MELAMPAUI PERKARA PROGRESS & TRADISI DALAM HIP HOP

Salah satu acara dikota Bronx, sekitar tahun 1980an.

Tulisan ini diambil dari buku flip da skrip.

LAHIR DI NEW YORK PADA AKHIR
dekade1970-an, hip hop tentu saja bukan “hip hop” ketika Kool Herc membuat pesta awal tahun ajaran baru di Bronx, atau ketika Grandmaster Flash membeli dua buah piringan hitam yang identik sama untuk kemudian diputar di pesta-pesta komunitas yang haus hiburan namun tak pernah punya cukup uang untuk menyewa club. Bisa pula kalian bayangkan, hip hop bukanlah “hip hop” yang kalian kenal (apapun itu) hari ini, saat beberapa pembawa acara pesta jalanan memulai ritual dengan MC menyapa crowd dan memanfaatkan mic untuk hura-hura, karena instrumen musik sukar diakses. Atau mungkin pula ketika sekumpulan anak muda brengsek menari saat break beats diputar oleh para DJ dan melawan arus dansa-dansi disko membonsakan di era itu. ‘Hip hop’ masih berupa istilah yang digunakan anak muda berhura-hura di satu kabupaten. Pula saat seorang bomber bernama supercool menganti cap standar pada spary can dengam sebuah fat cap untuk dapat membuat graffiti blockbuster yang kemudian menghiasi kereta-kereta New York di tahun-tahun sesudahnya. Juga saat Grand Wizard Theodore menemukan teknik scratch, membolak-balik piringan hitam. Saat itu hip hop bukanlah ‘hip hop.’ Ia masih berupa imajinasi liar tak terkendali yang datang dari hasrat dan kebutuhan yang membebaskan di tengah segala keterbatasan. Seperti proyek kultural lain yang belum pernah benar-benar selesai dan mungking pula tak pernah terpikirkan telah dimulai- Hip hop, saat itu tentu saja belum memiliki stigma-stigma, imaji. Gimmick, bullshit atau apapun yang melekat pada “Hip hop” hari ini. Mungkin oleh karena itulah, hip hop di ahkir 1970-an hingga awal 1990-an begitu imajinatif, ekspresif, menyegarkan, liar, membangkang dengan intens dan tentu saja menghibur dan menginspirasi. Saat itu, industri masih jauh dari tertarik kepada kultur yang hari ini dapat menghasilkan milyaran dollar tiap tahunnya. Mungkin itu pula alasan mengapa suara kultur ini pada 10 tahun awal begitu beragam. Karena pada titik awal sebuah petulangan, hip hop tidak pernah memiliki blueprint, sesuatu yang bertolak belakang dengan kondisi hari ini, ketika ‘trend’ adalah parameternnya, dan ‘pasar’ adalah panglima. Saat Afrika Bambaataa memulai mengorganisir komunitas para DJ, MC, Breakers dan Bombers untuk berbuat sesuatu di ghetto-ghetto mereka, hip hop masih belum memiliki ‘judul.’ Mungkin karena itu pula mereka membuat lagu bertitel “Renegades of funk.” Sebagai salah satu pelopor hip hop. Bambaataa bisa saja memberi judul lagu itu “Pioneers of Hiphop.” Namun saya yakin Bambaataa tidak memiliki pandangan demikian. Paling tidak, tidak saat itu. Bambaataa tidak menyadari bahwa apa yang sedang mereka lakukan merupakan sebuah usaha pembangkangan terhadap musik pendahulu mereka, Funk yang pada saat itu mencapai titik jenuh. Renegades of funk, para pembangkang ‘funk.’ kata-kata memang kadang membebaskan namum pula memenjarakan ketika dia sudah mencapai status totem. Di hari Bambaataa mengambil sample sebagian porsi lagu “Trans-Europe Expres” milik Kwaftwerk, tak pernah satu mediapun mengatakan bahwa Bambaataa sedang melakukan hal yang ‘eksperimental.’ di hari DJ DST berkolaborasi dengan The Last Poets, tak ada yang menyebutnya ‘nyeleneh.’ Saat N.W.A. meledak, medialah yang paling ganas menamai fenomena mereka sebagai gangster rap, sama halnya pada saat Public Enemy mengetarkan dunia dengan It takes A Nation of Millions to Hold Us Back, tak pernah ada yang menamainya sebagai Political hip hop, yang ada hanya hip hop, and that’s the way it was. Hip hop selalu berati petualangan, pengembaraan ‘berbahaya’ di medium apapun yang sedang digemari oleh anak muda ghetto saat itu. Entah mengapa terminologi itu hari ini dianggap ‘eksperimental.’ ‘keluar jalur.’ ‘tidak lazim.’ seolah memang ada sesuatu yang ‘seharusnya’ dalam memaknai hip hop, terlebih tentang hidup dan keterasingan yang coba direprentasikannya. Hip hop, mungkin, seperti layaknya produk kultural lainnya, sudah selayaknya dibiarkan menjadi sebuah ide dan imajinasi terbuka. Ia harus tetap liar dan terbuka untuk kemungkinan apapun. Dengan kondisi seperti itu, kita akan berkesempatan menjumpai beragam wujudnya dalam bentuk yang terburuk sekaligus yang terindah. Kita pernah menyasikan hip hop berwujud musik generik butut tanpa ampun seperti Vannilla Ice dan MC Hammer, namun kondisi itu pula yang melahirkan mahakarya hip hop dari Public Enemy hingga Nas. Seperti halnya tembok polos tanpa otoritas, akan sempat melahirkan coretan tagging nama geng motor yang tak akan pernah bisa dibilang bagus, namun pula akan melahirkan piece grafiti berwarna pelangi yang akan membuat kalian menghentikan kendaraan dan berdiri di depannya tertegun selama beberapa detik, menit, atau mungkin jam. Ini akan sangat berbeda ketika kalian menyasikan piece serupa di sebuah event ‘street art’ bersponsorkan korporasi rokok raksasa yang memaksakan kepada kalian definisi ‘seni jalanan’ tadi ke sebuah wilayah pemaknaan yang lebih sempit. Sama halnya dengan adrenalin yang menghilang ketika kalian menyaksikan break dance tak lagi menarik meski ditampilkan dalam suguhan ‘battle’ di sejumlah event televisi yang selalu begitu-begitu saja. Seperti halnya fenomena luar biasa lainnya di dunia ini, hip hop adalah potret sebuah usaha keluar dari keterasingan dan kebosanan. Namun sama nasibnya dengan rock ‘n roll dan punk yang tereduksi menjadi sekedar ‘Rock ‘N Roll’ dan ‘Punk.’ hip hop hari ini tak lebih dari sekedar ‘Hip hop.’Sebuah entitas yang seringnya juga lupa akan titik berangkat identitas dan pekmaknaan. ‘lupa’ mungkin terlalu didramatisir ‘tidak peduli’ mungkin lebih tepat. Terlebih perihal keterasingan, hip hop adalah bagian dari keterasingan diri dari sejarahnya. Represntasinya bisa menengok pada Lil Yachty soal “Biggie is overrated” atau pada Vince Staples yang berkomentar panjang soal mengapa hip hop sembilan puluhan itu menyebalkan. Sebuah fenomena disrespectful yang jarang terjadi pada generasi sebelumnya. Ini akan lebih menggelikan jika membadingkannya dengan kasus serupa di genre lain, metal misalnya, Metalheads melenial akan dengan apresiatif dan bangga pada, katakanlah, Slayer dan pantera. Meski Iron Maiden adalah musik kakek mereka, rasanya tak pernah ada sentimen “Iron Maiden is overrated” lahir di tradisi metal. Semoderen dan seprogesif apapun Avanged Sevenfold dan Kylessa, kalian akan melihat mereka memakai T-shirt Black Sabbath dengan rasa bangga. Ada kepekaan sejarah yang membuat mereka mencari peta genesis dari musik yang mereka mainkan. Ada alasan penting belakangan Eminem sering memakai T-shirt dengan sampul-sampul album rap yang menginspirasinya di era awal. Ia lelah dengan debat tak berujung tentang ‘generation rap.’ keogahanya terlibat dalam debat itu dan menegasikannya dengan memakai T-shirt sebagai langkah simbolis. Eminem paham betul bahwa musik rap-nya adalah produk terkini dari sebuah tradisi panjang. Sesuatu yang tidak akan hadir jika tak ada seseorang yang mempeloporinya. Rap Eminem mungkin tanpa Nas dan AZ. Nas dan AZ takmungkin lahir tanpa inovasi Rakim atau Kool G Rap, Rakim dan Kool G Rap paham bahwa mereka berhutang pada Melle Mel dan Kool Moe Dee. Melle Mel dan Kool Moe Dee merupakan produk dari acara-acara Kool Herc di era formatif hip hop dimana seorang MC bernama Coke LaRock mulai mengambil mic dan nge-rap di atas musik yang diputar Kool Herc. Jika kalian lacak, akan selalu ada DNA break beats yang sejak awal telah menjadi fondasi musik hip hop, bahkan untuk model paling modern dari hip hop semodel trap sekalipun berhutang pada pola ritme dan suara drum kit sederahana era disko dan funk. Persis seperti Afrika Bambaataa yang membangkang dari funk, ia tak bisa memungkiri bahwa tak mungkin ‘mengada’ tanpa funk dari generasi sebelumnya. Ia pun sadar akan hal itu. Sesuatu yang lampau adalah satu hal penting dan keunikan lain dari hip hop. Ia bisa merepsentasikan gambaran masa depan, dengan memakai potongan kolase masa lalu. Persis seperti Rammellzee dan semua karya-karyanya. Hip hop selalu merupakan sempurna brikolase dalam kebudayaan populer, bahwa tak pernah ada yang benar-benar orisinal; kita terpengaruh dan meminjam apa yang dihasilkan mereka yang mendahului kita dalam milestone sejarah. Kita selalu meminjam dan mendaur ulang, menambahkan dan menyempurnakan yang sudah ada. Tradisi atau kebiasaan memberikan ‘props’ bagi pendahulu bukan hadir tanpa alasan di dalam hip hop. Oleh karena itu, saya yakin ‘ignoran’ terhadap trend yang belakangan hanyalah sekedar… trend. Karena bagaimana bisa kalian menginkorpotasi estetika hip hop sambil mempersetankan masa lalu dan apapun yang melatarbelakangi kelahiranya? Sebelum saya dituduh memperumit hal yang sederana, saya ingin menyimpulkan sedikit perkara progress-tradisi hip hop ini, bahwa saya tidak sedang berupaya untuk membuat sebuah panduan dalam mengapresiasi hip hop. Saya hanya ingin sekedar berbagi keajiban yang pernah hadir dalam hip hop yang sedemikian rupa, sedikit atau banyak, memberi inspirasi, membebaskan dari kebosanan dan keterasingan, memberi saya petualangan, dan membentuk saya sehingga saya merasa berhutang kepadanya. Karena bagaimanapun saya masih menyakini bahwa, dalam hip hop, berbagi satu hal yang kalian sukai akan lebih berguna dibanding membicarakan sejuta hal yang tak kalian sukai.

