riskan” tersebut? Berapa banyak komisi yang si “pantaleon” Meksiko itu dapatkan? Apakah untuk para petinggi dan prajurit pelacurnya sama? Apakah “layanan” ini berlaku untuk semua garnisun dalam oprasi militer “demi mempertahankan kedaulatan nasional”? Jika Tentara Federal Meksiko ada untuk menjamin kedaulatan nasional, tidakkah lebih baik mereka menemani Otiz ke Washington, ketimbangan menganiaya martabat penduduk asli Meksiko di Chiapas?

N.B YANG HARUS MENYEPUH HATINYA DENGAN BAJA SEKALI LAGI UNTUK MENGISAHKAN YANG BERIKUT INI… Tanggal 8 Maret, para pemukim Prado telah seluruhnya turun gunung. Keluarga Toñita ambil bagian dalam kontingen terahkir. Tatkala mereka mendapati apa yang tersisa dari pondok-pondok kecil mereka, yang terjadi pada semua keluarga Toñita: laki-lakinya, tak berdaya dan marah, memandangi puing-puing yang masih tegak berdiri; para perempuannya menangis sambil menjambaki rambut mereka, berdoa mengulang-ulang, “ya Tuhan, ya Tuhan”, sembari memunguti cuilan-cuilan kain, beberapa potong kecil perabot, bahan pangan yang tumpah ruah campur tahi, gambar perawan dari Guadalupe yang pecah-pecah, salib Kristus tercampak dengan bungkus “fast food” tentara AS. Kejadian ini sudah mirip upacara di antara para pemukim Prado. Mereka telah mengulangnya 108 kali selang beberapa hari terahkir, satu kali tiap satu keluarga. 108 kali ketidak berdayaan, amarah, air mata, jeritan “ya Tuhan, ya tuhan…” walau begitu, kali ini ada sesuatu yang beda. Ada seorang gadis cilik yang tidak menangis. Toñita tidak berkata apapun, tidak menangis, tidak menjerit. Ia langkahi reruntuhan itu lurus menuju pojokan rumah, seperti sedang mencari-cari sesuatu. Di sana, di sudut yang terlupa, tergolek cangkir teh kecil, pecah, tercampakkan seperti harapan yang berantakan. Cangkir kecil itu hadiah, seseorang mengiriminya, agar suatu hari nanti Toñita dan Alice bisa minum-minum teh bersama Mad Hatter (Si Topi Sinting) dan March Hare (Si Kelinci Maret). Tapi kali ini bukanlah kelinci yang ia jumpai di bulan Maret. Melainkan rumahnya yang hancur luluh oleh perintah dia yang mengatasnamakan kedaulatan dan hukum. Toñita tak menangis, tak menjerit, tak berkata apapun. Ia punguti pecahan-pecahan cangkir kecil itu serta lepek yang mengalasinya. Toñita berlalu, sekali lagi melewati kain robek-robek nan kotor di tanah, melewati jagung dan butiran buncis yang berserakan di reruntuhan, di antara ibunya, bibi-bibinya, kakak-kakak perempuannya yang terisak, menangis, dan mengulang-ulang “ya Tuhan, ya Tuhan.” Di luar, dekat pohon jambu, Toñita duduk di tanah dan dengan lumpur dan sedikit ludah, mulai merekatkan potongan-potongan cangkir itu lagi. Toñita tak menangis, tapi ada kecerdasan yang keras dan menggigilkan dalam tatapan matanya. Dengan brutal, seperti semua perempuan adat selama 500 tahun terahkir ini, Toñita meninggalkan masa kanak-kanaknya dan mengukuhkan diri jadi perempuan dewasa. Tanggal 8 Maret 1995 itulah, hari perempuan sedunia, Toñita yang berumur 5 tahun, beranjak 6 tahun. Kecerdasan yang dingin dan menyayat dalam matanya itu menyelamatkan, dari cangkirnya yang pecah, kerlap-kerlip yang terluka. Orang bisa saja bilang bahwa mataharilah yang mempertajam kepahitan yang di tabur oleh penghianatan di negeri ini. . . Seakan-akan sedang menyatukan hati yang terkoyak, begitulah Toñita menempel-nempelkan cangkir teh kecilnya yang pecah dengan lumpur campur liur. Sementara seseorang, nun jauh di sana, sejenak lupa bahwa dirinya manusia. Tetesan-tetesan asin yang bercucuran dari wajahnya tidak memperkarat dadanya yang dari timah. . .

N.B. YANG MEMPERTARUHKAN “HAL PALING BERHARGA YANG AKU PUNYA ” (rekening dalam dolar?). . . Aku baca bahwa sekarang ada seorang “subcomandante Elisa” , “subcomandante German”, “subcomandante Daniel”, “subcomandante Eduardo”. Jadi aku putuskan untuk membuat resolusi berikut: aku mewanti-wanti kejaksaan Agung, jika mereka terus muncul dengan “sub-sub” lainnya, aku akan melakukan mogok makan total. Aku menuntut, lebih jauh lagi, agar kejaksaan Agung menetapkan cuma ada satu “sub” (“untung, untung”, kata aku-ku-Yang-lain saat membaca kalimat ini), dan menuntut mereka untuk berhenti mempersalahkanku atas melemahnya dolar terhadap yen jepang dan mark jerman (perhatikan ulangan-ulangan narsis itu). (Jangan kirim aku ke Warman, kumohon!)

N.B. YANG MENYATAKAN BAHWA JANJI-JANJI YANG TERTUANG DALAM SONETA TELAH DI TERIMA DAN KEMBALI DENGAN. . . Tatkala, malu di hadapan nasib dan pandangan orang, Aku sendiri yang terbuang, Merecoki surga yang tuli dengan tangis yang sia-sia, Dan memandangi diri mengutuki takdir, Berharap serupa dia yang lebih kaya pengharapan, Berlagak sepertinya dengan kerabat disandingnya, Menafsukan gaya ini orang dan kesempatan itu orang, Dengan apa yang paling kusuka lanjut sepuas-puasnya, Tapi dalam pikiran-pikiran macam ini diriku hampir terhina, Tak sengaja aku membayanganmu, lalu aku, Seperti burung pengicau di fajar hari menyongsong, Dari bumi yang cemberut lantunkan himne ke gerbang surga Bagi cintamu yang manis teringat makmur apa yang dibawa Dari situ ku muak bertukar rupa dengan raja-raja William Shakespeare, Soneta XXIX

