Catatan Pinggir & 4 Album Terbaik Nirvana, Sepanjang Masa.

Tulisan ini lebih personal.
Memory. Waktu itu tengah malam, saya terbangun dari tidur, mendengar suara tepuk tangan yang meriah dan suara siyulan orang-orang seperti acara musik disebuah konser. Suara itu ternyata berasal dari radio, saya pun melihat abang-abang saya pada tertidur, musik itu menemani malam. Saya tau abang yang pertama memutar musik itu, jadi otomatis saya ikut mendengar, satu kamar kami bertiga. Saya cowok urutan nomer tiga dan punya abang cowok dua. Abang pertama yang mengerti soal radio. Masih belia waktu itu umur saya sekitar 9 tahun, masih sekolah dasar, tidak pernah berani cara menyalakan radio, karena takut, takut kenapa-kenapa (baca rusak) karena tidak mengerti, hari demi hari sudah mulai terbiasa dengan perangkat pemutar musik, walau kadang cuma melihat abang saya cara menyetelnya, sehingga saya memberanikan diri untuk mencoba menyentuh perangkat yg merubah hidup saya. Awalnya cuma melihat sebuah kaset yang sering abang putar diradio, sekotak kecil dan terlihat sampul kaset itu, berwarna putih, frame dengan garis kuas lukis warna hitam, ada beberapa orang sedang memegang alat musik masing-masing dengan hiasan, sorot cahaya sinar lampu dan gordeng ditemani lilin dan bungga tulip, nuansa yang kalem dan hening bertuliskan. MTV UNPLUGGED IN NEW YORK. “Oh” ini yang sering diputar waktu malam. Band itu bernama “NIRVANA“.
Rumah. Jakarta utara, tahun 1996. Adalah dimana moment itu berasal, disebuah rumah, yang penuh kehangatan. Kami dikamar selalu mendengarkan Nirvana dengan volume kencang dan sampe memasuki alam bawah sadar saya. Karena abang pertama lah yang membawa semangat melalui sebuah kaset pita dan radio polytron. Mungkin pada saat itu bang saya tidak niat untuk adik-adiknya ikut mendengarkan juga, “(mungkin)”, dan dinding kamar kami full terisi dengan poster-poster Nirvana dan Kurt Cobain, tidak ada yang tersisa ruang kosong sampe atap lampupun penuh dengan gambar – gambar, sungguh pemandangan yang indah. Dan Didepan rumah melihat jendala dari ruang tamu kearah depan terlihat gambar ditembok yang dibikin abang pertama mengunakan cat pilok, gambar itu wajah Kurt Cobain yang ukuranya sangat besar, berkacamata pantai. Dan kata-kata Grunge ditembok-tembok rumah, sebuah coretan yang begitu abstrak ramai dengan tulisan. Saya pun jadi terbiasa untuk berani nyalakan radio sendiri dan memutar lagu-lagu Nirvana, ketika abang berangkat kerja, saya mulai siap-siap obrak-abrik koleksi kaset-kaset abang dan ternyata cuma beberapa buah kaset Nirvana yang ada. Terdiam sesaat ketika pertama kali tau judul lagu Nirvana yang “about a girl” sambil memutarnya, mungkin lagu pertama yang saya tau dengan judul. Abang adalah sosok yang memperkenalkan kami dengan musik, mewariskan sebuah pencerahan kala itu. Tahun berganti dan telah wafat abang yang pertama, tanpa almarhum mungkin tidak tau apa itu musik. kami berdua (saya dan abang yang kedua) dikamar selalu mendengarkan Nirvana untuk menemani hari-hari waktu di rumah, dengan mengenang moment-moment almarhum yang selalu aktif sambil mendengarkan musik. Dan mamah sudah mulai marah-marah apa bila kami memutar lagu dengan volume keras karena masih menyimpan memori kepada abang tercinta. Hingga kami pun mulai jenuh dan harus meruyak kepermukaan, dan dibekali pengetahuan yang kami tahu, artinya sudah dapat teman tongkrongan dengan radar dan frekuensi yang sama, karena kami bergenerasi dari abang-abang yang suka dengan satu bahasa yaitu “musik“. Oke mungkin ini terlalu panjang untuk memulai dengan album-album Nirvana terbaik sepanjang masa menurut saya, les’t go!.