Hari yang berlalu, dengan suasana yang sama.

Untuk lara bertemu asa
menapaki jejaknya yang hening dan terjaga,
sunyi senyap.
Saya yang tertidur masih merasakan gelisah, pada malam itu, hingga menyakinkan untuk bisa bangkit.

RUTAN & LORONG. Tetapnya di rutan salemba jakarta. Blok lantai tiga, kami yang biasa dilapak tiduran dan senderan, di depan kamar, nomer setiap pintu, kala itu dua bulan belakangan saya mengalami sakit pembengkakan di leher sebelah kiri, yang saya anggap itu biasa, hingga sampe saat begitu cepat, sudah berjalan tiga bulan, makin membesar entah, banyak yang asumsi itu bisul, di penjara penyakit yang tau hanya, gatel-gatel, badan masuk angin (kerokin), ma bisul, banyak juga tapi itu yang “exist”, saya yang tiduran sudah mengalami deman yang takunjung reda hingga pusing kepala, tapi rasanya ingin bergerak dan melakukan aktifitas, tapi kondisi badan sangat tidak memungkinkan, yang ada saya peluk guling sambil merintih balik sana-sini, ahkirnya dengan kegelisahan, saya menghubungi orang rumah, yaitu mamah untuk memberi tahu sakit ini, mungkin bisa rada lega, tapi saya ragu apakah entar kepikiran keluarga di rumah, tapi yasudah tetap untuk menghubungi, ternyata keluarga di rumah sudah memperkirakan sakit itu di saya, artinya tinggal saya yang belum mengalami, “ah saya terkejut”!. Kata mamah adek dan kaka saya sudah mengalami sakit itu, dan mama pun menjelaskan, kenapa itu bisa terjadi, awalnya waktu saya kecil saya dibawa ke puskesmas untuk di “imunisasi”, sesimple itu, percaya tidak percaya tetap saya percaya, karena itu mamah tercinta yang berbicara, “anak mama cuma abang saya cowok tidak di “imunisai“, sampe umur lebih jauh dari saya tidak kenpa-kenapa tentang pembengkakan di leher, kecuali adek dan kaka saya, pemerintah menggimunisasi masyarat dengan memberi virus biar pada sakit, “pemerintah memang jahat” ucap mamah, saya langsung teringat waktu masih smp, mamah itu anti politik, tapi politis, waktu itu pernah saya tanya, mamah pernah nyoblos atau ketempat bilik kotak suara untuk memilih president, kata mamah tidak pernah dan tidak akan pernah, untuk apah nyoblos, mamah gak dapet apa-apa untuk itu, tetap saja kita kerja cari uang sendiri. Karena mamah orangnya religuis dan fanatik, saya tambahkan dengan pertanyan, kalo agama apakah boleh masuk kepolitik, “di jawab justru boleh karena nabi berdakwah kemana saja”, intinya berkerja keras dan berdoa, saya langsung berfikir ternyata mamah seorang punk yang lebih punk, waktu smp saya masih ngepunk di tongkrongan untuk mengambil idiologi dan tata cara kerja mandiri, eh ternyta mamah saya malah punkers banget. Dan ini lah yang ngebentuk prespektif saya di kemudian hari, mamah seorang otoriter soal religius untuk anak-anaknya tapi baik hati, dan saya hampir tidak menyimak obrolan mamah di telephone karena terbawa masa smp. Maklum hampir dua tahun tidak bertemu secara tatap muka, hanya via telephone dan video call itu pun jarang pula, dan obrolan tertutup karena sudah. Saya di suruh nemui dokter untuk konsultasi kata mamah, esok harinya saya pun bergegas kesana kekelinik bertemu dokter, bicara tentang keluhan yang di rasa, dokter anggap biasa, karena sudah banyak yang penyakit begini, penyakit kelenjar getah bening “TBC” (tuberculosis), tapi saya sudah parah karena lama, tidak buru-buru konsultasi kedokter. Di kasih obat, saya lihat obatnya cuma sampe empat hari, sedangkan bengkaknya sudah besar apa mungkin dengan obat segini bisa sembuh. Setelah obat habis hasil tetap sama tak kunjung kempes, Saya berpikir untuk komsumsi obat anti – biotik karena saya melihat dan mencari-cari di internet, saya mengkomsinya dengan serius sambil di kompres air hangat tiap pagi, dan berujung sama pula. Ngeluh, yaudah coba saya menghubungi saudara saya, menanyakan perihal sakit kelenjar, mungkin saja tau, dia bicara panjang lebar, saya pun ikuti saran dia, soalnya cocok saran yang di ajukan kesaya tanpa obat, tiap pagi berjemur badan terkena matahari sampe kelenjar itu menguarkan keringat lewat pori-pori dan olahraga push up, dan ambil pernafasan melalui hidung lubang hidung sebelah kiri di tutup kanan menghirup udara. Kebetulan dari pagi sampe sore badan masih mau beraktifitas, yang penting katanya perbanyak tidur, karena tidur itu segala obat ucap dia, ternyata sakit begini emang benar susah tidur, di suruh rubah pola hidup sampe sebulan, saya pun melakukan sarannya, tiap pagi berjemur kena sinar matahari tidak sampe seminggu cuma tiga hari saya takuat dengan sakitnya langsung kelinik untuk bertemu dokter dan hal hasil, saya dirawat inap (polikelinik), mau tak mau saya siap dengan kondisi leher makin tambah besar pembengkaknya.

RAWAT INAP (POLIKELINIK) Pagi, siang, sore obat dikasih tamping kelinik (baca perawat kelinik) dan konsultasi kedokter tiap pagi, ingat disini saya dirawat inap, bukan di RS (rumah sakit) yang ada luar penjara, saya dirawat inap di rutan, dengan kapasitas suasana yang amit-amit coba itu air kecing orang tua itu dan tai belepotan di bawah tempat tidur di bersihkan. Tempat rawat inap ini lembab air sering mengalir kecil ke lantai dan selalu becek hingga bau, tamping pun paling beberapa hari membersihkannya. Awalnya kata dokter sebelum untuk di rawat inap, saya di suruh keruang isolasi, saya berucap ketamping untuk di isolasi tapi kata tamping jangan, dan “yah” di tempatkan di ruang pasien bukan isolasi, tapi beruntung saya tidak di ruang isolasi, karena tempat itu lebih buruk dan horor ketimbang yang saya tulis di atas. Cuma tempat khusus tamping kelinik yang paling nyaman, bisa kebalik gitu yah, yang sakit malah ditempatkan seperti itu, tapi kembali lagi karena di sini penjara. Saya bertemu pasien yang lain, yang beda-beda penyakit ternyata ada yang sakit sama seperti saya, langsung ngobrol tanpa basa-basi tentang gimana sakit yang dia rasa, tapi dia belum terlalu parah sakitnya, saya sering ngobrol sama dia bukan karena sakitnya juga, tapi lebih kengopi dan rokok, peraturan kelinik pasien dilarang merokok, mau tak mau saya merokok ngumpat-ngumpat bersama teman yang bernama “denis” dengan sakit yang sama, kala itu kami ngobrol santai hanya untuk berbagi kopi dan asap, hingga denis bercerita perihal dia semasa sebelum tertangkap. denis itu “ceriminal” kerjaanya merampok mini market bermain koboi-koboian dengan beceng di tangan dan kuda besi (baca motor), “begal” pula, perihal bertemu pembegal lain dan hal-hal ceriminal lainya. Sehari-hari dia berjualan minuman “ciu“, karena mungkin hasil penjulan tidak mencukupi kehidupannya, dia mengambil jalan menjadi “ceriminal” buat pengasilan lebih. Dia bercerita ketika apesnya tertangkap, denis berniat untuk merampok mini market karena denis “sepesalis” soal itu, menuju mini market mau itu alfamaret atau indomaret, denis bersama temannya melakukan aksinya dengan motor dan beceng di tangan, dia berhenti tepat di depan mini market, denis pun turun dan melihat ada orang di depan mini market sedang bermain hendphone dia samperin dan merampas hendphone yang di gengamnya, orang itu langsung kaget dan melihat denis, denis pun mukul wajahnya dengan pistol dan berjalan ke dalam mini market dan keluar memegang duit gepokan di ikat, dan langsung pergi naik motor dengan cepat, tangan kanan beceng tangan kiri uang hasil merampok, tiba-tiba dia di ikuti oleh taksi, yang ternyta taksi itu mau menangkap denis, hingga ahkirnya denis mengeluarkan satu peluru dengan asal-asalan karena panik, persis adegan di film-film “ection”, dan ahkirnya denis yang malang itu di tabrak dan tertangkap. Begitu serius denis bercerita ke saya sampe lupa rokok yang iya pegang tidak dioper, saya tidak mendengar jelas cerita si denis karena mata saya hanya melihat rokok yang iya pegang, saya pun berucap “abu rokonya”. Cerita seperti denis ini sudah bosan mendengar “cerimininal” macam itu malah banyak yang lebih membuat saya kaget, saya maklumi denis, karena saya ingin menghabisi waktu senja di tempat rawat inap dengan rokok kopi. Tapi sayang tamping kelinik melarang pasien merokok, saya pun sering ketahuan merokok di tegur sampe teguran, mau di kembalikan ke blok dan di stop obatnya, saya ahkirnya berhenti merokok untuk alasan penyembuhan.