N.B. YANG BERCERITA TENTANG APA YANG TERJADI TANGGAL 17 DAN 18 FEBUARI 1995, HARI KEDELAPAN DAN KESEMBILAN PENARIKAN MUNDUR “Ikuti ujung anak panah yang mengganda.” “Melebar seperempat, menyusup ke Timur,” seingatku, dan mengulang-ulangnya dalam hati saat kami mendekati padang-padang rumput. Kami harus menunggu. Di atas, pesawat tempur menghujani dengungan mautnya. Aku-ku-Yang-Lain mulai bersenadung pelan, “dan mereka memberi kita sepuluh dan sebelas, dua belas, satu, dua, dan tiga. Tersembunyi saat fajar tiba, kita kuyup kehujanan. . . “Aku mebuat tanda mengancam agar ia diam. Ia membela diri: hidupku adalah sepotong lagu karya Joaquin sabina. Pastikan itu bukan lagu cinta – aku menghardiknya, lupa pada laranganku sendiri untuk tidak bicara. Camilo memberitahu pesawatnya sudah pergi. Kami keluar menuju udara terbuka dan berjalan melintasi tengah-tengah padang yang becek akibat hujan. Aku berjalan lurus sambil tengadah ke atas, mencari jawab di tengah gelap bagi pertanyaan-pertanyaan lama. Tapi terlambat sudah – saat kuturunkan mata sehabis berkelana menyusuri Bima Sakti, aku bertemu pandangan pandang dengan seekor kuda jantan yang, menurutku, sama takutnya seperti aku, karena ia berlari pula sekencang aku, hanya arahnya saja berlawanan. Ketika sampai dekat pagar, kulemparkan ranselku lewati kawat duri. Kuseret-seret diriku di bawah pagar. Dan dasar nasib baik, apa yang kukira lumpur ternyata tai kerbau. Camilo tertawa tergelak-gelak. Aku-ku-Yang-lain bahkan sampai cegukan. Mereka berdua duduk dan aku membikin isyarat-isyarat menyuruh mereka diam. – Ssstt, tentara akan mendengar kita! – tapi percuma, mereka tertawa dan terus tertawa. Aku mencabut segenggam rumput liar untuk mengelap, sebisa mungkin, tai dari baju dan celanaku. Kupanggul ranselku dan melanjutkan perjalan. Di belakang, Camilo dan Aku-Ku-Yang-Lain mengikuti. Mereka sekarang tidak lagi tertawa. Saat bangun, mereka sadar bahwa tai jugalah yang mereka duduki. Sambil menarik perhatian sapi-sapi dengan bau yang mengoda ini, kami ahkirnya selesai melintasi padang rumput luas yang dialiri sungai kecil tersebut. Saat kami tiba di zona yang berhutan-hutan aku melihat jam tangangku. 02.00. “Waktu bagian Tenggara,” demikian Tacho akan berkata. Kalau nasib mujur dan hujan tak turun, kami akan sampai di kaki gunung sebelum fajar. Dan memang demikian. Kami berjalan melewati jalur tua yang dibabat antara pohonan besar yang rapat bersanding, menandakan betapa perawannya hutan ini. Hutan yang benar-benar hutan, cuma hewan liar, setan, dan para gerilyawan saja yang tinggal di dalamnya. Tak butuh banyak cahaya; bulan masih saja menyusupkan dirinya lewati ranting-ranting, seperti pita putih, dan jengkerik-jengkerik terdiam tiap kali langkah kami menginjak dedaunan kering. Kami sampai di pohon kapuk besar yang menandai gerbang jalan masuk, istirahat sejenak dan, dengan datangnya pagi, bersiap menghadapi beberapa jam ke depan mendaki pegunungan. Jalur itu berkaki-kaki menyesatkan, namun, mengesampingkan secara garis besar. “Ke timur, sampai kau terantuk tembok,” kami katakan itu 11 (?) Tahun yang lalu. Kami beristirahat di tepi anak sungai yang pasti tak mengalir saat musim kemarau. Kami tidur sejenak. Aku terbangun oleh isakan Aku-Ku-Yang-Lain. Kukokang senapan dan kutodongkan ke arah datangnya erangan. Ya, ternyata Aku-Ku-Yang-Lain, mendekap kakinya sambil mengaduh-aduh. Aku mendekat. Tanpa pikir panjang, ia mencoba menarik kaus kakinya dan terlupas pulalah secuil dagingnya. Totol – kataku padanya – kau harus merendamnya lebih dulu. Itu hari kesembilan sepatu lars kami tak pernah lepas. Kain dan kulit, dengan segala kelembaban dan lumpur, akhirnya menyatu, dan melepas kaus kaki sama seperti menguliti dirimu sendiri. Inilah kerugian tidur tanpa lepas sepatu. Kutunjukan pada dia bagaimana caranya. Kami rendam kaki kami dalam air, dan sedikit demi sedikit menarik copot kainnya. Bau kaki seperti bangkai anjing dan kulitmya rusak serta mengelupas putih di mana-mana. – Kau membuatku takut. Saat kulihat kau mendekap kaki, kupikir seekor ular telah mematokmu – aku mengomelinya. Aku-Ku-Yang-Lain tak menggubris, ia terus membasahi kaki sambil memenjamkan mata seakan-akan sedang menjerit. Camilo mulai memukuli tanah dengan pancang. – Apa lagi? – tanyaku. – Ular – jawab Camilo sambil melemparkan batu-batuan, kayu, sepatu lars, dan apa saja yang bisa ia raih Akhirnya sebuah pukulan tongkat menghatam kepala. Kami mendekat takut-takut. – Mococh – kata Camilo. – Nauyaca – sahutku. Sambil terpincang-pincang, Aku-Ku-Yang-Lain mendekat. Ia memasang tampang sok tahu saat berkata: itu Bac Ne’ atau Ular Empat Hidung yang tersohor itu. – Gigitannya mematikan dan bisanya sangat beracun – tambahnya, meniru-niru suara seorang merolico di pasar kota. Kami mengulitinya. Menguliti ular seperti menelanjangi roknya. Perutnya dikupas seperti retsleting panjang, isi perutnya dikosongkan, lantas kulitnya copot jadi lembaran utuh. Tinggal dagingnya, putih dan masih muda. Ditusuk dengan batang tipis lantas dibakar. Rasanya seperti ikan panggang, seperti makabil, yang kami tangkap di sungai Sin Nombre, sungai tanpa nama, 11 (?) Tahun yang silam. Kami melahapnya dengan sedikit pinole (minuman tepung jagung bakar) tambah gula yang diperbekalkan pada kami. Setelah istrahat sejenak, kami menghapus jejak-jejak kami dan melanjutkan barisan persis 11 (?) Tahun lalu, hutan menyabut kami seperti seharusnya: hujan. Hujan di hutan tak seperti di tempat manapun. Pohon-pohon membentuk payung raksasa, hanya beberapa tetesan kecil yang bisa lolos di sela ranting dan daunan. Sesudahnya, atap hijau itu sendiri yang mulai menetes, lantas, mengucur tak terbendung, Layaknya pancuran maha besar, ia terus mengucur, membasahi yang di dalam, meski di atasnya hujan yang asli sudah berhenti. Hujan dalam hutan sebenarnya mirip perang: orang tahu kapan mulainya, tapi tak tahu kapan selesainya. Sepanjang jalan, aku mengenali kembali teman-teman lama: pohon huapac dengan mantel lumut hijaunya yang sahaja, pohon cante yang lurus keras namun semerawut; pohon hormiguillo, pohon mahoni, pohon cedar, pohon chapaya yang tajam dan beracun, lambaian pohon watapil, gigantisme tak proporsional daun-daun pohon pij’, yang terlihat seperti kuping-kuping gajah berwarna hijau, pertumbuhan tegak lurus langit pohon bayalte’, jantung keras pohon canolte’, ancaman cheche’m atau “mala mujer” (perempuan iblis) yang, seperti namanya, bisa menyebabkan demam tinggi, iguan, dan nyeri tak terperi. Pohon dan pohon terus. Cuma coklat dan hijau yang memenuhi mata, tangan-tangan itu langkah-langkah itu, jiwa itu kembali. . . Persis 11(?) Tahun lalu, pertama kali tiba di sini. Lantas kudaki tebing sialan ini dan berpikir setiap langkah berikutnya adalah langkahku terahkir, sambil berucap dalam hati “satu langkah lagi mati aku.” Namun aku terus melangkah, satu demi satu dan aku belum mati juga dan aku terus berjalan dan merasai bawaanku berbobot 100 kilo, dan tentu saja dan itu bohong karena aku tahu aku cuma membopong 15 kilo saja dan “itu cuma karena kau benar-benar baru,” kata penunjuk jalan yang menjemputku lalu tertawa dengan semacam rasa terlibat, dan aku terus mengulang-ulang dalam hati sekarang ini langkahku benar-benar jadi langkah terahkir dan mengutuki saat ketika aku memutuskan jadi seorang gerilyawan, ketika aku bekerja sebagai intelektual organik, dan revolusi punya banyak tugas dan semuanya penting, jadi kenapa aku harus terlibat dengan ini, dan pasti nanti di perhentian berikutnya kukatakan pada mereka cukup di sini dan tidak lagi, dan akan lebih baiklah bila aku membantu mereka dari kota saja, dan aku terus berjalan dan terus terjatuh dan sampailah perhentian berikutnya dan aku tidak berkata apa-pun, sebagian karena malu dan sebagian karena aku tak mampu bicara, megap-megap seperti seekor ikan dalam kolam yang sempit baginya, dan aku membatin, baik, di perhentian berikut akan kuberitahu mereka, sungguhan, dan hal yang sama terjadi lagi dan akhirnya aku melewati 10 jam di hari pertama itu berjalan melintasi hutan dan sekarang, menjelang senja, mereka bilang: kita bermalam di sini, dan aku jatuh terduduk begitu saja, dan berkata ke diriku sendiri “aku sampai” dan kuulang-ulangi “Aku berhasil” dan kami memasang ranjang gantung dan kemudian mereka nyalakan unggun dan membuat nasi dengan gula dan kami makan dan makan dan mereka bertanya bagaimana kelihatannya tebing itu tadi dan bagaimana perasaanku dan apakah aku lelah dan aku cuma bisa mengulang-ulang “Aku berhasil” dan mereka saling berpandangan dan berkata dia baru di sini sehari tapi sudah jadi sinting. Hari berikutnya aku tahu jalur yang kutempuh dalam 10 jam dengan beban 15 kilo, bisa mereka tempuh dalam 4 jam dengan beban 20 kilo. Aku cuma terdiam. “Ayo.” Kata mereka. Kuikuti mereka, dan dalam tiap langkahku aku bertanya ke diri sendiri: “sampaikah aku?” Hari ini, 11(?) Tahun sesudahnya, sejarah, seakan telah berjalan maju, mengulang dirinya sendiri, Kami sampai. Benarkah? Siang menjadi kelegaan tersendiri, seberkas cahaya sperti gandum yang menyadarkanku di banyak pagi buta, ia membasuh tempat yang kami putuskan untuk berkemah. Kami makan setelah Camilo memburu Sac Jol (“si kepala putih” atau “wajah orang tua”). Ternyata ada tujuh. Aku melarang Camilo menembak: bisa jadi mereka itu menjangan yang sedang berlari kencang dan kami sedang merintanginya. Ternyata tak ada apa-apa, tak juga “Sac Jol” atau menjangan. Kami memasang terpal dan ranjang gantung. Tak lama sesudahnya, malam harinya, mar-trucha berdatangan menyalaki kami, dan setelah itu seekor woyo atau monyet malam. Aku tak bisa tidur. Segalanya menyakitkan, juga harapan. . .

N.B. KRITIK DIRI YANG, SECARA MEMALUKAN, MENYAMAR SEBAGAI CERITA UNTUK PARA WANITA YANG, DENGAN SENDIRINYA, WANITA. DAN. SEPERTI SEJARAH MENGULANG DIRINYA SENDIRI PERTAMA-TAMA SEBAGAI KOMEDI LANTAS SEBAGAI TRAGEDI, MAKA CERITA INI BERJUDUL. . .

