MELAMPAUI PERKARA PROGRESS & TRADISI DALAM HIP HOP

Tulisan ini diambil dari buku flip da skrip.
LAHIR DI NEW YORK PADA AKHIR
dekade1970-an, hip hop tentu saja bukan “hip hop” ketika Kool Herc membuat pesta awal tahun ajaran baru di Bronx, atau ketika Grandmaster Flash membeli dua buah piringan hitam yang identik sama untuk kemudian diputar di pesta-pesta komunitas yang haus hiburan namun tak pernah punya cukup uang untuk menyewa club. Bisa pula kalian bayangkan, hip hop bukanlah “hip hop” yang kalian kenal (apapun itu) hari ini, saat beberapa pembawa acara pesta jalanan memulai ritual dengan MC menyapa crowd dan memanfaatkan mic untuk hura-hura, karena instrumen musik sukar diakses. Atau mungkin pula ketika sekumpulan anak muda brengsek menari saat break beats diputar oleh para DJ dan melawan arus dansa-dansi disko membonsakan di era itu. ‘Hip hop’ masih berupa istilah yang digunakan anak muda berhura-hura di satu kabupaten. Pula saat seorang bomber bernama supercool menganti cap standar pada spary can dengam sebuah fat cap untuk dapat membuat graffiti blockbuster yang kemudian menghiasi kereta-kereta New York di tahun-tahun sesudahnya. Juga saat Grand Wizard Theodore menemukan teknik scratch, membolak-balik piringan hitam. Saat itu hip hop bukanlah ‘hip hop.’ Ia masih berupa imajinasi liar tak terkendali yang datang dari hasrat dan kebutuhan yang membebaskan di tengah segala keterbatasan. Seperti proyek kultural lain yang belum pernah benar-benar selesai dan mungking pula tak pernah terpikirkan telah dimulai- Hip hop, saat itu tentu saja belum memiliki stigma-stigma, imaji. Gimmick, bullshit atau apapun yang melekat pada “Hip hop” hari ini. Mungkin oleh karena itulah, hip hop di ahkir 1970-an hingga awal 1990-an begitu imajinatif, ekspresif, menyegarkan, liar, membangkang dengan intens dan tentu saja menghibur dan menginspirasi. Saat itu, industri masih jauh dari tertarik kepada kultur yang hari ini dapat menghasilkan milyaran dollar tiap tahunnya. Mungkin itu pula alasan mengapa suara kultur ini pada 10 tahun awal begitu beragam. Karena pada titik awal sebuah petulangan, hip hop tidak pernah memiliki blueprint, sesuatu yang bertolak belakang dengan kondisi hari ini, ketika ‘trend’ adalah parameternnya, dan ‘pasar’ adalah panglima. Saat Afrika Bambaataa memulai mengorganisir komunitas para DJ, MC, Breakers dan Bombers untuk berbuat sesuatu di ghetto-ghetto mereka, hip hop masih belum memiliki ‘judul.’ Mungkin karena itu pula mereka membuat lagu bertitel “Renegades of funk.” Sebagai salah satu pelopor hip hop. Bambaataa bisa saja memberi judul lagu itu “Pioneers of Hiphop.” Namun saya yakin Bambaataa tidak memiliki pandangan demikian. Paling tidak, tidak saat itu. Bambaataa tidak menyadari bahwa apa yang sedang mereka lakukan merupakan sebuah usaha pembangkangan terhadap musik pendahulu mereka, Funk yang pada saat itu mencapai titik jenuh. Renegades of funk, para pembangkang ‘funk.’ kata-kata memang kadang membebaskan namum pula memenjarakan ketika dia sudah mencapai status totem. Di hari Bambaataa mengambil sample sebagian porsi lagu “Trans-Europe Expres” milik Kwaftwerk, tak pernah satu mediapun mengatakan bahwa Bambaataa sedang melakukan hal yang ‘eksperimental.’ di hari DJ DST berkolaborasi dengan The Last Poets, tak ada yang menyebutnya ‘nyeleneh.’ Saat N.W.A. meledak, medialah yang paling ganas menamai fenomena mereka sebagai gangster rap, sama halnya pada saat Public Enemy mengetarkan dunia dengan It takes A Nation of Millions to Hold Us Back, tak pernah ada yang menamainya sebagai Political hip hop, yang ada hanya hip hop, and that’s the way it was. Hip hop selalu berati petualangan, pengembaraan ‘berbahaya’ di medium apapun yang sedang digemari oleh anak muda ghetto saat itu. Entah mengapa terminologi itu hari ini dianggap ‘eksperimental.’ ‘keluar jalur.’ ‘tidak lazim.’ seolah memang ada sesuatu yang ‘seharusnya’ dalam memaknai hip hop, terlebih tentang hidup dan keterasingan yang coba direprentasikannya. Hip hop, mungkin, seperti layaknya produk kultural lainnya, sudah selayaknya dibiarkan menjadi sebuah ide dan imajinasi terbuka. Ia harus tetap liar dan terbuka untuk kemungkinan apapun. Dengan kondisi seperti itu, kita akan berkesempatan menjumpai beragam wujudnya dalam bentuk yang terburuk sekaligus yang terindah. Kita pernah menyasikan hip hop berwujud musik generik butut tanpa ampun seperti Vannilla Ice dan MC Hammer, namun kondisi itu pula yang melahirkan mahakarya hip hop dari Public Enemy hingga Nas. Seperti halnya tembok polos tanpa otoritas, akan sempat melahirkan coretan tagging nama geng motor yang tak akan pernah bisa dibilang bagus, namun pula akan melahirkan piece grafiti berwarna pelangi