UNTUK LARA BERTEMU ASA. Malam datang dengan gelapnya, kami para pasien sering gelisah tidur, karena emang panas yang luar biasa seperti di oven, tak ada kipas angin badan penuh keringat kasur lengket. Saya ahkirnya tidur pagi, dan di bangungkan untuk tensi, rutinitas biasa buat para pasien rawat inap, siang kedokter konsultasi, dan bengkak pun makin besar sperti telur ayam. Jendolan di leher ada empat, yang dua sudah kecil tapi keras, yang dua lagi bengkak makin besar tapi lembek karena yang besar itu bikin badan meriang dan menyiksa, yaudah saya pun bicara apa adanya tentang yang di rasa, kebetulan dokter speaslis kelenjar datang, langsung saya menceritakan keluhan saya dan alhasil, leher saya mau diseset karena terlalu besar dan terlalu lama, saya kaget, yaudah kata saya, demi penyembuhan, saya teringat bahwa sakit kelenjar itu bikin mood kita makin terpuruk badan terasa meriang, panas dingin gelisah kekebalan tubuh makin menurun lemas, dan kepala terasa berat akibat pembengkakan. Dan ahkirnya dokter mengambil gunting, semprotan bius, kain kasa, betadin, dan pisau runcing kecil sperti jarum, bikin “ngilu“, saya tidak mau melihatnya, penuh mental yang cukup berani. “Lebih baik saya nolak saja”, (saya bicara dalam diri), ternyata tamping kelinik sudah memegang tangan saya, disemprotkan lah bius ke leher, tenang lemas, tiba-tiba nanah dan darah ngucur kebadan membasai kaos yang saya kenakan, dokter bilang mantab, ngebetnya bikin iqstifar. Ahkirnya saya lega kepala mulai enteng, seperti kata dokter, leher langsung di perban, obat saya langsung di ganti. Kembali ke kelinik bercerita dengan kawan-kawan. Malam memasuki gelap, tiba-tiba perut terasa mual hingga saya tidak kuat untuk muntah, saya lari kekamar mandi, muntah isi asupan yang didalam perut keluar sampe obat yang saya komsumsipun ikut keluar juga, mual itu tidak berhenti, muntah terus, sampe tidak bisa menerima asupan makanan dalam perut artinya (tidak bisa makan) selama dua hari saya mengalaminya. Cuma tertidur sperti bangkai, saya berharap bisa bertemu dokter pagi ini, tapi ternyata ini hari sabtu, dokter tidak ada, artinya “sabtu – minggu” tidak ada konsultasi. Tamping hanya melihat saya terbaring, rutinitas dikasih obat seperti biasa hanya di taro di tempat tidur oleh tamping, dan bicara saya terlalu kecil tengorokan sakit, saya hanya bisa memejamkan mata, dan tiba-tiba pikiran negative datang seperti “delusi” saya di bisikan oleh suara yang ada di kepala yang membuat saya pasrah menyerah dengan penyakit, merintih dengan nada pelan, suara itu terus berkata bahwa penyakit ini takan sembuh dan saya mengalami gejala halusinasi tentang diri saya, yang membuat saya mungkin ini sudah berahkir, terus lemas hingga memasuki kelemasan yang tidak bisa saya gerakan dari badan hingga tangan kaki. tapi saya punya banyak mimpi dan harapan, tiba-tiba pikiran untuk bangkit melawan penyakit ini, sisa-sisa bisikan di kepala saya mulai hilang. Entah mengapa saya masih kuat untuk melawan diri sendiri dari keterpurukan, yah mungkin musuh terbesar dalam hidup adalah “diri sendiri“, “mungkin”, dan saya membangunkan badan pelan-pelan pala pun pusing seperti naik “lorecosster“, kaki gemetar, lemas dan tidak bisa fokus, walau mood makan pun tidak ada yang mau walau sampe pengen makan enak sekalipun, tapi kembali lagi saya paksain buat asupan keperut, ada roti yang belum di makan, mengambil roti saja sudah mual, pas mau makan roti saya malah muntah air, karena saya cuma minum tidak makan, saya pikir akan di impus, paksain makan rokti dan minum air masuk kelambung, saya tertidur, selang beberapa menit kondisi pikiran membaik, badan sudah mulai menunjukan reaksinya, saya bilang dalam diri, “pelan-pelan bangun duduk agak lama”, saya pun bisa berjalan sambil pegangan tembok, mengambil air hangat untuk minum yang banyak karena tubuh butuh cairan. Maklum di penjara pada cuek melihat yang menderita, pasien yang lain melihatnya cuma menyapa “udah makan belum”. Ahkirnya kondisi membaik, saya berpikir makan yang nafsu untuk di makan, terus kegiatan apa yang harus saya lakukan berfikir, “yah” saya ingin berjemur di pagi hari dengan sentuhan sinar mentari yang hangat “hingga saya teringat tentang makna hiduplah untuk hari ini”, saya pun tersenyum kecil, saya bisa ketawa, saya konsultasi kedokter tentang lambung saya, tapi ternyata udah sembuh soal mual dan muntah, percuma juga konsultasi, saya sudah mulai punya pirasat tidak enak, kenapa kok malah tambah penyakit baru badan gatal-gatal, yaudah saya tidak ngeluh apa-apa, karena emang udah sembuh badan, cuma leher dalam proses pengobatan dan ternyata sudah hampir sebulan di rawat dan suruh kembali keblok oleh tamping kelinik, lega rasanya, di suruh ambil obat tiap seminggu sekali sampe delapan bulan. Dan hari demi hari laher sudah rada kempes, tapi belum sembuh masih proses penyembuhan, kali ini hanya fokus keleher, badan sudah tidak demam, tidak lemas dan tidak pusing. Lebaran pun tiba, saya langsung video call dengan keluarga tercinta, dan berminta maaf. Saya teringat lagu “NIRVANA” yang berjudul “SOMETHING IN THE WAY”, lagu itu mengingatkan saya waktu kecil di belakang rumah, ketika mamah membangunkan tidur dan menyuruh saya makan.

Ps: ketika saya di rawat inap hampir sebulan, hanya buku favorit yang menemani saya tidur sehari-hari, kali ini musik tidak menemani saya karena emang keterbatasan, di penjara itu tidak boleh punya handphone, termikasih untuk teman-teman blok yang sudah menjengguk, terutama mamah tercinta yang kasih semangat dan solusi. Mungkin lagu dälek yang pas untuk mewakili soundtrack penulisan.

Awan/Batu Melintasi Samudra, Tapal-Tapal Batas…

Dibacakan di tengah demonstrasi antiperang di Roma, Italia, tangal 15 Febuari 2003, oleh Heidi Giuliani, ibu mendiang Carlos Giuliani, aktivis yang dibunuh polisi Italia di Genoa, Juli 2001.

Tentara Pemberontak Nasional Zapatista Meksiko 15 Febuari 2003

Saudara-saudari Italia pemberontak, salam dari kaum lelaki, perempuan, anak-anak, dan orang-orang tua Tentara Pembebasan Nasional Zapatista. Kata-kata kami dibentuk jadi awan guna melintasi samudera dan mencapai dunia-dunia yang ada dalam hatimu. Kami tahu bahwa hari ini digelar demontrasi-demontrasi di seluruh dunia guna berkata “tidak” pada perang Bush melawan rakyat irak. Memang harus disebut seperti itu, sebab ini bukan perang oleh rakyat Amerika Utara, bukan pula perang melawan Saddam Hussein. Ini perang oleh uang, yang diwakili oleh Tuan Bush (barangkali untuk menekankan bahwa ia benar-benar kurang dalam soal intelegensia). Dan perang melawan kemanusiaan, yang nasibnya kini sedang dipertatuhkan di tanah irak ini perang ketakutan. Tujuanya bukan untuk mengalahkan Hussein di Irak, sasarannya bukan untuk mengeyahkan Al Qaeda. Bukan pula berhusaha membebaskan rakyat irak. Bukan keadilan, bukan demonstrasi, bukan kebebasan yang menyetir teror ini. Tapi ketakutan. Takut bahwa seisi dunia akan menolak mematuhi seseorang polisi yang menyuruh apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, dan kapan melakukannya. Inilah ketakutannya. Takut bahwa dunia akam menolak diperlaukan seperti barang jarahan. Takut akan saripati kemanusian yang disebut pemberontakan. Takut bahwa jutaan makhluk manusia yang berhimpun hari ini di seluruh dunia akan berjaya dalam menjujung niat perdamaian. sebab korban bom-bom yang akan diluncurkan sepanjang daratan irak bukan cuma warga sipil Irak, anak-anak, perempuan, lelaki dan orang-orang jompo, yang semaunya dan tidak berpikir panjang itu, ia yang -demi pihaknya sendiri -menyebut-nyebut Tuhan sebagai alibi atas kehancuran dan kematian. Orang yang menimpin kebodohan ini (yang didukung oleh Berlusconi di Italia, Blair di Inggris, dan Aznar di Spanyol), Tuan Bush, memakai uang untuk membeli kuasa tersebut, yang berhusaha ditimpakanya ke atas rakyat Irak. Sebab tak boleh dilupakan bahwa Tuan Bush adalah pemimpin mereka yang mengagungkan diri sebagai polisi dunia, berkat tipu muslihat yang begitu dahsyat sampai cuma bisa ditutupi oleh bayang-bayang menara kembar di New York, dan oleh darah korban serangan teroris 11 September 2001. Baik Hussein maupun rakyat Irak bukanlah soal bagi pemerintah Amerika Utara. Yang jadi soal adalah: memperagakan bahwa mereka bisa menjalankan kejahatan-kejahatanya di belahan dunia mana saja, kapan saja, dan bahwa mereka bis melakukannya dengan impunitas mutlak.

Bom yang menimpa Irak berupaya pula menimpa semua bangsa di muka bumi. Mereka juga akan menimpa hati kita, dan karenanya menguniversalkan rasa takut yang mereka bawa di dalamya. Perang ini perang melawan semua umat manusia, melawan semua lelaki dan perempuan yang jujur. Perang ini berupaya agar kita tahu rasa takut itu, agar kita percaya bahwa ia yang punya uang dan kekuatan militer serta merta jadi punya hak. Perang ini berharap agar kita cuma mengangkat bahu, agar kita memeluk sinisme sebagai agama baru, agar kita tetap diam, agar kita patuh, agar kita mundur, agar kita menyerah . . . Agar kita lupa . . . Agar kita lupa akan Carlos Giuliani, pemberontak dari Genoa. Kami kaum Zapatista, adalah orang-orang kami yang mengimpikan kematian kami sendiri. Dan hari ini orang-orang kami yang mati mengimpikan sebuah “TIDAK” yang memberontak. Bagi kami cuma ada satu kata bermatabat dan satu aksi sadar nurani di hadapan perang ini.