4. BLEACH.

Label Sub Pop
Album “Bleach“. Di produs oleh “ Jack Edino”. Entah mengapa album ini begitu berpengaruh, dari sound dan teknik cara mereka menghasilkan out put yang begitu “grunch”, tentu album ini adalah pembuka gerbang awal Nirvana, menjadi kreativitas setelah album berikutnya. Dari suara yang dihasilkan begitu solid dengan sound gitar yang berat dan bissing dimana kurt merekonstruksi noise dan efek suara yang organik, bakal jadi cirikhas kurt dikemudian hari. “Bleach” mengutamakan suara dentuman bass yang begitu super tebal, sehingga para penikmat album ini pasti juga tau. chad channing, sang drumer begitu compak dengan sang bassic kris novoselic, menyainggi suara gitar kurt cobain dan jonson everman, mereka berempat begitu compleks bisa didengar dari track-ketrack. album ini bersuara begitu mentah, kadang alus dengan kadar gelap, sang vocal kurt masih bermain dengan nada mencengkam, menyerit, teriak, emosi, seperti lagu pembuka, “Blew”, terdengar kurt bernyanyi diawal setelah intro dengan nada setengah mabuk, dengan lirik: If you wouldn’t mind, I wouldn’t like it blew/If you wouldn’t mind, I wouldn’t like it lose/If you wouldn’t care, I wouldn’t like to leave/If you wouldn’t mind/I wouldn’t like to breathe. Dan “Chorus” yang ketika dimana kurt bernyanyi dengan nada tempo dinaikan dan tertahan geram. “Is there another reason for your staying/Could you believe him when you distrust his stain/Here is another word that rhymes with shame”. Tetap elegan, bercerita tentang “kegelisahan sesorang yang tidak nyaman dan harus tetap tinggal ditempat itu”. Bisa dilihat kurt meramu lirik dengan simple tapi tetap congkak pembawannya. Kurt selalu menyamai suara lengking gitar “fender” suara vocal berbarengan. Nuansa post rock grunge, alternative, hingga breakdown di berapa grip gitar dengan tempo cepat, lambat dan berat, punk masih diselipkan diketukan untuk beberapa track, sperti “Mr. Moustache”. Tak sedikit “pop rock” contoh lagu “about a girl“ begitu “cathy“, nadanya seperti lagu “the beatles”, tapi versi rock, dimana kurt sangat menyukai band asal inggris itu. Track “school” dengan post rock grunge yang begitu gelap nan murung, full distrosi dengan tempo cepat begitu fresh. Dan apa bila kalian mendengarkan detail cover dari lagu band “Shocking Blue”. “Love bazz”, dimenit 2:23 sampe kemenit 3:00 kurt begitu merekonstruksi noise-noise, ambient dan bebuyian efek gitar yang dihasilkan begitu abstrak, layak di catat betapa jenius kurt bermain sound di album pertamanya. Konon “Bleach” di modalkan penuh oleh sang gitar jonson everman sekaligus fans Nirvana. “Bleach” selalu mempunyai cerita benang merah dari lagu awal hingga akhir, bertemakan cerita “tentang kota tempat dimana kurt cobain dilahirkan dan dibesarkan, Aberdeen dan Whasington“. Album ini layak didengarkan untuk mengingat masa-masa sebelum berjayanya Nirvana.