DURITO II (Neoliberalisme dipandang, dari rimba raya Lacandon). Hari itu hari kesepuluh, tekanannya jauh berkurang sekarang. Aku meminggir sedikit untuk memasang terpalku dan pindah tempat. Aku melongok-longok, mencari-cari sepasang pohon kokoh tanpa ranting kering yang bergelantungan. Makanya aku terkejut waktu kudengar, di kakiku, suara teriakan “Hei, hati-hati!” Awalnya aku tidak melihat apa-apa aku berhenti dan menunggu. Hampir bersamaan sehelai daun kecil bergerak-gerak dan, dari bawahnya, seekor kumbang keluar dan langsung menghardik; – Kenapa tak lihat-lihat di mana kau taruh sepatu lars raksasamu itu? Kau hampir saja menggepengkaku, tahu! – bentaknya. Hardikan ini sepertinya aku kenal betul. -Durito? – aku menduga-duga. -Nebukadnezar buatmu! Jangan sok akrab, ya! – jawab kumbang kecil itu marah marah. Sekarang tak salah lagi. – Durito! Kau tak ingat aku? Durito, maksudku, Nebukadnezar, padang aku lekat-lekat. Ia mengambil pipa kecil di antara syapnya, mengisinya dengan tembakau, menyalakanya dan setelah satu sedotan kuat yang bikin batuk-batuk dan sebenarnya tak sehat itu, ia berkata: Hmmm, hmmm. Dan diulanginya lagi: – Hmmm, hmmm. Aku tahu yang seperti ini akan makan waktu, maka aku duduk saja. Setelah beberapa kali “Hmmm, hmmm”, Nebukadnezar, atau Durito, berseru: Kapten? Masih yang sama! – sahutku puas, ahkirnya dikenali. Durito (aku percaya setelah dikenali, aku boleh memanggilnya begitu lagi) mumulai serangkaian gerak kaki dan sayap-sayapnya yang dalam bahasa tubuh kumbang merupakan semacam tarian kegembiraan, meski bagiku seperti kejang kena ayan. Setelah mengulanginya beberapa kali, dengan tekanan yang berbeda-beda, “kapten!” , Durito akhirnya berhenti dan melontarkan pertanyaan yang paling kutakuti: – Punya tembakau? – Ya, A. . . – Aku mengulur jawabannya untuk memberi kesempatan bagiku menghitung-hitung persedianku. Saat itu, Camilo datang dan menanyaiku: – Kau panggil aku, sup? – Nggak, nggak. . . Aku sedang menyanyi dan. . . Dan jangan kuatir, pergilah – aku menjawab gelagapan. – Oh, ya sudah – kata Camilo, berbalik. – sup? – tanya Durito, kaget. – ya, – aku memberitahunya. Sekarang aku subcomandan. – lebih baik atau lebih buruk ketimbang kapten? – tanya Durito mendesak. – Lebih buruk – kubilang padanya dan pada diriku sendiri. Aku buru-buru mengalihkan pokok pembicaraan dan mengulurkan sekantong tembakau padanya: – “Nih, aku punya sedikit.” Seraya menerima tembakau, Durito mempertontonkan tariannya lagi, dan sekarang mengulang “terima kasih!” Tak henti-henti. Begitu euforia tembakau berahkir, kami mulai upacara rumit penyalaan pipa. Aku menyandar ke ranselku dan mengamati Durito. – Kau masih terlihat sama seperti sebelumnya ‘- kataku. – Kau, sebaliknya, cukup babak belur tampaknya – ia membalas. – beginilah hidup – kataku, merendah. Durito mulai lagi dengan “hmmm, hmmm” – nya. Sebentar kemudian ia berkata: – Lalu apa yang membawamu balik ke sini setelah bertahun-tahun? – Ya, pikirku, karena tak ada kerjaan yang lebih baik, aku berkata ke diriku sendiri, kenapa tidak berputar melewati tempat-tempat tua ini dan cari waktu menjumpai teman-teman lama – jawabku. – Gunung setua apa tetap saja hijau! – Durito memprotes jengkel. Setelahnya ia ber- “hmmm, hmmm” lagi lumayan lama, serta pandangannya menyelidik. Aku tak tahan lagi dan mengaku padanya: – sebenarnya sih kami menarik diri mundur karena pemerintah melancarkan serangan keras terhadap kami. . . – kau kabur! – kata Durito. Aku berupaya menjelaskan padanya apa penarikan strategis itu, apa langkah mundur taktis itu, dan apa saja yang terlintar di benakku waktu itu. – Kau kabur – kata Durito, kali ini dengan desahan. – baik, ya, aku lari; memangnya kenapa? – jawabku tersinggung, lebih karena diriku sendiri ketimbang olehnya. Durito tak mendesak. Ia tinggal tenang beberapa waktu. Hanya asap dari dua pipa ini yang menjembatani kami. Bermenit-menit kemudian ia berkata: – Tampaknya ada sesuatu yang lebih mengusik benakmu, ketimbang sekadar “langkah mundur strategis” ini. – “Penarikan”,”penarikan strategis” – aku meralatnya. Durito menungguku melanjutkan: – Keyatannya memang yang mengganguku adalah kami tidak siap. Dan itu salahku bahwa kami tidak siap. Aku percaya pemerintah memang menginginkan dialog dan memberi perintah konsultasi antar delegasi akan dimulai. Ketika mereka menyerang, kami sedang membahas syarat-syarat dialog. Mereka mengejutkan kami. Mereka mengejutkanku. . . -kataku dengan marah dan malu. Durito terus merokok, menungguku selesai menceritakan segala yang terjadi sepuluh hari terahkir ini. Ketika aku selesai, Durito berkata – Tunggu. Dan ia pergi ke sebalik daun kecil. Tak lama ia keluar mendorong meja kecilnya. Setelahnya ia menyeret kursi, duduk, mengeluarkan setumpuk kertas, dan mulai membolak-baliknya dengan raut kuatir. – Hmmm, hmmm, ia ucapkan berulang-ulang tiap beberapa halaman yang ia baca. Sedang sekian waktu ia berseru: – Ini dia! – Ini apa? – tanyaku, penuh minat. – jangan memotong! – Durito menghardik serius dan sungguh-sungguh. Lantas menambahkan: – perhatikan. Masalahmu sama seperti yang banyak orang lain hadapi. Kau mengacu pada doktrin sosial dan ekonomi yang dikenal dengan sebutan “neoliberalisme”. . . “Persis yang kubutuhkan sekarang. . . Kuliah ekonomi politik,” batinku, dongkol. Sepertinya Durito mendengar apa yang aku pikirkan karena ia mengomeliku: – Ssstt! Ini bukan sembarangan kuliah! Ini adalah kelas (seperti di universitas) par excellence. Tentang “kelas par execellence” itu terdengar berlebihan bagiku, tapi aku sudah siap mendengarkannya. Durito melanjutkan setelah beberapa kali “hmmm, hmmm”. – ini masalah metateoritis! Ya. Kau mulai dari gagasan bahwa “neoliberalisme” adalah sebuah doktrin. Dengan bilang “kau”, aku menunjuk mereka semua yang bersikukuh pada kerangka pikir yang kaku dan kotak seperti kepalamu itu. Kau kira “neoliberalisme” itu doktrin kaum kapitalis untuk melawan krisis ekonomi yang oleh kapitalisme itu sendiri dikaitkan dengan “populisme”. Benar begitu? Durito tidak mempersilahkan menjawab. – Tentu saja benar! Nah, tapi nyatanya “neoliberalisme” itu bukanlah teori untuk melawan atau menjelaskan krisis ini. Krisis sendirilah yang membuat teori dan doktrin ekonomi! Sebab itulah, “neoliberalisme” tak punya koherensi sedikit pun: ia tak punya rencana ia tak punya rencana-rencana maupun perspektif sejarah. Intinya, murni sampah teoritis. – Aneh sekali. . . Belum pernah aku dengar atau baca afsiran macam ini – kataku dengan ternganga. – Tentu saja! Bagaimana bisa, kalau baru saat ini saja ia muncul di kepalaku! – Kata Durito dengan bangganya. – Dan apa hubunganya itu dengan kaburnya kami, maaf, penarikan mundur ini? – tanyaku, meragukan teori baru macam itu. – Ah! Ah! Gampang saja, Subcomandante Watson sobatku! Tak ada rencana, tak ada perpektif, hanya i-m-p-r-o-v-i-s-a-s-i. Pemerintah tak punya konsistensi: suatu hari kita kaya, lain hari kita miskin, satu hari hari mereka ingin berdamai, lain hari mereka mau perang, satu hari puasa, lain hari kekenyangan, dan seterusnya. Jelas? -Durito menerangkan. – Hampir. . . – aku tak sabar, dan kugaruki kepalaku. – Dan? – tanyaku, melihat Durito tak kunjung melanjutkan disertasinya. – Ini akan meledak. Dor! Seperti balon meletus. Tak ada masa depan. Kita akan menang – kata Durito sambil membereskan kertas-kertasnya. – kita? – tanyaku sebal. – Tentu saja “kita” ! Jelas kau tak bakal mampu tanpa bantuanku. Jangan, jangan coba-coba cari alasan. Kau butuh penasehat super. Aku sudah belajar bahasa Perancis, demi kelanjutan ini semua. Aku terdiam. Entahlah mana yang lebih buruk: tahu bahwa kita diperintahkan oleh improvisasi atau membayangkan Durito sebagai sekretaris super dalam kabinet pemerintahan transisi yang hampir tak mumgkin. – Durito mencecar: Aku mengagetkanmu, he? Hei, jangan merasa tak enak. Selama kau tidak menginjakku dengan sepatu lars rakasasmu itu aku bisa menunjukkan jalan yang harus ditempuh dalam perkara sejarah yang, mengesampingkan turun naiknya, bakal membawa naik derajat negeri ini, karena persatuan. . . Karena persatuan. . . Kalau kupikir-pikir, aku belum menulis surat ke pacar lamaku – Durito menyemburkan tawa lebar. – Kupikir kau serius! – aku berpura-pura kesal dan melemparkan ranting kecil ke arahnya. Durito menghindarinya dan terus tertawa. Sekarang tenang, aku memintanya: – Dari mana kau peroleh kesimpulan bahwa neoliberalisme itu doktrin ekonomi yang tercipta dari kerisis? – Ah! Dari buku ini, yang menjabarkan proyek ekonomi Carlos Salinas de Gortari sepanjang tahun 1988 – 1994 – jawabanya sambil menunjukan padaku buku kecil bergambar logo Solidaritas. – Tapi Salinas sudah bukan presiden. . . Sepertinya – jawabku dengan keraguan yang kecewa. – Aku tahu itu, tapi lihat siapa yang menyusun rencanya – jawab Durito sambil menunjuk ke sebuah nama. Aku membacanya: “Ernesto Zedello Ponce de Leòn” – kataku terkejut, lantas menambahkan: – jadi, sebenarnya tidak ada keguncangan apa-apa? – Yang ada hanyalah segua penuh maling – Kata Durito, yakin. – Jadi? – tanyaku penasaran. – Tak jadi apapun, karena sistem politik Meksiko seperti ranting kering yang bergelan-tungan di atas kepalamu -Durito berkata sambil aku melompat bangkit, melongok-longok, dan melihat bahwa, nyata sekali, ada ranting kering yang malang melintang mencemaskan di atas ranjang ayunku. Aku berpindah tempat saat Durito masih terus bicara: -Sistem politik Meksiko hampir tidak terhubungan dengan realita akibat batangan-batangan dahan yang rapuh itu. Hanya butuh satu angin kencang untuk merontokannya. Jelas, saat ia rontok, iya bakal menyeret dahan-dahan yang lain bersamanya, dan waspadalah, siapapun yang ada di bawahnya saat ia runtuh! -Dan jika tak ada angin? – tanyaku sambil memeriksa kencang tidaknya ikatan ranjang ayunku. -pasti ada. . . Bakal ada – jawab Durito sambil pandangannya mengimpi, seolah-olah ia sedang menatap ke masa depan. Kami berdua sama-sama merenung. Kami sulut pipa kami lagi. Hari mulai lalu. Durito terus-terusan memandangi sepatuku. Dengan takut-takut ia bertanya: – Beberapa yang bersamamu? – Cuma dua, jangan kuatir soal terinjak – Aku berkata menenangkannya. Durito mempratekkan keraguannya sebagai disiplin metodik, jadi ia meneruskannya dengan “hmmm, hmmm” lagi sampai akhirnya terlontar: – Tapi mereka yang mengerjarmu, berapa banyak mereka? – Oh! Mereka? Katakanlah sekitar enam puluh. . . Durito tak memberiku kesempatan: -Enam puluh! Enam puluh pasang sepatu lars di atas kepalaku! 120 sepatu Depatermen pertahan menncoba menggepengkanku! – ia menjerit-jerit histeris. – Tunggu, tunggu. Aku belum selesai. Mereka bukan enam puluh – kataku. Durito menyela lagi: – Ah! Aku tahu malapetaka tak mungkin sedahsyat itu. Jadi, berapa jumlah mereka? Dengan singkat kujawab: – Enam puluh ribu. – Enam puluh ribu! Durito sempat berkata sebelum terdesak asap pipanya sendiri. – Enam puluh ribu! – serunya berulang kali, sambil menyilangkan bersamaan kaki dan tangannya dalam derita yang mendalam. -Enam puluh ribu! – katanya putus asa. Aku berupaya menghiburnya. Aku bilang bahwa mereka tidak datang berbarengan, bahwa itu serangan bertahap, bahwa itu datang dari arah yang berlainan, bahwa mereka belum menemukan kami, bahwa kami telah menghapus jejak-jejak kami begitu rupa sampai mereka tak bakalmenguntit kami, singkatnya, aku ceritakan semua yang terjadi padaku. Tak lama, Durito terlihat tenang dan memulai kembali “hmmm, hmmm” -nya. Ia mengambil kertas-kertas kecil yang, saat aku perhatikan, terlihat seperti peta, dan mulai menanyaiku soal posisi pasukan musuh. Aku jawab sebisanya yang aku tahu. Pada tiap jawaban Durito memberi tanda dan menggores catatan-catatan pada peta kecilnya. Setelahnya ia mulai lagi ber – “hmmm, hmmm”. Beberapa menit kemudian, setelah perhitungan yang amat rumit (aku katakan begitu karena ia memakai semua tangan dan kakinya untuk membilang) ia mendesah: – Apa mau dikata: mereka memakai teknik “pasak dan palu”, “laso sorong”, “perburuan kelinci”, dan manuver-manuver vertikal. Secara mendasar, semua ini diambil dari buku panduan penjaga hutan dari sekolah-sekolah Amerika, – ia berkata pada dirinya sendiri dan kepadaku. Lantas menambahkan: – Tapi kita masih punya satu peluang untuk bisa keluar selamat dari semua ini. -Masa? Bagaimana? – tanyaku skeptis. – Mujizat – jawabanya sambil membereskan kertas-kertas lantas menyandar ke belakang. Keheningan merayapi kami berdua dan kami biarkan senja masuk melalui sela-sela ranting dan tanaman merambat. Kemudian, ketika malam telah selesai turun dari balik pepohonan, lantas terbang menyelimuti angkasa, Durito bertanya: -kapten. . . Kapten. . . Ssstt! Kamu tidur? – Nggak. – . . . Ada apa?? – tanyaku. Durito bertanya dengan memelas, takut kalau-kalau menyakiti perasanku. – Apa yang hendak kau lakukan? Aku terus saja merokok. Kupandangi lengkung-lengkung bulan keperakan yang mengantung di sela-sela dahan. Kuhembuskan asap melingkar menjawabnya sambil meyakinkan diriku sendiri: – menang.