Sebuah kata “TIDAK” dan sebuah aksi pemberontakan. Itu sebabnya kita harus berkata “TIDAK” pada peperangan. Sebuah “TIDAK” tanpa syarat atau dalih. Sebuah “TIDAK” tanpa setengah-setengah. Sebuah “TIDAK” yang tak bercacat oleh wilayah-wilayah kelabu. Sebuah “TIDAK” dengan semua warna yang melukis dunia. Sebuah “TIDAK” yang jernih, pasti, menggema, jitu, mendunia.

Yang dipertaruhkan dalam perang ini adalah hubungan antara kaum berkuasa dan kaum lemah. ia hidup dari kerja kita, dari darah kita. Begitulah ia bertambah tambun sementara kita merana. Penguasa telah memohon kepada Tuhan agar memihak mereka dalam perang ini, agar kita menerima kekuasaan mereka dan kelemahan kita sebagai sesuatau yang telah ditetapkan oleh rencana ilahiah. Tapi tak ada tuhan di balik perang ini selain Tuhan-harta, atau hak apapun lagi selain nafsu akan kematian dan kehancuran. Satu-satunya kekuatan kaum lemah adalah martabat mereka. Inilah yang menginspirasi mereka untuk berjuang melawan penguasa, untuk memberontak. Hari ini ada sebuah “TIDAK” yang bakal melemahkan kaum kuat dan mengkuatkan kaum lemah: “TIDAK” pada perang. Barangkali ada yang tanya apakah sebuah kata yang telah menghimpun begitu banyak orang di penjuru dunia akan mampu mencegah perang, atau menghentikannya, bila ia sudah dimulai? Tapi pertanyaannya bukan bisakah kita mengubah arak-arakan maut kaum penguasa. Bukan. pertanyaan yang harus kita ajukan adalah: bisakah kita hidup dengan rasa malu akibat tidak berbuat segala sesuatu yang mungkin untuk mencegah dan menghentikan perang ini? Tak ada lelaki lelaki dan perempuan jujur yang bisa tinggal diam dan acuh tak acuh di saat seperti ini. Kita semua, masing-masing dengan suara kita sendiri, cara kita sendiri, bahasa kita sendiri, tindakan kita sendiri, harus berkata “TIDAK”. Dan bila kaum penguasa berharap bisa mengeuniversalkan rasa takut lewat kamatian dan kehancuran, kita harus menguniversalkan “TIDAK”. Sebab “TIDAK” pada perang ini sekaligus juga “TIDAK” pada rasa takut, “TIDAK” pada kemunduruan, “TIDAK” pada penyerahan kalah, “TIDAK” pada pelupaan,”TIDAK” pada celaan akan kemanusian kita. Inilah “TIDAK” demi kemanusian dan melawan neoliberalisme. Kami harap “TIDAK” ini akan melampaui tapal-tapal batas, menyusup lewati adat-adat kebiasan mengatasi perbedaan bahasa dan budaya, menyatukan bagian yang jujur dan mulai dari umat manusia, yang -tak boleh dilupakan -sekaligus merupakan bagian mayoritas. Karena ada penolakan yang menyatukan dan menaikan harkat. Karena ada penolakan yang meneguhkan orang-orang lelaki dan perempuan ke dalam apa yang terbaik dari diri mereka, yakni: martabat mereka. Hari ini lagit dunia diawani oleh pesawat-pesawat tempur, oleh misil-misil yang disebut “cerdas” cuma agar mereka menutupi kedunguan orang-orang yang mengendalikannya -dan orang-orang yang, sperti Berlusconi, Blair, dan Aznar, membenarkannya -oleh satelit-satelit yang menunjukan di mana ada kehidupan dan di mana bakal timbul kematian. Dan tanah bumi bernoda oleh mesin-mesin perang yang akan melukisi dunia dengan darah dan rasa malu. Badai berarak. Tapi fajar hanya akan tiba bila kata yang dibikin jadi awan guna melintasi tapal-tapal batas diubah jadi sebuah “TIDAK” dari bebatuan, agar mereka menguak celah pada kegelapan, retakan tempat hari esok bisa menyusup masuk.

Saudara-saudari Italia yang memberontak dan bermatabat, Sudikah kiranya menerima “TIDAK” yang kami, Zapatista, yang terkecil ini, kirim buat kalian. Biarkan “TIDAK” kami berpadu dengan “TIDAK” -mu dan dengan semua “TIDAK” yang hari ini merebak di sekujur bumi. Hidup pemberontakan yang berkata “TIDAK” Mampuslah kematian!

Dari pegunungan Meksiko Tengara Komite Klandestin Revolusioner Adat Komando Jendral Tentara Pembebasan Nasional Zapatista Subcomandante Insrusgente Marcos Meksiko, Febuari 2003





Bagian tiga: nama

Tulisan ini diambil dari buku, SUBCOMANDANTE MARCOS KATA ADALAH SENJATA, kumpulan tulisan terpilih 2001-2004

HUJAN. Sebagaimana biasanya di sini pada bulan juli, bulan ketujuh dalam setahun. Aku menggigil di samping pendiangan, balik sini balik sana seperti ayam di panggangan putar, melihat apakah bisa mengeringkan diri sedikit. Kebetulan rapat dengan komite berakhir cukup larut, waktu subuh, dan kami berkemah cukup jauh dari tempat rapat. Hujan belum turun waktu kami berangkat, tapi seakan sedang menanti kami, guyuran maha deras tercurah waktu kami sudah separuh jalan, ketika jaraknya sama saja untuk kembali atau untuk terus. Para pemberontak pergi ke gubuknya masing-masing buat menganti seragam mereka yang basah kuyup. Aku tidak, bukan karena jago, tapi karena bego, karena kebetulan buat meringankan ranselku, aku tidak bawa pakaian ganti. Jadi beginilah aku, seperti “ayam masak Sinaloa”. Percuma, karena atas beberapa alasan yang tidak sanggup kubayangkan, topiku ibarat spons, menyerap air waktu hujan turun dan mencucurkannya hanya ketika sudah berada di dalam. Jadi, di dalam gubuk tempat kompor berada, aku mendapat guyuran hujan pribadi. Absurditas begini tidak mengherankanku. Lagipula, kami ada di tanah Zapastista, dan di sini yang absurd sama seringnya seperti hujan. Terutama di bulan ketujuh dalam setahun. Sekarang aku malah melempar terlalu banyak kayu ke dalam unggun (bukan dalam arti kiasan). Nyalanya mengancam membakar atap. “Tak ada yang buruk bisa jadi lebih buruk,” ucapku dalam hati sambil mengingat-ingat salah satu kata mutiara Durito, maka paling bagus kalau aku kabur saja. Di luar sudah tidak hujan, tapi ada banjir dalam topiku. Aku coba menyalakan pipa dengan tempurung tengkurap ketika Mayor Rolando tiba. Ia cuma memandangiku. Ia pandangi langit (yang di ketinggian ini sudah jernih sama sekali dan dengan rembulan yang terlihat seperti – percayalah–mentari tengah hari). Ia memandangi-ku lagi. Aku paham kebingungannya dan berkata: “Gara-gara topi nih,” Rolando bilang “Mmh”, yang artinya seperti “ah”. Makin banyak prajurit pemberontak yang datang, dan tentu saja, bawa gitar (ya, gitarnya kering), dan merekapun mulai bernyanyi. Rolando dan kesayanganmu ini meledak dalam duet La Chancla di hadapan publik yang kebingungan, sebab “lagu-lagu hits” disini cenderung cumbia, lagu rakyat, dan nortenas. Berulang kali gagal sebagai penyanyi, aku mundur saja ke pojokan dan menuruti saran bijak Monarca, yang sama seperti Rolando, terus memandangiku, memandang langit, memandangiku lagi dan cuma berkata: “Copot topimu, sup.” Kucopot dan tentu saja, hujan pribadiku berhenti. Monarca pergi ke tempat yang lain-lainnya pergi. Kusuruh Kapten Jose Luis (yang bertindak sebagai pengawalku) untuk pergi istirahat, sebab aku tidak akan melakukan apa-apa lagi sekarang. Si Kapten pergi, bukan untuk istirahat, tapi ikut nyanyi-nyanyi. Jadi aku ditinggal sendirian. Masih menggigil, tapi kini tanpa hujan mengguyurku. Kembali kucoba nyalakan pipa, sekarang dengan tempurung tengadah, tapi saat itulah kutemukan bahwa korek-ku basah, bahkan terpantik pun tidak mau. “Haram jadah, sekarang malah tidak bisa menyalakan pipa,” gumamku, yakin bahwa “sexappeal”-ku akan berantakan. Kugerayangi kantung celana (yang ada cukup banyak), bukan mencari edisi paperback Kamasutra, tapi korek kering, ketika sebuah pijar api menyala cukup dekat denganku. Kukenali wajah Pak Tua Antonio di balik cahaya itu, dan kugeser tempurung pipaku ke korek yang  menyala. Sambil terus menghembus-hembus, berkata aku ke Pak Tua Antonio: “Dingin.” “Memang,” balasnya, dan ia nyalakan rokok lintinganya dengan korek lain. Dengan cahaya rokok Pak Tua Antonio terus memandangiku, lalu ia memandang langit, terus memandangiku lagi, tapi tak berkata apa-apa. Aku juga tidak, yakin bahwa Pak Tua Antonio sudah terbiasa, seperti halnya aku, pada absurditas-absurditas yang menghuni pegunungan Meksiko Tenggara. Hembusan angin mendadak memadamkan nyala itu, dan kami tertinggal hanya dengan cahaya bulan yang mirip kapak, bergerigi karena dipakai, dan asap yang mencakar-cakar dalam gelap. Kami duduk di bonggol pohon tumbang. Aku yakin kami bersiap-siap barang beberapa lama, aku tak ingat pasti, tapi yang jelas adalah hampir tanpa sepenge-tahuanku, Pak Tua Antonio sudah bercerita padaku…