3. INCESTICIDE.

“Incesticide” sebenarnya bukan album tapi kompilasi lagu-lagu Nirvana sebelum album “bleach” dan sedudahnya di rekam, sekitar tahun 1988 – 1991. label “Geffen Records”. Dengan durasi 44 : 44. Berisikan 15 lagu dan 4 drumer untuk mengisi track seperti: “(Mark Mothersbaugh, Gerald Casale)“, pada track “(Turnaround)“. “(Eugene Kelly, Frances McKee)“, pada track “(Molly’s Lips)“. “(Kelly, McKee)” pada track “(Son of a Gun). Selebihnya oleh “(dave grohl)”. Sampul album kompilasi ini begitu dingin dan misteri, rumor cerita tentang perjuangan kurt cobain terhadap kecanduannya dengan heroin. Karena gambar sampul itu kurt sendiri yang buat. Di buka dengan lagu “Dive” sound yang begitu raw nan rock aleternative, masih dengan cirikhas Nirvana tentunya, “Incesticide” kita tarik mundur kebelakang, kurt dan kawan-kawan masih mengidolakan “Punk” bisa di dengar di lagu “Molly’s Lips” “Son of a Gun” “(New Wave) Polly”. Nirvana bermain dengan lagu tempo cepat dan suara (waw-waw), melodic nan abstrak tak beraturan tapi terkonsep noise-noise yang selalu diselipkan di bebrapa track dan suara gahar dari sound gitar, jarang suara clean hanya di selipkan beberapa lagu. Track favorit saya “Big Long Now” menceritakan “kegelisahan seorang yang tak yakin atas dirinya dan lebih memilih tertutup“, kurt pun berucap dengan nada lepas, di bagian “Chorus“. “Endless climb/I am blind/Why can’t I leave/Color blind/Speaking a phrase/Instantly grown/I am blind/Waiting in line”. Kalian akan dibawa kedalam irama emosi dan kegelisahan, kurt bernyanyi begitu menjiwai. Dan track paling rumit “Aero Zeppelin” yang didedikasikan kepada (“Aerosmith-Led Zeppelin“) lagu penghormatan terhadap dua band legendaris itu, kurt mengatakan dengan lirik: “How a culture comes again, it was all here yesterday/And you swear it’s not a trend/doesn’t matter anyway/There’s only here to talk to friends, nothing new is everyday/You could shit upon the stage, they’ll be fans” dimana kurt dengan sangat bangga menjadi fans dua band idolanya, kurt melakukannya dengan petikan gitar clean, noise berpindah ketempo yang cepat dan detumam bass yang menggiringi. Ditutup dengan track paling gagah “Aneurysm“. Incesticide adalah lagu-lagu secara acak di susun dalam satu album kompilasi, yang menjadi “milestone”.
2. NEVERMIND.

Sebetulnya bukan tidak menaruh “Nevermind” diurutan nomer satu, sudah di pertimbangkan sebelum menulis “riview” album Nirvana, banyak alasan sebenarnya ketika saya memutar ulang album ini untuk meyakinkan, karena ini lebih personal. Oke siapa yang tidak tahu Nevermind? Sepertinya di toko-toko kaset dan stasiun televisi seperti “MTV” hingga di ramayana memutar lagu-lagu di album ini waktu itu. “Nevermind”, Era kemasan emas tahun 90’s yang dimana anak muda butuh kesegaran untuk melawan kebosan dan merubah wajah musik dunia tidak sama lagi. Sound modern yang banyak band-band ingin mengikutinya dan terinspirasi dari lirik dan nada, sound yang dikeluarkanya begitu fresh, rock alternative, nuansa sinematik. Mahakarya yang sungguh indah didengar. Kali ini bisa tau kreatifitas Nirvana begitu berbeda-beda dari album sebelumnya, Nirvana sepertinya tau bahwa saatnya dunia butuh perubahan. Album dewasa ini masih di labeli oleh “DGC“, dan tentunya layak di catat tanpa “Dave gorhl” sepertinya ini cuma album biasa kedengarannya, Dave begitu berpengaruh atas apa yang ia perbuat di Nevermind, Nirvana sepertinya menemui format yang kompleks dan pas untuk kurt cobain dan kriss novoselic, sang pukulan drumer maha super power mengebrak “Nevermind” dengan tempo teratur nan gahar begitu dasyat didengar, konon katanya dave gorhl terinspirasi dari drum-drum “Disco” tahun 70 – 80, untuk materi album “Nevermind”, Dave ialah drumer baru penganti “chad channing” bisa di dengar perbedaannya, tapi di lagu “Polly” Chad channing masih mengisi simbal di dimenit 2:28 pengabisan lagu. Untuk track sebenarnya Nirvana ingin melepas single “In bloom” untuk gebrakan “Nevermind”, tapi dunia berpaling dengan single “smells like teen sprit” dengan lirik yang mendunia “Chorus”: With the lights out,/it’s less dangerous/Here we are now,/entertain us/Life is stupid/and contagious/Here we are now/entertain us. Dengan 4 chord distrosi grunge plus melodic simple cirikhas kurt, single ini begitu membuming dengan kadar super fresh bisa dibilang new rock modern, walau istilah new punk rock, alternative grunge atau istilah apalah, yang pasti album ini telah melampaui batas musik itu sendiri, dengan kejelian kurt meramu lagu-perlagu dan vocal yang begitu gagah pembawannya, sound tidak diragukan, karena kalian tidak akan skip lagu berikutnya. Di produseri penuh oleh “Buth vig” sayang kurt tidak boleh memegan kendali atas out put, dan masih di kontrol oleh sang produser, akan jadi timbal balik di album berikutnya. Untung kita masih disuguhkan track brutal dan liar, “Territorial Pissings” dimana kurt memainkan chord gitar dengan cepat dengan pukulan drumer yang maha keras dan ngebut mengiringi nada gitar, kurt ahli soal ini. Di track “Drain You” yang merekonstruksi noise-noise dan bebunyian dimenit 1:40 kemenit 2:32, kalo kalian jeli kurt cuma memakai sound dan efek gitar untuk bebuyian seperti itu sunguh epic, dan track paling depresi “Endless, Nameless” lebih banyak instrument noise-noise ambient dan cuma beberapa nada dari segi tekstur sound dan teknik kurt meramu bebunyian kasar, track favorit saya yaitu “Come us you are” dengan petikan gitar membawa saya kelirik: “Come as you are/as you were/As I want you to/As a friend, as a friend, as an old enemy/Take your time/hurry up/The choice is yours/don’t be late”. menceritakan “untuk menjadilah diri sendiri“, judul itu pun di ambil dari papan nama, tepatnya di kota Aberdeen. Dan sebuah lagu yang berjudul “Shomething in the way” menceritakan “masa yang begitu kelam, kenangan panjang menyimpan kisah-kisah yang di bungkus menjadi pudar“. Album ini sayang bersuara terlalu “Clean” buat saya. “Nevermind” menceritakan tentang apa yang kurt alami dan dituangkan dari lagu-kelagu dan disusun ke dalam satu album dan hasilnya begitu indah, tak akan tergerus oleh zaman.
1. IN UTERO.

Direkam 13–26 Februari 1993.
Label DGC
Memoryabel. Saya dulu untuk memperoleh album ini sungguh sangat sulit karena pertama era internet tidak ada, memperoleh kaset pita (baca tape deck) itu sungguh susah karena album-album yang saya suka belum tentu ada di toko-toko kaset dan mempunyai artefak ini adalah kewajiban yang harus. Teman-teman pun sudah tidak peduli dengan kaset pita cuma hanya mau mendengar, saya masih telaten mencari dan memutar bersama teman tongkrongan walau kadang sudah pada dengar album “In utero” di single-single lepas dan boleh pinjam sana-sini. Langanan saya di toko kaset ramayana permai lantai tiga, niat untuk membeli album “phantom planet” tiba-tiba saya melihat rak kaset terpanpang semua album nirvana, cuma album “bleach” yang sudah laris terjual, saya tidak pikir panjang untuk membeli dua album sekaligus “Incesticide” dan”In utero”, pulang dengan antusias mengebu-gebu, goes pedal sepeda secepat motor, memutar “In utero” seharian membulak balik cover album. Esok harinya saya berangkat kesekolah dengan rasa bangga langsung pamerin keteman saya si jay untuk pembuktian bahwa sound “grunge” masih ada dan “in utero” jawabannya, teman saya heboh seperti menang judi, menanyakan dapat dimana luh, oke sudah terlalu panjang untuk ingatan masa itu.