N.B. YANG MEMBANGKITKAN NOSTALGIA DALAM KWADRAN. Di sebuah radio kecil. Seseorang dengan irama blues bernyanyi seperti ini: “semua akan beres dengan sedikit bantuan sobat-sobatku. . . “[Begitulah]

N.B. YANG BENAR-BENAR MENGUCAPKAN SAMPAI JUMPA, MELAMBAI-KAN HATI SEPERTI SELEMBAR SAPU TANGAN Begitu deras hujan, tak setetespun yang bisa mengenyangkan kerinduan. . .

Maju terus. Demi kesehatan, dan waspadailah dahan-dahan kering yang menjuntai di atas kepalamu yang berpura-pura, tanpa tedeng aling-aling, melindungimu dengan segenap kerindangannya.

El Sup, merokok. . . Sambil berharap.

Cerita tentang Durito dan Takluknya Neoliberalisme

[Cerita ini ditulis Subcomandante Marcos untuk seorang gadis cilik 10 tahun yang mengiriminya secarik gambar]

Tulisan ini diambil dari buku Atas dan bawah, topeng dan keheningan, komunike-komunike Zapatista melawan neolibralisme

10 April 1994 Kepada : Mariana Mougel Dari :Subcomandante Insurgente Marcos

Subcomandante Mariana Mougel, Kuucapkan salam padamu dengan segala hormat dan selamat atas kenaikan peringkat yang kau capai berkat gambar gambarmu. Izinkan aku mendongengimu sebuah kisah yang barang kali bisa kau pahami suatu hari nanti. Inilah kisah tentang…

DURITO Akan kuceritakan padamu sebuah kisah yang kualami beberapa waktu lalu. Ini kisah tentang seekor kumbang kecil yang berkacamata dan menghisap pipa. Aku berjumpa dengannya suatu hari saat aku sedang mencari-cari tembakau rokokku, tapi tak bisa menemukannya sama sekali. Tiba-tiba, di salah satu sisi ranjang gantungku, aku melihat sejumput tembakau berceceran membentuk jalur lintasan kecil. Kutelusuri untuk melihat ke mana perginya tembakauku, dan siapa yang berani-beraninya mengambil dan mencecerkannya. Beberapa meter dari situ, di balik batu, aku melihat seekor kumbang duduk menghadap mesin tik mungil, membaca makalah, dan menghisap pipa kecil. “Ehem, ehem,” aku berdehem, agar kumbang itu menyadari keberadanku, tapi ternyata ia tak ambil pusing. Lalu aku berkata: “Tembakau itu punyaku.” Kumbang itu mencopot kacamatanya, mengamatiku dari atas ke bawah, lalu menjawab dengan jengkel: “Tolong kapten, jangan ganggu aku. Tidak lihat aku sedang belajar?” Aku terperanjat dan ingin menendangnya, tapi kutenangkan diri lalu duduk di sampingnya, menungguinya sampai selesai belajar. Tak lama, ia rapikan kertas-kertasnya, menumpuknya di meja, dan sambil mengigiti pipanya, bertanya padaku: “Nah, apa yang bisa kubantu, kapten?” “Tembakauku,” jawabku. “Tembakaumu?” Ia bertanya. “Kau ingin kubagi sedikit?” Aku mulai merasa dipermainkan, tapi kumbang kecil itu menyodoriku sebungkus tembakau dengan kaki-kakinya yang kecil sambil berkata: “jangan marah-marah, kapten. Mengertilah bahwa tembakau susah ditemui di sini, jadi aku harus mengambil sebagian punyamu.” Aku bersabar. Aku suka kumbang ini, dan berkata padanya. “Sudahlah, tak apa-apa. Aku punya lebih banyak lagi disana.” “Hmmm,” sahutnya. “Dan kau, siapa namamu?” Tanyaku. “Nebukadnezar,” jawabnya, “tapi teman-teman memanggilku Durito. Kau bisa memanggilku Durito, kapten.” Aku berterima kasih dan bertanya apa yang sedang ia pelajari. “Aku sedang mempelajari neoliberalisme dan strategi dominasinya atas Amerika Latin,” katanya padaku. “Lantas, apa gunanya itu bagi seekor kumbang?” Tanyaku. Ia menjawab, dengan sangat tersinggung: “apa gunanya? Aku harus tahu berapa lama perjuanganmu bakal berlangsung, dan apakah kau yang bakal menang. Dan lagi, seekor kumbang semestinya harus cukup tahu situasi dunia tempatnya hidup, bukan begitu kapten?” “Entahlah,” jawabku. ” kenapa kau ingin tahu berapa lama perjuangan kami akan berjalan dan apakah kami akan menang?” “Ya, banyak soal yang belum terang ,” ia memberitahku, sambil memakai kacamatanya dan menyulut pipa. Setelah menghebuskan sekepul asap tebal, ia melanjutkan: “supaya tahu berapa lama kami, kumbang-kumbang ini, harus berjaga-jaga agar kalian tak sampai menggerus kami dengan sepatu lars kalian.” “Ah!”ucapku. “Hmmm,” katanya. “Dan simpulan macam apa yang sudah kau dapat dari belajarmu?” Aku bertanya. Ia mengambil tumpukan kertas dari meja dan mulai membolak-balik. “Hmm…hmm…”, begitu yang ia ucapkan berulang kali sambil membacai kertasnya. Setelah selesai, ia menatap mataku dan berkata, “kalian bakal menang”. “Aku tahu itu. ” kataku. “Tapi berapa lama semua ini akan berlangsung?” “Lama, “keluhnya pasrah. “Aku juga tahu itu…Tepatnya berapa lama?” Tanyalu. “Tak bisa diketahui pasti. Kita harus memperhitungkan banyak hal: kondisi-kondisi objektif, kesiapan kondisi subjektif, korelasi antar kekuatan, krisis imperialisme, krisis sosialisme, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya.” “Hmmm,” gumamku. “Apa yang kau pikirkan, kapten?” “Bukan apa-apa,” jawabku.” Baiklah, bung Durito, aku harus pamit. Senang bisa kenalan denganmu. Kau boleh mengambil tembakau yang kau mau, kapanpun.” Terima kasih, kapten. Kau tak perlu resmi-resmian deganku.” “Terima kasih, Durito. Sekarang kuperintahkan anak buahku ‘dilarang menginjak kumbang’. Aku harap itu bisa membantu.” “Terima kasih, kapten. Perintahmu itu sangat berguna buat kami.” “Apapun yang terjadi, berhati-hatilah, sebab anak buahku yang masih muda-muda itu sering panik, dan mereka tak selalu sadar ke mana kakinya menjejak.” “Pasti, kapten.” “Sampai ketemu.” “Sampai ketemu. Datanglah kapanpun kau mau, dan kita bisa ngobrol-ngobrol.” “Pasti,” kataku padanya, lalu berjalan pulang ke markas besar. Nah, begitulah Meriana. Aku pingin kapan-kapan kita bisa bertemu muka dan saling menukar topeng-topeng ski dengan gambar-gambar. Setuju?