Riwayat Penopang Langit “MENURUT orang-orang kita yang paling awal, langit harus di topang agar tidak jatuh. Langit tidaklah ajeg, sesekali ia melemah dan pingsan, merosot begitu saja seperti dedaunan gugur dari pohon, lalu maha bencana terjadilah, karena iblis mendatangi ladang dan hujan memecah segalanya dan mentari menghukum tanah ini dan peranglah yang berkuasa dan dustalah yang menaklukkan dan mautlah yang berjalan dan kepedihanlah yang bermenung. Orang-orang kita yang paling mulia berkata bahwa ini terjadi karena dewa-dewa yang mencipta dunia, mereka yang paling awal, mencurahkan begitu banyak upaya untuk membuat dunia sehingga setelah rampung, mereka tak punya tenaga tersisa untuk membuat langit, atap rumah kita, dan mereka taruh apa saja yang mereka punya, maka langit dipasang di atas bumi seperti salah satu tenda plastik itu. Jadi langit tidaklah kukuh tegap, kadangkala ia merosot. Dan kau harus tahu ketika ini terjadi, angin dan air bergejolak, api pun gelisah, dan tanah bumi bangkit berjalan, tak sanggup menemukan kedamaian. Itu sebabnya mereka yang datang sebelum kita berkata bahwa empat dewa, yang terlukis dalam aneka warna, kembali ke dunia. Mereka tempatkan diri di tempat penjuru bumi untuk menggenggam langit agar tidak jatuh, diam tenang dan mantap, agar matahari dan rembulan dan  bintang-gemintang serta impian bisa berjalan tanpa kesulitan. Namun demikian, mereka yang pertama menapaki tanah ini bercerita, kadangkala satu atau lebih bacabe itu, para penopang langit, akan bermimpi atau teralihkan perhatiannya oleh awan. Karenanya ia tidak lagi menggenggam erat-erat sudut langitnya dan langit atap dunia akan longgar dan hendak menjatuhi bumi, mentari dan rembulan kehilangan jalan yang jelas, begitu pula bintang-bintang. Begitulah yang terjadi sejak awal mula, itulah sebabnya dewa-dewa pertama, mereka yang melahirkan dunia, menyuruh salah seorang penopang langit memimpin, dan ia harus terus berjaga untuk membaca angkasa dan melihat kapan mulai longgar, lantas si penopang ini harus membangunkang dan bicara kepada penyangga-penyangga lainnya agar mereka mengencangkan sudutnya dan meluruskan kembali keadaan. Dan si penopang ini tak pernah tidur, ia harus senantiasa jaga dan waspada, guna membangunkan yang lain manakala petaka menimpa bumi. Dan orang-orang kita yang paling awal, yang paling pertama berkelana dan berkata-kata, berujar bahwa si penopang langit ini membawa-bawa sebuah caracol (keong) yang menjuntai di dadanya. Dengan itulah ia menyimak bebunyian dan sepi dunia, dan dengan itu pulalah ia memanggil penyangga-penyangga lainnya agar tidak ketiduran atau untuk membangunkan mereka. Dan mereka yang paling mula berkata bahwa si penopang langit ini, agar tidak ketiduran, keluar masuk jantung hatinya sendiri, lewat jalan yang ia bawa-bawa di dadanya. Guru-guru yang paling awal itu berkata bahwa si penopang langit ini mengajari orang-orang lelaki dan perempuan kata dan aksara, sebab, menurut mereka ketika kata menjalani dunia, sang iblis bisa dibungkam dan dunia mungkin untuk jadi benar. Itu sebabnya kata-kata ia yang tidak tidur itu, ia yang mewaspadai iblis dan perbuatan-perbuatan jahat, tidak berpergian langsung dari satu sisi ke lainnya, malah berjalan ke dirinya sendiri, menyusuri garis nalar. Dan mereka yang kawruh dari zaman  sebelum kita berkata bahwa jantung hati orang-orang lelaki dan perempuan mengambil bentuk keong, hati serta benak yang bijak itu berjalan dari satu ke lain sisi, membangunkan dewa dan manusia agar mereka waspada apakah dunia ini sudah benar… Itu sebabnya ia yang terus berjaga ketika yang lain tidur menggunakan  caracol-nya untuk banyak hal, tapi yang utama agar jangan sampai lupa.” Bersama kata-kata pengabisannya, Pak Tua Antonio mengambil tongkat dan mengguratkan sesuatu di tanah. Pak Tua Antonio pergi, begitu pula aku. Sang surya baru mengintip lewat ufuk timur, seolah-olah seperti melihat, seperti memeriksa apakah ia yang berjaga belum jatuh ketiduran, dan apakah ada yang berjaga agar dunia jadi baik kembali. Aku kembali saat jam minum pozol, waktu mentari sudah mengeringkan bumi dan topiku. Di satu sisi pohon tumbang itu kulihat sketsa yang dibuat Pak Tua Antonio di tanah. spiral yang digoreskan mantap, itu caracol, keong. Matahari sudah separuh jalan waktu aku kembali ke rapat komite. Matinya “Aguascalientes” telah diputuskan subuh sebelumnya, kini diputuskan lahirnya “Caracol”, dengan fungsi-fungsi lain di luar fungsi yang dipunyai “Aguascalientes” yang kini tiada itu. Maka “Caracol” akan jadi semacam pintu untuk memasuki komunitas dan bagi komunitas itu untuk pergi. Ibarat jendela untuk melihat kita dan untuk kita melihat keluar. Ibarat spiker untuk membawa jauh kata-kata kita dan untuk mendengarkan apa yang berada nuh jauh di sana. Tapi terutama, untuk mengingatkan kita bahwa kita harus berjaga dan waspada pada benarnya dunia- dunia yang merumahi dunia itu. Komite tiap-tiap wilayah telah bertemu bersama untuk menamai “Caracol” mereka masing-masing . Akan ada jam-jam pengajuan usulan, pembahasan terjemahan, gelak tawa, kemarahan, dan pengambilan suara. Aku tahu hal itu makan waktu, jadi aku pergi dan menyuruh mereka mengabariku bilakah kesepakatan dicapai. Sekarang di barak, kami makan. Duduk mengelilingi meja, Monarca bilang bahwa ia menemukan kolam yang sungguh-sungguh “fantastis” untuk berendam dan entah apa lagi. Sampai Rolando, yang bahkan tidak mandi untuk merawat diri, jadi antusias dan bilang “Yuk pergi.” Aku menyimak skeptis (bukan pertama kalinya Monarca bikin tipu-tipuan), tapi karena toh kami harus menunggu komite mencapai kesepakatan, aku juga bilang “Yuk”. Jose Luis menyusul nanti karena ia belum makan, jadi kami bertiga – Ralando, Monarca, dan aku–berangkat duluan. Kami seberangi Padang rumput dan tak ada apa-apa. Kami seberangi ladang dan tak ada apa-apa. Kuberi-tahu Rolando: “Kukira kita bakal sampai waktu perang sudah usai.” Monarca menjawab bahwa “kita hampir sampai.” Akhirnya kami tiba. Kolam itu terletak di arung sungai tempat ternak menyeberang, karenanya berlumpur dan ditaburi tai sapi serta kuda. Rolando dan aku protes serempak. Monarca membela diri: “Kemarin tidak kayak begini.” Aku bilang: “Lagipula sekarang dingin, kukira aku tidak akan berendam.” Rolando yang sudah kehilangan minat saat berjalan, ingat bahwa lumpur–seperti yang dengan begitu bagus diungkapkan oleh penyanyi Piporro–juga melindungi dari peluru, dan ia ikut dengan “kukira aku juga tidak.” Monarca menghamburkan ceramah soal kewajiban dan entah apa lagi dan bilang bahwa “kekurangan dan pengorbanan bukan masalah.” Aku tanya apa hubungannya kewajiban dengan kolam brengseknya ini, dan ia pun lepaskan pukulan pelan dengan berkata: “Ah, kau mungkir.” Mestinya ia jangan bilang begitu. Rolando menggeretakkan gigi seperti babi hutan yang sedang murka sembari mencopoti pakainnya, dan aku gigiti pipaku sambil bugil sepenuhnya, sepenuh-penuhnya sampai memampang “detail pribadi lain umumnya.” Kami mencebur ke air, lebih karena harga diri ketimbang kepingin. Entah bagaimana kami mandi, tapi lumpur membuat rambut kami dalam kondisi sedemikian rupa yang bakal diiri oleh anak punk paling radikal sekalipun. Jose Luis tiba dan berkata “airnya payah.” Rolando dan aku bilang serempak, “Ah, kau mungkir.” Maka Jose Luis pun ikut mencebur ke kolam berlumpur. Waktu mengentas, kami sadar tak ada yang membawa apapun buat mengeringkan badan. Rolando bilang “Kalau begitu kita keringkan dengan angin.” Maka kami pun cuma mengenakan sepatu bot dan pistol lalu mulai kembali, benar-benar telanjang bulat dengan si kecil terumbar, mengeringkan diri kena sinar mentari. Mendadak Jose Luis yang berbaris paling depan, mewanti-wanti kami dan berkata “ada orang datang.” Kami pasang topeng ski dan terus maju. Itu sekelompok companera yang hendak mencuci pakaian di sungai. Tentu saja mereka tertawa dan seseorang bilang sesuatu dalam bahasa mereka. Aku tanya ke Monarca apa ia dengar apa yang mereka bilang, dan ia memberitahuku “Itu si Sup.” Hmm… Aku bilang mereka pasti mengenaliku gara-gara pipa ini, sebab percayalah, aku belum pernah memberi mereka kesempatan apapun untuk mengenali “detail pribadi lain umumnya”. Sebelum memasuki barak, kami berpakaian meski masih basah, sebab tidak ingin merecoki para pemberontak. Mereka mengabarkan bahwa komite sudah rampung. Tiap “Caracol” kini punya nama penugasan: Caracol di La Realidal (kawasan Zapastista suku Tojolabal, Tzeltal, Mane) akan disebut “Madre de los Caracol Del Mar de Nuestros Suenos (Bilang Segala Keong dalam Samudra Impian Kami), atau ” S-NAN XOCH BAJ PAMAN JA TEZ WAY CHIMEL KU’UNTIC”. Caracol di Morelia (kawasan Zapastista suku Tzeltal, Tzotzil, dan Tojolabal) akan disebut “MUC’UL PUY ZUTU’IK JU’UN JC’OPTIC”. Caracol di La Garrucha (kawasan Zapastista suku Tzeltal) akan disebut “Resistencia Hacia un Nuevo Amanecer” (perlawanan bagi fajar Baru), atau “TE PUY TAS MALIYEL YAS PAS YACH’IL SACAL QUINAL.” Caracol di Barrios (kawasan Zapastista suku Chol, Zoque, dan Tzeltal) akan disebut “EL Caracol Que Habla para Todos” (keong yang bicara untuk semua), atau “TE PUY YAX SCO’PJ YU’UN PISILTIC” (dalam bahasa Chol). Caracol di Oventik (kawasan Zapastista suku Tzotzil dan Tzeltal) akan disebut “Resistencia y Rebeldia por la Humanidad” (perlawanan dan Pemberontak bagi Umat Manusia), atau “TA TZIKEL VOCOLIL XCHIUC JTOYBAILTIC SVENTA SLEKI LAL SJUNUL BALAMIL.” Sore itu tidak hujan, dan Surya mampu tenggelam tanpa banyak masalah, berkelana sepanjang langit datar, masuk ke rumah miliknya di balik pegunungan. Bulan muncul sesudanya, dan meski terlihat menakjubkan, fajar menghangatkan pegunungan Meksiko Tenggara.