yang akan membuat kalian menghentikan kendaraan dan berdiri di depannya tertegun selama beberapa detik, menit, atau mungkin jam. Ini akan sangat berbeda ketika kalian menyasikan piece serupa di sebuah event ‘street art’ bersponsorkan korporasi rokok raksasa yang memaksakan kepada kalian definisi ‘seni jalanan’ tadi ke sebuah wilayah pemaknaan yang lebih sempit. Sama halnya dengan adrenalin yang menghilang ketika kalian menyaksikan break dance tak lagi menarik meski ditampilkan dalam suguhan ‘battle’ di sejumlah event televisi yang selalu begitu-begitu saja. Seperti halnya fenomena luar biasa lainnya di dunia ini, hip hop adalah potret sebuah usaha keluar dari keterasingan dan kebosanan. Namun sama nasibnya dengan rock ‘n roll dan punk yang tereduksi menjadi sekedar ‘Rock ‘N Roll’ dan ‘Punk.’ hip hop hari ini tak lebih dari sekedar ‘Hip hop.’Sebuah entitas yang seringnya juga lupa akan titik berangkat identitas dan pekmaknaan. ‘lupa’ mungkin terlalu didramatisir ‘tidak peduli’ mungkin lebih tepat. Terlebih perihal keterasingan, hip hop adalah bagian dari keterasingan diri dari sejarahnya. Represntasinya bisa menengok pada Lil Yachty soal “Biggie is overrated” atau pada Vince Staples yang berkomentar panjang soal mengapa hip hop sembilan puluhan itu menyebalkan. Sebuah fenomena disrespectful yang jarang terjadi pada generasi sebelumnya. Ini akan lebih menggelikan jika membadingkannya dengan kasus serupa di genre lain, metal misalnya, Metalheads melenial akan dengan apresiatif dan bangga pada, katakanlah, Slayer dan pantera. Meski Iron Maiden adalah musik kakek mereka, rasanya tak pernah ada sentimen “Iron Maiden is overrated” lahir di tradisi metal. Semoderen dan seprogesif apapun Avanged Sevenfold dan Kylessa, kalian akan melihat mereka memakai T-shirt Black Sabbath dengan rasa bangga. Ada kepekaan sejarah yang membuat mereka mencari peta genesis dari musik yang mereka mainkan. Ada alasan penting belakangan Eminem sering memakai T-shirt dengan sampul-sampul album rap yang menginspirasinya di era awal. Ia lelah dengan debat tak berujung tentang ‘generation rap.’ keogahanya terlibat dalam debat itu dan menegasikannya dengan memakai T-shirt sebagai langkah simbolis. Eminem paham betul bahwa musik rap-nya adalah produk terkini dari sebuah tradisi panjang. Sesuatu yang tidak akan hadir jika tak ada seseorang yang mempeloporinya. Rap Eminem mungkin tanpa Nas dan AZ. Nas dan AZ takmungkin lahir tanpa inovasi Rakim atau Kool G Rap, Rakim dan Kool G Rap paham bahwa mereka berhutang pada Melle Mel dan Kool Moe Dee. Melle Mel dan Kool Moe Dee merupakan produk dari acara-acara Kool Herc di era formatif hip hop dimana seorang MC bernama Coke LaRock mulai mengambil mic dan nge-rap di atas musik yang diputar Kool Herc. Jika kalian lacak, akan selalu ada DNA break beats yang sejak awal telah menjadi fondasi musik hip hop, bahkan untuk model paling modern dari hip hop semodel trap sekalipun berhutang pada pola ritme dan suara drum kit sederahana era disko dan funk. Persis seperti Afrika Bambaataa yang membangkang dari funk, ia tak bisa memungkiri bahwa tak mungkin ‘mengada’ tanpa funk dari generasi sebelumnya. Ia pun sadar akan hal itu. Sesuatu yang lampau adalah satu hal penting dan keunikan lain dari hip hop. Ia bisa merepsentasikan gambaran masa depan, dengan memakai potongan kolase masa lalu. Persis seperti Rammellzee dan semua karya-karyanya. Hip hop selalu merupakan sempurna brikolase dalam kebudayaan populer, bahwa tak pernah ada yang benar-benar orisinal; kita terpengaruh dan meminjam apa yang dihasilkan mereka yang mendahului kita dalam milestone sejarah. Kita selalu meminjam dan mendaur ulang, menambahkan dan menyempurnakan yang sudah ada. Tradisi atau kebiasaan memberikan ‘props’ bagi pendahulu bukan hadir tanpa alasan di dalam hip hop. Oleh karena itu, saya yakin ‘ignoran’ terhadap trend yang belakangan hanyalah sekedar… trend. Karena bagaimana bisa kalian menginkorpotasi estetika hip hop sambil mempersetankan masa lalu dan apapun yang melatarbelakangi kelahiranya? Sebelum saya dituduh memperumit hal yang sederana, saya ingin menyimpulkan sedikit perkara progress-tradisi hip hop ini, bahwa saya tidak sedang berupaya untuk membuat sebuah panduan dalam mengapresiasi hip hop. Saya hanya ingin sekedar berbagi keajiban yang pernah hadir dalam hip hop yang sedemikian rupa, sedikit atau banyak, memberi inspirasi, membebaskan dari kebosanan dan keterasingan, memberi saya petualangan, dan membentuk saya sehingga saya merasa berhutang kepadanya. Karena bagaimanapun saya masih menyakini bahwa, dalam hip hop, berbagi satu hal yang kalian sukai akan lebih berguna dibanding membicarakan sejuta hal yang tak kalian sukai.