Vale dan warna-warni lainya, karena untuk warna yang kamu pakai, tintanya pasti sudah menipis.

Subcomandante Insurgente Marcos, pegunungan Meksiko Tengara, April 1994.

Hari yang berlalu dengan suasana yang sama. Bagian 2

Sebuah pitam meruyak kepermukaan, kami terus disini hingga waras dan nalar kami tak tau muara.

Hari ini telah berlalu dan suasana tetap sama. Waktu hari dan bulan di pengujung tahun sudah mulai berdekatan berganti almanak, di tempat yang sama di rutan salemba. Rutinitas yang itu-itu ja, kejumudan yang berulang ketika sebuah kawan berujar ingin pulang, waktu tiba nanti pasti kebagian untuk menghirup kebebasan, tepatnya saya sudah memasuki tiga tahun perjalanan ditempat ini. Masih memilah-milah apa yang mau ditulis untuk dipenghujung musim penghujan, banyak yang saya tulis terahkir tulisan saya tanggal 12 mei 2021, entah sebuah keisengan monoton. Ketika saya terdiam teringat dimana dulu sekali bisa sampe sejauh ini berangkat, berawal dari pinggir jalan, gang buntu, oke, “melacak balik jauh kedalam ingatan”, kuhusnya didaerah jakarta utara tempat dimana moment ini berasal kota yang bissing debu yang bertebangan, mobil-mobil besar dan kecil melewati jalan yang angkuh dan keras, tapi semua itu hal yang biasa, saya meruyak kepermukaan dari sebuah rumah dipinggir tempat orang berjalan, hingga menemui teman-teman yg menjadi alur yang kami tapaki.

MELACAK JAUH DALAM INGATAN. Tepatnya tahun 1997. Gang buntu dipinggir jalan, kami biasanya main gitar-gitar bernyanyi berbagi famplet acara gigs, berangkat dari hobi main musik mendaki gunung hingga niris bensin, menyatukan kawan-kawan, entah mungkin itu perpanjangan tangang dari abang-abangan kami, mabok, berdiskusi, rencana wacana, literasi, nangkring bukan sekedar menyanyi atau curhat, karena berbagi yang kita suka adalah kesenangan, wabah GRUNGE mulai meraba tongkrongan awalnya kami dibentuk dari mengenal nada musik yups, NIRVANA yg kami idolakan, bahasa musik kami, “KURT DONAL COBAIN”. Di anggap sebagai yg di elu-elu kan setiap kami beramain gitar dan bernyanyi, kala itu hobi kumpulin kaset pita (baca tape deck), dan pinjam sana sini hilang dan tiap nongkrong bawa-bawa radio polytron, dan beberapa buah kaset menyetel dan berbagi kopi rokok menikmati nada, berbincang tentang musik yang kami dengarkan kala itu sungguh pengalaman yang sudah tidak dapat saya ulang kembali, moment-moment yang bagi saya adalah sebuah pencerahan, karena saya begitu antusias dan berapi-api disaat berbincang tentang musik sambil mendengarkan musik itu. Teman-teman senada sudah pada sibuk masing-masing dengan rutinitas mereka, dulu saya suka musik “grunge” dari NIRVANA, PEARL JAM, SILVER CHAIR, THE VINES, STONE TAMPLE PILOTS hingga SOUNDGARDEN, bosan dengan kegandungran sound seattle berpindah sperti “RAGE THE MACHINE, SEPULTURA, RANCID, SUMP 41, RADIO HEAD, HOOBASTANK, MUSE, THE STROKES, SYETEM OF DOWN, THE PRESIDENT OF THE UNITED STATES OF AMERIKA, CAKE, BLUR, SEX PISTOL, THE WHITE STIPES, MEW, WEEZER, THE OFFSPRING, INCUBUS, GREENDAY, SLIPKNOT”.

Koleksi kaset pita pribadi, ini artefak yang sudah lama dan berdebu, sebagian hilang ini yang terselamatkan.

Boneka & catatan pinggir jalan. Ada sebuah band ditongkrongan nama nya “BONEKA” band lama yang hampir melalang buana setiap acara gigs grunge sampe tujuh belasan, karena mungkin hanya band itu yang memperkenalan kami di komunitas-komonitas grunge, Bicara tentang band BONEKA saya banyak terimakasih untuk band itu yang tidak pernah bikin album semasa berkarir, sana-sini hanya kompilasi dikomonitas acara pensi sekolah dan kuliahan, sempat mampir kepemancar radio namanya bergaung karena membawa tempat kota kami berasal, kawan-kawan BONEKA bersuara dari gang buntu hingga kebissingan jalanan. Tapi kenapa BONEKA namanya, saya bertanya kesang vocal ternyata itu di ambil dari lagu KAIMSASIKUN yang berjudul BONEKA, karena “Agha” begitu ngefans dengan band yang berasal dari kota bali itu. tapi lebih lugu dan lucu, kata saya. Oke biarkan walau band ini sempat exist semasa personilnya masih semangat, moga saja sampe sekarang, tapi terserah mereka toh musik cuma sekedar hobi yang gitu-gitu ja kata sang vocal, rombak personil ini itu cuma sang drummer “POSAY” dan “AGHA” vocal. Personil tetap yang pegang kendali. sungguh disayangkan band lama terbentuk sekitar tahun 2010 kalo tidak salah, tapi butut tidak pernah garap album, kenapa gitu? Materi sudah ada lagu-lagu hampir memenuhi setandar album, personil udah mirip sebagian the vines sebagian muse sebagian multitalenta. “BONEKA” berangkat dari suara kegelisahan tentang hidup yang kadang sulit dimengerti dengan suara pekik sang vocal, sound distrosi alternative 90an seperti sound di album NIRVANA INCESTISIDE. pemahaman saya bila mendengarkan musik mereka, bagi saya BONEKA selalu personal buat saya. Mengungsung tema dengan lirik kehidupan dan kawan-kawan yang sudah mulai berpergian dan melupakan budaya tongkrongan, ego sang vocal yang tetap gagah pembawan musik mereka, dengan pukulan drum yang maha power dibalut suara gitar dengan efek metal zone komposisi grunge, itulah ketika kebosanan datang dari gang buntu meruyak kepinggir jalan dan mulai berbagi kisah melalui musik. Oke saya tetap respect untuk “BONEKA”.

Perspektif & tuntuntan. Kami pun ditongkrongan mulai mengilai “PUNK” kala itu memasuki alam bawah sadar kami, tiap hari ngepunk ja kalo main gitar, karena liriknya begitu nyata dikehidupan kami, sampe ketitik kerja menjadi sebuah kewajiban, waktu menjadi pemisah dan temu, pindahnya kawan dari rumah hingga keberadan mereka, gitar pun kosong, garing, gangan pun sunyi bertepi walau hiruk pikuk dipinggir jalan begitu ramai seramai angkot metro tumpukan penumpang dan keneknya, silkus pun beralih sadar pun terbawa, untuk membeli sesuatu itu harus berkerja, timbal balik apa yang kita suka harus memperoleh nya, waktu dulu mau beli kaset pita di ramayana, harus kumpulin uang saku sekolah, sampe seminggu itu cuma satu kaset, masih diberi oleh orang tua, perspektif “PUNK” ternyata tidak bisa dipakai oleh kawan-kawan, hanya sebuah kebissingan ditongkrongan sekedar bacot dan berbagi aseng baca (anggur ginseng), padahal sudah dijelaskan untuk membangun komonitas kalian berjejaring, mandiri, bikin pasar bersama kawan-kawan. Tetapi tetap kapitalislah yang menang, menghisap rokok yang kita hisap, sebuah dunia yang absurds layaknya kolot sang petuah, dari situ ada yang menemukan hidup baru kerjaan baru, pacar baru, baju baru, usaha baru dan tongkrongang baru, walau manusianya tetap yang lama, saya sudah pindah haluan dari segi apapun karena bagi saya mewariskan apa yang dulu pernah didapat dari kumpul-kumpul bertemu itu adalah sebuah kesenangan, berbagi pikiran wacana hingga bercanda.

Foto terahkir kumpul bersama kawan-kawan pada acara tanggal 31 desember tahun baru 2018 menuju 2019

Kelakar & akar. Mungking mereka sudah lupa apa yang dulu pernah berbagi di sebuah ladang yang bernama tanah merah, kobakan sawah petani hingga kini berbuah menjadi kota yang angkuh dan jorok, mungkin juga mereka lupa dulu pernah anti kemapanan atas apa yang mereka sukai itu tidak layak dikomersilkan dan diobral, mungkin juga, tapi kita sekarang bukan mengkomsusi tapi juga menjadi prodak kebutuhan sehari-hari, dulu kita pernah membuat acara sendiri menjual rilisan sendiri, bikin kaos hingga kolektif antara kawan ke kawan, itu cuma ada disemangat muda yang kini berahkir diperbudakan uang yang mau tidak mau harus, karena berbeda itu tidak keren kita harus dibuat sama-sama makan nasi, karena mandiri itu keren karena kita budak, kapan jadi kapitalisnya. Aku tersadar dari senderan. Buka handphone wah ada rilisan musik terbaru dari PUNK hinga HARDCORE dan BLACK METAL tentunya HIP HOP juga, play dengan volume gass poll, bahwa hidup adalah suka cita yang harus dirayakan dengan apa yang disuka.

PS. buat kawan-kawan salam dari sini hingga menuju kesana mungkin tidak bisa menyebutkan namanya satu persatu karena males nyebutin nya, saya tidak menjejerkan semua ingatan secara tersusun tapi secara acak, bisa panjang tulisan ini kalo tersusun, mungkin sisanya di simpan dalam ingatan, untuk “JIKA” salam semoga cepat dapat kerjaan baru dan untuk “denis” (tulisan yang saya tulis. Hari yang berlalu dengan suasana yang sama bagian 1) kawan saya waktu di tempat rawat inap polikekinik, R.I.P “Denis” selamat jalan kawan terimakasih sudah pernah bercerita berbagi kopi dan asap di hari-hari yang kelam. Selamat tahun baru 2022 jangan terlalu mabok dan terlalu subuh pulangnya. Saya sajikan yang tidak akan peduli dan tidak mau di dengar, EP dari MARXBROS KORTOM PUNK

Kisah Seuntai Awan Kecil.