(bersambung…)

Dari pegunungan Meksiko Tenggara, Subcomandante Insurgente Marcos Meksiko, Juli 2003

GANG SENYAP, PINGGIR KALI, JALAN PASAR.

Senja tiba untuk berganti malam, besok bergiliran untuk berikut, dalam gelap mereka berkata, untuk tetap singgah di jauh ketempat yang bernama sunyi.

JAKARTA UTARA, PASARA KAGET. Pagi menjelang hiruk-pikuk lalu lalang, malam berganti obrolan sepintas dipingir kali, mungkin hampir setiap hari rutinitas seperti itu. Kami yang hanya biasa digang buntu dan senyap, sela obrolan berbagi anggur dan asap berallas balai, entah mengapa mereka yang hidup dijalan pasar itu banyak berbagi cerita, yah kami biasa dengan obrolan yang absurd, saya dengan politik basa basi, kawan saya yang bernama Wahyu dengan tidak mau ambil pusing, dan ansari yang tidak mau kalah untuk urusan debat, yah karena mereka punya persepektif soal itu, tapi mereka benci dengan kemunafikan, gangan itu yang kawan-kawan masih nangkring sangat begitu arogan tidak mau disepelekan, entah mengapa mereka merasa lebih keren dari orang yang lewat lalu lalang dijalan pasar, karena bagi mereka kekeranan itu yah biasa-biasa ja, apa lagi kalo kawan-kawan seperti ansari, wayu, dijalak ketempat mewah atau gelamor seperti kemall,pasti mereka lebih memilih tidur dirumah, kami yang biasa berbagi api dan kopi, sering untuk bikin wacana yang tak pernah terwujud, kadang malampun kami sering minum anggur hingga lupa, lupa akan hari esok kami bagaimana, siang sore malam waktu kami hanya buat omong kosong belaka hanya sekedar berbagi lintingan. tapi saya banyak belajar dari kehidupan mereka yang hadir dengan semangat, seperti subuh menjelma keramaian pasar, dimana pedagang begitu rahmah hingga kesepakatan kami untuk berandai-andai bikin usaha, alhasil tepar karena mabuk. Oke saya menulis ini dengan ingatan seadanya, buat respect kepada mereka yang pernah mengisi hari-hari dengan begitu penting sehingga kepentingan itu menjadi kekonyolan, kabar terakhir dari kawan-kawan digang buntu dan senyap sama seperti dulu begitu saja, walau ada perubahan yah paling sedikit, oke thanks for brother you loveing forever.

PS:oke buat mereka yang tidak saya sebut namanya, lagi pula buat apa juga saya sebut, karena mungkin mereka juga tidak mau disebut, dan saya menulis ini hanya untuk mengingat momentum kepada kawan-kawan dipasar, hari akan terus berganti dengan siklusnya, waktu tidak pernah berhenti atau mundur, maju kawan, hidup bukan sekedar begitu-begitu saja, karena saya menulis ini untuk melangkah ke depan, saya selipkan tulisan ini disini, oh Iyah itu foto yang diatas sampul adalah foto tangan nya Ansari waktu sore, diatas rumah dia hanya foto itu yang masih tersimpan di sosial media saya. Memory gang senyap, pinggir kali, jalan pasar.

Mengulas Buku (FLIP DA SKRIP).

Flip DA Skrip Kumpulan Catatan Rap Nerd Selama Satu Dekade

Catatan. Pada awalnya saya sering menunggu tiap akhir tahun, di bulan desember, menanti tulisan album terbaik yang wajib di baca dan di dengar, entah mengapa referensi album di tulisnya itu begitu pengaruh dalam hidup saya. Contoh album “TROPHIES” milik, “APOLLO BROWN & O.C”  album itu hampir menemani sepanjang tahun, dimana saya sering berbagi cerita bersama teman yang juga suka hip-hop. Dan mengantarkan berangkat kerja dan pulang, menghabiskan kegelisahan dengan volume full di kamar waktu kebosanan datang tak diundang, album yang berpengaruh. “UNDUN” milik “THE ROOTS“, yang menunggu hujan reda, di kala Jakarta menjadi kota banjir dan tidak bisa kemana-mana selain menghabiskan waktu di kamar, memutarnya berulang kali di bawah gerimis belakang rumah, menanti mamah selesai bikin kue buat keluarga tercinta, saya selalu diomelin ketika setel music terlalu kencang, tapi buat “THE ROOTS” album “UNDUN”, mamah saya memaklumi. Kenangan itu masih teringat, saya pernah tersesat di jalan waktu pulang mengantarkan pacar balik kekampung, di daerah pegunungan Jonggol yang sama sekali belum pernah kesana, pulang subuh sebelum matahari terbit, headset sudah di telinga dengan posisi siap jalan mengendari motor melintas gunung dan perbukitan yang sungguh itu hutan, bukan kampung desa, album “The Easy Truth” milik “APOLLO BROWN & SKYZOO”, yang sampe saya tersesat di hutan kerena terbawa suasana. Untuk album “Dälek” dari “abandoned language”, “gutter tactics”, “asphalt for eden”, ‘endangered philosophies”, saya banyak terima kasih. Dan “SOUL OF MISCHIEF” dengan album “There  Is Only Now”, mempunyai cerita di jalan. Dan masih banyak lagi album yang berpengaruh di hidup saya, entah mengapa tiba-tiba tulisan tentang album terbaik itu tiada atau emang sudah tidak ditulis atau terhenti, saya langsung kewalahan apakah ditahun berikutnya kehilangan moment terbaik dengan album yang bagus.

Morgue vanguard & Uprock 83. Tepatnya tulisan itu terhenti, tidak salah di tahun 2018, biasanya dulu saya sering membuka situs guttersplit.com Sebelum tulisan tentang hip-hop itu dipindahkan oleh sang penulis ke situs khusus “uprock 83.com”. Ucok “homicide: atau morgue Vanguard lebih tepatnya Herry sutersna, dia lah yang memperkenalkan saya dengan album terbaik hip-hop yang dulu paling ogah dengerin hip-hop kecuali public enemy dan house of pain, tapi pas mendengarkan homicide gimic-gimic hip-hop yang dulu saya anggap music glamour dan norak sirna semua, anggapan terbalik 360°. Ucok penulis yang saya kagumi, dari tulisan tentang sosial politiknya sampe tentang musik, mungkin terutama di bidang musik, yang faham akan sama seperti saya megaguminya, dan sang penulis ini begitu konsisten menulis tentang hip-hop, hampir hidup saya berubah karena tulisan dan karya musiknya, oh iya Ucok pun sudah mengeluarkan dua buah buku, yang pertama “Setelah Boombox Usai Menyalak”, buku pertama tulisan dari situs “guttersplit.com” yang di bukukan isinya hampir sudah pernah di terbitkan di situsnya, dan saya pun ikut membeli buku itu, kebetulan sang penulis ikut hadir memberi pencerahan dan berbagi pengalaman dan tidak lupa minta tanda tangan sang idola, tapi malu untuk minta foto bareng, entah mengapa saya memang begitu, dan buku yang kedua ini yang mau saya riview dengan pandangan personal.

FLIP DA SKRIP. Di terbitkan oleh Elevation Books. Buku hip-hop terbaik di lokal yang pernah saya baca, karena sebelumnya tidak pernah baca buku hip-hop lokal kecuali tulisan morgue Vanguard, dengan kecerdasan yang Iyah tulis dan pengetahuan yang iya coba jelaskan lewat tulisan, dia pun menjelaskan album “The Psychic Word Of Walter Reed” milik “KILLAH PRIEST”, kalo anda mendengarkan album itu pasti anda geleng-geleng kepala kok bisa album itu di jelaskan begitu detail singkat padat dengan tulisan, buku “FLIP DA SKRIP” lumayan tebal berisikan 237 halaman, dengan kata pengantar yang lumayan asik buat di baca, dan sebuah tulisan yang buat saya tidak sadar pernah mengalaminya, dengan pengalaman yang berbeda yaitu tulisan. “Musik bisa membuat sesorang berbuat bodoh tanpa batas”, tulisan judul itu ada di lembar berwarna kuning bagian kedua dari kata pengantar, oh iya entah mengapa sang penulis di bukunya ada lembaran kuning, asumsi saya klo lembaran kuning itu adalah catatan berharga dan catatan penting atau catatan lama “mungkin”, dan tululisan yang tentu album terbaik dari tahun 2007 – 2017 rentang waktu yang sangat lama bagaimana sang penulis begitu konsisten menulis album demi album setiap tahun-ketahun, saya bisa di kenalkan dengan musik seperti “EL-P”,EVIDENCE”, “NECRO”, “CANIBUS” “IMMORTAL TECHNIQUE”, “RAKIM”, “BIG REC”, “ESOTERIC”, “OC“NAS ILLMATIC“, “KRS ONE”, “PRODIGY”, “AKROBATIK”, “VIRTUOSO”, GUILTY SIMPSON”, “PLANET ASIA”, “ILL BILL”, “Q-UNIQUE”, “MF DOOM”, “GHOSTFACE KILLAH”, “DIABOLIC”, “ACTION BRONSON”, “APATHY”, “PETE ROCK”, “DEL THE FUNY HOMOSAPIEN”, ASEP ROCK”, “MEYHEM LAUREN”, “VINNIE PAZ”, “SEAN PRICE”, “KILLER MIKE”, “ROC MARCIANO”, “KA”, “J-ZONE”, “ERAL SWEATSHIRT”, “TRAGEDY KHADAFI”, “R.A THE RUGGED MAN”, “YOUR OLD DROOG”, “RAS KASS”, “KENDRIK LAMAR”, “HAVOC”, “SLINE”, “KOOL G RAP”, “ARMAND HAMMER”, “GURU“, “TIM DOG”. Dan masih banyak mungkin kalo saya tulis bisa panjang dengan sedertan, DJ PREMIER dan APOLLO BROWN, DJ MUGGS, THE ALCHEMIST. Itu cuma sebeberapa yang saya sebut, masih banyak yang sakagumi untuk MC dan DJ beat maker.