In utero. sound ajib dengan tekstur distrosi full “grunge“, bebuyian kasar noise-noise di setiap track, drum sember di beberapa track, begitu organik, kadang klise kadang gelap, ini jawaban atas kegelisahan Nirvana setelah album “Nevermind”. “In utero” begitu fresh dengan sound yang begitu raw, album yang begitu rumit. Kurt begitu liar tak terkontrol, lepas dari keterasingan, merekonstruksi setiap sound dengan begitu jenius, tak ada track gimick-gimick komersil yang ada penuh dengan pengebrakan hampir semua sound dan teknik album Nirvana di masukan ke “In utero” dari chrod gitar hingga out put dan disempurnakannya, tambahan suara celo di gabung dengan distrosi kasar, petikan gitar cempreng kali ini suara bass tidak tebal yang ada suara drum dan efek gitar. Dave gorhl lebih buas nan gahar seperti tidak pakai tempo, kombinasi sound kurt yang tak terkendali mengiringinya, di produs oleh “Steve Albini” kurt tau harus memilih siapa untuk sound out put di album ini. Anda akan dibuat klimaks dengan noise-noise acak tempo yang naik turun, pop rock yang modern hanya amarah bentuk perlawan kurt terhadap generasi X, kurt pun bernyanyi seperti menuangkan kegelisahan lewat track paling vulgar “rape me” cerita tentang “kekerasan, pelecehan, dan perkosaan terhadap kaum perempuan“. Kurt pun berucap dengan sedikit nada sinis nan santai, “Hate me/Do it and do it/Waste me/Rape me my friend/Do it and do it again/Waste/Rape me my friend”. Begitu jelas, sedikit pop poles rock, di album ini kurt bernyanyi dengan ciri khasnya, dan ada sebuah track yang begitu ngaco dari segi musik, teknik yang rumit dan vocal yang teriak seperti mabuk dan marah-marah “Milk It” track tentang “perasaan kurt ke Courtney Love” sound grunge, tapi begitu epik. Track “all apologies”, kurt menghadirkan gesekan celo, dengan ahkiran lirik yang menjadi “pantheon”, selogan paling baik dalam musik rock, “All in all is all we are“. Track pembuka album “Serve the Servants” sebuah teriakan atas “pencerian kedua orang tuanya” kurt berucap dengan lirik: “They hurt really bad/I tried hard to have a father/But instead I had a dad” masih tentang kehidupan kurt, dan masih ada track liar seperti “Tourette’s” dengan tempo cepat membawa kembali marwah di album nevermind. “Very Ape” track favorit dengan bebunyian gesekan gitar dengan tempo cepat apa bila mengunakan headset suaranya akan dari kiri-kekanan dan sebaliknya, kurt beryanyi seperti tidak mengikuti metronome kalo didengar detail. Track “Dumb” dengan sayatan celo, kurt faham betul kenapa harus celo untuk mengisi track ini, nuansa pop rock tapi kurt tetap memakai dristrosi setiap chorus. walaupun setiap album Nirvana hampir tentang kehidupan kurt cobain, tapi “In utero” adalah album begitu sempurna dengan bersuara paripurna, ajibnya kenapa, apa bila diputar ulang pasti memiliki suara yang berbeda-beda karena kurt merekonstruksi bebuyian noise-noise yang abstrak, tidak akan bosan bila didengar terus dan memiliki marwah yang begitu membawa kedalam nuansa memasuki “Nirvana“. “In utero”, mahakarya yang sungguh indah yang pernah Nirvana ciptakan dan membuat kalian akan terus menggingat siapa sound terbaik grunge pada masa itu hingga sekarang.