Tulisan ini diambil dari buku subcomandante marcos kata adalah senjata Kumpulan tulisan terpilih 2001-2004

Alkisah, hiduplah sebuah awan yang sangat kecil dan sangat kesepian dan biasa berkeliaran jauh-jauh dari awan-awan besar. Ia sangat kecil, nyaris tak sampai seuntai. dan manakala awan-awan besar menjadikan diri mereka hujan untuk mengecat hijau pegunungan, si awan kecil akan terbang mendekat untuk menawarkan jasanya. tapi mereka mengoloknya karena ia begitu kecil.

“Kau tak punya apa-apa buat diberikan,”awan-awan besar biasa memberitahunya alangkah kecilnya dirimu.”

Mereka mengoloknya menjadi-jadi.Lantas, dengan sangat sedih si awan kecil mencoba menyingkir ke tempat lain untuk menjadikan dirinya hujan, tapi ke manapun ia pergi, awan-awan besar mendesaknya minggir. Maka si awan kecil pergi lebih jauh lagi sampai ia tiba di tempat yang sangat kering kerontang, saking keringnya sampai tak satu dahan pun tumbuh, dan si awan kecil berkata pada cerminnya (aku lupa memberitahumu bahwa si awan kecil ini membawa-bawa cermin agar bisa bicara dengan dirinya sendiri saat sedang sendirian): 

“Ini lokasi sempurna untuk menjadikan diriku hujan karena tak seorang pun pernah datang kemari.”

Si awan kecil mengerahkan banyak upaya untuk menjadikan dirinya hujan dan akhirnya menelurkan SATU tetes kecil. Begitulah, si awan kecil lenyap dan mengubah dirinya menajdi setetes hujan kecil. sedikit demi sedikit, si awan kecil, yang kini tetes hujan kecil, jatuh meluncur. dalam segenap kesepiannya, ia jatuh dan jatuh, tapi tak ada yang menantikannya di bawah sana. Akhirnya tetes hujan kecil itu menciprat sendirian. karena padang pasir itu begitu lengang, si tetes hujan kecil menimbulkan kebisingan hebat waktu menciprat tepat di atas batu. Ia membangunkan Bumi yang bertanya:

“Ribut-ribut apa itu?”

“Tetes hujan jatuh,”jawab batu.

“Tetes hujan? Artinya hujan bakal turun! Lekas! Bangun! HUjan akan turun! “ia mengingatkan tetumbuhan yang sembunyi di bawah tanah dari terik matahari. Maka tumbuh-tumbuhan pun bangun dan mengintip, dan untuk sesaat seisi padang pasir tersaput warna hijau, dan awan-awan besar pun melihat hijau itu dari kejauhan dan berkata:

“Lihat. Ada banyak hijau di sana. Ayo bikin hujan ditempat itu. Kita tidak tahu di sana begitu hijau.’

Maka pergilah mereka menjadikan dirinya hujan di tempat yang dulunya padang pasir. Mereka curahkan hujan dan hujan dan tanaman pun tumbuh dan segala sesuatu berubah hijau sekaligus.

“Mujur nian kita ada di sekitar sini,”ucap awan-awan besar.

“Tanpa kita, tak bakal ada hijau.”

Dan waktu itu, tak seorang pun teringat akan seuntai awan kecil yang mengucurkan stetes hujan kecil yang cipratannya membangunkan mereka yang tertidur. 

Tak seorang pun ingat, tapi si batu menyimpan rahasia awan kecil itu. Waktu berlalu, dan awan-awan besar pertama itu pun lenyap dan tanaman-tanaman pertama itu pun mati. dan batu, yang tak pernah mati, memberitahu tanaman-tanaman baru yang terlahir dan awan-awan baru yang tiba kisah mengenai seuntai awan kecil yang mengucurkan setes hujan kecil.

Da-da

Dongeng-Dongeng

“Dongeng-Dongeng kuda laut” dengan semena-mena menyela analisa politik yang saaaangat serius ini, dan membuat kita mabuk-laut seperti ombak yang membuat laut mabuk. Untuk obatnya, si kuda laut mengisahkan dongeng (apalagi yang bisa ia lakukan!) Pak Tua Antonio bercerita sewatku ia muda ayahnya, Don Antonio, mengajarinya cara membunuh singa tanpa senjata api. Saat ia masih menjadi Antonio Muda, sang ayah, Antonio Tua, mengisahkan cerita yang kini dikisahkan padaku keras-keras agar La Mar bisa mempelajarinya lewat bibirku. Ia bercerita begitu saja, namun aku akan menjuduli-nya . . .

Riwayat Singa Dan Cermin
“Pertama singa menguliti dulu mangsanya, setelah itu ia minum darahnya, makan jantungnya dan meninggalkan sisanya untuk burung-burung hering. Tak ada yang bisa melawan kekuatan singa. Tak ada hewan yang sanggup menantangnya, atau orang yang tak lari kabur darinya. Hanya tenaga yang sama brutalnya, sama haus darahnya, dan sama kuatnya yang sanggup mengalahkan singa.” Antonio Tua melinting rokoknya. Sambil berpura-pura mengurus batang-batang kayu yang meluluh akibat terang pijar berbintang dari unggun api, ia melirik Antonio Muda dengan sudut matanya. Ia tak menunggu lama, sebab Antonio Muda segera bertanya: “Dan apa gerangan tenaga yang cukup kuat untuk mengalahkan singa?” Lantas Antonio Tua mengulurkan pada Antonio Muda sepotong cermin. “Aku?” Tanya Antonio Muda sambil menatap dirinya dalam cermin bundar itu. Antonio Tua tersenyum kocak (demikian kata Antonio Muda) dan mengambil balik cermin itu darinya. “Dengan menunjukkan cermin padamu maksudku adalah kekuatan yang bisa mengalahkan singa itu sama dengan singa. Cuma singa sendirilah yang bisa mengalahkan singa.” “Ah!” Kata si Antonio Muda, sekedar supaya ia tidak diam saja. Tahu bahwa Antonio Muda belum mengerti apa-apa, Antonio Tua mulai melanjutkan kisahnya: ” saat kita mengerti bahwa cuma singa yang bisa mengalahka singa, kita mulai berfikir bagaimana membuat singa melawan dirinya sendiri. Yang paling sepuh dari para sesepuh desa berkata bahwa kita harus terlebih dulu mengenali singa dan mereka menunjuk seorang bocah untuk mempelajarinya.” “Kau?” Sela Antonio Muda. Antonio Tua mengiyakan dengan diam, dan setelah menata kayu-kayu api unggun, ia melanjutkan: “mereka junjung bocah itu ke atas pohon kapuk dan di kaki pohon mereka taruh anak lembu yang diikat. Mereka pergi. Bocah itu harus mengamati apa yang diperbuat singa pada anak lembu itu, menunggu hewan itu pergi lalu kembali ke desa menceritakan apa yang ia lihat. Maka begitulah, singa itu tiba, membunuh dan menguliti anak lembu itu, menengak darahnya, memakan jatungnya dan pergi saat burung-burung hering sudah berkerumun di sekitarnya menunggu giliran.” “Bocah itu kembali ke desa dan melaporkan apa yang ia lihat. Para sepuh-sesepuh desa berpikir sejenak lalu berkata: ‘Biarlah kematian yang diberikan si pembunuh itu menjadi kematiannya sendiri,’ Lantas mereka memberi bocah itu sepotong cermin, beberapa buah paku sepatu, dan seekor anak lembu.” ” Besok malam pengadilan, kata sesepuh-sesepuh itu dan mereka kembali terbenam dan renungannya.” “Si bocah tak mengerti. Ia pergi ke gubuknya dan mendekam di sana sambil menonton permainan. Ayahnya datang dan bertanya apa yang terjadi, maka bocah itu menceritakan segalanya. Ayah bocah itu duduk diam di sebelahnya dan tak lama kemudian ia bicara. Bocah itu tersenyum saat mendengar apa yang dibilang ayahnya.” “Hari berikutnya, saat senja sudah mulai keemasan dan kelabu malam tergerai menudungi pucuk pohonan, bocah itu meninggalkan desa dan berjalan ke kaki pohon kapuk membawa si anak lembu. Saat ia sampai di kaki ibu-segala-pohon itu, ia bunuh anak lembu itu dan mengeluarkan jantungnya. Lantas ia memecahkan cerminya berkeping-keping dan menusuk-nusuknya ke jantung itu. Dengan darah yang sama ia bedah jantunga itu ke dada si anak lembu dan dengan kayu-kayu pancang ia buat bingkai untuk menyangganya berdiri. Seakan-akan hidup. Bocah itu memanjat ke atas pohon dan menunggu di sana. Di atas, saat malam mulai jatuh dari pucuk pohonan ke atas tanah, ia teringat ucapan ayahnya: Dengan kematian yang sama pembunuh itu akan mati.” “Sekarang malam sudah amat larut saat singa itu tiba. Hewan itu mendekat, dan dengan sesekali sergap menerkam si anak lembu dan mengulitinya. Saat ia menjilat jantungnya, singa itu curiga karena darahnya sudah kering, namun pacahan-pecahan cermin melukai lidahnya dan membuatnya berdah. Si singa mengira darah dari lidahnya berasal dari jantung si anak lembu, maka dengan semangat ia mengunyah habis jantung itu. Paku-paku membuatnya terluka makin dalam, tapi si singa itu terus berpikir darah yang di mulutnya itu darah si anak lembu. Kunyah dan kunyah terus, si singa terus dan terus melukai dirinya sendiri dan darahnya bertambah banyak, dan kunyah dan kunyah terus.”Si singa terus begitu sampai ia mati berdarah-darah.” “Si bocah kembali ke desa mengenakan kuku singa sebagi kalung dan ia memamerkanya pada para sesepuh.” “Mereka tersenyum dan memberitahunya: ‘Bukan kuku singa yang harusnya kau simpan sebagi piala kemenangan, tapi cermin itu’.” Begitulah kisah Pak Tua Antonio tentang membunuh singa. Tapi selain cermin, Pak Tua Antonio selalu membawa-bawa senapa chispa kunonya. “Kalau-kalau singa itu tak kenal sejarah,” ucapnya sambil tersenyum dan mengerdipkan sebelah mata. Di sini La Mar menambahkan, “kalau-kalau itu singa atau si Orive.” Radikalis dan mantan orang kiri itu, yang kini jadi penasehat gaya baru kejahatan kaum kanan (yang mulai omongan seperti kakatua dan untuk menyembuyikan diri menyamar mirip burung unta), Pak Tua Antonio punya cerita soal kaum revolusioner dan massa pendukungnya dengan perbandingan ikan dalam air, juga soal strategi kontra-pemberontakan “pisahkan air dan ikannya” yang dianjurkan penasehat pemerintah yang memalukan itu saat ini.