THE BREAKS, SANG JENESIS. Tulisan ini yang menjelaskan culture hip-hop sebenarnya, tanpa “BREAKS mungkin tak ada hip-hop, “James brown” lah yang sering di sampling, oleh sang legenda hip-hop yang terdahulu, tanpa “james brown” mungkin tak ada hip-hop. Bila anda pernah memainkan “BREAKS”, dengan musik yang anda sampling pasti ketagihan dan ingin mencari nada yang di putar ulang-ulang tanpa bosan yang bikin mood jadi lebih fresh, biasanya “BREAKS” itu dimainkan lewat piringan hitam oleh sang DJ, tapi era sekarang “BREAKS” bisa lewat software atau drum digital, seperti MPC, ini sih asumsi saya. Dan di buku ini di sertai foto-foto fenomena gimana dulu hip-hop itu masih berbentuk acara di lapangkan basket, didalam gedung, dan foto fenoma DJ dari Grandmaster Cuz, Kombo MC DJ pertama dalam sejarah, dan Breakers era awal mengingat kan bahwa kulture hip-hop itu jangan sampai di lupakan atau di salah artikan, mungkin generasi sekarang lupa atau tidak mau tau kulture hip-hop itu berasal, kita bisa baca di buku ini yang tulisan.

PERIHAL PENJARAHAN MASSAL YANG KONON PERNAH MENJADI KATALIS HIP-HOP. “Tulisan itu bertuliskan bahwa hip-hop terlahir dari kemiskinan dan ketiadaan sudah lama disepakati”, ini menceritakan era mengakses sebuah musik yang bernama hip-hop itu sungguh susah, dari mempunyai truntable sound dll, karena harganya yang begitu mahal untuk di jangkau, dan New York era itu iyalah kota terburuk dari mulai kejahatan dan narkoba, kemiskinan. Ketika halilintar menyambar sebuah pembangkit listrik penting yang kerusakannya merembet keseluruh kota. Otomatis kota itu gelap, dan kota itu lumpuh ekonomi dan terjadilah penjarahan massal hampir orang-orang menjarah semua toko dan tentu anak mudanya menjarah toko alat-alat musik, selesai jarahan dan kota itu sudah mulai membaik, bisa dilihat dari setelah jarahan setiap blok kota pada punya truntablenya masing-masing dan orang-orang pun berpakaian mewah.

OBIT. Ada sebuah tulisan tentang album kompilasi terbaik era awal hip-hop jauh hari sebelum modern seperti sekarang, mungkin layak di jadikan artefak kompilasi hip-hop, dan sebuah tulisan tentang “OBIT”, mendapati obituari tentang figur hip-hop yang meninggal, di sini sang penulis menghormati dengan menulis siapa saja yang pernah berpengaruh dalam hip-hop. Dan sebuah tulisan tentang memperingati.

SANG PENULIS MAMPIR KE JAKARTA. Dan dapat kabar bahwa sang penulis akan datang ke Jakarta untuk berbagi cerita di buku ini dan setidaknya tur buku, saya langsung menanggalkan untuk beli buku itu sambil mendengarkan pencerahanya, ajak teman saya yang sama suka musik hip-hop untuk datang ke acara peluncuran buku itu, kami pun berangkat kalo tidak salah peluncuran buku itu di daerah Jakarta Selatan, tapi lupa nama toko buku yang di selenggarakan.

Saya mengambil foto dari belakang

Di acara itu saya dan teman, tidak terlalu fokus mendengarkan acara itu, saya cuma fokus kepada bukunya saja untuk di beli, dan bawa pulang dengan antusias yang menggebu-gebu tulisan apa lagi yang belum saya baca, di acara itu rame yang datang dari para pelaku hip-hop lokal sampe beatmaker lokal pun datang, tapi saya dan teman malah minder di acara itu yah kami emang begitu tidak suka ketempat yang rame atau asing entah mengapa kami begitu gengsi atau malu, tapi kami tetap setia menemani sampe acara selesai, kami pun pulang. Di buku “FLIP DA SKRIP”, ada tulisan yang begitu penting yaitu, “MELAMPAUI PERKARA PROGRESS & TRADISI DALAM HIP-HOP” mungkin saya tidak akan menjelaskannya, lebih baiknya beli bukunya karena itu kitab hip-hop. Buku ini akhirnya menemani perjalanan saya menempuh jalur hukum (baca di penjara), ketika sekarang saya masih di rutan jakarta salemba, waktu itu saya memesan kepada ponakan untuk membawa buku ini, akhirnya buku ini sampe di tangan saya, walau dengan sampul depan tersobek, kata ponakan, nenek yang menyobeknya tanpa alasan, mungkin saya pikir sampul gambar orang dan ada sebuah tatonya di tangan yang membuat sampulnya di sobek, tapi saya masih bersyukur cuma sampul nya saja isinya tidak, saya pun bisa bersenang-senang dengan tulisan album terbaik sepanjang masa.

PS: memperingati dua tahun tepat di bulan Febuari perjalanan saya di rutan, saya menulis ini dengan kegelisahan yang harus saya tulis, bila ada tulisan yang salah mungkin karena terburu-buru. Perjalanan anda tidak akan menarik apabila tidak ada buku dan musik di hidup anda.

Sekilas obrolan disecangkir kopi, yang mulai dingin

Untuk mereka yang memulai harapan, untuk mereka yang berdo’a, untuk mereka yang hening dan terdiam, untuk mereka yang terus bergerak dengan tujuan, dan untuk mereka yang terus datang dan pergi silih berganti.

OBROLAN. Malam telah larut mengisi ceritanya. Pagi datang dengan terangnya. Saya masih terjaga ditempat lorong yang panjang tepatnya di rutan salemba. Dengan hiruk-pikuk keramaian orang, sela suara dan tegur sapa yang tak pernah terlewatkan, saya masih bersama teman selapak dengan obrolan kecil dan sudah berapa gelas kopi yang kita nikmati, asap masih mengepul di setiap cerita, kami mulai menceritakan pengalaman, dari seseorang teman selapak yaitu bokap, kami sebut namanya dilapak ini, dia bercerita hidup dulunya, dan saya masih mendengar, saya berucap, tapi saya mencela obrolan sambil seruput kopi, “itulah kehidupan kap”. bicara tentang bokap dia penikmat kopi yang sudah akut. Ia bercerita tentang waktu ikut lomba diujung pulau terasingkan “NUSAKAMBANGAN“, waktu itu dia ikut lomba “panjat pinang”, saya tidak terlalu fokus dengan cerita ini, satu alasan yang membuat bokap ikut lomba, Karena hadiahnya kopi. disela obrolan tiba-tiba teman datang ikut nimbrung bersama kami, bahasa yang sudah basi selalu hadir, minta join rokok yang sudah hampir habis, saya kasih sebatang rokok, memulai dengan canda’an yang begitu lumrah tapi murung, “hadeh” “malah masih lama lagi kita disini”, ucap teman sambil isap rokok, “eh”, “tapi jangan goyang”, ucapnya dengan ciri khas humorisnya dan teman saya pergi membawa rokok. Seketika hening. Saya heran dengan kawan-kawan disini, yang sebagian diam tapi tenang dan sebagian tertidur pulas ada yang cuma meratap tembok, “tapi yasudah lah” ucap bokap menegur saya, sambil membuang abu rokok, “Iyah kap ucap saya” dan bokap mulai menghisap rokok dan bercerita tentang pengalaman yang mungkin agak serius dan saya juga anggap begitu.

GOLDA. Dia pernah punya kerajaan, “Iyah” kerajaan, tapi tanpa singgahsana tanpa tahta tanpa mahkota dan kerajaan itu ada di hati “anak-anak yatim”, dan saya mulai menghisap rokok terlalu dalam, saya bertanya kerajaan apa itu, bokap berucap namanya kerajaan “Golda“, saya terdiam dan bertanya apa itu “Golda”?. Disini obrolan menjadi sunyi untuk kami berdua, karena teman yang lain hampir asik dengan dirinya sendiri, sampai hanya kami berdua yang ngobrol santai tapi pelan, balik ketopik, bokap menjelaskan Golda itu panggilan nama bokap waktu kecil, karena pada masih kecil, jaman bokap ada sebuah film kartun namanya “Golda” perawakan Golda itu tinggi dan besar persis seperti perwakan bokap. Waktu masa kecil, bokap sering dipanggil itu sama teman – temanya, sampe sekarang dan menjadikan nama itu sebagai nama kerajaan. Pada masa itu bokap sedang berlimpah ruah rezki yang tak terhingga (berkerja narkoba), dia memutuskan untuk pergi mencari rumah anak yatim, dia telusuri sampe menemukan lokasinya, yaitu diatas bukit kata bokap, dan dia menghampiri rumah anak-anak yatim dan memberi bantuan, dengan memberi penerang (lampu) setiap jalan di atas bukit dan memberi karpet untuk mesjid dan sembako membantu setiap rumah yang berada di daerah situ dan aktif ikut sumbangan sosial. Dan bokap selalu ada pendampingnya, si hulubalang yaitu bernama “jumbo”. Jumbo itu ibarat bayangan bokap selalu setia menemani sampe kemanapun. Bokap dan jumbo waktu itu pernah menjadi buronan polisi yang menghabiskan waktu delapan bulan untuk mengumpat, mereka pergi kehutan, disitulah jumbo menemani bokap dan sampe ahkirnya dia menjadi bagian dari kerajaan “Golda“, saya mulai mengguap dipertengahan cerita ini, saya melihat kesamping “jumbo” sedang tidur pulas, saya seruput kopi lagi dan bertanya kepada bokap, terus kenapa kerajaan Golda itu berakhir, bokap menjawab wanita yang mempalingkannya, “yah”, jawab saya (saya tau seolah “saya faham” dengan cerita itu, berbicara sendiri). Saya sudah mulai mengantuk.