Ikan Dalam Air
Pak Tua Antonio menceritakan riwayat yang dikisahkan para sesepuh desa. Ia berkisah bahwa pada suatu hari ada seekor ikan cantik yang hidup di kali. Seekor singa melihat ikan itu dan bernafsu sekali ingin memakannya. Sang singa pergi ke kali ia tahu ia tidak bisa merenangi kali itu untuk menyerang si ikan. Sang singa minta nasehat seekor tupai dan tupai itu memberitahu: “Mudah saja, ikan tidak bisa hidup tanpa air. Satu-satunya yang perlu kau lakukan cuma meminum air kali itu sampai si ikan tidak bisa bergerak-gerak lagi sehingga kau bisa menyerang lalu memakannya. “Sang singa puas dengan nasehat tupai dan ia akan membayarnya dengan jabatan dalam kerajaan. Sang singa pergi ke pinggir kali dan mulai meminum airnya. Ia mati kembung kekenyangan. Si tupai terus penganguran. Sekian.

Malam hari milik kita.

13 Agustus 1999.

Tulisan ini diambil dari buku subcomandante marcos kata adalah senjata Kumpulan tulisan terpilih 2001-2004

Inilah kisah tentang bagaimana segalanya terdiam, ajek dan sunyi, betapa segalanya tak bergerak dan menetap, betapa bentangan langit kosong melompong. Inilah kisah pertama, percakapan pertama. Manusia belum ada, belum pula satwa-satwa, beburungan, ikan-ikan, kepiting, pepohonan, bebatuan, gua, ngarai, rerumputan, atau belantara. Yang ada hanya langit. Muka bumi belum timbul. Yang ada laut teduh dan bentangan lagit. Tak ada apa-apa yang dihadirkan, tidak pula segala yang bisa bergerak, atau mempercepat, atau membuat keributan di langit. Tak ada yang tegak berdiri, hanya air yang tenang, segara teduh, sendiri sunyi. Tak ada apa-apa. Hanya ada kediaman dan kebisuan dalam gelap malam. Hanya sang pencipta, sang pembuat, Tepue, Gucumatz, bapa-bapa moyang, berada di air yang dilingkupi cahaya. Mereka bersembunyi di balik bulu-bulu hijau dan biru, maka mereka disebut Gucumatz. Merekalah empu-empu besar, pemikir-pemikir besar dari takdirnya. Beginilah rupa angkasa, serta Jantung Angkasa. Demikianlah kisah mereka. Lantas datang kata. Tepeu dan Gucumatz tiba bersamaan dalam gelap, dalam malam, dan bicara bersama. Mereka bicara dan mempertimbangkan. Mereka sepakat, mempersatukan kata-kata dan pikiran mereka. Dan tatkala mereka mempertimbangkan, jadi jelas bagi mereka bahwa ketika fajar merekah, manusia harus muncul. Lantas mereka rencanakan penciptaan dan pertumbuhan hutan serta semak belukar, lahirnya kehidupan dan terciptanya manusia. Bagitulah yang dilarang dalam gelap malam oleh Jantung Angkasa yang disebut Hurakan.Kitab Popol Vuh

PADA hari bulan Agustus ini, kita tuai malam terbesar di dunia. Tapi di Agustus lainnya, di pegunungan Meksiko Tenggara, Pak Tua Antonio perlahan mengasah parang dua bilahnya. Cahaya api pendiangan menjilatkan lidah-lidah jingga dan biru pada cermin lebam yang ia pegang di tangannya, sementara Dona Juanita memisahkan tortilla satu per satu dari comal. Aku menunggu, duduk di pojokan, merokok. Malam ini kami Akan berburu. Kutebak Pak Tua Antonio berencana keluar ke gunung sampai subuh, sebab ia meminta Dona Juanita membuatkan tortilla dan pozol untuk kami. Disela desahan, Dona Juanita menggiling jagung, meremas adonan, dan sudah jadi setumpuk tortilla besar mengepul. Di atas api, dijilati nyala penuh nafsu, kopi mendidih dalam panci kecil. Aku jatuh tertidur kena asahan ritmis batu pada parang dua sisi itu dan aroma tortilla Dona Juanita. Mendadak, Pak Tua Antonio berdiri sambil berkata: “Nah aku pergi.” “Baiklah.” Kata Dona Juanita membungkus bola pozol besar dengan daun pisang, mengepaknya bersama tortilla di tas pemburu Pak Tua Antonio. Dengan cermat ia tuang kopi ke dalam botol plastik usang dan menaruhnya di sela pozol dan tortilla. Kusadarkan diri dan mengikuti Pak Tua Antonio. Kami sudah lewat pintu waktu aku sadar Pak Tua Antonio tidak membawa senapan kaliber 22 kunonya. “Kau lupa bedilmu,” kuberitahu dia. “Aku tidak lupa,” jawabnya tanpa berhenti. “Tidak kita perlukan malam ini. Kami masuki malam. Aku tahu ungkapan ini, “memasuki malam”, adalah perumpamaan, tapi ini lebih dari sekedar perumpamaan di sini. Ketika kami berada di gubuk Pak Tua Antonio, malam sepertinya berdiri di luar, seolah-olah tidak diundang dalam upacara asah pisau, rebus kopi, dan masak tortilla. Meski pintu reyot gubuk kecil itu terbuka, malam tidak bisa masuk. Ia hanya sampai di ambang pintu, seolah-olah ia tahu ia tidak bisa tinggal, bahwa ini bukan tempat untuknya. Maka ketika kami tinggalkan gubuk dan pergi keluar, kami memasuki malam. Kami susuri jalan besar barang beberapa lama. Hujan baru turun lebat, tapi kunang-kunang sudah bermain-main ibarat ular cahaya gesit di sela ranting dan sulur-sulur. Agustus mencipratkan kubangan dan lumpur di segala arah, dan kadang mustahil untuk menghindari terbenam sampai ke lutut. Sesaat kemudian, kami ambil jalan samping yang lebat, jarang dilalui dan karenanya tidak begitu berlumpur. Ingin kujelaskan bahwa hutan ini pejal dan rimbun, seolah-olah kami terbenam lebih jauh ke dalam malam, malam di dalam malam. Aku bayangkan apa yang akan kami buru, karena Pak Tua Antonio meninggalkan kaliber 22-nya di rumah. Tapi ini bukan pertama kalinya pergi keluar dengannya bermula sebagi misteri dan berakhir sebagai pencerahan, sama seperti malam gulita membuka jalan bagi sang surya, saat ia mendaki punggung perbukitan. Aku tak berucap apa-apa dan membuntuti jejaknya dalam diam. Pasti lewat tengah malam ketika jalan setapak itu lenyap dalam semak-semak lebat yang menyembuhkan luka manusia sama seperti badai. Tetap saja kami terus berjalan. Dari waktu ke waktu Pak Tua Antonio memakai parangnya untuk membuka jalan ketika sulur-sulur rambat menganyam dinding di depan kami. Meski kugunakan senterku sepanjang waktu, Pak Tua Antonio hanya menyalakan senternya sesekali, sebentar-sebentar mengarahkan cahayanya dari samping ke samping seperti mencari-cari sesuatu. Mendadak, ia berhenti dan mengarahkan sinarnya ke atas hutan untuk sekian lama. Kusorotkan senterku ke arah situ pula, tapi tidak bisa membedakan sesuatu yang khusus, hanya rontokan dahan, sulur-sulur, rumput, tanaman, dan tonjolan-tonjolan akar yang menyembul menembus tanah. “Nih dia,” gumam Pak Tua Antonio, dan duduk di dasar pohon, sekitar sepuluh yard dari tempat ia menyorotkan senternya sejenak tadi. Kami duduk di situ cukup lama, menunggu. Ketika kulihat Pak Tua Antonio melinting rokok, aku sadari tiga hal. Pertama, kami tidak sedang menunggu binatang (bau tembakau akan mengusirnya pergi). Kedua, tak apa-apa bila aku merokok, dan ketiga, Pak Tua Antonio akan mulai bercerita sewaktu-waktu. Jadi kukeluarkan pipaku, menghembus-hembuskan asap besar untuk menghalau agas-agas yang suka mengigit, dan menunggu Pak Tua Antonio mendongengiku, sama seperti waktu aku menceritakannya ke La Mar, dan yang sekarang kukisahkan pada kalian.

Kisah Malam

“Orang-orang yang tak tahu berkata bahwa malam menyimpan banyak bahaya besar, bahwa malam adalah gua penuh penyamun, tempat bayang dan ketakutan. Orang-orang yang mengatakan ini tidak tahu apa-apa. Tapi kau harus tahu bahwa orang-orang busuk dan jahat tidak lagi berjalan tersembunyi dalam lipatan hitam Malam atau mengedap-endap di gua-gua. Tidak, yang busuk dan yang jahat berjalan di terang hari bolong, tanpa terhukum. Yang busuk dan yang jahat tinggal di istana-istana megah Kekuasaan, pabrik-pabriknya sendiri, bank-bank serta sentra-sentra perdagangan besar. Mereka berdandan sebagai senator dan deputi; mereka presiden negara-negara yang negerinya merana, yang bicara seakan mereka bukan orang busuk dan jahat berbicara. Yang busuk dan yang jahat menyelubungi sampar kelabunya dengan ribuan warna dan berjalan dalam warna apapun pilihan mereka.” “Ya,” kata Pak Tua Antonio menghembus-hembuskan asap, “yang busuk dan yang jahat tidak lagi bersembunyi. Mereka memampang diri bahkan menyusun pemerintahan. Tapi tidak senantiasa seperti ini. Ada kalanya ketika yang busuk dan yang jahat tidak berjalan di siang bolong. Terlebih lagi, tak seorang pun berjalan di siang hari bolong karena siang belumlah ada. Inilah zaman malam dan air, dan segala sesuatu berada di dalam Malam. Yang paling sepuh di antara sesepuh bercerita bagaimana segala makhluk berada di dalam Malam, dan yang bisa mereka perbuat hanyalah melintasinya dari satu tepi ke tepi lain, tanpa pernah menyebrang ke lain sisi, bukan karena mereka tidak mau, tapi karena belum ada sisi lain itu, hanya Malam yang agung dan sunyi.” “Mereka juga bercerita bagaimana dalam Malam inilah dewa-dewa teragung bertemu untuk pertama kalinya, yang paling mula yang melahirkan dunia. Bebarapa orang berkata kesepakatan pertama mereka adalah membikin Siang, sebab mereka paham sepenuhnya bahwa harus ada siang, dan bahwa malam harus mengikutinya. Tapi bukan begitu kejadiannya. Tidak, kesempatan pertama dewa-dewa yang paling mula itu adalah mengusir yang busuk dan yang jahat keluar dari malam. Yang paling sepuh di antara yang sepuh bercerita bagaimana dewa-dewa pertama itu punya banyak alasan bagus atas keputusan mereka mengusir yang busuk dan yang jahat keluar dari rumah Malam. Mereka bilang bahwa Tepeu, pemenang segala pertempuran, bicara dan menyatakan dengan jelas bahwa baik malam maupun dunia yang baru dilahirkan bukanlah tempat bagi yang busuk dan yang jahat, dan meskipun bakal memakan waktu lama, mereka harus berjuang mengusir yang busuk dan yang jahat keluar.” “Gucumatz, yang paling bijak, dengan bulu-bulu quetzal menutupi tubuhnya yang lampai, berkata bahwa malam itu untuk berbuat baik, bahwa yang busuk dan yang jahat merintangi hal ini. Tujuh dewa pertama, yang teragung, yang jumlahnya dua kali tujuh dalam satu, bicara panjang lebar. Kesepakatan akhir mereka adalah bahwa yang busuk dan yang jahat harus diusir dari malam dan dilontarkan begitu jauh sampai kenangan dan ingatan pun takkan sanggup menjangakau mereka. Inilah yang disetujui dewa-dewa teragung itu, mereka yang melahirkan dunia, yang paling mula. Ini sebelum bumi, siang, atau apapun ada, ketika segalanya tak lebih dari malam dan air hening hitam. Inilah kata yang paling sepuh dari para sesepuh, dari mana masyarakat mempelajari kisah mereka. Di kota-kota terkuno, gudang penyimpanan dari apa yang kini kita bicarakan, para lelaki dan perempuan jejagungan melestarikan kisah tentang bagaimana dan mengapa segala sesuatu diciptakan.” “Dan yang paling sepuh di antara sesepuh bercerita bagaimana kesepakatan pertama itu disusul dengan masalah pertama: tak ada tempat buat mengusir yang busuk dan yang jahat, sebab pada waktu sebelum ini segalanya adalah malam dan air. Tak ada apa-apa yang sudah dibuat, tak ada yang ada. Segala sesatu menunggu waktunya. Maka dewa-dewa pertama kembali berunding dan melihat bahwa pertama-tama mereka harus mebuat hal ihwal dan tampat-tempat, dan baru dengan itu mereka punya cara untuk mengusir yang busuk dan yang jahat.” “Begitulah segalanya berwujud. Siang terlahir dari malam, begitu pula lelaki dan perempuan jejagungan. Burung-burung dan satwa-satwa dan ikan-ikan dijadikan, dan ada gerakan di bumi, di laut, dan di langit. Dunia mulai tergugah akibat beban berat perjalan panjanganya yang baru dimulai. Dan dewa-dewa pertama pun kelelahan, sebab mereka telah melahirkan begitu banyak, yah, seisi dunia! Dan di dalam dunia ini, mereka membuat banyak dunia lagi, masing-masingnya berbeda dan unik, namun semua dunia ini merupakan bagian dari dunia!” “Namun dewa-dewa teragung begitu letih sampai mereka lupa kesepakatannya untuk mengusir yang busuk dan yang jahat, mengirim mereka jauh di luar jangkauan ingatan dan kenangan. Lalu teringatlah dewa-dewa pertama ini bahwa mereka lupa, dan pergi memburu yang busuk dan yang jahat untuk mengusir mereka dan kemegahannya keluar. Mereka mencari di sekujur malam dan tidak bisa menemukannya. Mereka periksa setiap celah dan ceruk tapi tak ketemu apapun yang busuk dan yang jahat! Yang paling sepuh di antara sesepuh menjelaskan bagaimana yang busuk dan yang jahat memetik keuntungan dari kegaduhan penciptaan dunia untuk lolos lewat celah dari malam menuju siang, di mana mereka menyembunyikan diri di balik samaran pemerintahan. Sesekali, dari waktu ke waktu, dalam waktu beberapapun yang dibutuhkan Sang kala, yang busuk dan yang jahat berganti rupa, sehingga tanpa perlu menelantarkan Kuasa dan pemerintahan, mereka bisa terlihat seperti bukan diri mereka apa adanya.” ” Malam tetap di sini dengan sisi-sisi, pintu-pintu, dan jendela-jendelanya. Ia sendirinya hidup dan berkeliaran membuat terang yang menggantung di perairan gelap. Jelas, malam punya bayang-bayangnya, tapi mereka adalah bayang dalam bebayangan, lelaki dan perempuan yang tinggal dan merawat pegunungan, yang punya cahayanya sendiri dan bersinar dengan caranya sendiri. Yang paling sepuh di antara sesepuhlah yang mengatakan ini. Dan mereka berkata bahwa dewa-dewa pertama masih mencari yang busuk dan yang jahat sepanjang malam. Kau akan kerap menjumpai mereka membaliki batu-batu, atau mengguncang-guncang awan yang syahdu, atau mengaduk-aduk rembulan, atau menggores bintang gemintang untuk melihat tidaklah yang busuk dan yang jahat sembunyi di situ.” “Mereka juga bilang bahwa tatkala jenuh mencari, dewa-dewa pertama berkumpul bersama dan menghimpun seabrek bintang di atas api gelap pegunungan, dan dengan sinar biru serta cahya ratna mutu manikam menyiapkan sebuah tempat untuk menari dan bernyanyi, dan siaplah marimba yang terbuat dari tulang, kayu, dan sinar, dan mereka pun bermain, mengisi malam yang lahir di pegunungan Meksiko Tenggara. Mereka berbuat begini, katanya, sebab yang busuk dan yang jahat tidak suka menari dan bernyanyi. Konon mereka kabur dari suka cita yang dibangkitkan oleh lantai dansa.” “Dan yang paling sepuh di antara yang sepuh memberitahu bagaimana dewa-dewa pertama memilih sekelompok lelaki dan perempuan untuk mencari yang busuk dan yang jahat di seluruh dunia, menemukannya dan menyingkirkannya jauh-jauh. Dan agar tak seorang pun tahu, mereka sembunyikan kebebasan orang-orang lelaki dan perempuan ini dalam tubuh kecil-kecil dan mengecatnya coklat, agar mereka bisa menjalani malam tanpa rasa takut, dan di siang hari menjadi sewarna bumi. Dan agar mereka tidak lupa bahwa malamlah ibu, awal mula, rumah dan tempat dewa-dewa pertama, mereka memberinya topeng-topeng hitam untuk dipakai agar mereka bisa pergi tanpa wajah, dan bahkan pada siang hari pun, mereka bisa membawa sekeping malam dalam ingatannya.” “Yang paling sepuh di antara yang sepuh mengisahkan ini.” Kata Pak Tua Antonio sambil melinting rokok baru. Sesuai menyulutnya, ia kembali bercerita. “Orang-orang lelaki dan perempuan ini, yang begitu banyak di ceritai, dinamakan manusia-manusia sejati, dan mereka mulai mencari yang busuk dan yang jahat bersandingan dengan dewa-dewa pertama. Tapi pada beberapa titik, mereka harus keluar memasuki siang dam mencari yang busuk dan yang jahat di sana. Mereka harus keluar dan memasuki malam lewat pintu terbaiknya, subuh.”

Pak Tua Antonio jatuh terdiam. Di atas, gelap mengalah pada arak-arakan mentari yang tak terelakan. Satu desah cahaya terahkir menyinari pojok gelap penghabisan, dan sesudah meninggalkan bekas cakarnya di bukit, mendaki menuju lereng yang lebih tinggi. Ia bangun merengangkan kakinya, memeriksa parang mata gandanya, dan berkata “Nah, ayo pergi.” “Pergi?” Tanyaku. “Tapi bukannya kita akan berburu binatang atau apa?” “Tidak,” jawab Pak Tua Antonio tanpa sela. “Kita tidak berburu binatang apa-apa. Kita mencari yang busuk dan yang jahat.” Dengan cepat kami susuri kembali jejak kami. Waktu tiba di padang rumput, separuh jalan menuruni lereng, siang sudah menguap, dan kawanan ayam jago tidak seriuh kukuruyuknya. Pak Tua Antonio berhenti sejenak. Sambil menunjuk ke jahuan di arah barat, ia berkata, “inilah jamnya yang busuk dan yang jahat berkuasa. Mereka tidak bersembunyi sekarang; mereka berjalan di terang siang, dan dalam terang siang mereka mengkorup apapun yang mereka jamah. Tapi tidak di kala malam, tidak. Malam hari, malam itu milik kita.” Pak Tua Antonio jatuh terdiam, dan dalam kebisuan kami susuri lintas terahkir yang memisahkan kami dari gubuk. Waktu kami tiba, Dona Juanita sedang tiba pula dengan sebundel kayu di punggung. Sambil menurunkannya ia bertanya: “jadi, mereka muncul?” “Tidak,” jawab Pak Tua Antonio. “Kita mesti terus berjaga kalau begitu,” kata Dona Juanita, sambil menumpuk beberapa arang yang masih menyala dan menyalakan api. “Ya, kita harus terus berjaga,” kata Pak Tua Antonio, sekali lagi mengasah parang dua bilahnya di atas batu.

Di luar, siang terus merebut lahan. Tapi ia tidak memasuki gubuk Pak Tua Antonio, seakan-akan tahu bahwa penjagan atas yang busuk dan yang jahat terus berlangsung di dalam, seakan-akan takut bahwa api yang disulut Dona Juanita akan menimpa hari lainnya, “pagi yang baru.”