MUSIK & PERSONAL Topik pembicaran berubah keranah tentang kesukaan pribadi dan pencapaian. Ternyata bokap juga suka musik, saya lebih fokus kecerita ini. Bagaimana dia sangat mengilai slayer, Metallica, ledzeplin sampe dia merasa musik itu hampir merubah dia. Dengar lagu Metallica yang berjudul, “sad but true“, dia Pernah memutuskan hubungan dengan pacarnya tanpa sebab pas selesai memutar lagu Metallica tersebut, “apah”, “saya berucap”, sampe segitunya, saya memotong obrolan nya, dan bokap berucap, gimana yah klo waktu mendengarkan musik itu, bokap menjadi lebih tidak cengeng dan menjadi semangat lebih memacu adrenalin dan tidak romantis soal cinta, “apa itu cinta”, bokap berucap, apa bila dia mendengarkan musik itu, dan bagaimana dia sempat mau menato seluruh badannya apa bila Iya memutar lagu kesukaan dia, saya disini tak habis pikir, boleh juga ucap saya, sambil mengaduk kopi yang baru diseduh, dan kami tertawa berdua, disela memulai obrolan baru, tiba-tiba hp saya berbunyi pacar saya menelpon untuk meminta izin pergi ke kebun menemani ibunya memetik cabai dan timun suri untuk buka puasa nanti, setelah saya izinkan saya teringat bahwa hari ini puasa, dan saya liat asbak sudah penuh Putung rokok dan gelas kopi yang sudah banyak, dan waktu sudah menunjukkan 15:28 “wah sudah sore”, saya berfikir waktu begitu cepat berlalu ketika kita asik mengobrol dan saya pamit untuk mandi kepada bokap dan saya melihat kawan saya pada tertidur, saya berjalan dan berucap hari ini begitu membosankan dengan rutinitas yang absurd, dan saya menyiapkan peralatan mandi dan menanti malam dengan ceritanya.

PS: saya masih suka mendengarkan Abah Iwan Abdulrachman dengan lagu mentari nya, dikala kondisi saya seperti ini. Dan seperti kata Rakim “bukan di mana kamu berasal tapi di mana kamu sekarang berada”.

Dongeng Si Kodok Kecil Yang Tak Kenal Kompromi

Tulisan ini diambil daru buku, Atas dan Bawah Topeng dan Keheningan, Komunike-Komunike Zapastista Melawan Neoliberalisme.

“Alkisah hiduplah seekor kodok kecil yang tak puas cuma jadi Kodok kecil, ia pingin jadi buaya. Ia renangi rawa-rawa mencari buaya dan memberitahunya: “Aku pingin jadi buaya.” Pak buaya menjawab: “Kau tak bisa jadi buaya, sebab dari sananya kau itu Kodok kecil “Ya,” balas si kodok kecil, “tapi aku ingin jadi buaya. Mesti apa aku biar bisa jadi buaya?” Pak buaya menjawab: “tidak ada yang bisa diperbuat. Buaya terlahir sebagai buaya, dan memang begitulah adanya, seekor buaya adalah seekor buaya. “Si kodok kecil menjawab: “tapi aku tidak mau jadi Kodok kecil, aku mau jadi buaya. Tahukah Anda di mana dan kepada siapa aku bisa menyuarakan sikap non-kompromiku sebagai kodok kecil agar mereka memperbolehkan jadi buaya?” Aku tak tahu, tapi barangkali si burung hantu tahu, “jawab buaya itu. Maka si kodok kecil masuk kedalam hutan mencari burung hantu. Di tengah jalan ia bertemu kodok kecil lainnya dan bertanya di mana ia bisa ketemu burung hantu. “Dia itu satu-satunya yang berjaga tengah malam, “ujar kodok kecil lainnya itu, “tapi hati-hati kalau bicara, sebab burung hantu suka makan kodok-kodok kecil. “Lalu si Kodok kecil menunggu sampai malam larut sambil membangun benteng pertahanan untuk berlindung dari serangan burung hantu. Ia menumpuk satu batu di atas batu lainnya sampai terbentuklah gua kecil dan ia masuk kedalamnya. Malam tiba, begitu juga si burung hantu, dan kodok kecil itu bertanya dari dalam goa: “Pak Burung Hantu, tahukah Anda di mana aku bisa menyuarakan sikap non-kompromiku sebagai kodok kecil agar mereka memperbolehkanku jadi buaya? “Siapa itu yang bertanya, dan dari mana?” Burung hantu balas bertanya. “Aku. aku di sini,” jawab si kodok kecil. Lantas burung hantu itu melesat menyambar menangkap si kodok kecil dengan cakarnya, namun karena si kodok kecil itu berada dalam gua, si burung hantu cuma menyambar sebongkah batu dan langsung melahapnya menyangka ia telah menangkap seekor kodok. Berat batu itu membuatnya terjungkal ketanah dan perutnya mulas sekali. “Aduh,aduh,aduh!” erang burung hantu, “bantu aku mengeluarkan batu ini, kalau tidak aku tidak bisa terbang.” Si kodok kecil berkata ia baru mau membantu kalau burung hantu itu menjawab pertanyaannya. “Bantu dulu nanti aku jawab,” balas burung hantu. “Amit-amit,” kata si kodok kecil,” jawab dulu, sebab kalau aku bantu mengeluarkan batu itu kau akan memangsaku bukannya menjawabku.” “Baiklah,” jawab burung hantu, “akan kujawab, tapi orang yang mesti kau temui untuk melampiaskan ketidak puasanmu sebagai kodok kecil adalah pak singa. Dia itu raja, dan dia tahu mengapa yang ini begini dan yang itu begitu. Sekarang bantu aku mengeluarkan batu.” “Ogah, Jose,” ujar si kodok kecil, “kalau aku keluarkan batu itu dari perutmu, kau masih akan tetap memangsa kodok-kodok kecil lainnya.” “Itu dia!” Seru burung hantu, “kau tak ingin kompromi dengan apa saja, kau cemaskan nasib kodok-kodok kecil lainnya, tapi kau sendiri tak mau jadi Kodok kecil.” Tapi si kodok kecil sudah tak ambil pusing dengan burung hantu itu dan ia pergi mencari singa. Pak singa hidup dalam gua, dan si kodok kecil berfikir jangan-jangan singa juga makan kodok kecil, dan ia punya ide. Ia membenam kedalam kubangan dan bergulung-gulung dalam lumpur. Kini ia menyamar seperti batu. Saat singa keluar dari guanya, si kodok kecil berkata: “Pak singa, aku datang untuk menunjukkan sikap tak kenal kompromi terhadap keberadaanku sebagai kodok kecil, sebab aku ingin jadi buaya. “Siapa itu yang bicara?” Tanya singa. “Aku.” “Tapi kau kan batu koral kecil, ngoceh apa kau soal kodok dan buaya segala macam?” Jawab singa. “Begini, aku ingin menunjukkan sikap non-kompromiku sebab seseorang tidak bisa menjadi siapa yang ia inginkan tapi harus jadi siapa ia sebelumnya,” jawab si kodok kecil. “Ya memang begitu, “jawab singa, seseorang adalah seseorang dan ia tidak bisa jadi orang lain. Yang bisa dilakukan seseorang adalah menjadi dirinya sendiri sebaik-baiknya,” pak singa mengaum filosofis. Mendadak hujan turun, dan lumpur yang membalut tubuh si kodok kecil tersapu bersih dan orang bisa melihat jelas dia itu kodok kecil bukan batu koral Kecil. Si kodok kecil tahu apakah singa juga memakan kodok karenanya ia melompat-lompat kembali ke kolamnya. Dengan sedih ia melompat, melompat, dan terus melompat. Seseorang adalah seseorang dan tidak bisa jadi orang lain dan yang bisa dilakukan cuma menjadi dirinya sebaik-baiknya. Merana oleh pikiran ini si kodok kecil tiba kembali di kolamnya dan buru-buru ia mencari pak buaya. Ia ke rawa-rawa tapi si buaya tidak ketemu. Ia mencari kemana-mana tapi tetap tak ketemu. Ia bertanya ke hewan-hewan lainnya dan mereka menjawab: “kau belum dengar? Seseorang pemburu menangkapnya dan ia kini berubah jadi dompet, sepatu,….” Si kodok kecil terkesiap, dan saat setiap orang mengira ia akan bilang ia bersyukur menjadi seekor kodok kecil dan lega dirinya bukan buaya, ia malah berteriak: “Betapa pentingnya jadi seekor binatang yang tidak tolol dan goblok!” Maka ia mulai belajar dan berlatih menjadi seekor buaya yang terampil. Kelihatannya hasilnya cukup baik sampai ia mampu memangsa seorang pemburu. Konon kabarnya si kodok kecil itu sekarang jadi dompet yang sangat mahal. “Dibuat dari kulit buaya yang sangat istimewa, “kata kolektor kaya yang membelinya.

Moral cerita ini: batu yang bisa menyulut bunga api besarnya cuma segede kodok. Sekian.” Mariya bosan dan pergi waktu si kodok kecil baru saja mau menemui burung hantu. La Mar diam minyimak sampai akhir cerita (apa lagi yang bisa ia perbuat?) _santai saja, Aesop _ candanya. Tak ragu, lagi, aku ini memang lelaki yang sering disalah mengerti.

Jejak Rekam di tahun 2018

kemungkinan ini hanya sebuah memo yang semestinya saya tidak tulis.
Ada satu hal yang membuat saya harus menulis memo di tahun 2018, bukan berati di tahun sebelumnya tidak, tapi saya pemalas untuk menggingat, mungkin saya bukan satu-satunya orang yang bisa merasakan cerita yang begitu kenapa saya harus menulis diahkir pengunjung tahun, tapi saya cukup berkesan tanpa terlalu panjang atau begitu terulur, “yah” saya banyak berterimakasih dengan “playlist” saya, yang selalu menemani apaun kondisi suasana dan tekanan. Tanpa ocehan ortu (orang tua) dan nada beringgas dari sekeliling kota dari terdekat sampai yang hanya bisa di sapa lewat sosial media, tapi itu begitu teralur dengan semua menutupi tahun ini dengan nada irama dari Dälek album Endangered Philosophies, dengan kebisingan nya tapi lembut ditelingga, dari Organized Konfusion album Stress: The Extinction Agenda, yang menemani mengantar saya pergi menjemput belahan hati dengan sebegitu kobam sampe pandangan pun hanya sorot cahaya lampu, maklum masih kumpul dengan teman seangkirang, dari mulai melewati hutan yang begitu pagi tanpa seorang pun yang lewat yah jam:03.00 didaerah pegunungan jonggol hanya album Apollo Brown & Skyzoo The Easy Truth lah yang menemani mungkin saya tidak mau lagi lewat jam segitu, konon masih banyak mitos di situ, sampe saya harus bertahan dari gelap nya hari-hari dan engan menampakan diri dari cahaya yup “Armand Hammer” album “Rome” yang susah di pahami tapi begitu sempurna nada yang harus di jaga saya masih mengeja tentang musik dan masih berhusaha untuk memahami mungkin tulisan ini hanya bisa disebut tulisan diary bisa dibilang,